Apa Kabar Paloh dan Jokowi Setelah Sam Pa Masuk Bui?

Senin, 02 November 2015 - 09:25 WIB | Dilihat : 5719
Apa Kabar Paloh dan Jokowi Setelah Sam Pa Masuk Bui? Jokowi dan Surya Paloh saat melakukan groundbreaking Menara Indonesia 1, milik PT China Sonangol Media Investment (CSMI), perusahaan kerja sama antara PT China Sonangol Land dan Media Group milik Paloh. (foto: fastnewsindonesia.com)

Konglomerat minyak dari China, teman Paloh dan Jokowi, ditangkap karena korupsi.

 
Surya Paloh, 64 tahun, boleh disebut sebagai ‘’politisi’’ nomor ‘’satu’’ di Indonesia. Betapa tidak? Dalam Pemilu 2014, Partai Nasdem (Nasional Demokrat) yang didirikannya pada 2011 hanya beroleh 35 kursi DPR. Dengan itu, Nasdem menjadi partai nomor dua terbawah dalam perolehan kursi, yaitu di posisi nomor 9 (dari 10 partai yang beroleh kursi dalam Pemilu 2014).
 
Nasdem hanya satu peringkat di atas Hanura, partai yang didirikan Wiranto (Panglima ABRI di masa akhir kepemimpinan Presiden Soeharto), partai dengan perolehan kursi paling buncit dalam Pemilu 2014.
 
Walau begitu nyatanya Nasdem bisa menduduki 3 kursi menteri di kabinet Presiden Jokowi, hampir sama dengan PDIP, partai pemenang Pemilu dengan 109 kursi DPR. Bukan hanya itu. Sebagai Ketua Umum Partai Nasdem, Paloh terlihat begitu mudahnya  mondar-mandir menemui Presiden Jokowi di Istana, kapan saja dia mau. Malah Jokowi pun sempat datang mengunjungi Paloh di rumahnya.
 
Semua peristiwa itu menunjukkan betapa dekatnya hubungan Paloh – Jokowi, dan berbagai peristiwa itu selalu disiarkan lengkap di Stasiun TV Metro dan koran harian Media Indonesia milik Paloh. TV Metro dan koran Media Indonesia memang habis-habisan berkampanye untuk calon Presiden Jokowi dalam pemilihan Presiden yang lalu. Dan memang tampaknya kedua media itulah ‘’modal’’ Surya Paloh untuk mendukung Jokowi.
 
Mengapa Paloh sebagai pemimpin sebuah partai kecil bisa begitu berkuasa?  Ya itu tadi jawabannya: Paloh memiliki stasiun TV berita, Metro-TV dan harian Media Indonesia. Barang siapa pernah membaca Media Indonesia atau memirsa Metro-TV akan tahu betapa ‘’hebatnya’’ Surya Paloh.
 
Di Metro-TV mau pun Media Indonesia, sang pemilik biasa muncul bicara apa saja, mau berapa lama durasinya, semua terserah dia. Di dalam penampilannya itu, Paloh bisa menyerang siapa saja atau memuji siapa saja. Kriteria berita atau kriteria tokoh, atau persyaratan lainnya yang ada di dalam jurnalistik tak berlaku untuk Paloh.
 
Dengan brewok lebat di sekujur dagunya, Paloh tampak meniru-niru penampilan, gaya bicara dan berpidato pemimpin revolusi Cuba, Fidal Castro, yang dulu di masa hidupnya selalu tampil dengan tampang brewokan dan pidato berapi-api.
 
Belum cukup. Kalau perlu tajuk rencana Media Indonesia atau Metro-TV akan turut mendukung dan membenarkan Paloh, atau sebaliknya menyerang siapa saja yang menjadi lawannya. Metro dan Media Indonesia memang seringkali memuja-muja seseorang, dan lain kali menyerang habis-habisan seorang yang lain dengan habis-habisan pula.
 
Berita yang beredar menyebutkan bahwa penyerangan mau pun pujaan kepada para tokoh itu tak lain berhubungan dengan kepentingan Paloh. Agar lebih gampang, sebutlah jurnalisme model begini sebagai ‘’Jurnalisme Surya Paloh’’.
 
Semua ini sudah terjadi bertahun-tahun tanpa siapa pun bisa mencegahnya. Artinya, dalam kasus ini baik Dewan Pers mau pun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) – yang tugasnya oleh undang-undang ditetapkan untuk mengawasi media cetak dan televisi agar tak menabrak undang-undang -- tak bisa berbuat apa pun untuk menertibkan apa yang terjadi di koran dan stasiun televisi milik Surya Paloh itu. Silahkan saja kaedah-kaedah jurnalistik menyebut bahwa salah satu kriteria berita terpenting adalah demi kepentingan umum. Tapi di sini yang berlaku rupanya hanya demi kepentingan Surya Paloh.
 
SAM PA DITANGKAP KARENA KORUPSI
 
Tapi belakangan ini tampaknya Surya Paloh sedang diterpa badai.  Seperti diketahui, pengacara terkenal OC Kaligis ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan. Pengacara populer itu resmi menyandang status tersebut mulai14 Juli 2015, setelah dia dijemput aparat KPK di sebuah hotel di Kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
 
Usai diperiksa 5 jam, Kaligis ditahan di Rumah Tahanan KPK Cabang Pomdam Guntur, Jakarta. Padahal Kaligis tak lain dari Ketua Mahkamah Partai Nasdem. Artinya, dia adalah seorang penting di partai itu, selain dia juga dikenal dekat dengan Surya Paloh.
 
Penangkapan Kaligis merupakan ekor dari tertangkapnya Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Medan, Tripeni Irianto Putro, bersama dua hakim anggotanya dan panitera, pada 9 Juli 2015, dalam sebuah operasi yang diluncurkan KPK di Medan. Mereka ditangkap karena menerima uang dari M.Yagari Batara alias Gery, pengacara dari kantor OC Kaligis.
 
Atas perintah bosnya, Kaligis, pengacara itu memberi duit kepada para hakim dan panitera yang sedang mengadili gugatan Gubernur Sumatera Utara  Gatot Pudjo Nugroho terhadap Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara di Pengadilan Tata Usaha Negara di Medan.
 
Konflik Gubernur dengan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara terjadi karena aparat Kejaksaan mengendus ada masalah dalam penyaluran dana Bantuan Sosial (Bansos) di daerah itu. Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara telah mengeluarkan surat panggilan kepada Kepala Biro Keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Fuad Lubis.
 
Dalam kondisi beginilah Gubernur menggunakan jasa pengacara O.C.Kaligis dari Jakarta. Rupanya Kaligis dipilih karena dia sahabat lama Evy Susanti, isteri muda Sang Gubernur. Celakanya, dalam usaha memenangkan gugatan atas surat panggilan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara tadi di Pengadilan Tata Usaha Negara di Medan, pengacara OC Kaligis menggunakan jalan pintas dengan menyuap para hakim dan panitera di pengadilan itu. Sialnya KPK mencium ‘’bau’’ ini lalu turun ke Medan melakukan penangkapan-penangkapan yang sudah disebut di atas.
 
KPK selanjutnya mengejar Gubernur Gatot Pujo Nugroho dan istrinya Evy Susanti. Setelah menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka pada 3 Agustus lalu, KPK pun menjebloskan pasangan suami istri ini ke bui.
 
Lebih jauh lagi, dalam pembicaraan Gubernur, istri, dan pengacaranya (O.C.Kaligis) , rupanya ada pula upaya untuk mendekati Jaksa Agung M.Prasetyo. Di sini dilibatkan Sekjen Partai Nasdem Patrice Rio Capella. Dalam berbagai pembicaraan diketahui pula upaya melibatkan Surya Paloh selaku Ketua Umum Nasdem.
 
Hasilnya, 16 Oktober lalu, KPK menangkap dan menahan Sekjen Nasdem Patrice Rio Capella, anggota DPR-RI kelahiran Bengkulu 46 tahun yang silam. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Capella menerima duit Rp 200 juta dari Nyonya Evy Susanti. Dia berperan untuk mendekati Surya Paloh. Soalnya, melalui Paloh diharapkan Jaksa Agung M. Prasetyo (berasal dari Partai Nasdem) bisa didekati sehingga aparat Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara bisa ‘’diperlunak’’. Berhasilkah Paloh didekati? Paling tidak Paloh sudah membuat pertemuan di kantor DPP Nasdem yang dihadiri Sang Gubernur dan istrinya.
 
Setelah Capella ditangkap, KPK sempat pula memeriksa Surya Paloh sebagai saksi perkara ini. Walau pun cuma sebagai saksi, tapi pemanggilan dan pemeriksaan Surya Paloh dalam perkara korupsi dan penyuapan ini tentu mengusik nama baiknya. Soalnya, dialah tokoh selama ini yang rajin berteriak-teriak untuk melakukan pembaruan dan perbaikan kembali Indonesia, yang dalam istilah Surya Paloh dan Partai Nasdem disebut restorasi.
 
Tapi rupanya kini keberuntungan sedang menjauhi Paloh, kelahiran Banda Aceh, 64 tahun yang silam.  Masyarakat tentu belum melupakan nama Sonangol, perusahaan minyak dari Angola (Afrika), yang tiba-tiba muncul ke Jakarta untuk menyelamatkan impor minyak Indonesia yang selama ini konon terjerembab di tangan Mafia minyak. Baru sekitar seminggu dilantik sebagai Presiden, Jokowi menerima Surya Paloh. Dia datang ke Istana bersama orang penting bernama Sam Pa alias Xu Jinghua. Diberitakan waktu itu bahwa Sam Pa asal China itu adalah pemilik Sonangol.
 
Pertemuan itu segera ditandak-lanjuti dengan pertemuan Sam Pa dengan para pejabat Pertamina. Seperti bisa dibaca dari pemberitaan media waktu itu, Pertamina pun mengimpor minyak dalam jumlah tertentu melalui Sonangol. Hebat sekali bisnis Surya Paloh dan Sam Pa.  Belum cukup.  Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemudian meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) gedung milik PT China Sonangol Media Investment (CSMI), perusahaan kerja sama antara PT China Sonangol Land dan Media Group milik Paloh. Pembangunan gedung berlantai 59 ini menghabiskan dana Rp 8 triliun. Luar biasa.
 
Maka adalah mengejutkan  ketika 15 Oktober lalu, Kantor Berita Reuters melansir berita bahwa Sam Pa ditangkap polisi Beijing, China, dalam kaitan penyelidikan  kasus korupsi yang melibatkan Gubernur Provinsi Fujian, Su Shulin. Su Shulin adalah mantan pemimpin Sinopec, perusahaan minyak China. Apa kabar Paloh dan Presiden Jokowi setelah teman mereka konglomerat minyak Sam Pa ditangkap karena korupsi? []
 
0 Komentar