Eksekusi Mati Napi Narkoba: Apresiasi Buat Presiden Joko

Selasa, 12 Mei 2015 - 16:56 WIB | Dilihat : 1922
Eksekusi Mati Napi Narkoba: Apresiasi Buat Presiden Joko Presiden Joko Wiodo (foto: viva.co.id)

HM Aru Syeiff Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam


Geger kecaman Barat dan kaki tangannya terhadap rencana eksekusi mati gelombang kedua, tak mengubah tekad Presiden Joko untuk tetap melaksanakan hukuman mati di lingkungan penjara Nusakambangan Cilacap Jawa Tengah.

Di tengah kecaman yang makin ‘meracau’ melalui semua pers nasional, yang membumbui sebagai peristiwa dramatis dan mencekam, akhirnya eksekusi mati pun tetap dilaksanakan Rabu, 29 April 2015 dinihari sekitar jam 24.30,  delapan orang terpidana mati pun didor oleh regu penembak dari rencana sembilan orang, karena beberapa jam sebelum eksekusi, Mary Jane Fiesta Veloso terpidana mati asal Philipina ditangguhkan hukumannya, karena Presiden Joko menerima permintaan pemerintah Philipina, agar eksekusi ditunda karena Katarina Christina, perekrut Mary Jane yang selama ini buron dan dianggap bertanggungjawab atas penyelundupan Narkoba oleh Mary Jane, tiba-tiba menyerahkan diri. Dengan alasan ini, rupanya Presiden Joko menangguhkan eksekusi mati Mary Jane, tapi ditegaskan, bahwa  proses hukum (eksekusi mati) tetap akan dilaksanakan.

Hanya beberapa jam pasca pelaksanaan eksekusi mati delapan narapidana narkoba ini, kalangan penentang hukuman mati ini, Barat khususnya negara yang warga negaranya termasuk  terkena hukuman mati itu, protes sejadi-jadinya. Perdana Menteri Australia, Tony Abot, melontarkan kutukan dan segera menarik duta besarnya dari Jakarta. Pemerintah Prancis juga berang dan menyatakan memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia. Sejumlah pakar hukum Indonesia  sendiri dalam berbagai organisasi hukum dan pembela hak asasi manusia, ramai-ramai mengutuk pelaksanaan hukuman mati itu. Kecaman yang langsung terarah ke pribadi Presiden Joko pun dilontarkan, seperti menyebut keputusan Presiden Joko yang tampak tegar dan tak tergoyahkan ini disebutnya sebagai politik pencitraan, agar dirinya berkesan sebagai presiden tegas, pemberani. Ada lagi yang menuduh keputusan presiden bisa seperti keputusan-keputusannya sejak dilantik sebagai presiden RI ke-7 yang belakangan mengundang kritik karena dianggap salah-kaprah.

Pengecam hukuman mati ini hakikatnya hanyalah komprador antek Barat, yang latah mengikuti pendirian “Tuannya” yang mati-matian menentang hukuman mati dan bahkan menginginkan penghapusan hukuman mati di dunia. Alasannya, hak menghilangkan nyawa manusia, hanya dimiliki oleh Tuhan. Eksekusi hukuman mati tidak membuat pelaku kejahatan jera dan berhenti melakukan kejahatannya itu.

Sudah berulangkali artikel pro-kontra hapus hukuman mati itu dimuat perdebatannya oleh tabloid Suara Islam. Dengan alasan membela paham humanisme, alm. Wapres Adam Malik pada 1980-an pernah ikut berkampanye penghapusan hukuman mati di Indonesia .

Penulis pernah bertemu Adam Malik yang sedang olahraga jogging di Taman Surapati Menteng Jakarta Pusat, sehabis shalat Subuh di Masjid Sunda Kelapa. Adam Malik mengenakan kaos oblong bertuliskan Hapus Hukuman Mati, kepada penulis, Adam Malik menjelaskan pendiriannya agar hukuman mati dihapuskan di Indonesia. Ketika siang harinya penulis bertemu dengan Mr. Mohamad Roem (yang tentu lebih mengenal soal hukum) dalam forum rapat di Dewan Dakwah Jalan Kramat Raya 45, dan menanyakan pendirian Adam Malik yang hari-hari itu sering dimuat surat kabar, Mr. Roem menyatakan pendirian Adam Malik itu karena dirinya mencoba untuk membela paham humanisme  yang kini (saat itu) digandrunginya.

Barat yang Kristen menentang hukuman mati karena ingin menunjukkan bertentangan dengan sistem hukum Islam yang menerapkan hukuman mati, qishas secara ketat. Dalam hukum Islam bagi terpidana yang jelas-jelas melakukan tindak kejahatan membunuh orang lain, maka tidak ada lain hukum bagi pelaku kejahatan itu harus dihukum mati. Hukuman mati baru bisa dibatalkan jika keluarga korban pembunuhan memberikan maaf kepada pelaku, atau memberikan maaf dan menerima pembayaran denda (diyat), yang kini bernilai di atas Rp2 milyar. Pelaksanaan hukuman mati di Negara Arab seperti Saudi Arabia dengan cara di penggal lehernya oleh algojo di depan khalayak ramai yang biasanya dilakukan di halaman masjid seusai shalat Jumat. Tentu omong-kosong jika diperdebatkan dengan pelaksanaan hukuman mati itu tidak membuat efek jera pelaku kejahatan. Betulkah? Tentu tidak betul, karena faktanya angka kejahatan pembunuhan bahkan kejahatan ringan pun, paling minim dilakukan masyarakat justru di negara seperti Saudi Arabia yang menerapkan qishas secara konsekuan. Seperti kejahatan pencuri saja bisa dihukum potong tangan, sehingga tindak kriminalitas terkecil di dunia, menjadi catatan membanggakan buat Saudi Arabia.

Bahkan tindakan kejahatan berat seperti menyelundupkan narkoba juga terbukti paling minim dilakukan di Singapura, karena negeri kecil itu sangat keras dan konsisten mengganjar hukuman mati pelaku penyelundup narkoba  hanya (menyelundupkan narkoba)  seberat beberapa gram saja. Sebaliknya pelaku kejahatan berat narkoba di Indonesia, bahkan terbukti mendirikan pabrik sabu-sabu dengan produksi berkwintal-kwintal narkoba, tetapi hanya diputuskan saja dengan hukuman mati, namun penjahat narkoba itu tidak kunjung dieksekusi sampai belasan tahun sehingga makin hari makin menumpuk jumlahnya di berbagai penjara seluruh Indonesia.

Tatkala Presiden Joko hanya sebulan setelah pelantikannya sebagai Presiden RI ke-7, tiba-tiba ia mengumumkan akan menolak grasi bagi penjahat narkoba yang telah diputuskan Pengadilan Negeri dengan vonis hukuman mati, maka gemparlah Barat, dan kaki-tangannya di Indonesia. Padahal mereka sebelumnya dikenal sebagai pendukung Presiden Joko saat Pemilihan Presiden 2014 yang lalu. Sejak inilah Presiden Joko ‘digempur’ dalam tekanan hebat  dalam berbagai bentuk serangan, ancaman politik dan sanksi ekonomi. Eloknya, Presiden Joko teguh pendiriannya, dan sama sekali  tidak menggubris serangan dan kecaman dengan sanksi-sanksi itu. Eksekusi gelombang I tetap dilaksanakan, dan yang terakhir akhir April 2015 eksekusi gelombang II pun juga dilaksanakan. Inilah sikap benar dan tegar Presiden Joko yang patut diapresiasi, siapa saja yang konsisten mencintai NKRI, tegaknya hukum kedaulatan dan keselamatan bangsa dan negara ini.

Pendirian Barat menentang hukuman mati, jika diteliti dengan seksama memang berakar kepada permusuhan terhadap Islam (dendam Peranng Salib ?) dalam seluruh ekspresinya. Selama ini Barat selalu berkampanye menganut sistem yang sangat peduli kepada HAM, sementara sistem Islam mereka kutuk sebagai tidak mengenal peri kemanusiaan dan menghargai HAM. Citra Islam yang penuh teror pun di tuduhkan dalam kampanye yang jauh dari sikap fair. Islam diidentikkan dengan kekejaman, perang, pedang dan darah. Saripati kampanye Barat yang anti Islam kini dikemas sangat singkat yakni tuduhan  Islam identik sebagai pelaku terorisme, oleh karena itu Barat menggencarkan perang total dengan Islam dan menggelar apa yang dinamakan : War on Terrorism.

Jika dibuktikan tuduhan-tuduhan Barat terhadap Islam itu,yang muncul justru sikap ambivalen Barat. Mereka menuduh Islam sebagai teroris dan pelanggar HAM, tapi terbukti Barat malah sebagai pelaku teroris dan pelanggar HAM yang lebih dahsyat dengan menyerbu Irak dan Afghanistan pada 2003 dengan korban jiwa rakyat Irak dan Afghan mencapai jutaan jiwa. Barat dan Amerika Serikat khususnya juga menjadi pelindung Israel sebagai pelaku terorisme yang sebenarnya dengan membantai terus-menerus rakyat Palestina. 

Dan bagi para komprador antek  Barat terdiri bangsa Indonesia dengan menjual diri dengan harga yang murah, jika direnungkan di tengah pembelaannya terhadap upaya penghapusan hukum mati di Indonesia, dan kecamanan pada keputusan Presiden Joko yang kukuh tetap memberi hukuman mati kepada penjahat narkoba, juga menyandang sikap ambivalen. Di satu sisi mereka selalu mengkritik penegakan hukum yang lemah di Indonesia, tapi tatkala secara konsisten dan berani Presiden Joko menerapkan dan menegakkan hukum secara benar, mereka malah mengecam dan mengutuknya demi memuaskan“Tuannya” bangsa Barat yang terus-menerus menjajah dan menindas Bangsa Timur khususnya bangsa Muslim. Bagaimanapun :  Selamat buat Presiden Joko ! []

0 Komentar