Mereka Berlagak Pilon

Senin, 24 Agustus 2015 - 14:21 WIB | Dilihat : 1405
Mereka Berlagak Pilon Bekas kios-kios yang dibakar jemaat GIDI dalam tragedi Tolikara, 17 Juli lalu.(foto: fajar/kiblat)

 

HM Aru Syeiff Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam
 
 
Menjelang dan sepanjang Ramadhan 1436 H, Suara Islam tampil tiga edisi ( 201,202 dan 203) yang sepenuhnya membahas kaitan dan hikmah Bulan Suci itu secara tuntas. Alhamdulillah pembaca dan umat pada umumnya mendapat panduan mulai ibadah  shaum, Qiyamullail Ramadhan, kajian Al Qur’anul Karim yang diturunkan wahyu-Nya pertamakali di bulan Ramadhan, hingga pembahasan meraih Malam Lailatul Qadar dan seterusnya. Rasanya umat Islam setanah air—walau dimulai di awal Ramadhan galau hendak memasuki Ramadhan karena faktor kesulitan ekonomi—sangat teduh dan nyaman menjalani Ramadhan dan dengan khusuk bisa maksimal menjalankan amalan di Bulan Suci.
 
Suasana khusuk dan nyaman itu mencapai puncaknya di malam Lebaran dengan berkumandangnya takbir pada malam 1 Syawal 1436 bersamaan 17 Juli 2015. Di saat penduduk se tanah air masih terdengar sayup-sayup  memperdengarkan takbir, khususnya bagi penduduk yang tinggal di wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Bagian Barat yang baru saja siap—siap menjalankan shalat Subuh, tiba-tiba beredar melalui SMS : Umat Islam Dibantai di Tolikara Papua. 
 
Penulis saat itu tengah berada di kampung di daerah Sumatera Selatan, baru saja pulang dari shalat Subuh di Masjid dan tengah siap-siap hendak sarapan sekadarnya sebagai tanda berakhirnya bulan Ramadhan dan siap-siap hendak berangkat shalat Idul Fitri, sungguh terperangah membaca sms yang dikirim oleh anggota FPI (Front Pembela Islam) yang ada di Papua. Penulis pun langsung menghubungi per telepon pengirim sms. Baru agak jelas dan terinci dilapori pengirim sms, dengan nada gugup dan gemetar yang mengaku berada di lokasi shalat Idul Fitri di Tolikara dan tiba-tiba dibubarkan oleh gerombolan  Kristen dengan paksa. Padahal ikut shalat Ied di antaranya pejabat kepolisian dan militer di Tolikara yang tidak bisa mencegahnya. 
 
Bahkan diceritakan dengan gemetar deretan toko berlokasi beberapa puluh meter dari lokasi shalat Ied yang dimiliki  umat Islam pun mulai dibakar. Belakangan kita membaca berita 50-an bahkan 63 toko-toko milik pedagang Muslim Tolikara itu ludes rata tanah, dibakar, juga Masjid Tolikara yang dibangun sejak 1945. Dengan hati penuh kerisauan, penulis mengikuti khutbah Idul Fitri di tengah lapangan yang mulai diterpa sinar matahari, tiba-tiba masuk sms dari Habib Rizieq, imam FPI yang membuat pernyataan keras dengan terjadinya : Terorisme Kristen  atas Islam di Tolikara Papua. Peristiwa Tolikara ini segera mengingatkan Perang Islam-Kristen di Ambon-Maluku yang dimulai juga pada 1 Syawal  sepulang umat Islam dari shalat Idul Fitri pada 1999, tiba-tiba diserang secara biadab gerombolan Kristen. Perang Islam-Kristen pun pecah lebih 10 tahun, di Maluku.
 
Pagi Idul Fitri 17 Juli 2015 hampir semua media TV nasional dan apalagi daerah belum ada yang menyiarkan Tragedi Tolikara. Baru siang/sore harinya muncul berita yang samar-samar : Telah terjadi pembubaran shalat Ied di Tolikara karena kesalah-pahaman. Semua media menyebut sebagai kesalah-pahaman. Sekali lagi ditekankan berita itu sebagai : Kesalah-pahaman. Inilah sikap orang sekuler bahkan orang-orang Kristen di Indonesia, yang spontan bersatu padu mengeluarkan jurus: Berlagak pilon, seraya menutup telinga sendiri dan telinga orang lain agar tidak mengembangkan tragedi Tolikara dengan segala cara sebagai berita yang merugikan Kristen.  Dan tanpa menjelaskan berita yang lebih lengkap, media sekuler itu pun kemudian memberitakan bahwa Presiden Joko, cepat tanggap terhadap peristiwa Tolikara dan memerintahkan agar pemerintah segera membangun kembali kios-kios yang terbakar.  Tidak ada kronologi berita yang fair. Tidak ada pernyataan berita tokoh-tokoh LSM yang biasanya sangat sigap dan sensitif terhadap berita berbau pelanggaran HAM. 
 
Gugatan-gugatan sikap intoleransi yang hampir dibunyikan  setiap hari ditujukan kepada umat Islam, tiba-tiba ‘cep-klakep’ diam seribu bahasa, dan tiba-tiba tampil bagai orang tuli : Berlagak Pilon tadi. Namun sikap ini hanya berlangsung sementara saja, karena ketika diketemukan “kedok” penutup malunya, maka mereka mulai tampil di pemberitaan, dan kini tanpa malu-malu mulai memplintir-plintir berita Tolikara, dan tampil sebagai pihak yang ksatrya ingin memprakarsai perdamaian, seraya mengutip tokoh Islam lokal yang ternyata tidak cukup marah dan bahkan naïf, mengantisipasi berita penyerangan biadab Tolikara, yang terang benderang sebagai tindak terorisme Kristen kepada umat Islam.Sikap umat Islam kelihatan centang-perenang, kehilangan langkah-langkah koordinasi, misalnya menggugat kepada pelaku yang terang-benderang dilakukan oleh GIDI (Gereja Injili di Indonesia), juga menggugat aparat keamanan yang jelas-jelas pula melakukan pembiaran tindak terorisme biadab ini. Sejumlah kelompok dan Ormas Islam sampai Majelis Ulama Indonesia (MUI), Papua juga MUI Pusat, bergantian membuat pernyataan yang mempertontonkan kelemahan mereka, sekaligus membuktikan  kekurang-pahaman untuk mencermati hakikat dan substansi Tragedi Tolikara (walaupun sebenarnya kasus Tolikara sangat gamblang dilihat oleh orang awam sekalipun). Ormas-ormas Islam itu telah gagal memahami substansi Tragedi Tolikara. Seperti MUI Pusat sibuk membuat konprensi pers  saja. Apa yang diumumkan MUI ternyata—hanya-- hendak mengirimkan Tim Investigasi ke Tolikara.  Tentu sangat aneh pembentukan tim ini, hanya untuk menginvestigasi Tragedi Tolikara.
 
Apanya lagi yang diinvestigasi ? Bukankah kasusnya sudah demikian gamblang dan faktual yakni : Umat Islam tengah melaksanakan Shalat Idul Fitri pada 17 Juli 2015, di Tolikara, di tengah mereka sedang bersujud, muncullah gerombolan Kristen GIDI membubarkan shalat Id itu dan bersamaan dengan itu teroris Kristen itu membakar toko-toko milik pedagang Islam, juga masjid Tolikara yang berlokasi hanya beberapa puluh meter dari lokasi shalat Id yang dibubarkan itu. Siapa pelakunya ? Sudah gamblang pula yakni Teroris GIDI. Karena pihak mereka  terang-terangan membuat surat ancaman kepada umat Islam pada 11 Juli 2015 agar tidak menggelar shalat Id pada 17 Juli. Surat Edaran yang bagai di keluarkan oleh Raja Diktator ke wilayah kerajaannya itu pun ditembuskan ke sejumlah pejabat berwenang: mulai Pemda aparat militer dan kepolisian. Mengapa aparat keamanan melakukan pembiaran ? Kasusnya sudah sangat gamblang lalu apanya lagi yang diinvestigasi ? Ada lagi tokoh-tokoh Islam yang juga latah membentuk tim serupa dan mengedarkan pernyataan bersama. Apa yang dituntut? Ternyata hanya agar aparat keamanan menjamin bantuan yang diberikan ke Tolikara bisa selamat sampai tujuan.
 
Pernyataan dan Usul Habib Rizieq
 
Di tengah sikap centang-perenang di antara Ormas dan Pimpinan Islam, Alhamdulillah muncul pernyataan Imam FPI, Habib Rizieq Shihab, soal Tolikara ini yang sangat komprehensif mengantisipasi Tragedi Tolikara ini. Sayangnya usulan ini tidak pernah dijadikan agenda perdamaian Tolikara oleh siapapun. Untuk menjadi pelajaran bersama,  penulis kutip lengkap usulan Habib Rizieq itu sebagai berikut : Perdamaian Tolikara 23 Juli  2015. Bismillah Wal Hamdulillah…Walaa Haula Quwwata Illa Billaah…. Berbagai media cetak dan elektronika dengan gegap-gempita dan penuh semangat berlomba-lomba memberitakan “Perdamaian Tolikara” solah-olah masalah sudah selesai. Kentara sekali media liberal ingin segera menutup berita Intoleransi Kristen  Radikal di Papua. Padahal ketika awal kejadian semua bungkam seribu bahasa untuk menyembunyikan kebiadaban Kristen Radikal. POPOSAL PERDAMAIAN : Hingga saat ini, walaupun  secara “seremonial” telah dilaksanakan “perdamaian” di Tolikara Papua, namun isi proposal perdamaian tersebut masih tidak jelas.Perdamaian Tolikara harus komprehensif yaitu mencakup perdamaian dalam semua aspek kehidupam beragama dan bermasyarakat di seluruh Papua antara lain : (1) Tidak boleh lagi ada larangan jilbab bagi Muslimah, sebagaimana umat Kristen di wilayah mayoritas Islam tidak pernah dilarang memakai atribut kekristenan seperti salib dan lainnya. (2) Tidak boleh lagi ada larangan ibadah umat Islam sebagaimana umat Kristen di wilayah mayoritas Islam tidak pernah dilarang kebaktian dan Natalan serta aneka ritual lainnya.(3) Tidak boleh lagi ada larangan penggunaan speaker di dalam masjid sebagaimana gereka di wilayah mayoritas Islam tidak pernah dilarang memakai speaker di dalam gereja, walau suara lonceng, piano, gitar serta kuur paduan suara gereja sering terdengar keras hingga keluar gereja. (4) Tidak boleh lagi ada larangan pemasangan plank nama masjid dan mushalla serta madrasah, sebagaimana umat Kristen di wilayah mayoritas Islam tidak pernah dilarang memasang plank gereja, dan sekolah Kristen, serta lambang salib dan patung Yesus maupun Bunda Maria.(5) Tidak boleh lagi ada pagelaran acara keagamaan Kristen yang mengganggu pelaksanaan  umat Islam di masjid maupun mushalla di Hari Besar Umat Islam seperti saat pelaksanaan shalat Jumat dan shalat Hari Raya, sebagaimana umat Islam di wilayahnya sendiri pun tidak pernah menggelar tabligh akbar majlis dzikir di depan gereja saat ada kebaktian atau Natalan. 
 
Intinya tidak boleh lagi ada intoleransi dan diskriminasi serta intimidasi terhadap umat Islam dalam bentuk apapun sebagaimana umat Kristen di wilayah mayoritas Islam bisa hidup tenang tanpa penindasan. Jika kelima perkara di atas tidak dituangkan dalam proposal Perdamaian Tolikara, maka itu sama saja dengan pembodohan dan penipuan serta pengkhianatan terhadap umat Islam sehingga wajib ditolak.
 
DAMAI BUKAN PEMUTIHAN : Proposal Perdamaian Tolikara tidak boleh menjadi Pemutihan bagi para perusuh dari kalangan Kristen Radikal, sehingga perdamaian tersebut harus menjamin : (1) Penuntasan proses hukum terhadap semua perusuh. (2) Penangkapan terhadap Pdt Marthen Jingga dan Pdt Navus Wenda yang telah menandatangani Surat Edaran pelarangan jilbab dan shalat Idul Fitri tertanggal 11 Juli 2005.(3) Pengembalian 243 pengungsi yang 100 di antaranya adalah Balita, ke rumah mereka dengan aman dan nyaman, serta harus ada ganti rugi bagi semua korban yang terluka atau kehilangan harta benda (4) Pembangunan kembali masjid dan kios serta rumah umat Islam yang menurut data terakhir ada 49 kios dan beberapa rumah Muslim yang terbakar.(5) Keamanan penggunaan semua masjid dan mushalla se-Papua, khususnya penggunaan kembali masjid Baitul Muttaqien Tolikara yang memang sudah ada sejak tahun 1945, sehingga sudah seusia dengan kemerdekaan Indonesia dan sudah sepatutnya dijadikan Masjid Raya Tolikara.Jika tidak ada jaminan untuk kelima perkara tersebut, maka sama sekali tidak ada makna bagi perdamaian tersebut, sehingga umat Islam tidak boleh menerimanya.
 
ANDAIKATA FPI ? : Sekadar pertanyaan ingin tahu kira-kira apa yang akan dilakukan oleh pemerintah RI dan segenap media liberal serta LSM Komprador,dan lembaga HAM yang dibiayai oleh asing/Barat dalam maupun luar negeri, andaikata FPI menerbitkan surat edaran resmi ditandatangani Ketum dan Sekumnya yang berisikan peraturan wilayah mayoritas Muslim dengan rincian aturan sebagai berikut : (1)Tidak boleh ada umat Kristen yang memakai atribut Kekristenan sepErti salib dan lainnya (2)Tidak boleh ada Kebaktian dan NatalaN serta aneka ritual kekristenan lainnya.(3) Tidak boleh ada speaker, lonceng, piano, gitar dan paduan suara serta pidato di dalam gereja (4)Tidak boleh ada pemasangan plank nama gereja dan nama sekolah kristen serta permasanngan lambang salib dan patung Yesus Maupun Bunda Maria. (5) Tidak boleh ada pagelaran acara Keagamaan Kristen dalam bentuk apapun, karena umat Islam diserukan untuk menggelar tabligh akbar atau Majlis Dzikir di depan gereja setiap ada kebaktian dan Natalan.
 
INTINYA : Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh pemerintah RI dan segenap media liberal serta semua LSM Komprador dan lembaga HAM dalam maupun luar negeri, andaikata FPI menyerukan umat Islam di seluruh tanah air agar menumbuh-suburkan sikap intoleransi dan Diskriminasi serta Intimidasi terhadap umat Kristen di manapun mereka berada ??? []
0 Komentar