Ketika Nahrawi dan Jokowi Melawan FIFA

Kamis, 04 Juni 2015 - 06:50 WIB | Dilihat : 8223
Ketika Nahrawi dan Jokowi Melawan FIFA Menpora Imam Nahrawi


Menpora Imam Nahrawi rupanya tak mengerti kalau pemerintah tak boleh mencampuri PSSI. Kini kita semua jadi korbannya.


Sanksi Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) yang dijatuhkan kepada PSSI 30 Mei lalu, langsung berdampak buruk bagi persepakbolaan Indonesia. Salah satu korban pertamaanya adalah para calon pelatih top nasional yang akan mengikuti kursus kepelatihan C oleh Konfederasi Sepakbola Asia (AFC).

Para calon pelatih nasional itu gagal mengikuti kursus karena acara itu sendiri batal digelar setelah FIFA melarang Indonesia melakukan kegiatan yang berkaitan dengan sepakbola internasional. "Saya telah mengumumkan hal ini kepada peserta kursus. Semua kecewa, namun mereka dapat menerima situasi dan keputusan yang ada," kata direktur kepelatihan PSSI, Poranvakara Narayanan Sivaji. Katanya kursus itu baru bisa dilaksanakan apabila FIFA mencabut sanksi.

Kursus kepelatihan ini mestinya digelar 1 sampai 13 Juni 2015, di National Youth Training Centre (NYTC) Sawangan, Depok. Tapi tampaknya bukan cuma ini. Semua kursus kepelatihan AFC lainnya yang dirancang untuk PSSI juga akan batal terlaksana.

Apa yang sekarang menimpa sepak bola Indonesia bukan main-main. Ini meliputi nasib jutaan pemain sepak bola, pelatih, wasit, hakim garis, bahkan suporter dan penonton. Penonton misalnya, sejak sanksi dijatuhkan FIFA tak akan bisa menyaksikan pertandingan bermutu. Sesuatu hal yang mustahil untuk mengundang tim luar negeri bertanding di sini selama sanksi masih berlaku.

Jadi kita semua, termasuk Menpora Imam Nahrawi yang jadi dalang bencana ini dan Presiden Jokowi, pendukung Nahrawi, mulai sekarang harus bersiap-siap menonton pertandingan sepak bola antar-kampung alias Tarkam. Imam Nahrawi dan Jokowi mungkin bukan penggemar sepak bola. Tapi jutaan orang di Indonesia adalah penonton fanatik sepak bola. Merekalah sesungguhnya yang jadi korban kebijakan Nahrawi.

Lalu korban yang paling menderita tentulah para pemain sepak bola itu sendiri. Eva Nurida Siregar, istri Christian Gonzales, pemain depan paling berbahaya asal Uruguay itu, berencana menjual apartemen mereka di Surabaya. Hasil penjualannya akan digunakan untuk usaha apa saja yang bisa menghasilkan uang guna menutupi belanja hidup keluarga sehari-hari.

Gonzales sudah menjadi warga negara Indonesia menyusul perkawinannya dengan Boru Siregar yang telah memberinya 4 anak. Kini dia bermain untuk Arema Cronus, Malang. Selama karirnya di Indonesia, Gonzales yang sudah mulai dimakan usia itu telah 4 kali menjadi pencetak gol terbanyak dalam kompetisi liga, dengan 191 gol.

Lain lagi dengan penyerang utama PSSI dan Persipura Jayapura saat ini, Boaz Solossa.  Pemain ini sedang mempertimbangkan sejumlah tawaran klub profesional di luar negeri. Pilihan  itu akan diambilnya jika sanksi FIFA kepada PSSI tak kunjung berakhir.

"Saya siap menerima tawaran bermain di klub luar negeri jika sanksi FIFA masih berlaku," kata Boaz, didampingi istrinya, Adelina Erice Gedy, di Jayapura, Papua, 31 Mei lalu.

Kapten tim nasional Indonesia ini amat kecewa atas kisruh sepak bola Tanah Air yang berbuntut pencekalan klub-klub profesional, termasuk Persipura yang sedang berlaga di Piala AFC 2015. "Beberapa waktu lalu, saya pernah ditawari main di klub negara tetangga tapi saya tolak dengan alasan masih konsentrasi bersama Persipura," katanya.

Namun ayah yang memiliki empat anak itu kini menyatakan tak ingin membuang waktu lagi setelah terjadi kekisruhan sepak bola nasional yang dipicu tindakan Menpora membekukan PSSI. Soalnya ia membutuhkan biaya untuk menghidupi keluarganya. "Saya ingin karier terus berjalan dan masalah ekonomi keluarga harus dipenuhi. Sementara ini sepak bola Tanah Air belum bisa diharapkan dengan keluarnya sanksi FIFA," katanya.

Pencetak gol terbanyak saat Persipura menjuarai Liga Indonesia yang keempat kali pada 2013 itu, mengemukakan bahwa kini sudah dua klub profesioanal luar negeri yang menyatakan tertarik menggunakan jasanya.

Sebelumnya, salah satu petinggi tim Pahang FA dari Malaysia yang menjadi lawan Persipura di babak 16 besar Piala AFC, mengaku tertarik dengan permainan Boaz jika seandainya kapten tim Mutiara Hitam itu ingin berkarier di luar negeri. Pernyataan itu disampaikan oleh salah satu dari dua petinggi klub itu saat berada di Kota Jayapura, Senin 25 Mei lalu.

Informasi lain menyebutkan bahwa dua klub Malaysia lainnya, Selangor FA dan Kelantan FA juga mengincar Boaz. Artinya, dengan hukuman yang dijatuhkan FIFA terhadap PSSI maka para pemain Indonesia memang tentu berusaha main di luar negeri untuk mempertahankan periuknya tetap mengepul. Tentu tak seluruh pemain bisa bernasib sama dengan pemain terbaik seperti Boaz, bisa merumput di luar negeri.

KONDISI PEREKONOMIAN PUN MEMBURUK

Semua bencana ini karena langkah dan kebijakan yang diambil Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Nampaknya bekas Sekjen PKB itu tak mengerti tentang hubungan dan posisi organisasi sepak bola PSSI, Federasi sepakbola dunia FIFA, dan pemerintah Indonesia. Karena itulah seenaknya dia mencampuri semua urusan PSSI.

Lebih celaka lagi, Presiden Jokowi dengan bersemangat mendukung Nahrawi. Di mata  Jokowi seolah-olah kita jadi independen dan persepakbolaan akan maju kalau berani melawan FIFA. Jokowi menganggap semua capaian prestasi sepakbola selama ini nol besar. Padahal itu tak seluruhnya benar.

Betul bahwa prestasi PSSI tak bersinar. Tapi setidaknya di peringkat Asia Tenggara kita masih bisa berbicara. Misalnya, Indonesia pernah meraih medali emas sepak bola di SEA Games Manila pada 1991.

Memang banyak orang kecewa sekarang (di zaman Presiden Jokowi ini) kelas PSSI disamakan dengan Timor Leste. Tim Nasional Usia 23, Selasa, 2 Juni kemarin, dikalahkan Myanmar di arena SEA Games di Singapore. Memang harus diakui kita merosot bukan hanya untuk urusan main bola. Indonesia sedang merosot di segala bidang, termasuk dalam prestasi olah raga. Coba, tim bulu tangkis kita yang dulu merupakan kampiun dunia, sekarang terseok-seok dan tak pernah menang lawan China.

Kita pernah punya srikandi tenis Yayuk Basuki yang jadi kampiun kelas dunia. Sekarang kita kalah melulu di lapangan tenis mana saja. Di ring tinju kita bangga punya juara dunia Ellyas Pical, Mohammad Rachman, dan Chris John. Kini kita cuma penonton.

Dalam kondisi terpuruk seperti ini keadaan diperburuk kondisi perekonomian yang terus memburuk di zaman Presiden Jokowi ini. Harga-harga membubung dan tak terjangkau rakyat kecil. Jokowi tampaknya cuma pandai berjanji dalam kampanye namun tak bisa memenuhinya setelah terpilih jadi Presiden.

Sekarang keadaan tambah parah oleh sikap Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi yang campur tangan urusan PSSI. Akibatnya, 30 Mei lalu,  Komite Eksekutif  FIFA menyimpulkan bahwa Kemenpora RI dan BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) yang dibentuk Kemenpora, telah mengintervensi PSSI dan itu menyebabkan PSSI melanggar Statuta FIFA pasal 13 dan 17.

Maka FIFA menjatuhkan sanksi, PSSI kehilangan keanggotaan dan seluruh tim di Indonesia (klub dan tim nasional) dilarang mengikuti kompetisi internasional di bawah bendera FIFA dan AFC (Konfederasi Sepakbola Asia). FIFA pun melarang anggota dan ofisial PSSI menerima keuntungan dari FIFA dan AFC, seperti program pengembangan, kursus, atau pelatihan. Pokoknya dengan sanksi itu Indonesia terisolir dari sepak bola dunia. Komite Eksekutif  FIFA menghadiahkan sedikit kelonggaran dengan memberi kesempatan kepada tim nasional Indonesia mengikuti SEA Games 2015 di Singapura.

Apa sebenarnya campur tangan Kemenpora dan BOPI? Banyak. Mulai melarang klub tertentu (Arema dan Persebaya) mengikuti kompetisi Liga Super (ISL), membekukan PSSI dan tak mengakui hasil kongres PSSI yang menetapkan pengurus PSSI di bawah kepemimpinan La Nyalla Mahmud Mattalitti.

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa sumber semua kerepotan ini adalah hubungan yang buruk antara Menpora Imam Nahrawi dengan La Nyalla. Dikabarkan keduanya berseberangan sejak pemilihan Gubernur Jawa Timur. Ketika itu, La Nyalla menjadi pendukung Sukarwo (yang kemudian terpilih jadi Gubernur), sementara Nahrawi yang Sekjen PKB itu menjadi pendukung calon yang kalah, Chofifah Indah Parawansa. Rupanya kini Nahrawi menggunakan kursi menteri untuk melawan La Nyalla. Maka semuanya jadi berantakan.

 [AMRAN NASUTION]

0 Komentar