Bersihkan Indonesia dari Virus Liberal

Minggu, 21 September 2014 - 12:31 WIB | Dilihat : 4132
 Bersihkan Indonesia dari Virus Liberal Aksi Indonesia Tanpa Liberal yang digelar Forum Umat Islam (FUI)

Jokowi-JK belum dilantik, para pendukung mereka dari kalangan liberal dan aliran sesat sudah beraksi. Mereka-mereka ini termasuk dalam orang-orang yang di hatinya ada penyakit Islamophobia. Entah mengapa mereka begitu benci kepada ajaran Islam. Mereka tampakkan kebencian itu begitu rupa. Baru-baru ini di UIN Sunan Ampel Surabaya mereka beraksi memasang spanduk yang sangat berani menantang umat Islam yang lurus agamanya.  Mereka bentangkan kalimat dusta dan batil : "Tuhan Membusuk; Rekonstruksi Fundamentalisme Menuju Islam Kosmopolitan".   

Awal bulan lalu Jalaludin Rahmat, seorang tokoh liberal beraliran Syiah  bersama sejumlah tokoh aliran sesat seperti Ahmadiyah dan tokoh pendeta bermasalah membuat pertemuan di TIM dengan mendompleng isu tolak ISIS mereka mengeluarkan unek-unek untuk menghajar umat Islam.  Salah satu bunyi poster mereka sebagai berikut:

“Jangan tinggal di Indonesia kalo anti pluralisme”. Jelas dengan poster itu yang mereka tuju bukanlah ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) atau Negara Islam yang ada di Irak dan Syria sana. Justru yang mereka tuju adalah seluruh umat Islam yang tergabung dalam MUI yang pernah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan umat Islam mengikuti faham pluralisme.  Dalam fatwa MUI Nomor 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 diterangkan bahwa pluralisme agama adalah faham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga.

Fatwa MUI tersebut tampaknya dirasakan telah menghalangi para misionaris dalam gerakan Kristenisasi untuk memurtadkan umat Islam. Oleh karena itu, kaum Nasrani ini bersama kaum liberal dan penganut aliran sesat gencar melakukan perlawanan terhadap fatwa tersebut. Salah satu momentum yang mereka gunakan adalah isu ISIS yang disikapi oleh pemerintah begitu cepat dalam menolak ISIS yang sebenarnya jauh di Irak dan Syria sana. 

Oleh karena itu, kita juga curiga bahwa kelompok liberal, misionaris pemurtadan, dan aliran sesat ikut menunggangi isu ISIS ini dalam rangka mencapai target mereka dalam menyesatkan dan memurtadkan umat Islam. Mereka meng-ISIS-kan semua fihak yang mereka nilai mengganggu kegiatan mereka, termasuk dalam hal ini MUI.

Sebelumnya Wimar Witoelar, pendukung Jokowi-JK, mengunggah foto sederetan tokoh-tokoh Islam dan logo-logo ormas Islam dengan diberi judul "Gallery of Rogues, Kebangkitan Bad Guys" ke akun facebook miliknya. Sayang tokoh-tokoh MUI dan Ormas Islam terlalu lembut dalam merespon sikap kurang ajar Wimar yang sangat melampaui batas-batas kesopanan sekaligus menunjukkan betapa kebencian Wimar kepada Islam dan tokoh Islam sehingga dia kehilangan akal sehat.  

Eskalasi Islamophobia Bakal Meningkat


Naiknya Jokowi yang diusung PDIP nampaknya memberi amunisi baru bagi kaum liberal, aliran sesat, dan kaum misionaris pemurtadan untuk menumpahkan segala kebencian mereka kepada Islam dan para aktivisnya. Sebab, kemenangan Jokowi dalam pilpres bagi mereka adalah kemenangan mereka.  Bagi mereka, pertarungan pilpres bukanlah sekedar pertarungan Jokowi VS Probowo, tapi pertarungan kaum liberal, aliran sesat, dan misionaris pemurtadan versus umat Islam. Kalimat “Tuhan Membusuk” yang dipasang saat orientasi mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel menjadi menjadi gejala awal dari peningkatan eskalasi dari aksi Islamophobia mereka.

Mahasiswa UIN Sunan Ampel memang keterlaluan. UIN (Universitas Islam Negeri) yang seharusnya menjadi benteng bagi ajaran Islam di Indonesia yang negaranya berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa alias Allah Yang Maha Kuasa ini ternyata telah menjadi sarang paham atheis komunis. Padahal paham komunis sudah dilarang di Indonesia dengan Tap MPR XXV/1966. Mereka melecehkan  Allah Swt Tuhan Yang Maha Esa  Habib Rizieq dalam salah satu kuliahnya tentang virus liberal mengatakan bahwa dosis tertinggi dari virus liberal adalah atheisme. Jadi orang liberal tertinggi mencapai tahap atheis seperti orang-orang komunis.  Mereka menolak eksistensi Tuhan, Allah Swt. 

Setelah diprotes banyak orang termasuk para ulama dan MUI Jawa Timur Rektor UIN Prof. Abdul A’la meminta maaf atas kasus tersebut. Dekan Fakultas Ushuluddin Dr. Muhid M.Ag memberikan sanksi pembekuan Dewan Mahasiswa sebagai pihak yang bertanggung jawab (2/09).

Kompas.com justru membela mahasiswa yang keterlaluan tersebut sebagai berikut: …Menurut mahasiswa, pengertian tema tersebut adalah merespons realitas sosial akhir-akhir ini bahwa banyak aksi kekerasan, kejahatan, dan kepentingan politik yang mengatasnamakan Tuhan. Sejalan dengan  Kompas.com, Tempo.co (3/09) mengutip pernyataan Dekan Fak Ushuludin UINSA, “Ketika manusia sudah bersifat seperti Tuhan, maka manusia itu bersikap sangat tidak pantas, yang kemudian diambil tema besarnya dengan kata ‘busuk’.

Jika demikian, maka  mudah kita tebak bahwa kaum liberal itu sungguh telah bertindak seperti Tuhan.  Kelakuan mereka yang menyimpang dari syariah tidak boleh dipersoalkan atas nama agama.  Jika ada yang mempersoalkan, maka yang mempersoalkan sudah dianggap sebagai Tuhan. Tuhan sendiri menurut mereka diam. Tidak usil dan tidak melarang sikap dan perbuatan mereka. Buktinya mereka dibiarkan. Seorang alumnus UIN Sunan Ampel yang tinggal di Surabaya mengatakan bahwa dalam ospek mahasiswa baru di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel Surabaya dari dulu para senior mengarahkan mahasiswa baru untuk tidak patuh kepada ajaran Islam. Misalnya, meski Masjid UIN itu besar, tapi walau sudah terdengar adzan acara OSPEK tidak berhenti dan mereka katakan sholat tidak harus di masjid tapi cukup di hati. Tampaknya tidak ada mahasiswa baru yang berani memprotes dan tidak ada dosen yang menegur mereka. Jadi kebiasaan. Puncaknya ketika mereka mengangkat tema Tuhan Membusuk!  Innalillahi wainnailahi rajiun!

Kalimat mereka batil dan dusta. Sebab Allah Swt adalah Tuhan Yang Hidup dan Tidak Pernah Mati. Apakah mereka tidak pernah baca ayat Kursy? Allahulaailaha Illa Huwal Hayuul Qayyuum…( ”Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); …).

Mereka menyebut siapa saja yang terikat kepada syariat Allah sebagai fundamentalis.  Menurut mereka fundamentalis itu salah.  Apakah mereka tidak mengerti bahwa Nabi Muhammad dan sahabat Beliau Saw. adalah orang-orang yang senantiasa istiqomah dalam menjalankan dan menegakkan syariah, baik melaksanakan shalat, membayar zakat, melaksanakan shaum, memelihara aqidah, memakan makanan yang halal, menutup aurat, membaca dan mempelajari Al Quran, meminta keputusan hukum kepada Rasulullah Saw., tidak meminum miras, tidak makan riba, tidak berjudi, tidak mengundi nasib, tidak berzina, tidak homo, tidak lesbi,  dan mereka sangat kuat dalam beramar makruf nahi munkar serta rela mengorbankan harta dan jiwa dalam jihad fi sabilillah untuk mengibarkan panji-panji Islam. Apakah mereka tidak tahu bahwa para sahabat Nabi yang dalam kategori mereka pasti masuk “fundamentalis”  itu ternyata diridoi oleh Allah SWT (QS. At Taubah 100)?   

Mereka ingin generasi mahasiswa baru UIN tidak lagi mengikuti jejak Nabi, jejak para khulafaur Rasyidin, dan jejak para sahabat r.a. Mereka ingin para mahasiswa baru UIN menjadi Islam cosmopolitan yang tidak merujuk kepada dalil-dalil syar’i sama sekali.  
   
Mereka ingin mahasiswa UIN menjadi mahasiswa Islam yang mengakui dan membenarkan sekularisme, pluralisme, dan liberalism sesuai arahan orang-orang Barat yang selama ini telah mentraining mereka. Mereka melaksanakan arahan kaum Barat itu agar membentuk generasi mahasiswa UIN yang sama dengan masyarakat Barat yang telah menjauhi ajaran agama Kristen mereka, yang memisahkan agama Kristen mereka dari urusan kehidupan mereka, yang telah menganggap seluruh agama sama sebagai keyakinan personal dengan Tuhan tanpa campur tangan urusan social politik dan tetek bengek kehidupan, dan yang telah menganggap bahwa manusia punya kehendak dan kebebasan sendiri dalam menentukan cara berfikir, cara bertingkah laku, dan berbagai kebebasan lainnya. Hak Tuhan hanya di gereja dan mengatur manusia dalam baptis, perkawinan, dan kematian saja. Di luar itu, mereka tidak memberi tempat sejengkal pun kepada Tuhan untuk mengatur kehidupan mereka.  Inilah mahasiswa UIN yang hendak dicetak di Fakultas Ushuluddin. Apakah benar Islam mengajarkan mereka demikian?  Kenapa mereka berani menggantikan ajaran Islam dengan ajaran sekularisme, pluralisme, dan liberalism agama yang telah difatwa haram bagi umat Islam mengikutinya itu?

Virus liberal telah menjangkiti mereka dan mereka merasa benar dalam ucapan dan tindakan mereka. Mereka justru asing dengan ajaran Islam sendiri. Bahkan karenanya mereka membenci syariah Islam yang seharusnya mereka terikat dengannya. Justru mereka merasa tidak perlu terikat dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya sekalipun itu merupakan keharusan bagi orang-orang yang beriman (QS. Al Ahzab 36). 

Khatimah


Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama RI dan para petinggi UIN mestinya menyadari bahaya generasi muda Islam di UIN bila semua seperti apa yang terjadi di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel Surabaya. Mereka harus mendapatkan penyegaran kembali tentang aqidah Islam dan haramnya umat Islam mengikuti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme agama sebagaimana yang tercantum dalam Fatwa MUI No 7/2005. Jangan-jangan selama ini Fatwa MUI belum pernah disosialisasikan di UIN. Memastikan bahwa fatwa tersebut telah difahami oleh seluruh dosen dan mahasiswa UIN adalah sangat urgen. Agar tidak ada lagi virus-virus sepilis di UIN sehingga tidak muncul gejala penyakit seperti spanduk penista Allah Swt tersebut. 

Juga perlu ada gerakan di masyarakat untuk mensosialisasikan fatwa tersebut agar umat Islam terbentengi akidah mereka dari bahaya sepilis tersebut. Para relawan RPKAD wajib mengambil bagian dalam upaya membentengi akidah umat Islam dari serangan virus ganas kaum liberal agar jangan penyakit Islamphobia menjalar di tengah-tengah masyarakat.

(KH.  M Al Khaththath, Pembina RPKAD)
 

0 Komentar