Citra PKS Kini Berubah

Rabu, 23 September 2015 - 20:29 WIB | Dilihat : 7739
Citra PKS Kini Berubah Ilustrasi : Pembukaan Munas PKS ke-4 di Depok, Jawa Barat, 14 September 2015. (foto: viva.co.id)

 

Citra Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kini berubah. Perubahan ini dirasakan Suara Islam, saat mengikuti Munas (Musyawarah Nasional) ke-4 PKS,14-15 September 2015 lalu di Depok, Jawa Barat. 
 
Dalam pidato penutupan Munas, Ketua Majelis Syuro PKS, Dr. Salim Segaf Al Jufrie mengungkapkan rasa syukur tak terkira karena suksesi PKS berlangsung secara tenang damai dan demokratis dalam peralihan pimpinan PKS tanpa ada yang merasa menang maupun di kalahkan. 
 
DPP PKS yang baru pun terbentuk pada Musyawarah I Majelis Syuro di Bandung, 10 Agustus 2015. Dr Mohammad Sohibul Iman ditetapkan sebagai Presiden PKS (2015-2020) menggantikan M. Anis Matta dan Dr. Salim Segaf Al Jufrie sebagai Ketua Majlis Syuro menggantikan Ustaz Hilmi Aminuddin.
 
Keputusan penetapan pemimpin puncak PKS ini membawa perubahan yang sangat mencolok. Pers nasional saja mengaku sangat kaget dengan even Musyawarah PKS di Bandung itu. Tanpa terdengar sebelumnya berita di sekitar suksesi PKS itu, tiba-tiba sudah terjadi dan dua pimpinan lama yang dianggap bagai tak tergantikan, yakni Ustaz Hilmi Aminuddin dan Anis Matta diganti begitu saja setelah dilakukan pemilihan yang demokratis. 
 
Hilmi yang selama ini acapkali disebut-sebut sebagai pimpinan puncak dan pendiri PKS eksistensinya tidak bakal digantikan sampai ia meninggal. Hilmi juga dijuluki sebagai Grand Murabbi, Imam Besar bagi anggota PKS. Sementara  M. Anis Matta duduk sebagai Sekjen PKS sebanyak empat kali sejak PKS (d.h PK) berdiri pada 1998 s/d 2013, lalu menjadi Presiden PKS 2013-2015 karena Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq ditetapkan sebagai tersangka korupsi. 
 
Anis sepanjang duduk sebagai Presiden PKS disebut-sebut bekerja keras melakukan konsolidasi dan berhasil mendongkrak nama PKS yang terpuruk karena kasus korupsi itu. Hasilnya PKS yang diprediksi suaranya bakal merosot bahkan tak mampu lolos Parliamentary Treshold, ternyata suaranya dalam Pemilu 2014 justru bertambah  lebih 200.000 suara dari 8,2 juta suara menjadi 8,4 juta suara, namun turun dari 7,8% menjadi 6,9%. Perhitungan semua lembaga survei pun salah total. Menurut sumber Suara Islam, Anis Matta kini tidak dilibatkan sama sekali di dalam kepengurusan PKS yang baru. Anis berdiri di luar PKS. Begitu halnya Hilmi berdiri di luar dengan alasan terganggu kesehatannya. 
 
Dalam pidato penutupan Munas ke-4 PKS, Dr. Salim berkali-kali menekankan kepada seluruh jajaran kader PKS dari pusat sampai daerah harus menempatkan diri sebagai insan dakwah. Kekuatan PKS hakikatnya menurut Salim Segaf Al Jufrie, tiap-tiap kader PKS mempunyai missi sebagai “da’i fisabilillah”, dan  dalam fungsi seperti itu mereka mempunyai “kenikmatan”  sebagai khalifah di muka bumi. 
 
Salim mengingatkan peringatan Allah kepada PKS yang menerima “kenikmatan" yang melimpah itu, sehingga menjadi lupa diri. Salim mengillustrasikan kader PKS yang mendapat nikmat sebagai anggota DPR-DPRD, bupati/walikota hingga gubernur dan menteri, bisa lupa diri, misalnya sehari saja mereka dihormati bawahannya dengan puluhan kali dibuka dan ditutupkan pintu mobilnya, sementara tugas sebagai khalifah dia wajib melaksanakan shalat lima waktu hanya tujuhbelas rakaat saja, sehari semalam sekaligus memandu umat. 
 
Ikrar yang dibacakan para pengurus DPP PKS yang baru menurut Salim yang didengarkan seluruh kader PKS dari seluruh Indonesia itu, hendaknya juga benar-benar dijadikan komitmen seluruh kader PKS. “Apakah semua kader PKS siap melaksanakan semua butir ikrar tadi,” Tanya Dr Salim, dijawab gemuruh: “Siap!", oleh ribuan  ader PKS yang memenuhi gedung Balairung Budi Utomo Hotel Bumi Wiyata Depok.
 
Nuansa dan tekad kini hendak mengubah penampilannya itu diulang-ulang Dr. Salim agar PKS yang jati dirinya adalah dakwah Islamiyah agar kembali melaksanakan amanah itu secara konsisten. Dan jika amanat tugas itu dilaksanakan secara sungguh-sungguh maka niscaya missi PKS seperti tercetak dalam baner Munas ke-4 ini : "Berkhidmat untuk Rakyat", dengan sendirinya niscaya akan tercapai. 
 
Landasan PKS yang kembali ke basis Islam ini tampak menjadi program urgen DPP PKS di bawah Sohibul dan Salim Al Jufri, khususnya untuk mengoreksi performance PKS beberapa tahun terakhir di mana PKS tersandung kasus-kasus korupsi pada kadernya, juga terjadi salah paham dengan kalangan umat Islam lainnya yang justru menjadi basis dukungan mereka. Dalam kaitan ini DPP PKS pada 8 September 2015 lalu juga mengundang dialog puluhan ormas Islam. 
 
Menutup pidatonya, Dr Salim mengajak seluruh kader PKS agar mewarnai rakyat Indonesia dengan menyebarluaskan kegiatan solutif bagi rakyat Indonesia yang belakangan ini dirundung berbagai malapetaka, khususnya terpuruknya ekonomi Indonesia. Kondisi ini menurut Salim harus direspon dengan taqarrub ilallah, mendekatkan kepada Allah dan memohon ampunan-Nya. Maka Sali mengimbau agar memasyarakatkan tindakan itu dengan : Indonesia Bertobat, Indonesia Berdamai. 
 
Gerakan PKS yang lain dan kini baru digencarkan untuk mewarnai bangsa Indonesia yang memang rakyat Muslim terbesar di dunia itu, adalah  gerakan : Mari Mengaji Indonesia. Gerakan itu katanya sudah berhasil menebarkan pembelajaran hafal Alquran, sehingga kini sudah muncul satu dua pemain sepakbola nasional tapi hafiz Quran, ada  atlet, artis, seniman tapi hapal Alquran. 
 
Jika gerakan ini betul-betul digalakkan terus-menerus, diyakini bangsa Indonesia akan berhasil mencapai cita-citanya yang sejati. Makmur dan mendapat ridha Illahi Rabbi, dengan munculnya para pemimpin dengan watak dari pencerminan ajaran Islam, Alquranul Karim. [ASA]
0 Komentar