Alquran sebagai Hudalinnaas dan Hudalilmuttaqin

Kamis, 02 Juli 2015 - 13:10 WIB | Dilihat : 12928
Alquran sebagai Hudalinnaas dan Hudalilmuttaqin Anak sedang mengaji (ilustrasi)
Kaum muslimin hafizhakumullah,
 
Allah SWT berfirman:
 
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
 
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al Baqarah ayat 2),
 
Juga firman-Nya:
 
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
 
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)... (QS. Al Baqarah 185). 

Kaum muslimin hafizhakumullah,
 
Kedua ayat di atas menyebutkan secara jelas bahwa Al Quran berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa (huda lil muttaqin), yakni orang-orang yang memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; juga sekaligus menjadi petunjuk bagi manusia secara umum (huda linnaas). Bagaimana pengertian masing-masing dan di mana letak persamaan dan perbedaannya? 
 
Kaum muslimin hafizhakumullah,
 
Dalam Tafsir Jalalain diterangkan bahwa Al Quran merupakan petunjuk manusia dari kesesatan, merupakan penjelasan yang mengantarkan kepada hukum-hukum yang benar, dan merupakan pembeda yang membedakan antara yang haq dan batil. 
 
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa Allah SWT memuji Al Quran sebagai petunjuk qalbu manusia bagi yang mengimaninya, membenarkannya, dan mengikutinya. Juga sebagai dalil-dalil dan hujjah yang jelas dan nyata bagi yang memahami dan mentadabburinya. 
 
Imam As Syaukani dalam tafsirnya Fathul Qadir menerangkan bahwa Al Quran adalah petunjuk bagi manusia (huda linnaas), dan juga penjelasan-penjelasan (bayyinnaat) yang khusus tentang hukumnya, baik yang muhkam maupun mutasyabih, juga sebagai al furqan yakni pemutus perkara yang haq dan yang batil.  
 
Dengan demikian jelaslah bahwa Al Quran sebagai sumber kebenaran bagi kehidupan manusia telah memberikan jalan bagi manusia agar bisa menyibak jalan lurus dari segala kesesatan dan memberikan bekal pengetahuan hukum kepada manusia untuk memutuskan berbagai perkara yang dihadapinya sehingga tahu mana yang haq dan mana yang batil, mana yang halal dan mana yang haram. Tanpa Al Quran manusia berada dalam jalan kesesatan, tak akan mampu membuka tabir kegelapan dan tak akan mampu memutuskan perkara apapun dengan kebenaran yang hakiki. 
 
Oleh karena itu, kebenaran Al Quran bersifat mutlak, berlaku bagi siapapun, di mana pun dan sampai kapan pun selama dunia ini masih ada. Maha benar Allah SWT yang telah memerintahkan Nabi-Nya Saw, yang berkuasa atas masyarakat di kota Madinah, yang beriman maupun tidak beriman, untuk menghukum perkara mereka dengan hukum yang diturunkan Allah dalam Al Quran sebagaimana firman-Nya:
 
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ...
 
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka... (QS. Al Maidah 49).
 
Dalam menerangkan kalimat “di antara mereka” (bainahum) dalam ayat tersebut Ibn Abbas r.a. mengatakan itu adalah suku-suku Yahudi Bani Quraizhah, Nadlir, dan penduduk Khaibar. Dalam ushul fiqh, ada kaidah “min baabil aula”, yakni apalagi. Jadi kalau untuk kaum Yahudi saja Allah SWT perintahkan Baginda Rasulullah Saw. menerapkan hukum Al Quran, apalagi untuk kaum muslimin. Dengan demikian hukum-hukum Al Quran berlaku sebagai kebenaran hukum bagi seluruh umat dan bangsa dimana pun dan kapanpun sampai Al Quran ditarik dari muka bumi menjelang hari kiamat. 
 
Kaum muslimin hafizhakumullah,
 
Al Quran sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa (huda lilmuttaqin) menurut Ibnu Abbas r.a. yakni Al Quran menjelaskan kekufuran, kemusyrikan, dan perbuatan-perbuatan maksiat yang keji. Dikatakan juga Al Quran merupakan karamah bagi orang-orang mukmin dan rahmat bagi orang-orang yang bertaqwa dari umat nabi Muhammad Saw. , yakni orang-orang yang beriman kepada perkara-perkara gaib seperti surga al jannah, neraka an naar, jembatan di atas neraka as shirath, timbangan amal di hari kiamat al mizan, perhitungan  amal al hisab dan lain-lain yang semua dijelaskan di dalam Al Quran.   
 
Hanya orang-orang yang mukmin yang muttaqin yang merasa perlu mengetahui bagaimana keadaan hari kebangkitan dari kubur, hari pengadilan di padang mahsyar, dan bagaimana kesudahan nasib manusia, apakah akan mendapatkan kenikmatan abadi dalam al jannah ataukah mendapatkan derita tiada akhir di dalam neraka jahannam wal’iyaadzu billah. 
 
Orang-orang kafir hanya butuh kehidupan dunia dan mereka menafikan akhirat sehingga kalau ada manfaat keduniaan dari Al Quran mereka percaya, tapi manfaat keakhiratan mereka mendustakannya.   
 
Al Quran menjadi petunjuk bagi orang-orang mukmin yang bertaqwa yang beriman kepada Al Quran dan kitab-kitab samawi sebelumnya, mereka menegakkan sholat sebagai rasa syukur kepada Allah SWT yang memberinya hidup dan menginfakkan sebagian rizki yang diyakini sebagai pemberian Allah SWT untuk membantu kaum fakir dan berbagai kebajikan lainnya.  
 
Orang-orang kafir menolak melakukan sholat sebagai tanda kufur kepada Allah SWT karena mereka menolak bahwa keberadaan mereka di dunia adalah karena rahmat Allah SWT yang Maha Kuasa. Mereka merasa keberadaan mereka adalah ada dengan sendirinya. Dan segala rizki yang mereka peroleh adalah hasil jerih payah dan kecerdasan mereka sendiri, tanpa ada campur tangan apalagi karunia dan rahmat Allah SWT.  
 
Kaum muslimin hafizhakumullah,
 
Jelaslah bahwa Al Quran sebagai petunjuk hidup bagi manusia (huda linnaas) memiliki ketersediaan untuk dimanfaatkan petunjuknya oleh siapapun manusia, yang beriman maupun tidak beriman. Sedangkan sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa (huda lill muttaqin) Al Quran memberikan jalan terang tentang peta jalan (road map) hidup manusia dari negeri dunia ke negeri akhirat, sehingga setiap saat manusia yang beriman perlu senantiasa memohon hidayah kepada Allah agar hidupnya tetap di jalan Islam yang lurus, tidak melenceng ke jalan sesat sedikit pun, menyesuaikan diri dengan syariat Allah SWT yang sempurna, terikat dengan hukum halal haramnya dalam hidup sehari-hari, senantiasa menjadikan kebahagiaannya adalah bila berhasil melangkah menuju ridlo Allah SWT. 
 
Bagi orang mukmin yang muttaqin, membaca Al Quran akan senantiasa menambah keimanan dan keyakinannya dalam menjalani hidup ini sebagaimana firman-Nya:
 
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
 
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al Anfal ayat 2).
 
Baarakallahu lii walakum….
0 Komentar