Marhaban Ya Ramadhan

Jumat, 03 Juli 2015 - 18:25 WIB | Dilihat : 1374
 Marhaban Ya Ramadhan Ilustrasi

 

HM Aru Syeiff Assadullah

Pemred Tabloid Suara Islam

Tidak terasa kita kembali beradaus bertekad agar segala keberkahan sarat  yang di bulan Ramadhan, bulan yang oleh Nabi Muhammad Saw diibaratkan sebagai Tamu Agung  yang sarat dengan muatan keberkahan. Sebagaimana layaknya Tamu Agung lainnya diperlakukan, maka sudah selayaknya kita pun memperlakukan dan menyambutnya dengan sepenuh hati, berharap sekaligus bertekad agar segala keberkahan yang terkandung di dalamnya singgah kepada kita.

Didalam masyarakat kita, cara menyambut Ramadhan itu terlihat memang masih beragam. Ada yang bersyukur, ada yang gelisah, bahkan barangkali ada yang biasa-biasa saja. Kenyataan semacam itu memang sulit dihindari mengingat kadar keimanan seseorang yang berbeda, di samping sejauh mana seseorang memiliki sudut pandang orang memadai dalam memahami kandungan dari berbagai keistimewaan yang terdapat di dalamnya.

Biasanya orang akan gelisah menyambut Ramadhan, mana kala yang terlintas di benaknya adalah segala bentuk keterkurungan yang membatasi ruang geraknya dalam melampiaskan hawa nafsu. Di mana ia harus rela dan berusaha meninggalkan segala perbuatan tercela yang selama ini menjadi pekerjaan rutinnya. Dan semua ini terasa membuat dirinya menjadi tersiksa. Begitu juga halnya yang terjadi pada orang yang tidak memahami Ramadhan, ia pun akan menyambutnya dengan dingin dan tak bergairah. Ramadhan atau tidak sama sekali baginya tidak ada perbedaan.

Kita tentunya tidak seperti itu. Kita patut mensyukuri karunia besar yang Allah berikan tersebut dengan sebuah pembuktian sekaligus pengabdian yang akhirnya layak kita disebut sebagai manusia yang bersyukur. Ungkapan syukur ini akan bermakna apabila seseorang mampu menerjemahkannya dalam bentuk-bentuk kongkrit berupa peningkatan aktivitas dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Peningkatan diri selama Ramadhan dapat diselaraskan dengan keistimewaan Ramadhan ini sendiri. Apa saja keistimewaan Ramadhan, barangkali itulah yang harus kita jawab melalui amal perbuatan sehari-hari.

Sebagaimana kita ketahui, di antara sekian banyak dari keistimewaan Ramadhan ialah Allah menurunkan al-Qur’an, sesuai dengan firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 185, “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan dari petunjuk itu, dan pembeda yang hak dan yang bathil…”

Dengan ketiga fungsi yang tertera dalam ayat ini Allah berkeinginan agar manusia  selalu berada dalam jalan yang benar sesuai dengan fitrahnya. Terbebad dari prilaku sesat dan menyesatkan. Dimbimbing melalui kekuatan hidayah dan iman agar mampu membedakan mana yang hak dan bathil. Sejauh manusia tidak mau memanfaatkan ketiga fungsi tersebut, niscaya pasti akan menimbulkan berbadai persoalan. Dalam surat ar-Rum ayat 41, Allah menjelaskan, “Telah tampak kerusakan di bumi dan di laut lantaran usaha tangan manusia, karenanya Allah hendak merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”

Situasi semacam ini percah tercatat dalam sejarah peradaban umar manusia ketika mereka hidup tanpa pegangan dan hanya dikendalikan oleh hawa nafsunya belaka. Satu suku dengan suku yang lain saling bertikai. Dalam panggung politik juga demikian, yang memegang tampuk kekuasaan ialah despotisme, kesewenang-wenangan, keserakahan, dan kerakusan yang hanya didsarkan kepada kekuatan senjata dan manusia. Di bidang ekonomi semakin memprihatinkan, golongan kuat menindas golongan lemah tanpa mengenal prikemanusiaan. Hukum hanya sebaga kedok dan dijadikan tameng bagi para penguasa untuk menindak rakyat jelata guna mewujudkan ambisi nafsunya. Moral dan akhlaq sudah tidak berharga lagi.

Begitulah prilaku manusia ketika itu yang oleh para ahli tafsir ditegaskan bahwa, pengertian fasad dalam ayau ini mempunyai pengertian yang luas. Di dalamnya mencakup pengertian: kerusakan, kebinasaan, kemerosotan, kehancuran, kekejaman, kebathilan kemesuman, yang lain-lainnya. Sumber dari permasalah tersebut adalah karena kekotoran jiwa, kegelapan rohaniah, dan kekaburan dalam memandang hidup.

Gambaran di atas memang situasi masa lalu, di kala manusia hidup tanpa pegangan dan norma-norma. Lalu, bagaimana dengan manusia zaman sekarang, di kala ia dibekali dengan seperangkat pehangan. Ternyata ulah mereka tak jauh berbeda. Berbagai kefasadan kembali muncul, seakan-akan kita berada di zaman jahiliyahberabad-abad yang lalu.

Dunia mengalami hal demikian, termasuk juga kita di tanah air. Kerusakan yang pernah terjadi di masa lalu, kini dapat kita saksikan, bahkan kita rasakan di hadapan kita yang kemudian berakhir menjadi azab. Apa dan bagaimana bentuk azab tersebut rasanya dalam tulisan ini tidak perlu lagi saya beberkan, karena saya yakin semua kita sudah tahu tentang hal itu.

Musibah dan azab yang melanda negeri ini rasanya sudah tidak terhitung lagi. Akankah kita menyadari semua ini? Akankah kita memahami, bahwa semua ini adalah akibat dari sebuah sebab yang berawal dari ulah perbuatan kita sendiri yang menyimpang dari aturan agama.

Allah mengajak kita kembali. Kembali memperbaiki segala polah dan tingkah laku kita. Kembali kepada al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Pada bulan inilah momen yang sangat tepat untuk kita sama-sama memulainya guna mendapatkan keberkahan dar Allah SWT.

Keistimewaan lain, dalam bulan Ramadhan adalah Allah memerintahkan kita umat Isalam yang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa. Ibadah yang memiliki penilaian khusu di hadapan Allah. Dalam satu hadits ditegaskan, “Setiap amal perbuatan kerturunan Adam di dalam bulan Ramadhan dilpatgandakan, sepuluh sampai tujuh ratus kali, kecuali ibada puasa. Ia itu untuk-UKu dan Aku yang memberi ganjarannya.”

Larena kekhususannya itu, maka ibadah puasa dijuluki sirriyah, artinya ibadah rahasia. Tidak ada yang mengetahui secara persis apakah seseorang itu puasa atau tidak kecuali orang itu, dan tentu saja Allah. Karena kerahasiaannya itulah ibadah puasa ini sulit sekali terserah penyakit riya. Berbeda dengan ibadah lain yang tampak terlihat secara jelas oleh manusia. Sehingga tidak pernah terlihat ada orang yang membanggakan puasanya di hadapan orang lain.

Ibadah puasa memang terbebas dari penyakit riya, akan tetapi ia mudah terserah penyakit curang. Biasanya orang di kala sedang sendiri merasa tidak ada yang melihat akan bebas melakukan apa saja sesuai dengan ambisinya. Pikitknya, papaun yang dilakukan pasti orang tidak melihat. Akan tetapi bagi orang yang melaksanakan puasa berdasarkan uman dan keikhlasanm semua peluang untuk melakukan manupulasi dapat dihindarkan. Kenapa? Tidak lain karena merasa Allah selalu mengawasinya ke manapun ia berada.

Perasaan merasa selalu diawasi oleh Allah, inilah yang harus ditanamkan oleh segenap anak bangsa ini, apalagi bagi para penyelenggara pemerintahan. Sebagai bentuk tanggung jawabnya di hadapan Allah mengingat tugas dan kedudukannya itu adalah amanah, mereka wajib mengutamakan kepentingan rakyat ketimbang diri, keluarga, dan kelompoknya adalah tugas mulia yang harus dilaksanakan. Mereka juga harus mampu memberikan rasa aman dan tenang kepada rakyat dalam memenuhi hajat hidupnya. Semua ini adalah gambaran atas sebuah penilaian dari seorang pemimpin yang bijak dan bertanggungjawab.

Di tengah kita sebagai umat Islam melaksanakan ibadah puasa, tentunya tidak membuat kita menjadi lemah dan malasa cuma lantaran berpuasa. Justru puasa itu harus dapat memotivasi kita untuk berpikir dan berjuang lebih keras lagi di dalam menegakkan amar bil ma’ruf nahi anil munkar.

Adanya usaha untuk memojokkan Islam dan umar Islam tidak harus didiamkan. Kita harus istiqomah mempertahankan agama yang hak ini. Kita harus membangun suatu keyakinan pada diri kita semua, bahwa Nur Allah itu tidak akan sirna dari muka bumi ini. Keyakinan ini akan memburuhkan keberanian untuk membela dan mempertahankan kebenaran dari tangan-tangan jahil musuh-musuh Islam. Dan selanjutnya akan memadamkan perasaan takut dan gentar pada diri kita dalam menghadapi musuh yang sebesar dan sekuat apapun juga.

Dengan kita kembali kepada al-Qur’an, merasa diawasi Allah sehingga membuat kita selalu patuh dan taat kepada perintahnya, berpikir dan berjuang semata mencari ridhonya, pasti Allah akan memberikan pertolongan kepada kita. Dalam surat Ali Imran ayat 123, Allah menyatakan hal itu, “Sesungguhnya Allah Swt telah menolong kamu dalam oeoerangan Badar, padahal (ketika itu) kamu adalah orang yang lemah (sedikit dan kurang senjata). Bertaqwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu termasuk ornag yang bersyukur.”

Peperangan Badr yang terjadi  pada bulan Ramadhan hendaklah dapat dijadikan cermin, betapa Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang bertaqwa di dalam mempertahankan dan memperjuangkan agama-Nya. Jumlah yang sedikit dan kemampuan persenjataan yang terbatas tidak membuat mental kita menjadi pengecut, tapi justru di balik kekuarangan itu ada sesuatu kekuatan dahsyat yang terhindar dari penglihatan manusia. Kekuatan yang pernah memporak-porandakan musuh-musuh Islam dalam peperangan Badr, Hunain, Tabuk, Muktah. Kekuatan yang dapat mengalahkan persenjataan secangguk apapun yang sekarang dimiliki oleh negara-negara besar. Dan kekuatan iu niscaya akan kita dapatkan, di kala kita mampu mendekatkan diri kepada Allah. []

 
0 Komentar