Salam Pluralisme Jokowi

Rabu, 22 Oktober 2014 - 14:20 WIB | Dilihat : 23946
Salam Pluralisme Jokowi Jokowi saat menyampaikan pidato sambutan di depan anggota MPR, Senin 20/10/2014. (foto: liputan6.com)

Pada pidato pelantikannya sebagai presiden, 20 Oktober 2014 lalu, Jokowi mengawali pidatonya dengan salam campur. Salam Islam, Hindu dan Budha. Ia selain mengucapkan ‘assalamualaikum’ juga mengucapkan ‘Shalom. Om Swastiastu. Namo Buddhaya’.  Kemudian di akhir pidatonya Jokowi selain mengucapkan ‘wassalamualaikum’ juga mengucapkan Om Shantih, Shantih,Shantih, Om.

Salam yang sama dulu pernah dipakai Prabowo ketika pidato pada berbagai acara di pemilihan presiden beberapa bulan lalu. Ketika Prabowo dan Jokowi menggunakan salam campur berbagai agama itu, banyak kiyai yang protes. Diantaranya adalah KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii, pimpinan Perguruan Asy Syafiiyah Jakarta. Ia menyayangkan kepada para pemimpin tidak menggunakan salam Islam saja. “Mereka kan beragama Islam, banyak kiyai yang protes model salam begitu,”kata Kiyai Rasyid kepada Suara Islam. Beberapa orang kemudian menegur orang dekat Prabowo, agar Prabowo mengubah salamnya.
 
Seorang aktivis Islam Jakarta, mengaku mengirim sms kepada orang dekat Prabowo saat itu. “Bila Prabowo terus menggunakan salam campur seperti itu dan ia menjadi presiden, maka Prabowo lebih buruk dari presiden-presiden sebelumnya. Pak Harto dan lain-lain cukup menggunakan assalamualaikum saja,”begitu bunyi sms-nya. Sehingga ketika Prabowo kalah menjadi presiden, beberapa ustadz (kiyai) mengucapkan alhamdulillah karena ‘khawatir’ Prabowo terus menggunakan salam campur yang tidak diajarkan Islam itu.
 
Kini ketika Jokowi dilantik jadi presiden, justru Jokowi menggunakan salam pluralisme yang dikeluhkan para kiyai dulu. Padahal sebelum menjadi presiden, Jokowi hampir tidak pernah menggunakan salam campur seperti itu. Nampaknya Jokowi tidak bisa melepaskan dari tim yang mengelilinginya yang membuatkan naskah pidatonya. Salam pluralisme yang digunakan Jokowi sampai kini hanya digunakan ketika ia membaca teks pidato yang dibuat tim ahlinya. Sedangkan dalam pidato tanpa teks, Jokowi masih menggunakan salam Islam saja.
 
Seperti diketahui, bagi kaum Hindu, “Om Swastyastu” adalah ucapan ibadah dalam agama Hindu. Seorang Hindu menjelaskan tentang makna Om Swastyastu sebagai berikut:
 
“Salam Om Swastyastu yang ditampilkan dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Puranalah Tuhan Yang Mahaesa itu diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala ciptaan-Nya di alam ini. Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita kata Om ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti kita memanjatkan doa pada Tuhan yang artinya ya Tuhan.
 
Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti. Dalam bahasa Sansekerta kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah muncul istilah swastika, simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan yang langgeng.” (http:[email protected]/msg07018.html).
 
Jadi jelas, bahwa salam Hindu itu adalah bagian dari konsep Ketuhanan mereka. Karena itu kaum Muslim dilarang menggunakan salam Hindu, Budha, Kristen dan lain-lain. Rasulullah saw mengajarkan bila seorang Muslim bertemu dengan Muslim lainnya, atau bertemu dengan sekelompok Muslim yang bercampur dengan non Muslim, cukup mengucapkan Assalamualaikum, Assalamuaalaikum warahmatullah, atau Assalamuaalaikum warahmatullahi wabarakatuh. Rasulullah tidak pernah mengajarkan salam Islam dicampur dengan berbagai salam agama lain, seperti dilakukan oleh Presiden Jokowi atau para pejabat lainnya.
 
Diriwayatkan dari Anru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah saw bersabda,“Bukan menjadi bagian kami, orang yang meniru-niru selain kami. Janganlah kalian menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani, karena salamnya kaum Yahudi adalah isyarat dengan jari. Sedangkan salamnya kaum Nasrani adalah isyarat dengan telapak tangan.” (HR. At-Tirmidzi).
 
At-Tirmidzi, Abu Dawud dan lainnya meriwayatkan dari Jabir bin Sulaim, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikus-salam’, karena alaikus-salam adalah salam penghormatan kepada orang-orang yang sudah meninggal. Tapi, ucapkanlah ‘as-salamu ‘alaik’.” 
Bagaimana bila orang kafir memberi salam kepada kita? Mayoritas ulama berpendapat bahwa jika orang kafir memberi salam, maka dijawab dengan ucapan “wa ‘alaikum”. Dalilnya adalah hadits muttafaqun ‘alaih dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 
إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ
 
“Jika seorang ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) memberi salam pada kalian, maka balaslah dengan ucapan ‘wa’alaikum’.” (HR. Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163)
 
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Anas bin Malik berkata,
 
مَرَّ يَهُودِىٌّ بِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ السَّامُ عَلَيْكَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « وَعَلَيْكَ » . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَتَدْرُونَ مَا يَقُولُ قَالَ السَّامُ عَلَيْكَ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ نَقْتُلُهُ قَالَ « لاَ ، إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ »

“Ada seorang Yahudi melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengucapkan ‘as saamu ‘alaik’ (celaka engkau).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas ‘wa ‘alaik’ (engkau yang celaka). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Apakah kalian mengetahui bahwa Yahudi tadi mengucapkan ‘assaamu ‘alaik’ (celaka engkau)?” Para sahabat lantas berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami membunuhnya saja?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan. Jika mereka mengucapkan salam pada kalian, maka ucapkanlah ‘wa ‘alaikum’.” (HR. Bukhari no. 6926)
 
Gaya salam pluralisme Presiden Jokowi itu, ternyata menular kepada para birokrat di berbagai kota. Di Depok misalnya, dalam acara ‘pertemuan tokoh-tokoh lintas agama’ 21 Oktober 2014 lalu, pihak panitia –pegawai pemda Depok- juga mengucapkan salam yang sama. Seorang ibu berjilbab ketika membuka acara harus melihat tulisan Om Swastyastu dan membacakannya setelah mengucapkan assalamualaikum. 
 
Walhadil, bila Jokowi tidak menghentikan salam pluralisme itu, banyak tokoh Islam khawatir ini akan menjadi tren salam bagi para birokrat seluruh Indonesia. Padahal pluralisme telah difatwakan haram oleh fatwa MUI pada tahun 2006.  Semoga kekhawatiran itu tidak terjadi. Wallahu alimun hakim.* 
 
[Nuim Hidayat]
0 Komentar