Khutbah Idul Fitri 1436 H: Hidup dengan Islam Versi Rasulullah Saw

Jumat, 10 Juli 2015 - 11:18 WIB | Dilihat : 7360
Khutbah Idul Fitri 1436 H: Hidup dengan Islam Versi Rasulullah Saw Ilustrasi : Jamaah shalat tarawih di Masjid Istiqlal Jakarta. (foto: shodiq/si)

 

 
اللهُ أكْبَرُ   × 9
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ واللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ. الله أكبر كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وأعزّ جنده وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ واللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.
الحمد لله الذي سهل لعباده طرق العبادة و أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره الكافرون. و اشهد ان لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وحده لاشريك له وأشهد ان محمداً عبده ورسوله انصح من دعا إلى الله وبشر وأنذر وأفضل من تعبد لله و صلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه و التابعين لهم باحسان و سلم تسليما.
  أما بعد، ايها النَّاسُ اتَّقُوا الله حق تقاته وقال الله تعالى في كتابه الكريم    } أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لاَ يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلاَ مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ {،
 
Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd
Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah,

Alhamdulillâh, segala puji kita panjatkan ke hadhirat Allah Swt, Tuhan semesta alam. Dialah Pencipta dan Penguasa langit dan bumi dan segenap alam raya. Dialah satu-satunya Dzat yang wajib disembah dan tiada sekutu bagi-Nya. Dia pula yang telah memberikan anugerah kepada kita petunjuk hidup yang lurus, dîn yang haq, dan risalah yang adil lagi sempurna, yakni Islam.
 
Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada baginda Rasulullah Saw, beserta keluarga, para shahabatnya, dan seluruh pengikutnya yang berjuang tak kenal lelah untuk menerapkan dan menyebarluaskan risalah Islam ke seluruh dunia hingga akhir zaman.
 
Marilah kita teguhkan dalam hati kita iman dan taqwa kepada Allah Swt, kita tundukkan diri kita kepada aturan syariat Allah Swt.
 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (33) 

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (QS. Luqman ayat 33).

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd
Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah,
 
Semoga seluruh ibadah kita kepada Allah Swt  selama sebulan penuh di bulan Ramadhan meningkatkan kesadaraan kita akan hubungan kita sebagai hamba dengan Allah Swt  Sang Khalik Penguasa Langit dan Bumi, dan semakin sadar bahwa misi hidup kita di dunia hanyalah beribadah kepada-Nya. (QS. Adz Dzariyat 56).  
 
Dengan melaksanakan ibadah shiyam Ramadhan dan berbagai aktivitas ibadah yang menyertainya, serta situasi dan kondisi umat yang kondusif dalam kebersamaan ibadah kepada Allah Swt  seperti yang tampak pada ramainya suasana I’tikaf di berbagai masjid pada sepuluh malam terakhir, terasa sekali indahnya dan nikmatnya hidup dalam kesempurnaan ibadah serta kepasrahan secara menyeluruh kepada Allah Swt .   
 
Masuk dan larut dalam suasana kehidupan Islam yang menyeluruh itu tentu akan menjadi lebih indah manakala bisa kita  wujudkan kembali pada hari ini dan seterusnya sekalipun bulan Ramadhan telah berlalu. Dan inilah yang diperintahkan oleh Allah Swt  agar kita wujudkan sebagaimana firman-Nya: 
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqarah 208).
 
Di dalam Tafsir Jalalain ayat tersebut merupakan teguran atas sikap Abdullah bin Salam dkk mantan Yahudi yang sudah bersyahadat menyatakan diri masuk Islam yang seharusnya hidup sesuai Islam secara total. Mereka ditegur karena masih terpengaruh agama lamanya, masih memuliakan hari Sabtu, membenci onta, dan masih ingin baca Kitab Taurat. Mereka ditegur, bila sudah muslim maka harus hidup mengikuti Islam dengan seluruh syariatnya. Masuk Islam itu mutlak, tanpa syarat.   
 
Jadi ajaran Islam dalam teori dan praktek itu tidak bisa disyarati oleh siapapun dan dari bangsa manapun pemeluk Islam itu.  Orang Yahudi yang masuk Islam seperti pendeta Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya tidak bisa membuat syarat misalnya saya mau masuk Islam tapi ya jangan dilarang kalau sedikit-sedikit kebiasaan saya di masa Yahudi masih saya jalani. Kebiasaan membesarkan hari Sabtu yang merupakan hari ibadah Yahudi tidak bisa dijadikan syarat sebagai hal yang harus diakomodir oleh Islam sebagai mantan Yahudi atau sebagai Islam asal Yahudi. Demikian juga bangsa Jepang tidak bisa mensyaratkan tradisi minum sake dan menghormat bendera hinomaru sambil membungkuk agar diakomodir bagi Islam Jepang. Demikian juga tidak bisa mensyaratkan Jawanisasi langgam Alquran sebagai persyaratan orang Jawa masuk Islam.
 
Apa yang hari ini sedang dikampanyekan sebagai Islam Nusantara sungguh patut dipertanyakan. Sebab dulu para Wali Songo telah berhasil mengislamkan Nusantara, kenapa sekarang ada gejala menusantarakan Islam? Apalagi dibumbui sentiment anti Arab sebagai kedok anti Islam. Faktanya Islam tidak pernah diarabkan, yang pasti Arab diislamkan, walau sebelum Fathu Makkah (tahun 8 H), orang-orang Arab di bawah pimpinan Quraisy menentang Islam dengan keras bahkan sampai terjadi Perang Badar (tanggal 17 Ramadhan tahun 2 H), Perang Uhud (tahun 3 H), Perang Ahzab (tahun 5 H) dan lainnya di masa baginda Rasulullah Saw. Setelah Fathu Makkah, yakni pembebasan kota Makkah dari kekuasaan kaum Quraisy, orang-orang Quraisy dan bangsa Arab berbondong-bondong masuk Islam sebagaimana diabadikan oleh Allah Swt dalam firman-Nya: 
 
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2)

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah (Islam) dengan berbondong-bondong, (QS. An Nashr 1-2).
 
Islam yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah Saw sebagai jalan hidup yang baru bagi bangsa Arab dan ‘Ajam, yakni seluruh umat manusia, terus berjaya hingga saat Beliau  Saw. wafat telah meliputi seluruh Jazirah Arab dan lima tahun kemudian telah mampu membebaskan berbagai negeri yang selama  ini dijajah oleh dua imperium yakni Rumawi dan Persia. Ya di masa Khalifah Umar Ibn Khaththab r.a. pada tahun 15 H, ibukota Persia Madain ditaklukkan oleh pasukan kaum muslimin di bawah Saad bin Abi Waqash. Pada tahun yang sama pasukan kaum muslimin berhasil memukul mundul Kaisar Heraclius dan seluruh bala tentaranya hingga meninggalkan wilayah Syam menuju Konstantinopel.   
 
Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd
Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah,
 
Pola hidup yang bagaimana  yang dituntunkan oleh Baginda Rasulullah Saw buat kita sehingga kita terkatagori masuk Islam secara kaffah dan tidak mengikuti langkah-langkah setan? 
 
Pola hidup yang dibangun oleh Baginda Rasulullah Saw di kota Madinah dapat disimpulkan sebagai berikut: 

Pertama, peradabannya dibangun di atas kalimat tauhid Lailaha Illallah Muhammadur Rasulullah. Peradaban Islam mencakup pemahaman-pemahaman hidup yang bersumber dari Alquran  dan As Sunnah, baik tentang pemahaman kehidupan pribadi, bermasyarakat, maupun bernegara.  
 
Peradaban Islam dalam kehidupan individu meliputi pandangan-pandangan Islam tentang akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah yang membentuk karakter muslim yang bertaqwa, yang memiliki aqidah dan pandangan hidup yang kuat tentang kehidupan dunia maupun kehidupan sesudah mati, yang rajin beribadah mendekatkan diri kepada Allah Swt, yang senantiasa mensifati diri dengan akhlakul karimah, dan juga bersifat benar dan jujur serta terpercaya dalam seluruh muamalahnya.    
 
Peradaban Islam dalam kehidupan masyarakat meliputi pandangan Islam tentang pola hubungan masyarakat yang Islami, yang berporos pada kegiatan sholat berjamaah di masjid-masjid dengan kekompakan dan gotong-royong, serta tolong-menolong,  dan beragam aplikasi  ukhuwah Islamiyyah yang dibangun di atas keimanan di tengah-tengah masyarakat, serta tegaknya amar makruf nahi mungkar dan diberlakukannya sanksi-sanksi hukum syar’i secara formal oleh otoritas Negara untuk mengatasi konflik-konflik yang muncul dalam kehidupan bermasyarakat.  
 
Peradaban Islam dalam kehidupan negara meliputi pandangan Islam tentang negara dan Imam (amirul mukminin) yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga agama (hirasah ad din) sebagai system kehidupan dan menjamin kemaslahatan kehidupan masyarakat (siayasah ad dunya) sehingga pemenuhan kebutuhan masyarakat seperti sandang, pangan, papan, dan berbagai kebutuhan sekunder dan mewahnya bisa diurus dengan baik. Dengan demikian tugas negara dalam peradaban Islam adalah menerapkan kebijakan-kebijakan Islam dalam berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, politik, sosial, pendidikan, dan hukum di dalam negeri, serta mengemban dakwah dan jihad ke luar negeri untuk memperkenalkan syariat Islam yang rahmatan lilalamin.  
 
Inilah yang bisa kita fahami kenapa Rasulullah Saw membangun masjid, membangun pasar, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, dan membuat berbagai perjanjian dengan negara-negara tetangga, termasuk perjanjian yang disebut dengan Piagam Madinah dimana persengketaan antara pihak yang menandatangani piagam tersebut diselesaikan menurut hukum Allah dan Rasul-Nya (lihat Sirah Ibnu Hisyam Juz 3/34).   

Kedua, pola kehidupan yang diterapkan oleh Rasulullah  adalah menjadikan halal-haram sebagai tolok ukur perbuatan. Apa saja yang halal dilakukan,namun apa saja yang haram ditinggalkan. Rasulullah Saw bersabda: “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas…” (Sahih Al Bukhari, Juz I/20).
 
Ketika larangan khamer (minuman keras) turun (QS. Al Maidah 90), Rasulullah Saw segera mengumumkan kepada para sahabat dan mereka serempak langsung menghentikan aktivitas minum khamer, baik sedang minum maupun sedang mengambilnya. Khamer yang masih tersimpan pun dibuang ke selokan sehingga kota Madinah pada hari itu banjir minuman yang sejak hari itu telah diharamkan untuk selamanya.    
 
Rasulullah Saw menyatakan sepuluh orang yang dilaknat oleh Allah Swt  terkait khamer atau minuman keras itu, yakni antara lain yang membuatnya, yang mengangkutnya, yang membelinya, yang menjualnya, yang memakan keuntungannya, yang menungkannya dan yang meminumnya. Oleh karena itu, tidak termasuk dalam pola hidup yang diajarkan oleh Rasulullah Saw adanya pejabat yang member izin peredaran minuman keras apalagi membuat toko Miras. Demikian juga tidak ada dalam pola kehidupan versi Rasulullah Saw adanya ulama yang diam dan mendiamkan pejabat seperti itu, apalagi malah memuji-muji dan mendukungnya.  
 
Demikian juga tidak ada dalam pola hidup versi Rasulullah Saw orang-orang atau lembaga yang senang dengan pola hidup LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender). Sebab, perkawinan homo alias perkawinan sejenis, yakni gay dengan gay, lesbian dengan lesbian, adalah perbuatan kriminal yang dilakukan oleh umat Nabi Luth a.s. Allah Swt  telah mengazab mereka dengan hujan batu dan menyebut mereka sebagai perilaku kriminal alias pendosa (al mujrimun). Allah Swt  berfirman: 
 
وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ 

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. (QS. Al A’raf ayat 84).
  
Ketiga, makna kebahagiaan dalam hidup yang diajarkan oleh Rasulullah Saw adalah manakala dapat melakukan sesuatu untuk meraih kecintaan dan ridha Allah Swt. Kaum muslim generasi pertama rajin sekali melaksanakan ibadah-ibadah yang difardhukan oleh Allah Swt, seperti sholat, puasa, bayar zakat, berdakwah, dan jihad fi sabilillah sebab Allah berfirman dalam sabda Rasulullah Saw di dalam hadits Qudsy: 

“Tidaklah mendekatkan diri kepada-Ku hamba-Ku yang lebih Kucintai kecuali dengan apa yang Aku wajibkan kepadanya” (HR. Al Bukhari).  
 
Kaum muslimin pada waktu itu juga gemar sekali membaca Alquran , shalat malam, dan bershodaqoh, lantaran amal-amal sunnah tersebut mengantarkan kepada kecintaan dan keridhaan Allah Swt. Mereka berebut dalam mempersembahkan amal sholih kepada Allah Swt. Suatu kali untuk menyeimbangkan ekonomi masyarakat, Rasulullah Saw sebagai kepala negara membuat kebijakan membagi harta rampasan (fai’i) dari kaum Yahudi Bani Nadlir kepada kaum Muhajirin dan tidak kepada kaum Anshar kecuali dua orang fakir dari mereka. Ada sahabat Anshar yang mempersoalkan hal ini. Maka Rasulullah Saw bersabda: 

“Bagilah harta kalian kepada saudara-saudara kalian dari kalangan Muhajirin, baru setelah itu kalian boleh ikut ambil bagian terhadap harta Bani Nadlir…”  
 
Maka para sahabat Nabi dari kalangan Anshar itu berkata: “kami akan membagi harta kami kepada saudara-saudara kami dari kaum Muhajirin dan kami tidak akan meminta bagian dari harta fai’i dari bani Nazhir…”.  
 
Sikap orang-orang Anshar yang lebih mengutamakan kaum Muhajirin itu adalah karena semata ingin mendapatkan cinta dan ridlo dari Allah Swt  dan Rasul-Nya. Sikap mereka yang simpatik itu disebut-sebut oleh Allah Swt  dalam firman-Nya: 
 
…يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ …

mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan… (QS. Al Hasyr ayat 9).
 
Dengan demikian jelaslah bahwa kebahagiaan bukan karena mendapatkan hasil perolehan materi, tapi kebahagian justru muncul karena telah melakukan sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah Swt  sekalipun tidak mendapatkan keuntungan materi dan bahkan malah mengeluarkan hartanya.

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd
Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah,
 
Akhirnya, mari kita tundukkan diri kita dengan segala kerendahan hati, sambil menengadahkan tangan kita, untuk memanjatkan doa ke hadirat Allah Swt, Dzat Yang Maha Kuasa, dan Maha Perkasa untuk kemenangan perjuangan umat Islam membebaskan diri dari dominasi sistem kapitalis dunia yang mencengkeram seluruh dunia Islam termasuk bumi pertiwi ini di masa rezim yang demikian pro neolib ini, untuk berjuang bersama membangun kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara ini sesuai dengan pola hidup yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah Saw, yakni membangun peradaban manusia yang seutuhnya dalam seluruh aspek kehidupan dengan asas aqidah tauhid Laailahaaillallah Muhammadur Rasulullah, menjadikan halal dan haramnya Allah Swt sebagai tolok ukur perbuatan (miqyasul a’maal), dan menjadikan makna kebahagiaan dalam hidup adalah perjuangan mencapai ridlo Allah Swt .   
 
Aquulu qauli hadza wa astaghfirullahal azhiim lii walakum….
 
Jakarta, 1 Syawal 1436H 
 
KH. Muhammad Al Khaththath 
Sekjen Forum Umat Islam 
 
0 Komentar