Pulau Yesus Kristus

Jumat, 04 September 2015 - 10:45 WIB | Dilihat : 10638
Pulau Yesus Kristus Ilustrasi : #ParadeTauhidIndonesia.


HM Aru Syeiff Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam
 
Apa pula maksudnya judul di atas : Pulau Yesus Kristus ? Istillah itu berasal dari klaim orang Kristen di Papua yang menyebut pulau di ujung timur negeri ini sebagai : Pulau Yesus. Sementara orang Kristen di Kalimantan yang kini merasa menang secara politik di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, kini mulai menyebut Kalimantan sebagai Pulau Kristus. Istilah-istilah ini menyusul klaim sebelumnya bahwa NKRI menjadi kepanjangan : Negara Kristen Republik Indonesia, bukan lagi Negera Kesatuan Republik Indonesia yang sebelumnya telah menjadi istilah baku.
 
Istilah Negara Kristen Republik Indonesia, mengemuka setelah orang Islam di Indonesia menyadari Indonesia sebagai Negeri Muslim Terbesar di dunia (hampir 88%) ini, pada hari-hari menjelang Natal, justru didominasi oleh suasana (bagai negeri) Kristen yang sangat menyeluruh. Lagu-lagu gerejani berkumandang di mana saja orang berada, mulai di toko-toko atau mall, stasiun kereta, bandara, bahkan di gedung-gedung pusat bisnis, dan seterusnya. Hiasan Natal terdiri Pohon Terang pun bertebaran di tempat  yang telah disebut di atas juga menjadi hiasan orang-orang kampung, sampai di gang-gang kota besar, kendati mereka sebenarnya beragama Islam. Mereka berdalih sekadar memberikan ucapan selamat Natal, dan tidak menggubris fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang selalu diedarkan bahwa mengucapkan Natal buat orang Kristen hukumnya Haram. Apalagi ikut merayakan Natal. Orang Muslim dari Timur Tengah yang menyaksikan suasana dominasi Kristen inipun  menyebut sarkastis : NKRI sebagai Negara Kristen Republik Indonesia. Sungguh ironis.
 
Lebih sekadar sinis dan sarkastis, dominasi Kristen di Indonesia itu menurut Ustd Bernard Abdul Jabar sejatinya memang direncanakan secara mati-matian oleh missi Kristen di Indonesia. Berbicara pada acara Temu Pembaca Tabloid Suara Islam di Masjid Baiturrahim Jalan Dr. Saharjo Tebet Jakarta 22 Agustus 2015 dengan topik : Kupas  Tuntas Kasus Tolikara,  Bernard yang mantan missionaris dan cucu seorang Pastur di Jawa Timur ini, mengupas rahasia rencana Kristenisasi  di Indonesia, di mana pada 2020 telah ditetapkan sebagai : Tahun Tuaian (panen). 
 
Menurut Bernard sejak 2005 orang Kristen telah merencanakan manuver baru dalam merealisasikan “Realisasi Tuaian 2020” dengan mempergunakan strategi Injil Matius 10 ayat 16 : “Licik seperti ular santun bagai merpati,” dengan menamakan  Gerakan Penuaian Jiwa dan Transformasi sebagai proyek Kristenisasi terbesar dengan melibatkan semua elemen baik Kristen Protestan maupun Kristen Katolik. Dan tahun 2020 ditargetkan  sebagai tahun keberhasilan sebagaimana disampaikan Pendeta Dr Jeff Hammond dalam bukunya transformasi Indonesia sejak G/30/S PKI terjadi masa koiros(tuaian/panen) di Indonesia sehingga dalam enam tahun terdapat lebih tujuh juta orang di Pulau Jawa yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Jika pada awal Tahun Tuaian yakni pada 2005, sudah sukses, maka pada Tahun Tuaian 2020 akan menjadi sukses tak terkira mengkristenkan Indonesia sekaligus sebagai Tahun Penggenapan.
 
Menurut Bernard, Strategi orang Nasrani sangat “tangguh” dan cenderung tidak peduli melanggar hukum di suatu negeri di mana mereka sedang melancarkan aksi Kristenisasi. Menurutnya, aksi Kristenisasi selalu mendompleng musibah, huru-hara, melakukan kamuflase di balik peperangan.Missi Kristenisasi gencar dilancarkan di tengah musibah meletusnya Gunung Merapi, Tanah Longsor Banjarnegara belum lama, juga tsunami di Aceh, bahkan peperangan mengerikan di Afghanistan, Irak, Suriah, juga di balik runtuhnya Komunis di Sovyet pada 1990. 
 
Dalam konteks hari ini di Indonesia, Bernard menyebut strategi orang Nasrani yang lalu bersatu-padu antara Katolik dan Protestan untuk menggerus Negeri Muslim bernama Indonesia ini. Dengan issue Papua yang  telah diklaim sebagai Pulau Yesus, maka orang Kristen memaksa siapa saja di Papua harus mengikuti “ aturan” mereka. Bupati, Kapolres, Pemda secara keseluruhan, Kodam hingga Kodim dan Koramil harus mengikuti “aturan” mereka. Itulah yang telah diterapkan di Tolikara dan berujung Peristiwa Tolikara berupa pembubaran shalat Idul Fitri di halaman markas tentara, di mana Sang komandan militer dan Kapolres ikut shalat Idul Fitri, namun tak berdaya atas pembubaran shalat Idul Fitri pada 17 Juli 2015 bahkan diikuti pembakaran toko-toko. Lebih ironis lagi, selang beberapa hari setelah Kasus Tolikara itu, sejumlah pimpinan Kristen Papua sengaja mendatangi (melabrak) Presiden Joko di Istana Negara, dengan “mengancam” agar pelaku Kerusuhan Tolikara tidak ditangkap, dan ditahan, dengan alasan sudah terjadi perdamaian dan jika ditangkap akan menimbulkan ekses negative. 
 
Sungguh luar biasa ancaman kepada kepala negara, namun toh ancaman itu justru direspon positif dengan janji-janji teduh presiden Joko.  Sebaliknya orang Islam yang justru dianiaya, diintimidasi, bahkan diteror di Tolikara itu bisakah mereka minta waktu bertemu Presiden Joko? Nyatanya tidak pernah ada pertemuan seperti itu. Malah pengacara Muslim Abdul Chair yang telah mengadukan kasus Tolikara itu ke Polri, laporannya bagai dipeti-eskan hingga sekarang.Singkat kata Orang Kristen memang merajalela sekehendak maunya di negeri Muslim Indonesia ini.
 
Kalimantan Pulau Kristus
 
Lagi menurut Bernard, mengikuti alur yang bisa apa saja sepak-terjang bisa dibuat di Indonesia, di jalur politik pun mereka—orang Kristen,minoritas-- bermain habis-habisan untuk mempecundangi orang Islam. Itulah yang terjadi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah,di mana dua propinsi di Kalimantan itu dikuasai dua orang gubernur Kristen dan sejumlah kepala daerah Kristen, kendati penduduknya mayoritas beragama Islam. Apalagi jika satu daerah tercatat penduduknya mutlak didominasi Kristen, seperti Sulawesi Utara, Manado, Nusa Tenggara Timur dan Papua.Bahkan Propinsi Maluku sejatinya penduduk Islam dan Kristen hampir sama jumlahnya, namun klaim Kristen sangat menonjol di Maluku. Begitu juga di Tanah Toraja di mana Kristen mayoritas, namun secara umum di Sulawesi Selatan dijadikan posisi tawar, di mana orang Kristen meminta peranan di propinsi Muslim Sulawesi Selatan itu.Cerita seperti ini pula di balik pemaksaan pembentukan provinsi Kristen di Sumatera Utara yang gagal itu.
 
Kini menurut Bernard, orang Kristen saat ini tengah melancarkan klaim Kalimantan sebagai Pulau Kristus. Acara puncak peringatan kemerdekaan ke-70 tingkat nasional 22 Agustus 2015 yang dipusatkan di Pontianak Kalimantan Barat pun dijadikan target dan melancarkan aksi klaim Pulau Kristus itu.Acara yang diberi judul Karnaval Khatulistiwa itu dihadiri presiden Joko dan Nyonya serta puluhan ribu rakyat—yang niscaya mayoritas Muslim—menyaksikan karnaval yang disetting warna suku Dayak dan etnis keturunan China yang mayoritas Kristen itu. Namun rakyat Muslim tetap saja menyambut gegap-gempita hiburan karnaval di jalanan kota Pontianak dan di perairan Sungai Kapuas itu.
 
Kenyataan kesukaan rakyat terbanyak di negeri ini belum begitu beranjak sejak 1960-an terhadap minat karnaval dan pertunjukan hura-hura. Pada 1960-an awal, PKI (Partai Komunis Indonesia) gencar melakukan show of force melalui karnaval, drum band, baris-berbaris, bela-diri di jalanan kota-kota seluruh Indonesia. Kebesaran PKI pun dipamerkan melalui karnaval dan digelar dalam berbagai peringatan hari besar di Indonesia. 
 
Kesukaan ini rupanya “ditangkap” oleh panitya Carnaval Jember lebih sepuluh tahun lalu, yang memperagakan peragaan fisik kaum wanita dengan menonjolkan seks appeal, diberi busana yang sangat spektakuler. Gaya Carnaval Jember ini pun diadopsi kota-kota besar lainnya di Indonesia sehingga di mana-mana marak digelar karnaval dengan busana pajangan yang spektakuler itu. Apa manfaatnya ?Terbukti tak bermanfaat apa-apa. 
 
Harga kebutuhan pokok di era presiden Joko ini melonjak harganya hampir dua kali lipat tak pernah terjadi di bawah presiden-presiden sebelumnya yang maksimal beras naik harganya tak lebih 10%, kini naik hampir 100% dan sudah berlangsung enam bulan terakhir tak bisa diturunkan lagi harganya. Harga daging sapi juga melonjak gila-gilaan pasca Lebaran. Ini kali pertama terjadi lepas Lebaran daging sapi malah naik 50%-75%. Yang lebih mengerikan nilai kurs rupiah di mata dolar Amerika terus merosot kini menjelang  Rp 14rb/dolar ASmenuju Rp 15rb/dolar AS. Jika mencapai Rp 15rb/dolar AS, maka ambruklah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) di bawah kekuasaan Presiden Joko.
 
Prediksi ini terakhir disampaikan Amien Rais dalam acara ulang tahun PAN (Partai Amanat Nasional) di Bandung (23/8). Yang paling relevan pun apa dampak positif Carnaval Jember dan semua karnaval lain di Indonesia terhadap dunia pariwisata, sehingga menarik kunjungan wisata di Indonesia ?Ternyata nol besar, kunjungan wisata di Indonesia sangat kecil dibandingkan Singapura Negara Kota itu, Malaysia, juga Thailand yang kunjungan wisatanya mencapai 25 juta orang/tahun.Kini di tangan Menko Kemaritiman dan Sumber Daya yang baru Rizal Ramli baru dinaikkan target kunjungan wisata Indonesia dari 10 juta menjadi 15 jt/tahun. Sekali lagi karnaval tidak membawa manfaat apa-apa selain hura-hura belaka.
 
Sebuah Apabolehbuat
 
Kesukaan dan bahkan ‘kegilaan’ rakyat luas terhadap karnaval yang justru hanya bernilai hura-hura itu, tampaknya harus diantisipasi oleh kalangan Islam, yang harus mengimbangi kegiatan yang serupa—walau dijauhkan dari sifat mubazir dan hura-hura—yakni dengan menggelar acara Parade Tauhid yang digelar longmarch jalan kaki dari Senayan sampai Bunderan Hotel Indonesia. Menurut TVRI acara Parade Tauhid itu diikuti sedikitnya 100 ribu jamaah sehingga menyaingi acara Car Free Day hari itu 16 Agustus 2015.
 
Penekanan acara Parade Tauhid yang bernilai edukasi dan Syiar Dakwah niscaya tercapai yakni menumbuhkan kesadaran penting nya Tauhid bagi seorang Muslim dalam kehidupan individu maupun keluargannya sekaligus mengekspresikan rasa syukur kemerdekaan RI ke-70, sekaligus menumbuhkan ukhuwah Islamiyah di antara ratusan ribu peserta Parade Tauhid itu. 
 
Dominasi Parade Tauhid sepanjang Jalan sekitar Stadion Senayan-Jalan Sudirman dan Jl MH Thamrin, telah menunjukkan eksistensi dan kebesaran Islam yang memang mayoritas di Indonesia.Warna acara Car Free Day yang didominasi generasi muda sekuler dengan busana seronok tiap minggu pagi itu segera digantikan busana-busana Islami. Apalagi sejumlah kyai dan habaib pun tampil memberikan orasi keagamaan, yang mencerahkan antara lain : Habib Rizieq, KH. Abdul Rasyid Abd. Syafi'ie, KH.Cholil Ridwan, KH. M. Al Khathath, KH. Arifin Ilham, Ustd Abu Jibril, hingga dai anyar Bachtiar Nasir. 
 
Kegiatan missionaris yang gencar mengkristenkan orang miskin di tengah Car Free Day pun—jika ada—niscaya bisa dihalau dan dilumpuhkan. Acara Parade Tauhid ini kabarnya digelar karena orang Kristen juga sudah menggelar Parade Kristus. Tampaknya dibutuhkan keseimbangan, dan eksistensi. Sebuah apabolehbuat!! []
 
0 Komentar