Stop Trend Jilboobs

Selasa, 19 Agustus 2014 - 17:47 WIB | Dilihat : 9867
Stop Trend Jilboobs Stop Jilboobs

Fenomena hijaber kian hari kian semarak. Trend berbusana muslimah yang terus meningkat ini sangat menggembirakan.  Tetapi, di sisi lain ada hal yang cukup memprihatinkan, ketika muslimah berusaha terlihat modis dan menjadi korban mode fashion yang berkiblat ke Barat.  Akibatnya, kini muncul istilah jilboobs yang merupakan pelesetan dari kata jilbab dan boobs. 

Para muslimah wajib meluruskan kembali pemahaman syar”i tentang jilbab ini.

 Jilboobs hanya Membungkus aurat

Jilboobs, menggambarkan para muslimah yang berusaha memakai busana muslimah, tetapi tetap terlihat lekukan tubuhnya.  Kepala mereka tertutup oleh kerudung gaul (jilbab cekek), yang panjangnya hanya sebatas nyekek leher. Kalaupun lebih panjang lagi, tidaklah sampai menutupi 3 lubang kancing bajunya. Akibatnya, tampaklah bagian dada (payudara atau boobs) yang seharusnya tertutup.   Baju yang mereka gunakan sempit atau ketat, bahkan celana jeans. 

 Jadi jilboobs bukan menutup aurat, akan tetapi membungkus aurat. Jilboobers memakai hijab, tetapi tetap menonjolkan bagian-bagian tubuhnya yang dianggap memiliki kelebihan, sehingga mereka memilih pakaian-pakaian ketat.  Artinya sisi-sisi erotis tetap ditonjolkan untuk menarik perhatian lawan jenis.

Pakaian mereka sama sekali tidak memenuhi fungsinya sebagai penutup aurat (yaitu seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangan), lantaran sangat tipisnya atau karena menggambarkan (bentuk tubuh).  Seperti: legging, tank top, bikini, baju tipis tembus pandang, baju "you can see", celana pendek bahkan super pendek, pakaian dalamnya terlihat, baju dengan belahan payudara, di atas kepala menutup rambutnya ada sehelai kain yang dililitkan ke leher sehingga seringkali kalung dan anting-antingnya terlihat.  Wanita tersebut menutupi badannya akan tetapi mengikat kerudungnya (seperti jilbab gaul atau kerudung cekek karena hanya sebatas nyekek leher, mengetatkan pakaiannya, sehingga lekuk-lekuk bagian tubuhnya nampak, dada dan pantatnya tercetak, atau sebagian badannya terbuka.

Contoh lain pakaian Lady Gaga.  Ada lagi kelompok Femmen, kelompok perempuan yang katanya membela hak azasi manusia (HAM), yang mengatakan bahwa bugil itu adalah HAM. Pernyataan anggota Femen Alexandra Shevchenko: "Kami bebas, kami bugil, ini hak kami, ini tubuh kami, ini aturan kami, dan tak seorang pun bisa memperalat agama, dan simbol suci lainnya untuk menganiaya perempuan dan menindas mereka”.  Ada lagi pakaian Mimesis yang dibuat dan direkayasa untuk mengkamuflase bentuk tubuh orang yang mengenakannya sehingga terkesan telanjang. Dengan  cara merekayasa material yang digunakan, misalnya polyester tertentu bisa dibuat tipis kemudian strukturnya dibuat berlapis dua seperti bahan stocking yang bisa digunakan di musim dingin. Akibatnya, musim dingin yang identik dengan jaket tebal dan berlapis-lapis sudah tergantikan dengan baju tipis yang fashionable.

Strategi Yahudi

Dalam kitab protokolat yahudi, seorang tokoh misionaris Yahudi yang terkenal yaitu Samuel Zwemer mengatakan : “Kita tidak bisa mengeluarkan umat Islam dari agamanya untuk berpindah agama lain, akan tetapi yang akan kita lakukan adalah menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya, sehingga yang ada nantinya adalah generasi-generasi yang jauh dan bodoh terhadap ajaran Islam, umat Islam yang asing dengan Islam itu sendiri, sehingga nantinya mereka justru bangga dengan pola pikir budaya barat dan bertingkah laku seperti orang-orang barat.”

Berpakaian tetapi Telanjang

Nabi saw bersabda: “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

“Pada akhir umatku akan ada kaum pria yang menunggang di atas pelana-pelana kuda bagaikan rumah-rumah. Mereka turun di pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka berpakaian tetapi telanjang, kepala mereka bagaikan punuk unta yang kurus. Laknatlah mereka karena sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita terlaknat. Seandainya setelah kalian ada salah satu umat, niscaya wanita-wanita kalian akan menjadi pembantu bagi wanita-wanita mereka sebagaimana wanita-wanita sebelum kalian menjadi pembantu bagi wanita-wanita kalian.” (HR. Imam Ahmad)

Nabi Saw telah menggambarkan penampilan wanita jaman sekarang seakan-akan telah menyaksikannya, dengan ciri-ciri: pertama “Berpakaian tetapi telanjang”, kedua ”Selalu melakukan kemaksiatan dan mengajarkannya kepada orang lain,” dan ketiga “Kepala-kepala mereka bagaikan punuk unta yang miring.”
Para ulama menafsirkan cirri pertama sebagai wanita yang mendapatkan nikmat Allah SWT berupa harta dan lainnya tetapi tidak bersyukur dengan tidak mengerjakan perbuatan taat kepada Allah SWT, malah melakukan maksiat dan kejahatan.

Penafsiran lainnya ciri pertama: berpakaian tapi tidak menutupi tubuh, karena terlalu tipis (sehingga terlihat bagian dalamnya) atau terlalu pendek (sehingga terbuka sebagian anggota tubuh yang harus ditutup). 

Ciri kedua: lalai dari penjagaan diri dan istiqomah.  Seperti orang yang terbiasa melakukan keburukan dan lalai dalam melaksanakan kewajiban (shalat dan lain sebagainya).  Kemudian dia menyesatkan yang lain, dengan mengajak kepada kejahatan dan kerusakan dengan ucapan dan perbuatannya.  Imam An-Nawawi mengartikan ciri kedua (bergoyang dan membuat orang lain bergoyang): yaitu wanita yang memperindah gaya jalannya dan menggoyangkan bahu mereka: mengenakan pakaian, perhiasan atau assesoris yang mencirikan seorang pelacur: wanita yang cenderung memikat laki-laki dengan kecantikan, perhiasan, atau kemolekan anggota tubuh yang mereka perlihatkan.

Hari ini kita bisa melihat wanita foto model seksi, artis seksi, Sales Promotion Girl (SPG) seksi, bintang iklan seksi dan penyanyi dangdut seksi yang memamerkan kemolekan tubuhnya, bergoyang diatas panggung dengan pakaian yang minim, sehingga membuat orang ikut bergoyang mengikuti irama musik dan goyangannya.  Tereksposnya aurat wanita menyebabkan: suburnya pergaulan bebas, dekadensi moral, prostitusi, aborsi, bayi lahir di luar nikah.

Perkara ini bukan perkara sepele, karena Nabi Saw mengancam dengan tegas: “wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”
 
Syariat Busana Muslimah

Wanita dengan segala kecantikannya bisa mengalihkan pandangan para lelaki. Islam sangat menghormati dan menjaga wanita, sehingga mereka dianjurkan untuk menjaga pandangan dan kemaluan mereka dengan cara menutup aurat sesuai pakaian yang syar’i.  Jadi wanita terjaga dari tangan-tangan jahil yang ingin menjamah, menggoda dan mengganggu mereka, serta pandangan syahwat kaum Adam yang bisa menimbulkan fitnah dan maksiat.

Firman Allah swt: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: `Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka`. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59). Allah berfirman, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak.” (An-Nur: 31)

Jadi busana muslimah terdiri dari kerudung dan jilbab.  Kerudung adalah kain yang menutupi rambut, telinga, leher dan menjulur hingga ke dada (minimal 3 lubang kancing baju wanita).  Sedangkan jilbab adalah baju longgar yang menjulur dari leher/kepala hingga mata kaki, yang berfungsi sebagai baju luar untuk menutupi baju yang biasa dipakai di dalam rumah. 

Busana muslimah berfungsi menutup aurat wanita yaitu seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangan.  Syaratnya: 1. tidak transparan (warna kulit tubuh terlihat), jika bahannya tipis diberi lapisan, 2. longgar dan tidak menampakkan bentuk lekuk tubuh, 3. tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian kaum wanita kafir.
 
Khatimah


Semua pihak bertanggung jawab untuk memperbaiki keadaan agar sesuai dengan syariat Islam, baik: orang tua dan keluarga di rumah, masyarakat, dan sekolah.  Negara paling bertanggung jawab menjaga akhlak dan agama rakyatnya agar tercipta masyarakat Islami yang diberkahi oleh Allah Swt. Wallahua’lam!

[Ummu Hafizh]

1 Komentar