Selamatkan Remaja dari Prostitusi

Sabtu, 30 Mei 2015 - 06:29 WIB | Dilihat : 2915
Selamatkan Remaja dari Prostitusi Ilustrasi

Permasalahan sosial yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan adalah maraknya praktik prostitusi di kalangan remaja. Ambil contoh adalah prostitusi online di Manado yang melibatkan pelajar SMP dan SMA (Kaltimpos.co.id, 11/5/2015). Tentu hal ini amat sangat disayangkan. Pelajar yang harusnya konsen untuk mengukir prestasi malah jatuh ke lembah nista, kenistaan dunia dan akhirat.

Praktik prostitusi ini bila tidak dijalankan sendiri berarti ada mucikari yang menyalurkan para ABG ke tangan laki-laki hidung belang. Sungguh disayangkan adanya profesi mucikari ini. Keberadaannya menjadi salah satu faktor penyebab makin maraknya praktik prostitusi. Namun keberadaan mucikari tanpa sambutan hangat dari para wanita yang lemah imannya, tentu tidak akan mungkin muncul praktik prostitusi.

Prostitusi Kenapa Jadi Pilihan?

Serendah apapun tingkat pendidikan seseorang pastinya akan mengatakan bahwa perbuatan zina itu adalah buruk dan harus ditinggalkan. Namun kenapa diantara sekian wanita ada yang menjadikan hal ini sebagai profesi dan pekerjaan harian mereka? Setidaknya ada dua faktor yang bisa mendorong seseorang untuk menjalani profezi bejat ini. Pertama faktor internal dan kedua faktor eksternal.

Faktor internal tersusun atas beberapa penyebab. Pertama, lemahnya ilmu, iman dan takwa individu tersebut. Setiap individu yang sudah baligh terkena taklif hukum untuk menuntut ilmu, mengamalkan ilmu dan menyebarkan ilmu. Konteks ilmu disini tidak hanya ilmu agama semata. Ketika remaja itu lemah ilmu agamanya maka pastinya akan berakibat kepada dangkalnya iman yang ia miliki. Karena karakter ilmu itu akan menuntun pemiliknya ke jalan yang benar sehingga diperoleh kedalaman iman. Bila iman dangkal bisa dipastikan kesadaran akan pengawasan Allah Swt dan rasa takut akan pertanggungjawaban di akhirat kelak pasti ikut lemah. Bila sudah demikian maka nafsu keduniawian akan menguasai seseorang dan pastinya istilah halal dan haram akan semakin jauh dari definisi hidupnya.

Kedua adalah life style. Life style kebanyakan keluarga saat ini terseret arus modernisasi yang berprinsip gaya hidup glamour. Orang tua yang glamour akan cenderung lemah pengarahan agama kepada anak-anaknya. Tentu hal ini akan membawa imbas pada karakter dan gaya hidup keturunannya. Padahal gaya hidup gelamor membutuhkan dana yang banyak, oleh karena itu pernah kita dengar adanya ibu yang menjadi germo bagi anaknya sendiri. Astagfirulloh. Beginilah ketika orientasi hidup hanya untuk dunia semata.

Adapun faktor kedua adalah faktor eksternal. Faktor eksternal yang dimaksud adalah faktor system kehidupan. Saat ini dunia dalam payung system kapitalisme yang mengusung liberalisme dalam segala aspek kehidupannya. System kehidupan yang mengajak manusia untuk tidak mengamalkan agama dalam kehidupan sehari-hari dan meninggalkan syariat Allah Swt dalam kehidupan. Akhirnya standar baik benar bukan lagi agama tapi nafsu pribadi. Bila sudah demikian maka perbuatan bejat semisal zina tidak lagi dipandang dosa selama pelakunya ikhlas menjalani dan bisa menghasilkan uang. 

Sistem kehidupan kapitalisme ini pula yang memberikan peluang bermunculannya maksiat. Tentu kita masih ingat pernyataan Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu yang menyebutkan bahwa Negara ini bukan Negara syariah sehingga pesta bikini silahkan saja, bahkan prostitusipun akan dilegalkan oleh dirinya. Tentu statemen seperti ini tidak akan keluar dari seorang pemimpin muslim dan tidak akan mungkin ada kebijakan melegalkan prostitusi jika Negara ini menerapkan sistem syariah.

Stop Prostitusi

Remaja disiapkan untuk melanjutkan estafet perjuangan negeri ini. Apabila di usia yang dini miskin imannya, rusak moralnya, dan lemah intelektualnya, tentu tidak bisa berharap negara ini bisa menjadi Negara yang bermartabat dan unggul di berbagai aspek nantinya. Kaum muda baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki tanggungjawab atas masa depan dirinya, agamanya, bangsanya dan juga akhiratnya. Oleh karena itu praktik prostitusi baik online maupun offline harus dihentikan.

Penghentian perilaku bejat ini mengharuskan kerjasama yang sinergis antara rakyat dengan penguasa. Sebagai rakyat maka setiap individu wajib membekali dirinya dengan ilmu agama. Memupuk terus iman dan takwanya. Menghapus keresahan terhadap urusan reski. Dan menempatkan dunia sebagaimana pandangan yang telah Alloh tetapkan, bahwasanya dunia itu adalah kehidupan sementara dan akhirat adalah kehidupan sesungguhnya. Dunia dipenuhi dengan kesenangan semu yang melalaikan dan melenakan. Para orang tua harus memberikan pendidikan agama yang maksimal kepada anak-anaknya, pendidikan dan perhatian yang tidak setengah-setengah, dan mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya adalah kontrol masyarakat terhadap individu lainnya. Aktivitas saling ingat mengingatkan dalam kebaikan harus ditumbuhkan dan gerakan gemar mencegah kemungkaran harus dihidupkan. Dan kemudian mengubah sistem kehidupan di Negara ini.  Mengubahnya dengan sistem kehidupan Islam dan mencampkan sistem kapitalisme yang telah jelas-jelas menghalalkan kemaksiatan. Keberkahan hidup pribadi, bangsa dan Negara hanya bisa diraih bila penduduk negeri ini beriman, bertakwa dan menerapkan syariah Allah dalam kehidupan bernegara. Wallahua'lam.

Puji Astutik

Guru Madrasah Diniyah Al-Muslimun, Trenggalek, Jatim

1 Komentar