Freemasonry di Kafe Putra Jokowi

Rabu, 20 Mei 2015 - 05:52 WIB | Dilihat : 18177
Freemasonry di Kafe Putra Jokowi Kafe Markobar milik putra sulung Jokowi.


Organisasi rahasia Yahudi ini telah beroperasi dan mencengkeramkan pengaruhnya sejak zaman Hindia Belanda.

Kafe Markobar adalah singkatan dari kafe Martabak Kottabarat. Kafe milik putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka yang berada di sebelah barat Solo Grand Mall kini ramai didatangi pengunjung. Sebelumnya, kafe ini telah membuat gempar jagad dunia maya.

Betapa tidak, di salah satu dinding di dalam kafe itu terpampang jelas sebuah gambar segitiga menyerupai piramida lengkap dengan simbol mata satu di bagian atas. Meski tak sama persis, gambar itu hampir mirip dengan gambar piramida dan mata satu yang ada dalam pecahan uang satu dollar Amerika. Apalagi bila “diotak-atik” tulisan “YES YOU CAN” yang berada di samping gambar mata satu itu ternyata menyimpan makna atau gambar tersembunyi simbol “Bintang David (Daud)” yang dipakai Zionis Israel.

Tulisan “YES YOU CAN”, jika di singkat menjadi huruf “YYC”. Selanjutnya jika fontasi huruf “YYC” diubah dengan fontasi ‘Wingdings’, tampak gambar dua simbol Bintang David dan satu ‘acungan jempol’.

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta KH Ali Mustafa Ya’kub misalnya. Ia termasuk orang yang tidak percaya bila gambar tersebut hanya persoalan seni. Menurut Musthofa itu adalah gambar Zionisme."Kalau seni, lebih banyak orang mengenal seni Jawa," katanya.

Kyai ahli hadits itu menyebutkan bila Protokol Zionisme sudah dirancang sejak 1895 di Bassel, Swiss, dan semua kejadian itu sudah direncanakan oleh kelompok Yahudi tersebut. "Anda baru tahu di Indonesia banyak agen Zionis?"tanyanya.

Agen Zionis, kata Kyai Musthafa kini telah betebaran di Indonesia, dengan segala profesi. Karena itu, kalau tiba-tiba muncul simbol Illuminati di Indonesia, ia tidak kaget.

Mendapat sorotan, gambar di kafe itu belakangan dihapus. Meskipun Gibran tetap menampik bila logo Dajjal yang dia pasang di tempat usaha yang dijalankan bersama seorang temannya, Arif Setyobudi itu terkait Illuminati atau gerakan Freemasonry.

"Mata satu atau mulat satu di Markobar mempunyai arti penyatuan visi dan misi antara saya dan Arif. Satu bahasa dan satu pandangan dalam menjalankan bisnis ke depan," kata Gibran seperti dikutip Merdeka.com, Selasa (12/05).

Sementara lambang segi tiga di sekeliling mata tersebut, kata Gibran, adalah tanda dibukanya cabang ketiga usaha barunya tersebut. "Segitiga, cabang SGM adalah cabang ketiga dan merupakan pondasi sebelum Markobar kami luncurkan keluar kota," terangnya.

Sedangkan jas dan kemeja rapi yang dikenakan, menunjukkan sebuah keseriusan dalam membangun usaha. "Kata 'YES YOU CAN' bukan mengacu pada presiden Obama. Kata 'YES YOU CAN' adalah sebuah optimisme, semangat dan harapan," katanya lagi.

Jejak Freemasonry di Indonesia

Bagi banyak kalangan, jejak Freemasonry di kafe Markobar bukanlah sesuatu yang baru. Pasalnya, keberadaan organisasi ini sudah ada sejak jaman kolonialisme. Sedikit karya tulis yang mem-‘blejeti’ keberadaan Freemasonry adalah buku karya Dr Th Steven berjudul “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan dan buku berjudul “Freemansory from Radermacher to Soekanto 1762-1961” karya Paul van Der Veur.

Radermacher yang bernama lengkap Jacobus Cornelis Matthieu Redemacher adalah orang Belanda pertama kali yang mendirikan loji  Freemasonry, La Choisie (Terpilih) di Batavia pada 1762. Loji  ini bahkan disebut sebagai loji  pertama di Asia. Sementara Soekanto adalah Raden Said Soekanto Tjokrodiatmojo, seorang bangsawan Jawa sekaligus Kepala Kepolisian Republik Indonesia pertama yang juga seorang anggota Freemasonry. Nama Soekanto sekarang ‘diabadikan’ sebagai nama rumah sakit Bhayangkara di Kramat Jati, Jakarta Timur.

Ahli sejarah sekaligus pakar Zionisme, Ridwan Saidi dalam artikelnya “Jejak Sejarah (Zionis) Yahudi di Indonesia” menyebutkan, gerakan Zionis internasional Freemasonry didirikan di Inggris pada 1717. Orang Yahudi lebih suka menyelubungi aktivitas mereka dengan selimut perkumpulan teosofi yang bertujuan “kemanusiaan”. Pengumpulan dana dipusatkan di New York. Sejak 17 November 1875, pimpinannya adalah seorang Yahudi di Rusia, Nyonya Blavatsky.

Jurnal The Theosofist yang diterbitkan di New York, kata Ridwan, pada terbitan tahun 1881 menyiarkan kabar bahwa Blavatsky mengutus Baron van Tengnagel untuk mendirikan loji, rumah ibadat kaum rijmetselarij (Freemasonry) di Pekalongan.

Ridwan menjelaskan, Pekalongan dipilih karena sejak 1868 berubah status dari desa menjadi kota, di samping dikenal sebagai kosentrasi santri di Jawa Tengah. Loji didirikan tahun 1883, tetapi tidak berkembang karena reaksi keras masyarakat berhubung praktik ritualisme mereka, yaitu memanggil arwah. Karena itu, penduduk menyebut loji  sebagai gedong setan (rumah setan).

Pengalaman Pekalongan memaksa mereka mengalihkan kegiatan ke Batavia. Dua loji  besar didirikan di Jalan Merdeka Barat (sebelumnya bernama Blavatsky Straat), dan Jalan Budi Utomo (sebelumnya bernama Vrijmetselarijweg). Dua loji  itu, di samping loji  yang didirikan di Makassar, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, menjadi pusat kegiatan ritual saja, untuk Yahudi Belanda dan Eropa, yang bekerja di Hindia Belanda di sektor birokrasi VOC/Pemerintah Hindia Belanda, dan swasta. Hindia Belanda dianggap negeri yang aman sebagai wilayah operasi mereka, karena penduduk menganggap Yahudi Belanda/Eropa sebagai orang Nasrani. Di samping itu, Gubernur Hindia Belanda selalu menjadi pembina Rotary Club.

Aktivitas ritual belaka berujung pada kebuntuan: gerakan zionis jalan di tempat. Maka, gerakan Zionisme internasional untuk Asia, yang berpusat di Adyar, India, pada 31 Mei 1909 mengutus Ir. A.J.E. van Bloomenstein ke Jawa.

Untuk mengubah pola pergerakan, pada 12 November 1912 Bloomenstein berhasil mendirikan Theosofische Vereeniging (TV), yang kemudian mendapatkan rechtpersoon, pengakuan, dan dimuat dalam Staatblaad No. 543.

TV bekerja di kalangan intelektual dan calon intelektual bumiputra. TV pun membiayai Kongres Pemuda I, 1926. Kongres itu bahkan digelar di loji Broederkaten di Vrijmetselarijweg. Akibatnya, ormas pemuda memboikot kongres itu, dan reaksinya adalah, pada 27 dan 28 Oktober 1928 ormas pemuda menggelar Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda.

Dalam dunia bisnis, orang Yahudi di Jakarta menguasai pusat bisnis elite di Pasar Baru, Jalan Juanda, dan Jalan Majapahit. Mereka menguasai perdagangan permata, jam tangan, dan kacamata. Pusat hiburan elite di Jakarta juga diramaikan oleh pemusik Yahudi Polandia. Akhirnya, Batavia menjadi salah satu kota Zionis yang terpenting di Asia.

Maka, tidak mengherankan ketika Jepang sebagai sekutu Jerman merebut Indonesia dari tangan Belanda, Jepang melakukan kampanye antizionis itu. Tokoh-tokoh zionis Hindia Belanda, seperti Ir. Van Leeweun, dikirim ke kamp tahanan dan tewas di situ. Kesadaran antizionis juga merebak di kalangan rakyat. Dr. Ratulangi pada Maret 1943 memimpin rapat raksasa di Lapangan Ikada, mengutuk Zionisme.

Usaha menghidupkan lagi gerakan Zionisme masih dilakukan pascakemerdekaan. Pada 14 Juni 1954, berdiri Jewish Community in Indonesia, dipimpin Ketua F. Dias Santilhano dan Panitera I. Khazam. Di dalam anggaran dasarnya dinyatakan, perkumpulan itu merupakan kelanjutan dari Vereeniging Voor Joodsche Belangen in Nerderlandsch-Indie te Batavia, yang berdiri pada 16 Juli 1927.

Setelah berdirinya loji-loji Freemasonry yang mulai banyak berkembang di Indonesia, masyarakat mulai resah dengan keberadaan gedung tersebut, bahkan oleh kaum pribumi gedung itu disebut pula sebagai “Rumah Setan” dimana mereka selalu melakukan ritual kaum Freemason yang disebut sebagai pemanggilan arwah orang mati.

Pada Maret 1950, Presiden Sukarno memanggil tokoh-tokoh Freemasonry Tertinggi Hindia Belanda yang berada di Loji Adhucstat (sekarang Gedung Bappenas, Menteng) untuk mengklarifikasi hal tersebut. Di depan Sukarno, tokoh-tokoh Freemasonry ini mengelak dan menyatakan jika istilah setan mungkin berasal dari pengucapan kaum pribumi terhadap Sin Jan (Saint Jean) yang merupakan salah satu tokoh suci kaum Freemasonry. Walau mereka berkelit, namun Sukarno tidak percaya begitu saja.

Akhirnya, Februari 1961, lewat Lembaran Negara nomor 18/1961, Presiden Sukarno membubarkan dan melarang keberadaan Freemasonry di Indonesia. Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keppres Nomor 264 tahun 1962 yang membubarkan dan melarang Freemasonry dan segala derivatnya seperti Rosikrusian, Moral Re-armament, Lions Club, Rotary Club, dan Bahaisme. Sejak itu, loji-loji mereka disita oleh negara.

Namun, 38 tahun kemudian saat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih menjadi presiden Indonesia, dia mencabut Keppres nomor 264/1962 tersebut dengan mengeluarkan Keppres nomor 69 tahun 2000 tanggal 23 Mei 2000. Sejak itulah, keberadaan kelompok-kelompok Yahudi seperti Organisasi Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren-Loji (Loji Agung Indonesia) atau Freemasonry Indonesia, Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization of Rosi Crucians (AMORC) menjadi resmi dan sah kembali di Indonesia. Wallahu a’lam.

[shodiq ramadhan, dbs]

0 Komentar