Pesta Bikini Pelajar Buah Sekulerisasi Pendidikan

Minggu, 26 April 2015 - 18:50 WIB | Dilihat : 3901
Pesta Bikini Pelajar Buah Sekulerisasi Pendidikan Ilustrasi

Aksi para pelajar usai UN semakin memprihatinkan dengan adanya berita mengenai undangan pesta bikini yang diunggah di youtube. Undangan itu disampaikan dalam sebuah video bertajuk ‘GoodBye UN Pool Party Divine Production SPLASH AFTER CLASS’. Video ini berisi ajakan bagi para pelajar yang baru saja menempuh ujian nasional untuk menghadiri ‘GoodBye UN Pool Party’. Acara ini sedianya akan diadakan di Pool Area The Media Hotel & Towers 25 April. Tentu saja, hal ini memanen hujatan dan kecaman keras masyarakat.

Meskipun Divine Production, event organizer yang menggelar pesta bikini pelajar SMA itu menyatakan pembatalan acara tersebut, peristiwa ini membuat kita semakin miris, mengenai perilaku generasi muda saat ini. Kalau dulu, para pelajar hanya sekedar mencorat-coret seragam setelah UN, kini perayaan pasca UN menjadi aktivitas mesum dan bebas. Diberitakan juga banyak pelajar yang melakukan zinah, telanjang di tengah jalan, tawuran dan perbuatan maksiat lain. Naudzubillah.

Peristiwa tersebut, hanyalah sepenggal carut marutnya wajah pendidikan negeri ini. Tak terbayang, dengan kondisi seperti itu, mampukah mereka menjadi generasi penerus? Generasi pemimpin? Bagaimana wajah negeri ini di masa depan?

Buah Sekularisasi pendidikan

Kita harus jujur, bahwa sistem pendidikan saat ini telah gagal mencetak generasi yang memiliki ilmu dan akhlak, generasi beriman dan bertakwa. Yang dihasilkan justru generasi liberal (bebas). Bebas berperilaku, bebas berpendapat. Hal ini dikarenakan sistem pendidikan negeri ini berlandaskan kepada sistem sekular, yang memisahkan agama (islam) dari kehidupan, dari pendidikan itu sendiri. Agama tidak lagi menjadi standar baik buruk perbuatan, melainkan kebebasan akal manusia yang menjadi standar.

Dari sisi kurikulum, karena bukan didasarkan pada aqidah Islam, sejatinya juga merupakan kurikulum sekuler. Meskipun beganti-ganti kurikulum, pada hakikatnya sama dengan kurikulum yang sudah-sudah, materi dan metode pengajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam didesain untuk menjadikan Islam sebagai pengetahuan belaka, ini di satu sisi.  Di sisi lain, jam mata pelajaran pendidikan agama dirancang sangat minimalis, sekalipun sudah ditambah sehingga menjadi tiga hingga empat jam sepekan.

Akibatnya, Allah swt tetap dipahami sebatas gagasan kebaikan sebagaimana pandangan Barat terhadap konsep ketuhanan.  Dan bukan Zat yang hakekatnya ada dengan segala sifat ketuhanan-Nya yang Maha Sempurna.  Para pelajar tetap tidak akan sampai pada pemahaman konsep keridhoan Allah swt sebagai kebahagiaan tertinggi yang harus diraih, disamping aspek kemashlahatan tetap menduduki posisi lebih tinggi dari pada konsep halal haram dalam menstandarisasi aktivitas.  Di samping itu, Islam hanya dipahami sebagai agama yang mengatur urusan akhirat, bukan sebagai sistem kehidupan yang mengatur dan memberikan solusi atas setiap persoalan kehidupan manusia.  Pada hal semua itu adalah prinsip-prinsip bagi terwujudnya akhlak mulia pada pelajar.

Selain kurikulum, lingkungan masyarakat pun yang hodenistik, materialis, dan individualis menjadikan control masyarakat terhadap perilaku bebeas generasi muda menjadi sangat kurang. Contohnya, Saat ini, masyarakat menganggap bahwa kesuksesan seorang anak adalah dengan banyaknya materi yang didapatkan dengan bekal pendidikannya. Masyarakat saat ini pun menganggap budaya pacaran remaja sesuatu yang wajar. Lalu, apakah petugas hotel tidak bisa membedakan mana pasangan pelajar/remaja dengan pasangan suami istri?

Belum lagi, media yang semakin merusak moral generasi muda. Lihat saja acara yang dipertontonkan adalah acara yang mempertontonkan aurat, gaya hidup bebas, pacaran, hingga video porno yang bertebaran. Sangat wajar jika generasi muda meniru apa yang mereka tonton dan dari yang mereka lihat dari perilaku artis/idola mereka
Terkahir adalah, politik pendidikan yang menjadi kewenangan pemerintah sangat lemah dalam menciptakan generasi muda yang berkualitas. Karena semua factor diatas adalah hasil kebijakan pemerintah sendiri. Penyusunan kurikulum, kontrol media, control masyarakat, semuanya haanya bisa dilakukan efektif oleh Negara. Maka, dapat dilihat dengan jelas, tidak sinkronnya antara tujuan pendidikan yang diinginkan dengan kebijakan yang dibuat. Hal ini suatu hal yang wajar, karena memang Pemerintah negeri ini menerapkan sistem secular demokrasi.

Pendidikan Islam Solusinya

Solusi masalah pendidikan negeri ini tidak ada selain kembali kepada syariat islam.Islam sebagai sebuah sistem hidup yang pernah diterapkan dalam institusi khilafah, telah terbukti mampu menghasilkan generasi ilmuwan sekaligus alim ulama. Artinya, pendidikan islam menghasilkan generasi yang tidak hanya cakap dalam keilmuwan namun jugamemiliki kepribadian islam, yang beriman dan bertaqwa.

Hal ini dikarenakan oleh beberapa hal, pertama, asas pendidikan dalam islam adalah aqidah islam. Artinya, kurikulum akan disusun berdasarkan dan berorientasikan ideology Islam bukan pasar. Materi dan metode pendidikan didesain sedemikian rupa sehingga peserta didik memahami dan meyakini bahwa eksistensi Allah swt dengan segala sifat-sifat uluhiyahnya adalah realitas, kesadaran ini dimanivestasikan dengan memandang keridhoan Allah swt sebagai kebahagiaan tertinggi, dan keterikatan kepada syariat Allah swt adalah hal yang mutlak.  Disamping itu peserta didik memandang Islam sebagai sistem kehidupan satu-satunya yang layak bagi manusia.  Di atas prinsip-prinsip ini nilai-nilai, akhlak mulia benar-benar menghiasi segenap aktivitas pelajar.

Secara struktural, kurikulum pendidikan dalam Khilafah Islam dijabarkan ke dalam tiga komponen materi pokok:
(1) pembentukan kepribadian Islam;
(2) penguasaan tsaqafah Islam;
(3) dan penguasaan ilmu kehidupan (iptek, keahlian dan keterampilan).
Sehingga, segala bentuk media, acara atau apapun yang bertentangan dengan tujuan kurikulum diatas akan dilarang. Seperti, media dan situs porno, acara yang mempertontonkan aurat, gaya hidup bebas, dan lain-lain.

Kedua,, pelayanan pendidikan yang berkualitas oleh Negara, mencakup penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang bermutu hingga memungkinkan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Negara memberikan jaminan pendidikan secara gratis bagi seluruh warganya. Negara membangun banyak perpustakaan dengan koleksi buku yang sangat melimpah.

Ketiga, pembentukan masyarakat yang membudayakan amar makruf nahi munkar. Hal ini terbentuk ketika masyarakat memahami islam dan juga ditengah-tengah masyarakat diterapkan sistem islam. Tidak ada masyarakat yang suka dengan perbuatan maksiat,

Sistem pendidikan Islam telah terbukti mampu mewujudkan generasi berjiwa pemimpin, menjadi pelopor di segala bidang kehidupan. Mulai dari pemerintahan, sains dan teknologi, militer hingga ekonomi. Dunia telah mengakui kehebatan mereka, sebut saja para khulafaur Rasyidin, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Muhammad Al-Fatih, Shalahudin Al-Ayyubi, Umar bin Abdul Aziz, para imam mazhab, dll. Bahkan, Sejarahwan Barat, Jacques C. Reister, mengakui secara obyektif bahwa selama lima ratus tahun Islam telah menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi. Menurut Montgomery Watt dalam bukunya,The Influence of Islam on Medieval Europe (1994), peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi motornya, kondisi Barat tidak akan ada artinya.

Sistem pendidikan islam tersebut hanya mungkin terwujud ketika Islam diterapkan dalam institusi Negara, yakni Khilafah Islamiyah. Maka, sudah saatnya semua insan pendidikan mengalihkan pandangannya ke sistem pendidikan Islam yang bernaung dalam kekhilafahan demi menyelematkan generasi masa depan. Dan mari, kita berjuang bersungguh-sungguh demi terwujudnya generasi berjiwa pemimpin, penyokong peradaban unggul. Tentu saja demi menggapai ridho Allah. Wallahu a’lam.

Idea Suciati, S.S

Anggota Muslimah HTI , Jatinangor, Sumedang

0 Komentar