Sistem Pendidikan Islam Mencetak Generasi Emas

Ilustrasi

Sungguh hebat prestasi bangsa kita! Data yang dirilis organisasi dunia, transparency.org menunjukan, Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara terkorup di Asia Pasifik, dan menempati urutan kelima sebagai negara terkorup di dunia pada tahun 2013 lalu (Republika, 11/6).

Ternyata bukan hanya itu ‘prestasi’ yang diraih,  setiap 91 detik terjadi satu kejahatan di negeri tercinta ini. Adapun 316.500 kasus kejahatan itu, terdiri dari 304.835 kasus konvensional, 7.171 kasus transnasional, 3.844 kasus kekayaan negara, dan 650 kasus implikasi kontinjensi.

Apa yang salah dengan sistem pendidikan Indonesia?


Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar di benak kita, apa yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia? Bukankah para koruptor itu adalah mereka yang telah menempuh pendidikan tinggi? Namun mengapa mereka  berlaku seperti ini?

Terlebih kini, terdapat suatu trend yang cukup menarik, semakin hari usia koruptor semakin muda. Perilaku curang tersebut menjalar sampai ke tingkat terkecil dalam suatu masyarakat seperti RT, RW, sekolah, para pelajar, bahkan didalam keluarga sekalipun.

Jika kita tinjau ulang sistem pendidikan saat ini, maka ada beberapa hal menjadi permasalahan umum, diantaranya ialah :

1. Kurang efektif

Keefektifan dalam menuntut ilmu dapat dilihat dari proses, hasil, dan waktu. Proses ialah media belajar seperti ruang kelas, buku, mata pelajaran, jumlah siswa, kelengkapan fasilitas, dan lain-lain yang mendukung keberhasilan meuntut ilmu. Hasil ialah seberapa banyak dan kompeten seorang siswa dapat menyerap ilmu. Sedangkan waktu ialah yang mengaitkan keduanya.
Belajar dapat dikatakan efektif apabila media belajar memadai, hasil maksimal, dan siswa dapat menyerap ilmu dalam waktu yang singkat sehingga belajar menjadi efisien.

Pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak efektif. Dari aspek media, siswa diwajibkan menguasai seluruh mata pelajaran. Padahal tidak semua siswa bisa menguasai semua mata pelajaran. Setiap siswa memiliki ketertarikan masing-masing dalam mata pelajaran tertentu. Belum lagi jumlah siswa sebanyak 40 orang dalam satu kelas, hanya ditangani oleh seorang guru. Merupakan hal yang pasti apabila guru tersebut kewalahan, mengingat guru tersebut memegang lebih dari satu kelas.
 Akibat dari fasilitas yang minim dan kemampuan yang terbatas, akhirnya siswa diberi  hafalan mati yang tidak dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa tidak mengerti, apa fungsi dari ilmu ini. Atau guru memberikan tugas berupa latihan soal, yang tak jarang membuat para siswa yang tak suka merasa mual.

Hasilnya, waktu yang digunakan siswa tidak efektif, sementara diluar sekolah banyak hal yang harus siswa kerjakan. Siswa yang tak mahir di semua bidang pun putus asa dan merasa bahwa dirinya tidak bisa.

Padahal pendidikan adalah kunci menuju pembebasan dari kebodohan, kemiskinan, dan keterpaksaan belajar dan berpendapat/berpikir, sehingga proses pembelajaran HARUS menyenangkan bukan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak efektif dan tidak bermanfaat setiap hari.

2. Kualitas Guru

Sering kali seorang yang berasal dari lulusan A mengajar di bidang B yang tidak sejalan dengan bidangnya. Selama nilai siswa (melalui tes ujian) dinyatakan diatas rata-rata, bukan menjadi masalah bagi guru tersebut. Namun permasalahannya adalah, pelajar harus belajar untuk menjadi ahli, bukan hanya sekedar untuk mendapatkan nilai semata.

Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sebagai berikut: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26%(swasta). Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3).

 Hal ini tentu berpengaruh pada proses belajar siswa,  Atau yang klasik, saya teringat ketika saya berada di Sekolah Dasar, pada saat itu saya sering sekali disuruh untuk maju ke depan dan menulis ulang buku LKS di papan tulis. Lalu sang guru hanya duduk diam atau bergabung dengan guru lain hanya sekedar mengobrol tanpa menjelaskan apa yang saya tulis di papan tulis. Dan ketika saya bertanya kembali pada adik kelas saya yang berada di SD yang sama, ternyata perilaku tersebut masih dibudayakan, bahkan terkadang sang guru meminta uang untuk tugas yang harus di fotokopi yang melebihi jumlah nominal uang untuk memfotokopi. Praktik korupsi ternyata terbukti menjalar hingga akar-akarnya, hingga guru sekalipun. Bagaimana akan menciptakan generasi hebat jika  ‘praktisi’ pendidikan sendiri mencontohkan hal yang tak sepatutnya.

3. Rendahnya Relevansi Pendidikan dengan Kebutuhan

Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%.

Banyak lulusan A berujung pada pekerjaan yang menggeluti bidang B seakan-akan semua dimulai dari nol kembali.  Kelulusan ujungnya hanya formalitas, yang penting dapat ijazah, lulus, lalu kerja. Belajar belasan tahun, saat didunia kerja berujung pada nol kembali. Bukankah ilmu itu berguna untuk memecahkan masalah kehidupan? Ilmu yang didapat selama perkuliahan dan masa SMA menguap begitu saja, dan hal ini terjadi terus menerus dari tahun ketahun, jumlah lulusan hanya menjadi pekerja para pemilik modal.
 
4. Mahalnya Biaya Pendidikan

Ini adalah penyebab utama mengapa banyak anak putus sekolah dan tidak bersemangat dalam menuntut ilmu. Mahalnya biaya pendidikan menyebabkan sebagian besar anak memilih untuk langsung bekerja.

Ketika ditanya tujuan utama sekolah untuk apa, sebagian besar siswa menjawab ‘untuk mendapatkan pekerjaan, memiliki penghasilan yang besar’. Sehingga sebagian anak berpikir ‘buat apa sekolah, mengeluarkan biaya besar jika dari sekarangpun bisa dilakukan’. Padahal peran negara ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukankah tujuan utama sekolah ialah untuk menuntut ilmu ?

Masalah terdapat pada akarnya


Selama ini berbagai macam solusi telah dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikian di Indonesia. Dimulai dari memberikan subsidi pendidikan, pemberian buku gratis, sampai merubah kurikulum yang berakhir pada kisruh karena belum siapnya para pelajar maupun guru untuk menerima kurikulum yang baru.  Namun teteap saja, solusi yang diberikan tidak efektif untuk memecahkan masalah kehidupan.

Merubah kurikulum merupakan perubahan cabang yang tidak membawa perubahan yang signifikan jika mau mengatasi kerusakan generasi. Solusi teknis saja tidak cukup, karena permasalahan ini telah menjalar hingga akarnya. Standar hidup bagi semua orang kini adalah materi, sehingga menghalalkan segala cara dalam proses pencapaiannya.  Ini adalah tanda-tanda kerusakan sistem, kerusakan dari akar yang mengendalikannya. 

Akar yang rusak tidak bisa mengalirkan air ke seluruh bagian tumbuhan, daun-daun menjadi rusak . Begitupun dengan wajah buruk pendidikan saat ini. Tuntutan hidup semakin banyak, pelajar jadi PSK, belajar agama sejak kecil saat dewasa jadi PSK, kepribadian baik tapi tidak siap menghadapi tuntutan kehidupan.

Apakah akar itu?


Akar masalahnya adalah visi pendidikan yang sejalan dengan kapitalisme. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan. Dan memisahkan peran agama dalam kehidupan. Inilah yang menyebabkan rusaknya generasi penerus saat ini. Maka tidak heran jika kini banyak para koruptor atau pemimpin yang tidak amanah dalam memegang jabatannya, karena semua ini tersistemkan. Pekerjaan yang dilakukan secara bersama-sama pasti lebih mudah dibandingkan dengan sendiri.

Ada tiga pilar pengaman suatu individu. Pertama adalah sistem pemerintah, kedua adalah masyarakat, dan terakhir adalah individu sendiri.

Jika sistem yang diemban suatu negara baik, maka akan berdampak pada kondisi masyarakat yang sejahtera, sehingga individupun menjadi baik dan aman sentosa. Namun jika negara membuat aturan yang tidak baik, lalu menyengsarakan masyarakat, pertahanan hanya tinggal pada batas individu saja.

Sementara itu, kondisi masyarakat yang akan menentukan baik buruknya suatu individu tersebut sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang bertanggung jawab  mengurus dan mengelola masyarakat.

Maka tidak heran apabila sekarang banyak individu yang rusak, , lalu bunuh diri, karena ia berada pada kondisi masyarakat yang tidak baik, sehingga muncul keputusasaan dalam dirinya karena tidak ada faktor lingkungan yang mendukung ia pada kebaikan. Pertahanan dia hanya sebatas pada individu saja sehingga akan mudah tergoyahkan.

Tidak heran apabila korupsi merajalela dan dilakukan secara berjamaah karena lingkungan mendukung untuk melakukan hal tersebut. Tidak heran apabila kini banyak perilaku seks bebas, narkoba, tawuran, karena memang semuanya tersistemkan. Bahkan difasilitasi dengan sistem kapitalisme yang menjunjung tinggi asas kebebasan.

Maka, jika pemerintah dapat mengelola rakyat dengan baik, pastilah semua akan aman sejahtera begitu juga sebaliknya. Lalu kembali, tidak ada kebaikan kecuali hanya dengan islam karena islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Agama yang berbeda, agama yang sempurna.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat karena perbuatan tangan manusi supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka itu, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
  (TQS ar-Rum [30]: 41).

Berbagai kesempitan hidup yang dirasakan oleh manusia tidak lain akibat dari berpaling dari petunjuk dan syariah Allah Swt. Sebagian akibat dari perbuatan manusia  itu ditimpakan oleh Allah kepada manusia agar manusia merasakan sendiri akibat dari kemaksiatannya itu. Dengan itu ia akan lebih menyadari kesalahannya dan memiliki dorongan untuk meninggalkan kemaksiatannya serta kembali ke jalan yang benar, kembali pada petunjuk dan hukum Allah Swt.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya bagi dia penghidupan yang sempit
(TQS Thaha [20]: 124).

Sistem Pendidikan dalam Islam dan The Golden Age

Ada sebuah sistem yang telah terbukti meningkatkan taraf berfikir pengembannya dan pastinya bukan coba-coba. Sistem yang telah terbukti melahirkan generasi terbaik, yang hingga saat ini keilmuannya menjadi rujukan bagi perkembangan ilmu modern. Ialah sistem pendidikan Islam.

Sistem pendidikan Islam berlandaskan pada akidah islam. Keimanan dan ketakwaan menjadi tonggaknya dengan maksud lillahi Ta’ala. Karena dalam rangka mencari Ridlo Allah, sehingga banyak yang mengatakan bahwa mencari ilmu atau yang berjuang dalam keilmuan merupakan “jihad fi sabilillah,” jadi para penyelenggara pendidikan harus mempunyai pilar kuat tentang keyakinan ini. Dengan demikian dibutuhkan landasan ideologis dan filosofis untuk membangun  pendidikan Islam, dengan merujuk kepada Alquran.

Sejarah tidak bisa berbohong bahwa abad keemasan umat Muslim (Islamic golden age). Pada saat itu kekhilafahan abbasiyyah dan utsmaniyyah (750 – 1500) telah menyatukan lebih dari 1/3 dunia.

Tertulis juga dengan tinta emas dalam sejarah peradaban manusia, karya besar para pemikir dan saintis Muslim seperti Al-Khawarizmi dengan teori matematikanya, Al- Kindi dengan pemikirannya, Ibnu Sina dengan ilmu kedokteran dan kesastraannya yang telah menulis Asas Pengobatan (Canons of Medicine) serta Ibnu Al-Haitsami dengan ilmu optiknya.

Tidak kalah hebatnya ImamAd-Damsyiqi menceritakan bahwa di  kota madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak, lalu Khalifah Umar Bin Khatab memberi mereka gaji sebesar 15 dinar (sekitar Rp.31.875.000) atau pada masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz tidak ditemukan warga yang dikategorikan sebagai mustahik zakat.

Kembali kepada Sistem Islam

Jalan satu-satunya untuk menghentikan berbagai kerusakan pendidikan di indonesia dan menyelesaikan berbagai problem yang ada hanyalah dengan kembali pada petunjuk dan aturan dari Allah Swt. Mengganti kapitalisme dengan Islam. Hal itu hanya dengan menerapkan syariah Islam secara total di tengah kehidupan kita.

Dengan kata lain, bukan hanya sistem pendidikan saja, namun islam mengatur sistem perekonomian suatu negara,. Jika sistem ekonomi baik, maka akan berdampak pada sistem pendidikan dan semua keberkahan akan dibukakan oleh Allah dari langit dan bumi, sebagaimana janji-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنا عَلَيْهِمْ بَرَكاتٍ مِنَ السَّماءِ وَالْأَرْضِ وَلكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْناهُمْ بِما كانُوا يَكْسِبُونَ

Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari angit dan bumi. Namun, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menyiksa mereka karena perbuatan mereka itu.
(TQS al-A’raf [7]: 96).

Maka dari itu, mengganti sistem yang ada adalah cara yang paling patut dilakukan untuk permasalahan negeri saat ini. Memang sulit, namun ini adalah hal yang tak mustahil dilakukan di Indonesia karena telah terbukti kegemilangannya. Bukan hanya teknis, namun cabut hingga akarnya.

Semoga uraian diatas selalu menjadi acuan bagi kita, untuk memperbaiki negeri dengan cara yang benar dan baik. Insya Allah.
                             
Yasri Husaironi Mufti
Aktivis Dakwah Sekolah di Jatinangor-Sumedang

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar