Islam Harus Selalu Kalah...

Senin, 20 Juli 2015 - 10:58 WIB | Dilihat : 5351
 Islam Harus Selalu Kalah... Masjid Baitul Muttaqin di Karubaga, Tolikara yang dibakar oleh kelompok teroris Kristen Papua.

Umat Islam Indonesia jumlahnya mayoritas. Angkanya mencapai 85 persen lebih dari keseluruhan jumlah penduduk. Tetapi menjadi mayoritas rupanya tidak menjamin mereka mendapatkan perlakuan yang proporsional. Umat Islam selalu kalah dan diminta mengalah. 

Dalam kasus tindak kekerasan misalnya. Bila pelakunya adalah umat Islam, serta merta saat itu sumpah serapah dari pejabat tinggi negara dan beragam tokoh bermunculan. Presiden langsung bicara: Negara tak boleh kalah dengan kekerasan. Menteri Agama berucap: Kekerasan atas nama apapun dan oleh siapapun tidak dapat dibenarkan. Sementara tokoh-tokoh HAM berucap: itu tindakan intoleran, biadab, dan melanggar HAM. Sementara yang lain lagi berteriak nyaring: Bubarkan....
 
Tapi coba sekarang tengok, saat umat Islam menjadi korban penyerangan. Bukan hanya serangan fisik kepada umat Islam, tetapi juga pelarangan ibadah dan pembakaran Masjid. Ternyata komentar pejabat tinggi negara dan tokoh-tokoh tak ada yang garang. Bahkan sejumlah kalangan Liberal malah menyalahkan umat Islam. 
 
Presiden tidak berucap,"Negara tak boleh kalah dengan kekerasan." Menteri Agama tidak berucap, "Kekerasan atas nama apapun dan oleh siapapun tidak dapat dibenarkan." Lidah-lidah mereka ngilu dan membeku. Bahkan hingga kini, polisi belum juga menangkap pelaku penyerangan dan pembakaran Masjid Baitul Muttaqin yang dilakukan massa Gereja Injili di Indonesia (GIDI) yang dilakukan Jumat pagi (17/07) pekan lalu. 
 
Respon tersebut berbeda ketika umat Islam dituding sebagai pelaku penyerangan ke tempat ibadah lain. Kaum Muslimin bisa langsung dilabeli sebagai teroris, anarkis, intoleran dan seabreg istilah negatif lainnya. Polisi dengan Detasemen Khusus 88 Anti Terornya pun pun sigap, segera memburu pelaku dan menangkapnya. 
 
Berkaitan dengan hal itu, artikel budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun berjudul 'Saya Anti Demokrasi' sangat relevan untuk menggambarkan fenomena yang menimpa umat Islam. Artikel tersebut ada dalam buku Cak Nun berjudul Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997). Berikut kutipannya:

Kalau ada bentrok antara ustadz dengan pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas. Mentang-mentang umat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam-harus mengalah dan wajib kalah.

Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.

Kalau Khadhafi (mantan presiden Libya) kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen.

Kalau Amerika Serikat jemawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Baghdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.

'Agama' yang paling benar adalah demokrasi. Antidemokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaimana yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subjektivisme kaum non-Islam.

Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan Islam.

Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Quran, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomor-nomor musik, yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: "Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang etnis 'gitu..."

Lho kok Arab bukan etnis?

Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.

Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah "Yarim Wadi-sakib...", itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, ketinggalan zaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.

Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan umat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.

Endapan-endapan dalam kalbu kolektif umat Islam itu, kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor-maka akan meledak. Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera mervisi metoda dan strategi penanganan antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan 'sidang pleno' yang transparan, berhati jernih dan berpikiran adil. Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan. []
0 Komentar