Fitnah Keji dan Provokasi Teror PKI

Jumat, 02 Oktober 2015 - 08:06 WIB | Dilihat : 13499
Fitnah Keji dan Provokasi Teror PKI Salah satu diorama aksi kekejian PKI di Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) di Lubang Buaya, Jakarta Timur. (foto: Blogspot)


HM Aru Syeif Assadullah

Pemred Tabloid Suara Islam

Tiap bulan September melintas, ingatan bangsa Indonesia terpaku kenangan sejarah kekejaman dan kebiadaban PKI (Partai Komunis Indonesia). Di lingkungan bangsa Indonesia, sudah tiga kali golongan komunis ini melakukan perebutan kekuasaan. Pertama pada 1926 tatkala negeri ini masih di bawah penjajahan Belanda; Kedua pada 18 September 1948 di Madiun, dan Ketiga pada 30 September 1965.

Kebiadaban komunis di tingkat internasional, khususnya didalangi raksasa komunis Uni Sovyet, Cina dan sejumlah negara komunis lain (Kuba, Korea Utara, Kamboja) dengan korban jiwa ratusan juta jiwa, membuat manusia di jagat-raya mengalami “horor” yang mengerikan, namun ujungnya  ideologi komunis  ini ambruk total dengan bubarnya Uni Sovyet pada 1989. Kendati di tingkat internasional, komunisme mengalami kehancuran total, namun di Indonesia justru menunjukkan fenomena kebangkitan. Sungguh aneh !

Fenomena aneh di Indonesia ini barangkali terkait dengan ciri khas bangsa Indonesia yang mudah lupa dan masa bodoh terhadap peristiwa-peristiwa besar yang dialaminya. Kenyataan ini dimanfaatkan jajaran gembong PKI setelah melakukan pemberontakan berdarah pada 1948, segera memanipulasi kejadian itu dibumbui fitnah yang  jauh dari fakta sebenarnya. Pemberontakan 1948 ia klaim sebagai provokasi PM Moh. Hatta, dan PKI justru menjadi korban. Padahal yang terjadi, Pemberontakan PKI  September 1948 di Madiun itu, nyata-nyata merupakan perebutan kekuasaan Negara Republik Indonesia yang baru saja diproklamirkan, dengan cara-cara teramat kejam dan biadab tanpa nurani manusia waras. Korban pembantaian PKI Madiun 1948, niscaya sulit untuk ditutupi dan diingkari.

Monumen-monumen pembantaian PKI Madiun berdiri di seantero wilayah karesidenan Madiun. Ada Sumur Pembantaian Soca dengan korban mencapai ratusan orang di mana korban pada 1960-an telah dievakuasi dan dimakamkan ulang sebagai Makam Massal Soca di TMP Kota Madiun. Ada Monumen Kresek Dungus di Madiun Timur yang dibangun diorama menggambarkan pembantaian para kyai, ada Banjir Darah di Loji Gorang-Gareng di mana dokumentasi penjagalannya ada di negeri Belanda, ada lagi pembegalan dan pembantaian para Kyai di Tirtomoyo Wonogiri.

Di hutan Ngawi Barat saat ini berdiri Monumen Gubernur Soerjo dan pengawalnya, di mana gubernur Jawa Timur itu sepulang dari ibu kota Yogyakarta dicegat PKI dan dibantai tewas, mobil dinasnya dibakar.

Pembantaian secara brutal juga terjadi di sekitar daerah Madiun pasca pemberontakan 18 September 1948 itu. Ada Peristiwa Cigrok, Takeran, Ponorogo, Sumoroto dan ada long march PKI sepanjang Gunung Wilis memutar ke selatan ke daerah Pacitan kembali ke utara melewati Gunung Lawu sampai ke wilayah Surakarta, Grobogan, Kudus, Blora, Cepu hingga  Bojonegoro.

Di berbagai daerah ini, kepala daerah terdiri bupati, patih, kepala polisi, camat dan para kyai selalu dibantai dengan cara-cara biadab. Bupati dibantai jasadnya dicemplungkan sumur di halaman kabupaten. Tindakan  teror pun ditebarkan, mayat-mayat sengaja ditusuk bambu runcing, tubuhnya ditancapkan di pematang sawah dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Teror PKI ini sungguh menjadi “horor” yang sangat mengerikan. Desa-desa sepanjang gunung yang dilalui long march pun “dikarang-abang” alias dibakar dan dijarah, penduduknya yang melawan dibantai.

Bukti-bukti kekejaman PKI Madiun 1948 ini begitu gamblang, namun pengingkaran gembong-gembong PKI justru  berhasil membalik keadaan, hanya dalam waktu dua tahun saja pada 1950, dimana pemerintah Indonesia menganut Demokrasi Parlementer, PKI pun justru diberi hak hidup dan diizinkan mengikuti Pemilu I 1955.

Di bawah kepemimpinan tokoh PKI muda DN Aidit, PKI berhasil memanipulasi sejarah, menipu rakyat Indonesia dan berhasil menjadi pemenang Pemilu 1955 itu dalam empat (4) besar bersama : PNI, Masyumi dan NU (padahal peserta Pemilu 1955 itu meliputi hampir 50 partai politik). Ini kenyataan yang sangat ironis, sekaligus pelecehan dan pembodohan bangsa Indonesia yang sangat luar biasa. Dan faktanya bangsa Indonesia mau dijadikan bangsa “pandir” dan pecundang seperti itu.

Bandingkan dengan sikap tegas bangsa Jerman  yang kini tidak bisa lagi (harga mati) menerima kembali ideologi  partai Nazi yang telah berkhianat di Jerman dan Eropa umumnya dengan membantai bangsa-bangsa Jerman dan Eropa pada dekade 1940-an di bawah kepemimpin Hitler. Kini lambang Nazi dilarang keras peredarannya, dan bagi pelanggarnya dihukum sangat ketat dengan sanksi penjara. Beberapa negara di Eropa menerapkan sanksi yang sama, seperti Prancis menghukum pembawa dan pengedar lambang Nazi Swastika. Dan Indonesia, sungguh ironis, lambang palu arit, lambang PKI, acapkali diusung simpatisannya, tapi tidak mendapat sanksi apa-apa.

Pada momentum 17 Agustus 2015 lalu dengan bangga, palu arit diarak dalam karnafal di Pamekasan, Madura juga di Jember muncul graffiti palu arit, tapi perstiwa  pelanggaran ini tidak mendapat pengusutan apalagi sanksi yang memadai. Padahal ideologi komunis resmi menjadi ideologi terlarang di Indonesia dan dimuat dalam Tap MPR No. XXV Tahun 1966.

Tipu Baru dan Provokasi PKI

Beberapa tahun terakhir ini kalangan umat Islam dan Angkatan Darat (dua elemen musuh terbesar PKI), dibuat risau munculnya fenomena kebangkitan PKI.

Beberapa tahun  lalu muncul  UU KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) yang membawa misi agar rakyat Indonesia mengakui bahwa pada peristiwa yang dikenal sebagai pemberontakan PKI (1948-1965) bukanlah peristiwa pemberontakan PKI.

Pada Peristiwa Pemberontakan PKI Madiun 1948 harus diakui sebagai provokasi perdana menteri Mohammad Hatta, sedangkan pada Peristiwa G.30.S.PKI 1965, harus dianggap sebagai peristiwa internal Angkatan Darat, pemberontakan di kalangan AD sendiri. Dan PKI hanya menjadi korban saja. Karena itu, harus dilakukan rekonsiliasi nasional melalui UU itu. Bahkan muncul wacana karena keluarga PKI sudah menjadi korban, maka pemerintah RI harus memberikan ganti rugi (nilai kerugian itu mencapai ratusan trilyun rupiah).

Mahkamah Konstitusi (MK) di bawah Prof Dr. Jimly Asshidiqie membatalkan UU KKR. Namun di era pemerintahan Presiden Joko, ide  KKR itu belakangan mengemuka lagi dengan kencang. RUU KKR yang dulu sudah dibatalkan MK, kini sudah dimasukkan kembali ke Prolegnas DPR-RI untuk diterbitkan menjadi UU. Bersamaan dengan itu beredar rumor bahwa Presiden Joko pada pidato Kenegaraan HUT RI ke-70, 15 Agustus 2015, disebut-sebut akan meminta maaf secara resmi kepada PKI. Rumor ini tidak  terjadi, konon Presiden Joko terpaksa membatalkan rencanannya karena protes rencana pidato itu begitu bergema keras di tengah bangsa Indoneasia.

Tampaknya tipu baru golongan PKI dengan gaya provokasi terornya yang khas itu, sengaja digelindingkan beberapa tahun terakhir ini. Mereka mengincar HUT 50 tahun Pembekuan PKI (1965-2015), dijadikan titik tolak kebangkitan PKI. Selain berjuang agar UU KKR disahkan DPR, Presiden Joko pun digesa meminta maaf kepada PKI dalam pidato kenegaraannya.

Tidak cukup dengan provokasi -isu yang telah meneror rakyat Indonesia, belakangan  ini beredar sms teror yang disebarkan luas isinya : “Seruan yang Sepaham” : Setelah 50 Th dibelenggu rezim otoriter Orba dan anteknya TNI-Polri (ABRI) dg sadis dan tidak ada pri-kemanusiaan, ayah, ibu, nenek, saudara, kakek kita dibunuh dan dipenjarakan oleh mereka.Tapi berkat kebersamaan dan senasib 30 Sept genap ½ abad kita Se-Indonesia akan rayakan kemenangan kita semmeriah mungkin pada hari kemenangan kita di GBK tgl 30 Sept siang dengan hiburan Kaka Slank bagian keluarga korban. Untuk itu PRD, PAPERA, YPKP 6 5, MARHAEN, GMNI, IKOHI, PRODEM, SRMI, LMND, GMKI, Komunitas Pembaharuan dll agar hadir kita nyanyikan lagu GENJER-GENJER, pengunjung wajib pake kaos merah dengan simbol palu arit. Atau bintang merah satu, kita dukung  dan hidup JOKOWI-AHOK. Koordinator acara : B. Untung (YPKP 65 anak Kolonel Untung).

Banyak kalangan yang menilai sms ini sengaja disebarkan untuk melakukan provokasi dan teror, karena diragukan acara seperti itu dapat digelar di Stadion GBK, Senayan.

Jika ditelisik secara seksama munculnya keberanian kader-kader PKI mempelopori kebangkitan PKI mendapat momentum dengan lahirnya era reformasi. Sejak 1998 ratusan buku PKI pun diterbitkan kader-kadernya dengan gencar termasuk isinya yang terus menerus melakukan manipulasi dan penipuan dan penghilangan jejak keterlibatan PKI dalam peristiwa Pemberontakan PKI 1948 dan G.30.S.PKI 1965.

Buku karangan dr. Ribka Tjiptaning Proletariati "Aku Bangga Jadi Anak PKI" (2002) dan "Anak PKI Masuk Parlemen" (2005) dengan berani melakukan klaim-klaim luar biasa bahwa PKI adalah korban dan bukan pelaku pemberontakan. Ribka menulis : “Aku ingin meluruskan sejarah bahwa tragedi tahun 1965 yang dipublikasikan kepada orang banyak sebagai pengkhianatan dan tindakan PKI adalah pembodohan sejarah bagi generasi muda khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Gerakan 30 September 1965 diklaim sebagai kekejaman PKI untuk menggulingkan kekuasaan Bung Karno. Padahal PKI tidak mengenal penindasan dan kekejaman terhadap rakyat kecil dan ketika itu PKI adalah partai legal yang sejalan dengan konsep Nasakom Presiden Soekarno. Sebaliknya PKI justru sangat anti penindasan dan penghisapan terhadap rakyat……..Aku berkeyakinan PKI secara organisasi tidak bersalah, pertistiwa tersebut terjadi karena Soeharto ingin menjatuhkan dan merebut kekuasaan Soekarno!,” tulis Rbka di pengantar bukunya. Buku ini semakin menjadi  penting karena mendapat kata sambutan dari Presiden Aburrahman Wahid.

Klaim bahwa PKI anti penindasan dan kekejaman, tentu isapan jempol dan penipuan luar biasa. Jatidiri ideologi komunis sebagai pelaku pembantaian untuk melancarkan tujuannya sudah sangat mutawatir dan selalu dilakukan.

Di dunia internasional melalui Revolusi Bolshevik 1917 dan Revolusi Kebudayaan Cina jutaan manusia dibantai, juga rezim Komunis Pol Pot di Kamboja. Di Indonesia apakah akan diingkari kekejaman PKI di Madiun 1948. Bahkan pada menjelang Pemberontakan PKI 30 September 1965, PKI juga membantai anggota Anshor di Tjemethuk, Banyuwangi dengan cara meracun anggota Anshor, satu truk, yang tengah melintas menuju acara tabligh akbar. Mereka dicegat pura-pura menjadi simpatisan Anshor dengan membagi mereka dengan nasi bungkus yang ternyata telah dibubuhi racun sehingga semua penumpang truk tewas. Saat ini monumen kekejaman PKI di Tjemethuk itu sudah dibangun di lokasi kejadian, Tjemethuk Banyuwangi.

Memang dalam tataran kajian akademis bisa berdebat sejumlah pakar untuk menentukan siapa sebenarnya otak di balik Pemberontakan PKI 20 September 1965.P ara ilmuwan itu niscaya membawa missi yang rupa-rupa. Seperti Ben Anderson menyimpulkan sebagai persoalan internal TNI-AD. Peter Dale Scott menyimpulkan CIA sebagai dalang, sementara buku karya Greg Poulgrain : The Genesis of Confrontation Malaysia-Brunei,  Peristiwa 30 September 1965 adalah pertemuan kepentingan AS-Inggris. Dan Victor M. Vick menyimpulkan Soekarno adalah dalang G.30.S PKI 1965. Dan yang paling valid niscaya karya Nugroho N. dan Ismail Saleh : G.30.S PKI Dalangnya Pimpinan PKI. Pimpinan PKI merupakan dalang pemberontakan PKI itu. Buku Jenderal Nasuition mengungkapkan kesaksiannya.

Fakta telak lainnyai terungkap pada kejadian malam 30 September 1965, di mana digelar rapat Dewan Militer Politbiro CC PKI di rumah Syam Kamaruzzaman di Jalan Salemba Tengah, Jakarta Pusat yang berlangsung jam 23.30 guna melakukan pengecekan terakhir rencana Gerakan  G.30 S. Ketua CCPKI DN Aidit bertindak sebagai Ketua Dewan Militer, sedangkan Syam sebagai Wakil Pemimpin Pelaksana dan Letkol Inf. Untung adalah komandan di lapangan. Sebagai  anggota Dewan Militer adalah Mayjen Pranoto Reksosamudro dan Mayor Udara Soejono. Dalam rapat ditegaskan dalam rapat ini Gerakan G.30.S. adalah gerakan menguasai militer dengan mengambil-alih pimpinan TNI-AD. Instruksi politik yang dianggap sah adalah dikeluarkan oleh Dewan Militer Polit Biro CC PKI. (Dalam pengadilan tokoh-tokoh PKI kemudian dokumen autentik rapat di rumah Kamaruzzaman ini pun terbongkar dan ditemukan bukti-buktinya).

Fakta  kekejaman PKI selebihnya tentu saja diidap jutaan bangsa Indonesia lainnya yang pernah mengalami sendiri dan menyaksikan kekejaman PKI dalam berbagai metode yang mereka jalankan. Saksi-saksi pada kekejaman 1948 juga 1965, masih banyak yang terus bisa dilakukan para saksi untuk mengungkapkan. Namun kader-kader PKI rupanya tidak peduli. Mereka terus melakukan manipulasi dan kebohongan yang luar biasa. Jika kebohongan terus ditebarkan jutaan kali, niscaya suatu hari berbalik menjadi kebenaran. Inilah tantangan bangsa Indonesia untuk menangkal kekejaman PKI. Sikap aktif melawan gerakan kebanngkitan PKI menjadi kunci perlawanan nyata bangkitnya PKI di Indonesia. Wallahu a’lam bissawab.

0 Komentar