Kaum Sejenis, Kriminal dan Kuno

Selasa, 03 November 2015 - 15:57 WIB | Dilihat : 2710
Kaum Sejenis, Kriminal dan Kuno Aksi menolak kaum sejenis (ilustrasi)
Allah Swt berfirman:
 
أَتَأۡتُونَ ٱلذُّكۡرَانَ مِنَ ٱلۡعَـٰلَمِينَ  وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّنۡ أَزۡوَٲجِكُم‌ۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٌ عَادُونَ
 
“Mengapa kamu mendatangi orang laki-laki dan meninggalkan isteri-isterimu yang justru dijadikan oleh Rabb-(Tuhan) mu untuk kalian? Bahkan kalian adalah kaum yang melalpaui batas.” (QS. As Syu’ara 165-166)
 
Imam Jalaluddin Al Mahally dalam Tafsir Al Qur’an Al Azhim/Jalalalain dan Imam Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasysyaf mengatakan, yang dimaksud ‘adzdzukraana minal ‘alamin’ dalam ayat itu adalah ‘ad dzukraana minan naas’ artinya laki-laki diantara manusia. Selanjutnya Az Zamakhsyari mengatakan digunakannya lafazh tersebut mengingat jumlah wanita saat itu (seperti juga kini) jauh lebih banyak dari pada pria. 
 
Sehingga menjadi hal yang aneh kaum Nabi Luth As justru tergila-gila pada lelaki sedikit, yang otomatis membuat para wanita yang jumlahnya mayoritas itu ‘menganggur’. Penggunaan lafazh ‘minal ‘alamin’ menurut Az Zamakhsari (idem, Juz III hal 319) juga menunjukkan bahwa tradisi bejat dan keji itu tidak pernah dilakukan oleh kaum yang lain di seluruh alam. Kaum Luth As satu-satunya pelaku kejahatan seksual itu dan berarti pelaku pertama tradisi kuno yang merusak manusia dan mengancam kelestarian hidup mereka.
 
Ancaman tradisi buruk mereka terhadap kelangsungan hidup manusia adalah tradisi kaum kuno yang tidak mau mendatangi istri-istri mereka yang telah diciptakan Allah Swt buat mereka. Wanita diciptakan Allah Swt buat pria, agar mereka bisa tenang dan hidup berkasih sayang (QS. Ar Ruum 21) serta menghasilkan keturunan (QS. An Nisa 1). Setelah mengatakan “Patutkan kalian mendatangi sesama lelaki” (QS. As Syu’ara 165), Nabi Luth As mengatakan kepada mereka : “Watadzaruuna ma khalaqa lakum rabbukum min azwaajikum” (Dan kalian meninggalkan istri-istri kalian yang justru diciptakan oleh Rabb untuk kalian). Artinya, istri-istri yang berfungsi mengandung dan melestarikan keturunan kalian, tetapi kenapa ditinggalkan? 
 
Az Zamakhsyari menerangkan bahwa ayat 166 inipun menyatakan bahwa tradisi kaum Luth As adalah meningalkan aktivitas seksual alami, yakni menyetubuhi wanita (istri-istri mereka) pada qubul-nya dan malahan berbuat aneh-aneh dengan menyetubuhi istri-istri mereka pada dubur atau anus mereka. Walhasil, generasi barupun tak bakal dilahirkan
 
Jelaslah kebiasaan buruk menyetubuhi manusia (laki maupun perempuan lewat duburnya) itu merusak mekanisme alami kelangsungan hidup manusia. Padahal untuk itulah Allah telah menciptakan naluri cinta kasih antara pria dan wanita (gharizah an na’u).
 
Rusaknya para lelaki kaum Luth As ternyata menimbulkan kerusakan ndividu. Para lelaki begitu ogah menyentuh wanita. Mereka hanya suka laki-laki. Kalaupun mereka menyentuh wanita, perasaan mereka seperti menyentuh laki-laki. Itu terbukti dengan menyetubuhi dubur mereka.
 
Pandangan dan perasaan kaum lelaki yang telah mentradisi dan membudaya ini telah mengubah perasaan kaum wanita, yang akhirnya menyalurkan hasrat mereka sesama mereka (lesbian). Ini bisa dipahami kenapa Allah Swt tidak menyelamatkan istri Nabi Luth As dari siksaNya (QS. As Syu’ara 171). Sunguh rusak kaum Luth As. Sungguh keterlaluan kebejatan dan kemaksiatan yang mereka lakukan. Allah Swt pun menyatakan mereka sebagai kaum yang sangat melampaui batas (‘bal antum qaumun aaduun’).
 
Begitu rusaknya tradisi mereka hingga tak punya malu sama sekali, bahkan tidak menghormati Nabi Luth As yang diutus Allah Swt untuk memperingatkan mereka kepada jalan Allah serta hidup sehat, wajar dan meninggalkan cara-cara hidup yang tidak senonoh dan gila. Mereka malah menghardik dan mengancam utusan Allah itu (QS. As Syu’ara 167). Bahkan tatkala datang para malaikat yang diutus Allah untuk mengazab mereka, kaum Luth masih dengan sikap pongah dan angkuh, tetap mempertahankan tradisi keji itu sebagaimana diabadikan oleh Allah Swt dalam firman-Nya :
 
وَجَآءَهُ ۥ قَوۡمُهُ ۥ يُہۡرَعُونَ إِلَيۡهِ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ‌ۚ قَالَ يَـٰقَوۡمِ هَـٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِى هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡ‌ۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِى ضَيۡفِىٓ‌ۖ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٌ۬ رَّشِيدٌ۬ 
 
قَالُواْ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِى بَنَاتِكَ مِنۡ حَقٍّ۬ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ
 
‘Dan datanglah kaumnya kepadanya (Nabi Luth As) dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang keji (homoseksual-lesbian). Luth berkaa : Ha kaumku, inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah alian kepada Allah, dan janganlah kalian mencemarkan (nama)Ku terhadap amuku ini. Tidakkah ada diantaramu orang yang berakal/ mereka menjawab : Sesungguhnya kamu telah tahu, bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki” (QS. Huud 78-79)
 
Oleha karena itu, Allah Swt telah menurunan azab sangat pedih yang memang layak buat kaum yang tidak memakai akalnya, padahal Allah ciptakan buat pengendali hidup mereka, yakni pasangan hidup. Malah mengumbar hawa nafsu serta tipuan-tipuan syaitan, sehingga hidup mereka di dunia telah jauh menyimpang dari tujuan yang sebenarnya (QS. Adz Dzariat 56). Kaum sesat penuh noda itu dimusnahkan oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya :
 
وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرً۬ا‌ۖ فَسَآءَ مَطَرُ ٱلۡمُنذَرِينَ   إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَةً۬‌ۖ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ
 
“Dan kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka amatlah buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. Sesungguhnya pada yang demikian tu benar-benar terdapat bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman” (QS. As Syu’ara 173-174)
 
Jika untuk kaum Luth Allah menyiksanya dengan hujan batu, untuk umat akhir zaman ini apa? Apakah penyakit AIDS itu merupakan siksa Allah yang setara dengan hujan batu yang ditimpakan kepada kaum Luth? Mungkin saja andai penyakit itu telah menewaskan mayoritas penduduk dunia, tapi fakta sekarang belum menunjukkan hal itu. Artinya, sekarang adalah peringatan dari Allah bahwa hal itu bisa terjadi nantinya, atau mungkin ada siksa yang lebih ganas seperti yang menimpa kaum Luth.
 
Bagi kita orang-orang yang waras, tentunya fenomena AIDS adalah peringatan dan teguran dari Allah Swt secara langsung lantaran hukum Allah yang berkaitan dengan homoseksual tidak diterapkan dan diindahkan. Jika hukum Allah diterapkan, berarti kita telah menyelamatkan umat manusia dari siksa Allah yang mengerikan, sebab mencegah manusia dari perbuatan keji itu berarti menghilangkan sebab datangnya siksa Allah, karena siksa Allah yang luar biasa itu akan ditimpakan jika kemaksiatan telah merajalela dan masyarakat tidak bisa diperbaiki lagi. Oleh karena itu kita wajib menerapkan hukum Allah atas orang-orang yang melakukan tindak kriminal homoseks.
 
Menurut Syekh Ali Ash Shabuni Tafsir Ayatul Ahkam (halaman 40 Juz II) disebutkan, bahwa sanksi bagi kaum homoseks yang tidak mau tobat dan menolak untuk disembuhkan adalah hukuman mati yang teknik pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan hakim. Bisa jadi mereka dipenggal, dirajam, ditembak, atau dilempar dari gedung yang paling tinggi di sebuah kota. Jika alternatif yang terakhir ini dilaksanakan di Jakarta, maka yang paling tepat adalah dilempar dari puncak Monas. Wallahu ‘alam bishshawab.
 
0 Komentar