Salahkah Bila Berharap Lelaki yang tak Bertanggung Jawab itu Datang Kembali?

Senin, 22 September 2014 - 11:34 WIB | Dilihat : 3439
Salahkah Bila Berharap Lelaki yang tak Bertanggung Jawab itu Datang Kembali? Ilustrasi

Diasuh oleh:
Bune Sukma Prawitasari, S.Psi, M.Psi., Psikolog
Dosen Output Character Building UII Yogyakarta
Pimpinan EePyC Consultant (Education & Empowerment Psychology Centre)
Pertanyaan dikirimkan ke e-mail: [email protected]


Assalamualaikum. Saya DT,  22 tahun single, punya anak 1 cewek, sekarang usia 5 bulan. Sudah 3 tahun ini saya hidup di Jakarta. Keluarga di kampung  tak tahu keadaan saya sebenernya yang ternyata sudah mempunyai anak. Saya termasuk tipe gadis pendiam yang malas bergaul. Itu juga yang membuat saya tidak pernah tahu yang namanya pacaran. Saya sangat pasif terhadap lawan jenis. Tapi semua berubah ketika akhirnya saya bertemu dengan L, dialah bapak dari anak ku (harusnya)!!! Tapi dia memilih untuk tidak bertanggung jawab dan menyuruhku untuk menggugurkan kandungan, tapi saya bersikukuh untuk mempertahankan. Akhirnya aku nekat dan menghilang dari kehidupan L.

Sekarang aku tinggal dengan sebuah keluarga suami istri mereka sudah tujuh tahun tidak mempunyai anak. Aku senang, kehadiran anakku sedikit menjadi hiburan untuk mereka terutama sang istri. Mereka sangat baik dari awal aku ikut mereka sudah bilang apa yang mereka lakukan murni sebuah pertolongan semata, tapi tetap saja aku merasa berhutang budi. Saya ingin hidup mandiri dan membangun usaha sendiri kebetulan saya hobi membuat pernak pernik. Rencananya saya ingin buka usaha souvenir dan aksesoris .

Kadang saya berharap, suatu saat L akan datang dan meminta untuk melihat anaknya meski saya senang, tapi dengan apa yang sudah ia perbuat kepada aku, rasanya saya tidak rela. Salahkah saya berharap L hadir lagi dalam kehidupan saya?

DT-Jakarta



Waalaikumsalam warahmatullah, DT
Pertama, tentu saya menyarankan shalat taubat yang berkelanjutan untuk kamu lakukan. Semoga dosa zinamu mendapat ampunan, dan kamu dijauhkan dari dosa besar lainnya.

Cepat atau lambat..baiknya buatlah waktu yang baik untuk jujur dengan keluarga. Mereka punya hak untuk tahu kondisimu.
Problemmu ini bisa terurai, asalkan kamu ambil langkah MAJU.
Hilangkan untuk berfikir tentang L yang menzinahimu.

Berfikirlah maju, contohnya : ceritakan niatmu kepada pasangan tersebut untuk menginventasikan ke modal usaha pernak pernik dan souvenir.

Jujur dengan keluargamu (ini butuh nyali), dan progress-lah dirimu menjadi lebih baik sebagai seorang hamba Allah. Perbanyak ibadahmu, kalau ada kesempatan kuliah lagi, atau kerja, maka tingkatkan pendidikanmu.

Anggaplah pasangan suami istri tersebut sebagai peluang, agar mereka dapat merawat anakmu, sementara kamu bisa fokus untuk membangun kembali dirimu.
Bila kamu terus menerus berfikir untuk kembali ke L, itu artinya kamu melangkah mundur.
Kamu akan berkutat dalam problem kembali.

Semoga kamu paham dan dapat menerima saran ini.
Doa dari Bune untukmu, Nak.

1 Komentar