Suap Merusak Moral Masyarakat

Sabtu, 02 Mei 2015 - 07:22 WIB | Dilihat : 1719
Suap Merusak Moral Masyarakat Ilustrasi : Money Politics dalam Pilkada, salah satu bentuk suap (risywah).

Kaum muslimin hafizhakumullah,

Allah Swt berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahu
i. (QS. Al Baqarah 188).

Di dalam Tafsir Jalalain diterangkan bahwa Allah Swt melarang kita memakan harta sesama dengan cara batil menurut syariah seperti mencuri dan merampas. Dan juga Allah Swt melarang kita menyuap penguasa untuk mendapatkan legalitas menguasai harta orang lain.

Menurut Al Baghawy dalam tafsirnya ayat di atas turun tentang Imri'il Qais bin Ayis al Kindy yang digugat oleh Rabiah bin Abdan al Hadlromiy atas kepemilikan tanah. Rasulullah Saw. bertanya kepada Al Hadromiy sebagai penggugat: Apakah anda punya bukti (bayyinah)?  Dia menjawab: Tidak!.  Rasulullah Saw. bertanya lagi: Apakah anda mau bersumpah? Lalu dia bersumpah. Rasulullah Saw. bersabda:

أما إن حلف على ماله ليأكله ظلما ليلقين الله وهو عنه معرض 

“Jika dia bersumpah atas harta orang itu lalu memakannya secara zalim sungguh nanti dia akan ketemu Allah dalam keadaan tidak dilihat”.

Lalu turunlah firman Allah Swt di atas. 

Al Baghawy mengutip suatu hadits dari Ummu Salamah r.a bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

"إنما أنا بشر وإنكم تختصمون إلي ولعل بعضكم أن يكون ألحن بحجته من بعض فأقضي له على نحو ما أسمع منه فمن قضيت له بشيء من حق أخيه فلا يأخذنه فإنما أقطع له قطعة من النار".

Sesungguhnya aku adalah manusia sedangkan kalian membawa perkara kalian kepadaku. Boleh jadi sebagian kalian lebih bagus hujjahnya daripada yang lain sehingga aku memutus perkara untuknya (memenangkannya)  sesuai apa yang kudengar darinya.  Maka siapa saja yang kuputus perkara baginya (memenangkannya) sesuatu yang merupakan hak saudaranya maka janganlah dia mengambilnya sebab itu hanyalah sepotong api neraka baginya”. 


Kaum muslimin hafizhakumullah,

Suap (risywah) dilaknat oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي.

“Laknat Allah akan mengenai penyuap (ar Raasyi)  dan penerima suap (al Murtasyi)”
(HR. Ibn Majah dalam Sunan Ibn Majah Juz 3/410).

Diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud Juz 3/326 dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa : Rasulullah saw. telah melaknat penyuap (ar Raasyi)  dan penerima suap (al Murtasyi).

Dalam syarah Sunan Abi Dawud diterangkan bahwa suap (risywah) adalah yang dibayar kepada pegawai, hakim pengadilan,  atau pejabat manapun, dalam rangka mencapai sesuatu, baik sesuatu itu adalah perkara yang hak maupun batil. Dikatakan suap itu risywah karena dengannya dapat dicapai  sesuatu yang dikehendaki manusia. Kata risywah berasal dari kata rasya atau timba yang artinya sesuatu yang digunakan untuk mengeluarkan  air dari sumur. Itulah hakikat dari kata suap (risywah) yang dilaknat oleh Allah Swt dan Rasul-Nya Saw. Na’udzu billahi mindzalik!

Kaum muslimin hafizhakumullah, 

Suap (risywah) kini bila telah membudaya dan merusak masyarakat. Berapa banyak anggota DPR yang tertangkap tangan menerima suap. Berapa banyak hakim dan jaksa yang tertangkap tangan menerima suap. Bahkan hakim Mahkamah Agung dan bahkan Ketua Mahkamah Konstitusi pun tidak luput dari jebakan suap. Jangan ditanya lagi berapa banyak oknum polisi dan petugas lapas yang menerima suap bahkan mereka sudah sampai tingkat memeras penyuapnya. Tentu saja penangkapan-penangkapan terhadap oknum pejabat eksekutif, legislative, maupun yudikatif telah menghancurkan citra pribadi maupun keluarga mereka  bahkan menghancurkan kredibilitas instansi tempat mereka bertugas. Na’udzubillah mindzalik!

Kaum muslimin hafizhakumullah, 

Terkait pemilu dan parpol peserta pemilu, pemilu legislative dengan system semi distrik sekarang, pilkada dan pilpres langsung ala demokrasi liberal berbiaya tinggi telah menjadikan kerusakan social politik yang begitu massif dan meluas. Seorang calon walikota atau bupati harus memiliki uang sekian puluh milyar untuk bisa menang dalam pilkada. Seorang calon gubernur harus punya uang sekian ratus milyar dan seorang capres untuk bisa menyediakan dana yang lebih dari itu untuk menang pilpres.  Seorang calon anggota DPR pusat harus punya sekian puluh milyar untuk menang.  Seorang caleg DPRD kota/kabupaten atau propinsi harus punya uang minimal sekian milyar. Akibatnya, tidak sedikit para bupati/walikota/gubernur dan anggota DPR/DPRD yang melakukan korupsi besar-besaran untuk bisa mengembalikan modal yang telah dikeluarkannya.  

Rakyat pun rusak kepribadiannya karena dibiasakan menerima suap untuk memilih para caleg maupun para calon bupati/walikota/gubernur.  Suap sudah sedemikian massif walaupun hal itu dilarang oleh Undang-undang No 3/199 Pasal 73 ayat 3 dan akan dipidana penyuap maupun penerima suap. Namun sudah terlanjur jadi budaya rusak bernama NPWP (Nomer Piro Wani Piro).

Dalam merespon suap dalam pemilu tidak sedikit ustadz atau kyai yang memfatwakan “ambil saja uangnya tapi jangan pilih orangnya”. Sepintas fatwa tersebut benar.  Namun sungguh fatwa seperti itu sangat berbahaya. Orang akan memilih tidak berdasarkan pertimbangan kemampuan calon dalam melaksanakan amanah jabatan setelah terpilih, tapi memilih berdasarkan NPWP tersebut. Padahal itu jika dilihat dengan perspektif hadits di atas yakni : “Laknat Allah akan mengenai penyuap (ar Raasyi)  dan penerima suap (al Murtasyi)”, maka redaksi kalimat fatwa di atas bisa dibunyikan sebagai berikut : “Ambil saja laknat Allah itu tapi jangan pilih orangnya!”.  Na’udzubillahi mindzalik!  

Kaum muslimin haizhakumullah,

Budaya suap yang rusak itu dulu pernah merusak para ulama bani Israil sehingga mereka sering menjual ayat Allah Swt dengan harga yang sedikit. Sehingga rusaklah ajaran Taurat di tangan para pendeta Bani Israil. Allah Swt berfirman:

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ فَإِنْ جَاءُوكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ وَإِنْ تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَنْ يَضُرُّوكَ شَيْئًا وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Mereka (Orang-orang Yahudi) itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram [seperti uang suap/sogokan dalam rangka mengubah hukum Allah Swt]. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), Maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; Jika kamu berpaling dari mereka Maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. dan jika kamu memutuskan perkara mereka, Maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil
.(QS. Al Maidah 42).

Baarakallahu lii walakum

0 Komentar