Mantan Wali Kota Padang : Kalau PKS Lagi yang Jadi Hancur Negeri ini

Fauzi Bahar saat berpidato di hadapan majelis taklim se-Kota Padang di Jalan A Yani, Senin (17/2/2014) lalu.

Jakarta (SI Online) - Mantan Wali Kota Padang Fauzi Bahar memaki-maki Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Umpatan kasar Fauzi kepada PKS terekan dalam video yang kemudian tersebar luas melalui You Tube. Dalam video pendek berdurasi 3 menit 31 detik itu, dengan tegas Fauzi menyebut bila PKS memimpin akan hancur negeri ini.

"Saya berharap kepada kita semua supaya jernih menentukan pemimpin kita berikutnya. Mengerti semua ya. Sampaikan semua kepada sanak kita semua. Kalau PKS lagi yang jadi kacau negeri ini," kata Fauzi

Parahnya, usai mengucapkan salam penutup, Fauzi yang konon sering mengungkapkan supaya masyarakatnya berakhlak mulia justru mengeluarkan kalimat jorok dan tak pantas. Sembari tetap memegang mikropon, sambil berjalan turun dari panggung dia mengumpat dengan kata-kata yang kotor. "Kurang ajar..anj*ng semuanya," kata Fauzi terdengar jelas.

Penelusuran Suara Islam Online, Rabu (19/2/2014), pidato Fauzi itu disampaikan dalam pidato akhirnya yang digelar majelis taklim se-Kota Padang di Jalan A Yani, Senin (17/2/2014) lalu.

Situs berita Sumbar, Padangmedia.com, memberitakan Fauzi meradang di tengah acara perpisahan untuk dirinya yang digelar majelis taklim se Kota Padang di Jalan A Yani, Senin (17/2). Pasalnya, ketika acara tersebut berlangsung didatangi massa ormas penentang pembangunan superblok Lippo. Penentangan terhadap pembangunan superblok Lippo di Padang sendiri sebenarnya telah dilakukan secara luas oleh masyarakat.

"Ada apa mereka melakukan demo di Kota Padang dan mendatangi kediaman saya. Kalau warga Kota Padang yang menentang dan mendemo saya mungkin masih saya pahami, tapi ini bukan," kata Fauzi Bahar di hadapan wartawan dan ratusan warga yang hadir dalam acara tersebut.

Fauzi yang pada Senin (17/2) akan mengakhiri masa jabatannya tersebut menuding dengan tegas PKS berada di balik semua ini. Ia menuduh pendemo dari daerah difasilitasi Gubernur Irwan Prayitno dengan menyediakan kursi dan tenda.

"Sudah sangat kebangetan, jangan dijadikan kantor gubennur itu kantornya partai...PKS. Nggak boleh...nggak boleh," kata Fauzi yang juga Ketua DPD PAN Kota Padang itu.

Fauzi menuduh, Gubernur Sumbar yang kebetulan berasal dari PKS itu mengumpulkan para pendemo itu di kantornya kemudian mereka berjalan mendemo dirinya dengan menggunakan atribut PKS.

"Gubernur adalah gubernurnya kita pilih bersama-sama. Harus menjadi gubernur Provinsi Sumatera Barat. Nggak boleh berterang-terangan orang berdemo disini, ditampung lagi di kantor gubernur tadinya. Dikumpulkan titik kumpulnya disana. Bawa lambang PKS semua lalu dibawa kesini. Tidak boleh, jangan begitulah," kata Fauzi.

Kondisi politik di kota Padang memang memanas. Seperti diketahui, hingga saat ini putaran kedua Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Padang belum digelar. Sebelumnya pemilihan telah dijadwalkan pada 16 Januari yang kemudian diundur pada 29 Januari. Tetapi ternyata batal.

Fauzi sendiri setelah memimpin Kota Padang selama dua periode, telah mengakhiri masa jabatannya per 18 Februari 2014. Periode kedua jabatannya, ia berpasangan dengan kader PKS Mahyeldi.

Hasil Pemilukada Kota Padang pada 2013 lalu meloloskan pasangan Mahyeldi-Emzalmi dan Desri Ayunda-James Hellyward ke putaran kedua. Mahyeldi, yang sebelumnya menjabat Wakil Wali Kota Padang, diusung oleh PKS dan PPP, sedangkan Desri-James adalah pasangan dari jalur independen.

red: abu faza/dbs

 

Komentar

20.02.201408:46
F A H R I
TERNYATA DAN TERBUKTI FAUZI BAHARLAH YG MENJADI ANJING KAFIR CHINA DARI LIPPO GROUP, DIALAH YG PALING NGOTOT MERESTUI/MENYETUJUI SUPER BLOK LIPPO GRUOP YG JELAS2 MEMPUNYAI MISSION KRISTENISASI DI SUMBAR/SEINDONESIA, SI FAUZI SEBAGAI PENGHIANAT AGAMA (MUNAFIK) DAN SEKALIGUS PENGHIANAT SE KOTA PADANG(SUMBAR), DIA DAJAL PENGHASUT DAN PEMFITNAH, DIA MANUSIA IBLIS RAKUS GILA HARTA DAN TAHTA....MANUSIA MUNAFIK LAKNATULLAH SEPANTASNYA DITERIMA DIA DAN KELUARGANYA.
Nama

Email


security image
Kode
Komentar