Khawatir dengan Perasaan Sendiri

Senin, 11 Agustus 2014 - 16:40 WIB | Dilihat : 3805
Khawatir dengan Perasaan Sendiri Ilustrasi

Diasuh oleh:
Bune Sukma Prawitasari, S.Psi, M.Psi., Psikolog
Dosen Output Character Building UII Yogyakarta
Pimpinan EePyC Consultant (Education & Empowerment Psychology Centre)
Pertanyaan dikirimkan ke e-mail: [email protected]


Assalamualaikum wr wb, Bunda,

Saya Haryono umur 50 tahun, anak ke 4 dari 8 bersaudara, saat ini saya sedang bimbang (apakah ini hanya perasaan saya saja?), begini bunda :

Ibu saya sudah tua (75 thn), saya dari keluarga tidak mampu, ayah (almarhum) adalah tukang becak dan dulupun waktu SMA saya sekolah sambil narik becak. Teriring perjalanan hidup, saya diberi keberkahan oleh Allah sehingga saya bisa bekerja sambil kuliah dan akhirnya bisa meraih sarjana S2. Istri saya manusia yang shalehah yang sangat perhatian kepada mertua dan saudara-saudara saya, hal ini dikarenakan saya selalu terbuka kepada istri saya dalam hal apapun termasuk keadaan ortu (saat pacaran dulu). Dan hal ini tentu juga karena doa restu orang tua (ibu) karena ayah saya sudah meninggal.

Saat ini karena keadaan ekonomi saya jauh lebih baik dibandingkan dulu, saya sangat memperhatikan keadaan ibu, saya selalu berusaha membahagikan ibu dari sisi manapun, apapun yang ibu saya inginkan saya selalu berusaha memenuhi, dan alhamdulillah saat ini ibu sedang menunggu waktu berangkat haji yang insya Allah kami akan berangkat bareng (ibu, saya dan istri).

Tetapi dengan perhatian saya ini, apabila ibu saya ada permasalahan selalu meminta saya untuk mencari solusi tanpa menyampaikan kepada kakak-kakak saya terlebih dahulu dan saya yang selalu diminta untuk menyelesaikan. Sehingga saat ini saya bingung karena saya takuuuut sekali kakak-kaka saya mengira saya yang selalu mempengaruhi ibu. (atau itu hanya perasaan saya saja)

Jujur bunda, sebagai anak saya tulus dan ikhlas ingin membahagiakan ibu saya dan keluarga adik-adik saya di desa, karena dulu keluarga saya hidup dalam garis kemiskinan.

Bagaimana ya bunda saya harus bersikap, supaya tidak menimbulkan perasaan perasaan suuzan kakak-kakak saya, jangan sampai mempunyai perasaan yang aneh-aneh terhadap ibu saya (mudah-mudahan siih tidak). Demikian bunda, mohon arahan. terima kasih.

Wassalamualaikum wr wb.


Haryono



Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pak Haryono, tentang perasaan seseorang, kita tidak bisa mengendalikannya.

Mereka punya standar sendiri, punya pemikiran sendiri.

Bila saya ada di posisi bapak, maka yang saya lakukan adalah bicara ke ibu baik-baik.
Bahwa, ibu sebaiknya bicara masalah tersebut ke mas xxxxx. Jawab dengan baik bahwa bapak tidak menguasai hal tersebut.

Bila ibu enggan, bapak bisa hubungi mas-mas bapak. Sampaikan bahwa ibu mau cerita sesuatu ke Mas, tapi malu. Saya juga gak diberitau tentang hal apa.
Kira-kira apa ya mas??
Itu cara memancing mas untuk mencari tahu ke ibu

Sisanya, kita cuma bisa berharap keikhlasan bapak dan istri dapat berbuah manis dengan tidak terjadinya kekhawatiran yang bapak baru perkirakan tersebut.

1 Komentar