Catatan Hati Seorang Pelajar

Ilustrasi : Pelajar SMA

Setiap tanggal 25 November, diperingati sebagai Hari Guru. Maka, pada kesempatan ini, di momen Hari Guru, saya ingin berterima kasih untuk guru-guru saya yang telah membagikan ilmunya. Di satu sisi, saya sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan guru-guru yang luar biasa. Ada istilah, guruku pahlawanku. Ya, memang ada benarnya istilah tersebut. Guruku, yang telah mengajarkan baca-tulis dan berhitung. Guruku, yang telah mengajarkan bersikap dan berprilaku. Ditambah ketulusan, kesabaran, dan keikhlasan guruku yang tidak pudar di makan waktu. Namun, di sisi lain, hati ini kadang bertanya, masihkah guruku pahlawanku?

Sedih rasanya hati ini, mendapati kabar bahwa akhir-akhir ini semakin marak berita mengenai pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru pada muridnya. Misalnya saja kasus yang terjadi di Tasikmalaya, diberitakan bahwa puluhan murid SMP di sana dicabuli gurunya sendiri (liputan6.com, 06/11/14). Sungguh begitu miris, seorang guru yang seharusnya digugu dan ditiru, justru melakukan perbuatan asusila yang tidak pantas untuk ditiru. Seorang guru, yang seharusnya  memberikan rasa aman kepada pelajar di sekolah, namun justru menciptakan kekhawatiran terhadap pelajar dan orang tuanya di rumah.

Belum lagi, adanya fenomena bullying yang terjadi pada pelajar di sekolah yang baik secara langsung maupun tidak langsung, mau tidak mau melibatkan guru di sekolah. Meski bullying dilakukan oleh sesama teman, tetapi guru di sekolah ibarat orang tua kedua yang mengawasi anak di sekolah. Maka memang ada kewajiban guru untuk menciptakan suasana nyaman dan aman di sekolah. Sungguh miris, seperti yang terjadi di Bukit Tinggi, bullying terjadi pada saat pelajaran agama (Republika Online, 12/10/14). Saat pelajaran agama, yang seharusnya mata pelajaran yang mampu menanamkan akidah dan nilai-nilai islami, namun justru dinodai dengan kasus tersebut. Apalagi tidak sedikit kasus bullying di sekolah yang sampai merenggut korban jiwa.

Dua kasus di atas, bukanlah yang pertama terjadi, bukan juga kasus yang dapat dihitung dengan jari. Kasus tersebut hanyalah sedikit potret buruk sejarah pendidikan di negeri ini, masih banyak kasus lainnya yang mungkin tidak terungkap di media.

Memang kasus-kasus seperti halnya kasus di atas terjadi bukan semata-mata kesalahan guru. Saya sadari, memang masih banyak guru yang pantas diberi predikat “guruku pahlawanku”. Jika dapat saya katakan, guru-guru –tak terkecuali pelajar- adalah korban dari sistem yang dianut oleh bangsa kita, yakni sistem Kapitalisme-Demokrasi. Dalam sistem Kapitalisme-Demokrasi ini, sistem pendidikan dibuat sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) yang membuat para guru terkikis imannya sehingga tega melakukan hal yang bejat sekalipun. Para pelajar juga disuguhi tontonan-tontonan televisi yang sekuler, yang di dalamnya disajikan tontonan-tontonan semacam bullying yang akhirnya ditiru oleh pelajar. Kurikulum pendidikan kita pun sekuler, yang akhirnya pelajaran agama yang seminggu hanya 2 atau 3 jam itu tidak memberi pengaruh kepada pola sikap pelajar.

Maka dari itu, pada momentum Hari Guru ini, saya sebagai pelajar berharap, Hari Guru bukan hanya sekadar seremonial yang diperingati setiap tahunnya. Namun, ada perbaikan yang jauh lebih berarti agar pelajar di Indonesia khususnya, menjadi anak harapan bangsa yang tentunya bukan hanya sekadar pandai dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga mempunyai sikap yang sesuai dengan Islam. Kenapa harus sesuai dengan Islam? Karena jelas pelajar di Indonesia adalah seorang Muslim yang wajib terikat dengan aturan Allah.

Sebagai pelajar, saya sungguh gerah melihat fenomena dan kasus yang disebutkan di atas. Saya ingin pelajar Indonesia khususnya dan pelajar muslim umumnya, dapat kembali menjadi generasi emas seperti pada masa Islam diterapkan dalam kehidupan, yakni pada masa Kekhilafahan Islam. Sungguh saya baca dalam sejarah peradaban Islam, di mana pada masa itu banyak pelajar yang menjadi ilmuwan hebat sekaligus ulama pada usia muda. Katakanlah Khawarizmi, sang penemu angka nol. Ibnu Sina, seorang pakar kedokteran, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Rindu sungguh rindu, ingin diatur dengan syariat Islam secara kaffah. Agar pelajar dan guru juga segenap manusia di muka bumi ini hidup aman, nyaman, dan sejahtera dunia akhirat.


Winda Damayanti
Pelajar kelas 2 SMK di Kota Bandung

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama

Email


security image
Kode
Komentar