Khutbah Idul Fitri 1434 H: Membangun Sistem Masyarakat Bertaqwa Dengan NKRI Bersyariah

Kamis, 08 Agustus 2013 - 06:17 WIB | Dilihat : 24005
Khutbah Idul Fitri 1434 H: Membangun Sistem Masyarakat Bertaqwa Dengan NKRI Bersyariah

Khutbah Iedul Fithri 1434H
Membangun Sistem Masyarakat Bertaqwa Dengan NKRI Bersyariah
Oleh Muhammad Al Khaththath, Sekjen FUI

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
 الله أكبر… الله أكبر… الله أكبر 3x
الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا
لآإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون
لآإله إلا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده
لآإله إلا الله الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
الحمد لله الذي جعل الإسلام دينا كاملا ومرضيا لإمة سيدنا محمد وبه تكون هذه الأمة خير امة من الامم , كقوله تعالى فى كتابه العزيز:
" كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ"
والصلاة والسلام على سيد المرسلين ، وإمام المتقين وعلى آله وصحبه ، ومن دعا بدعوته ، والتزم بطريقته ، وجعل العقيدة الإسلامية أساسا لفكرته ، والأحكام الشرعية مقياساً لأعماله ، ومصدراً لأحكامه وَمَنْ جاَهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهاَدِه ومن تبعهم بإحسان.
اَمَّا بَعْدُ,
فياأَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
 

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Kaum muslimin rahimakumullah,
Alhamdulillah pada hari ini satu Syawal 1434H umat Islam di seluruh permukaan bumi merayakan hari raya Iedul Fitri, kembali berbuka, kembali kepada fitrah, suci tanpa dosa, setelah sebulan kita melaksanakan kewajiban shaum Ramadhan, kewajiban imsak atau menahan diri dari makan dan minum serta berhubungan suami istri, yang merupakan latihan untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT, agar kita senantiasa bisa koneksi secara stabil dengan-Nya setiap saat, di mana saja, kapan saja, dalam menilai dan mengatasi masalah apa saja, maupun ketika berhadapan dengan siapa saja.  Agar kita secara nyata menjadi orang yang bertaqwa, yakni melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. 

Semoga Allah SWT berkenan menerima ibadah shiyam kita, qiyam kita, tilawah kita, shadaqah kita dan berbagai aktivitas kebajikan kita lainnya dan berkenan membalasnya dengan kebaikan pahala dan ridlo-Nya. Dan semoga kita mendapatkan pahala ibadah dan kebaikan yang bertepatan dengan lailatul Qadar sehingga kita mendapatkan kebaikan yang banyak dan kita mendapatkan taqdir menjadi mukmin yang lebih baik, yang senantiasa menyadari bahwa keberadaan kita di dunia adalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT.

Sehingga kita sukses menjadi hamba-Nya yang senantiasa berpegang teguh dengan syariat Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan kita, baik dalam masalah aqidah dan ibadah, masalah akhlak, masalah makan dan minum, masalah berpakaian, maupun masalah hubungan kita dengan umat manusia dalam muamalah ekonomi, politik, sosial, maupun budaya, dan aspek-aspek kehidupan lainnya.

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Kaum muslimin rahimakumullah,
Hari ini adalah hari raya Iedul Fitri, hari kemenangan kita melawan hawa nafsu.  Hari ini kita bergembira. Kita berkumpul untuk bertakbir, bertasbih, dan bertahmid, memuji dan membesarkan asma Allah SWT.  Kita bersilaturrahim sambil mengucapkan kalimat tahniah Taqabbalallahu Minna Waminkum... Kita ucapkan selamat Hari Raya Iedul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin.  Lalu kita saling beramah tamah meluapkan kegembiraan bersama di hari raya.  Anak-anak pun kita gembirakan dengan pakaian baru dan uang lebaran. Serta kue-kue dan makanan. Walau hakikat lebaran bukanlah baju baru, tapi iman yang bertambah kuat kepada Allah SWT. Kata pepatah: Laisal I’ed liman labisal jadiid walaakinnal Ied liman imaanuhu taziid. Bukanlah hari raya Iedul Ftri untuk orang yang memakai pakaian baru, tapi sesungguhnya hari raya Iedul Fitri itu untuk orang yang imannya bertambah.

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Kaum muslimin rahimakumullah,
Persoalan yang nyata yang harus kita jawab adalah bagaimana kita menjaga keimanan yang bertambah dan ketaqwaan kepada Allah yang menguat agar tidak pudar dan menghilang? Artinya bagaimana kita menjaga agar hati setiap mukmin dan mukminah hanya terikat kepada hukum syariat Allah SWT, tidak melenceng kepada syariat yang lain,  sebagaimana firman-Nya:
 
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al Ahzab 36).

Kaum muslimin rahimakumullah,
Ada tiga faktor yang akan menjaga keimanan dan ketaqwaan tiap individu muslim dalam bentuk keterikatannya kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya.  Pertama, keimanan dan ketaqwaan yang selalu diperbaharui.  Nabi saw. bersabda:


جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ . قِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا ؟ قَالَ : أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ.

“Perbaharuilah iman kalian”. Dikatakan: “Wahai Rasulullah bagaimana kami memperbaharui iman kami?” Rasulullah saw. bersabda: “Perbanyaklah dengan mengucapkan kalimat Lailahaillallah” (Al Mustadrak Al Hakim Juz 4/256).

Dan seluruh sistem ibadah hakikatnya adalah untuk memperbaharui iman dan menambah ketaqwaan, misalnya saja shiyam diperintahkan agar umat Islam bertaqwa (lihat QS. Al Baqarah 183). Sholat diperintahkan agar umat Islam yang melaksanakan sholat memiliki sistem kekebalan dari perbuatan yang keji dan munkar (QS. Al Ankabut 45). 

Ketaqwaan yang dibina dengan frekwensi dan intensitas ibadah yang tinggi akan membentuk sikap furqon yang merupakan karunia Allah SWT dalam diri setiap muslim sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu Furqaan (kepekaan membedakan yang hak dari yang batil). dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.
(QS. Al Anfal 29).

Oleh karena itu, perlu dikembangkan sistem yang kondusif bagi terwujudnya ketaqwaan dalam tiap individu masyarakat, khususnya diwujudkannya tradisi ibadat yang kuat di masyarakat, baik itu sholat jamaah di masjid, pengajian, dzikir, yasinan, dan lain-lain.   Prinsipnya, frekwensi dan intensitas ibadah yang tinggi di bulan Ramadhan perlu dipertahankan agar terwujud ketaqwaan merata pada setiap orang.

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Kaum muslimin rahimakumullah,
Faktor kedua yang akan menjaga stabilitas ketaqwaan dan keterikatan tiap individu muslim adalah amar makruf nahi munkar di masyarakat. Amar makruf atau menyuruh perbuatan yang dinilai baik oleh syariat Allah SWT dan nahi mungkar atau melarang perbuatan yang ditolak oleh syariat Allah SWT adalah perbuatan mulia yang diperintahkan oleh Allah SWT agar dilakukan oleh umat Islam baik secara pribadi maupun berjamaah.   Allah SWT berfirman :
 
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran 104).

Rasulullah saw. bersabda:

« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ ».

Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran hendaknya dia ubah dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka hendaknya dia ubah dengan lisannya, dan kalau dia tidak mampu hendaknya dia ubah dengan hatinya dan itu selemah-lemahnya iman” (Sahih Muslim Juz 1/50).

Bahkan aktivitas amar makruf nahi munkar ini menjadi unsur utama dari wujud khairu ummah atau umat terbaik.  Allah SWT berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran 110).

Oleh karena itu, perlu diwujudkan sistem kejamaahan yang membangun suasana dan tradisi amar makruf nahi mungkar di masyarakat agar suasana saling tegur sapa dan saling menasihati  dalam mengemban kebenaran dan kesabaran serta demi mewujudkan ukhuwah Islamiyyah atas dasar iman dan kasih sayang untuk mewujudkan keharmonisan dan keselamatan hidup bermasyarakat.  

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Kaum muslimin rahimakumullah,
Faktor Ketiga yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas keimanan dan ketaqwaan adalah penerapan hukum syariah oleh negara.  

Penerapan hukum syariah dalam wujud UUD dan berbagai perundangan lainnya secara formal konstitusional sangat penting. Sebab hal itu akan mengikat dan memaksa setiap individu warga negara untuk taat dan tunduk dengan hukum syariah Allah SWT, bukan menjadikannya sekedar sebagai norma agama semata yang dijalankan tanpa sanksi yang nyata.  Penerapan hukum syariah sebagai hukum formal negara memberikan otoritas kepada para pejabat untuk mengambil tindakan hukum sesuai dengan kewenangannya. Dan tindakan penguasa didasarkan pada petunjuk hukum syariah.  

Sebagai contoh, pelaksanaan sholat jamaah sebagai kewajiban ibadah kaum  muslimin akan terwujud secara sempurna bilamana  diundangkan oleh negara tentang kewajiban sholat lima waktu itu. Yakni disamping selalu memberikan penerangan tentang keutamaan pelaksanaan sholat berjamaah di masjid, negara juga harus memberikan sanksi kepada para kaum pria muslim yang malas pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Demikian juga kewajiban mengenakan jilbab bagi wanita muslimah pasti akan ditaati secara merata kalau diundangkan oleh negara.  Negara menggunakan sarana pendidikan dan media massa untuk mendidik para wanita muslimah dan memberikan pengarahan kepada mereka tentang kewajiban dan keutamaan mengenakan jilbab dan kerudung rapi (QS. An Nuur 31 dan Al Ahzab 59) saat keluar rumah.  Selain itu, negara akan memberikan peringatan dan tindakan hukum manakala para wanita muslimah masih bandel keluar rumah tanpa mengenakan jilbab dan apalagi mengumbar aurat dengan memakai pakaian yang tidak layak dikenakan wanita muslimah.   Para wanita yang bandel itu bisa ditangkap dan ditahan sampai dia jera dan mau mengenakan jilbab saat keluar rumah.
  
Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Konsolidasi Umat mewujudkan Masyarakat Bertaqwa

Kaum muslimin rahimakumullah,
Untuk mewujudkan ketiga faktor di atas dalam kehidupan umat Islam yang menjadi penduduk mayoritas di Indonesia, diperlukan upaya konsolidasi umat Islam untuk mewujudkan masyarakat bertaqwa dengan langkah-langkah Konsolidasi Umat  sebagai berikut:
1. Mendorong dinamisasi gerakan dakwah dan mencintai Al Quran pada  tradisi gerakan umat Islam yang sudah memasyarakat.
2. Membentuk Laskar Akhlakul Karimah (LAK) di tiap Masjid untuk   melaksanakan fungsi penyangga sholat jamaah, ukhuwah Islamiyyah; dan dakwah/ pembinaan umat.
3. Mendorong umat memilih para wakil rakyat yang punya visi penegakan syariah secara formal konstitusional (Caleg Syariah) dan calon kepala negara yang punya visi pemerintahan syariah (Capres Syariah) sehingga nanti ketika menjadi presiden mendekritkan berlakunya syariah di seluruh wilayah NKRI.   
4. Mendorong para pimpinan/aktivis ormas/partai/lembaga-lembaga Islam untuk bergabung dalam gerakan NKRI Bersyariah untuk mewujudkan Masyarakat Indonesia Bertaqwa dalam Bingkai NKRI Bersyariah dengan langkah-langkah strategis yang sudah disebutkan. Dan menorong mereka untuk mengajak para kader terbaik mereka serta jamaah simpatisan mereka bergabung dengan kelompok kerja Relawan Capres Syariah (RCS) untuk mewujudkan semua itu.   
5. Mendorong para birokrat sipil militer /akademisi/dan kalangan ulama untuk menyiapkan diri agar nantinya bisa mengisi posisi-posisi NKRI Bersyariah dan mempertahankannya setelah mendapatkan Nashrullah dengan merebut hati umat berfihak kepada yang hak dan menolak kebatilan sehingga umat bersatu dengan para ulama pimpinan umat menegakkan NKRI Bersyariah untuk mewujudkan masyarakat bertaqwa di bawah ridlo Allah, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur.   

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Kaum muslimin rahimakumullah,
Uraian dari kelima poin konsolidasi strategis di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, mendorong dinamisasi gerakan dakwah dan mencintai Al Quran pada  tradisi gerakan umat Islam yang sudah memasyarakat, misalnya kumpulan atau majelis Yasinan baik dari kalangan bapak-bapak maupun ibu-ibu, dengan peningkatan kualitas membaca dan memahami Surat Yasin sebagai Qalbul Quran dan spirit dakwah dari Habib An Najjar yang ada dalam Surat Yasin.   Langkahnya adalah dengan melakukan penataran terhadap para pimpinan Majelis Yasinan dengan melibatkan para qari’ dan hafizh Al Quran serta ulama yang mampu mengajarkan tafsir dari surat Yasin. Diharapkan dengan penataran tersebut, tradisi Yasinan diperbaiki dimana para yasiner tidak hanya mahir membaca Surat Yasin, tapi juga mahir membaca terjemahannya baik per ayat maupun perkata. 

Di samping itu para pimpinan majelis Yasinan menguasai sejumlah Tafsir dari Surat Yasin yang ditulis para ulama misalnya Tafsir Jalalain, Tafsir Ibn Abbas, Tafsir Shafwatut Tafaasiir dll. Dengan pola baru tersebut, diharapkan ada peningkatan kualitas pembacaan, pemahaman, dan penghayatan umat Islam terhadap Surat Yasin sebagai qalbul Quran. Disamping itu forum majelis Yasinan bisa menjadi sarana dakwah Islam untuk menyampaikan masalah halal haram, sistematika ajaran Islam,  maupun perkembangan umat Islam yang aktual.   

Kedua, menbentuk Laskar Akhlakul Karimah (LAK) atau Laskar Rahmatan Lil Alamin (LRA) di tiap Masjid untuk melaksanakan tiga fungsi, yaitu fungsi penyangga jamaah sholat lima waktu; fungsi implementasi ukhuwah Islamiyyah; dan fungsi dakwah Islam dan pembinaan umat. Anggota laskar  dibentuk dari jamaah masjid dari kalangan pemuda usia sekitar 20-40 tahun.  Laskar disiapkan dan terlebih dahulu diberi pelatihan dengan materi ilmu-ilmu syariat dan teknik praktis untuk melaksanakan tiga fungsi di atas.
  
LAK/LRA adalah bentuk praktis yang bisa diwujudkan dengan koordinasi antara DKM tiap masjid dengan perangkat RT/RW untuk melaksanakan amanat dalam firman Allah SWT :

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS. Al Hajj 41).

Dalam melaksanakan fungsi penyangga jamaah sholat lima waktu, LAK/LRA bertugas mengetuk pintu setiap rumah kaum muslimin, khususnya mereka yang tidak terbiasa sholat jamaah untuk diajak sholat jamaah ke masjid untuk mendapatkan keutamaannya, yakni pahala yang berlipat 27 kali dan bersilah ukhuwah bersama para jamaah yang lain. Jika setiap masjid memiliki 50-100 anggota LAK/LRA dan masing-masing mengajak satu jamaah, maka minimal  akan ada 100-200 umat Islam yang melaksanakan sholat jamaah lima waktu. Sehingga kalimat walladznina immakkannaahum fil ardl aqaamus sholat dalam surat Al Hajj 41 di atas terwujud.

Jika lubernya sholat jamaah ini terwujud di setiap masjid di seluruh wilayah NKRI, maka akan dapat diharapkan terjadi perubahan besar dan mendasar bagi perbaikan kondisi bangsa dan negara yang sudah demikian terpuruk sejak reformasi 1998 hingga hari ini.  Ada satu pelajaran dimasa Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a. yang patut diambil. Kondisi umat yang sangat terpuruk pada periode pemerintahan sebelumnya bisa beliau ubah dalam waktu sekitar 2 tahun sehingga kondisi ekonomi yang morat-marit berubah menjadi sangat baik. Indikasinya  tidak ada warga yang mau menerima zakat. Rahasianya adalah semangat umat beribadah sangat luar biasa sehingga jamaah sholat subuh di masjid luber  seperti sholat Jum’at.  

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Kaum muslimin rahimakumullah,
Dalam melaksanakan fungsi ukhuwah Islamiyyah, LAK/LRA bertugas mengabsen siapa-siapa jamaah yang tidak hadir, mereka perlu dikunjungi ke rumahnya, kenapa? Mungkin sakit atau tidak punya sarung untuk pergi ke masjid.  Perlu dibantu sebagai wujud ukhuwah.  Juga perlu dihimbau melalui RT/RW dan pengajian agar ibu-ibu yang ada di wilayah RT/RW sekitar masjid agar membiasakan mengambil sebagian beras yang hendak dimasak (jimpitan) untuk disimpan di kaleng setiap kali mau menanak nasi dan setiap malam ahad bisa diambil oleh anggota LAK/LRA untuk dikumpulkan di masjid.

Masjid menjadi gudang beras yang bisa digunakan kapan saja untuk memenuhi kebutuhan siapapun dari jamaah sekitar masjid yang sedang terkena musibah, sedang tidak mampu membeli beras, juga untuk memberi makan ibnu sabil yang lewat yang sedang kelaparan karena kehabisan bekal. Stok beras masjid tersebut secara sistematis digunakan menjaga jangan sampai ada seorang pun yang lapar di wilayah RT/RW sekitar masjid dan tidak dipedulikan. Sebab ketidakpedulian terhadap orang yang lapar di suatu kampung akan mengundang bala’ bencana bagi penduduk kampung tersebut.  Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

أيما أهل عرصة أصبح فيهم امرؤ جائعا فقد برئت منهم ذمة الله

Penduduk negeri mana saja yang pada pagi hari di antara mereka ada orang yang lapar (tak dipedulikan) maka tanggungan Allah akan terlepas dari mereka” (HSR Al Hakim dalam Al Mustadrak ala shahihain Juz 2/14).

Maka dengan kekompakan warga masyarakat untuk menjaga sholat dan menjaga agar tidak ada satupun warga yang kelaparan, maka kampung di mana masjid itu menjadi sentral peradaban telah dijaga dengan perlindungan Allah SWT.  Dalam hal ini, termasuk dalam tugas laskar adalah menjemput zakat dari kaum aghniya sehingga mereka membayar kewajiban zakat, melaksanakan apa yang ada dalam ayat wa atau zakaat dalam QS. AL Hajj ayat 41 di atas.   Zakat yang dikumpulkan di masjid bisa digunakan untuk membantu kaum fakir miskin ada di wilayah RT/RW sekitar masjid dengan memberikan bantuan sandang pangan maupun modal untuk usaha sehingga mereka bisa diberdayakan dengan program-program penguatan ekonomi umat.  

Zakat infak dan shadaqah yang dikumpulkan di masjid dikelola oleh anggota LAK/LRA yang ditugaskan khusus untuk itu, bisa dilatih oleh BAZ setempat untuk pemberdayaan ekonomi kaum dluafa di sekitar masjid dan untuk membiaya kegiatan LAK/LRA. 

Diprogramkan agar setiap malam Ahad LAK/LRA mengadakan pengajian malam dan i’tikaf di masjid.  Pada setiap pengajian tersebut bagus mendatangkan para dai dengan koordinasi LAK/LRA tingkat Kecamatan/Kota/Kabupaten  dalam rangka pembinaan umat. Tradisi malam Ahad (jangan lagi dikatakan malam minggu) yang merupakan “waktu kunjung si doi/pacar istilah anak muda” harus diubah menjadi tradisi “waktu kunjung si dai/penerang agama” sehinga para remaja dan pemuda mendapatkan pencerahan ilmu agama dan perkembangan zaman mutakhir yang bermanfaat buat bekal hidup mereka.    Untuk menarik minat para remaja/pemuda kumpul di masjid bisa diadakan sajian makanan atau bakar singkong/jagung/ikan dan lain-lain untuk menambah semangat berjamaah mereka.  Disamping pengajian yang diadakan, sebagian anggota LAK/LRA berkeliling kampung untuk mengambil beras jimpitan ibu-ibu dari rumah-rumah warga sambil meronda kampung. 

Manakala mereka menjumpai anak-anak remaja yang melakukan kemaksiatan di tengah jalan seperti pacaran di malam hari, apalagi mabuk, atau memakai narkoba, maka anggota Lak/LRA bisa menangkap mereka dan secara persuasif diajak ke masjid untuk gabung dengan remaja dan pemuda lainnya yang sedang makan-makan dan pengajian.   Tentu saja sebelumnya perlu dipasang di tiap perempatan dan tempat-tempat strategis papan pengumuman yang melarang perbuatan maksiat seperti: “Anda memasuki Wilayah Tertib  Akhlakul Karimah, pastikan anda TIDAK mengumbar aurat, minum miras, makai narkoba, main judi, mencuri, ...TTD Laskar Akhlakul Karimah Masjid At Taqwa”.  

Papan pengumuman itu akan mencegah orang dari berbuat maksiat.  Dan keberadaan laskar meronda untuk memastikan bahwa larangan itu ditaati.   Jika pelaku kemaksiatan menolak diajak ke masjid, dinasihati bahwa perbuatannya melanggar hukum, dan bisa dibawa ke Polsek setempat.  Dan kalau berlagu, anggota LAK/LRA harus disiapkan dengan kemampuan melaksanakan prosedur pengamanan dan langsung membekuknya untuk dibawa ke masjid dan dihadapkan kepada ketua DKM/Ketua  RW dan dipanggil orang tua yang bersangkutan untuk dinasihati agar tidak diulangi lagi.

Tindakan amar makruf nahi munkar secara sistematis ini akan menyelamatkan masyarakat wilayah RT/RW di sekitar masjid itu dari adzab dan musibah dari Allah SWT. Amar makruf Nahi Munkar yang efektif memang digambarkan seperti dalam hadits Nabi saw.:

Perumpamaan orang yang menegakkan hudud Allah dan yang melanggarnya seperti suatu kaum yang berbagi tempat di perahu, sebagian menempati bagian atas sebagian lain menempati bagian bawah.  Yang mendapat bagian bawah jika mengambil air mereka harus berjalan melewati mereka yang di atas.  Lalu mereka berkata : Kalau sekiranya kita melobangi satu bagian di bawah maka kita tidak mengganggu yang di atas.  Jika mereka membiarkan tindakan yang akan dilakukan oleh orang-orang itu, maka mereka semua akan binasa. Namun jika mereka mencegah dengan tangan mereka tindakan berbahaya itu, maka mereka akan selamat dan semua akan selamat” (Sahih Bukhari Juz 3/182).

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..


Kaum muslimin rahimakumullah,
Konsolidasi jamaah kaum muslimin berbasis masjid dengan gerakan sholat jamaah, ukhuwah, dan dakwah pembinaan  serta amar makruf nahi  munkar akan membentuk umat yang beriman dan beramal shalih.  Dari merekalah layak diambil wakil-wakil rakyat dan pemimpin negara yang beriman dan beramal shalih. Allah menjanjikan akan memberikan kekuasaan kepada mereka sebagaimana firman-Nya:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55)

Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. An Nuur 55).

Oleh karena itu, kita harus mendorong umat memilih para tokoh di antara mereka sendiri yang sudah terbukti kualitas iman dan amal shalih mereka untuk menjadi para wakil rakyat yang punya visi penegakan syariah secara formal konstitusional (Caleg Syariah) dan tokoh yang paling menonjol kualitas iman, ilmu, dan amal shalih mereka untuk menjadi calon kepala negara yang memiliki visi pemerintahan syariah (Capres Syariah) sehingga nanti ketika menjadi presiden RI secara definitif berani mendekritkan berlakunya syariah di seluruh wilayah NKRI.

Para caleg syariah inilah yang diharapkan bakal  mampu mengamandemen seluruh UU yang bertentangan dengan syariat Allah Yang maha Kuasa dan mengusulkan atau menyempurnakan UU yang sesuai dengan syariat Allah Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Esa.  UU Sumberdaya Air , UU Migas, UU Kelistrikan yang tidak sesuai dengan maksud dan teks-teks syariat harus diamandemen. UU Kesetaraan Gender harus ditolak. UU Sisdiknas harus disempurnakan. UU Anti Miras, UU Pemberdayaan Ekonomi Umat dan UU Pasantren harus diusulkan.  UU KUHP harus disesuaikan dengan sistem hudud dan jinayat serta ta’zir dalam syariat Allah Yang Maha Kuasa.  

Para capres syariah diaharapkan mengubah wajah NKRI yang sekuler menjadi NKRI yang Bersyariah secara kaffah.  Sebab mengamalkan syariah secara kaffah adalah tuntutan Allah SWT Yang Maha Kuasa untuk semua umat.  Dan sikap sekuler mengarahkan umat pada pelaksanaan syariat sebagian dan penolakan umat kepada sebagian syariat yang lain.  Sama-sama kewajiban syariah dengan kalimat “kutiba”, umat digiring untuk hanya mau menerima dan mengamalkan kewajiban shiyam (kutiba alaikumus shiyam) Ramadhan (QS. Al Baqarah 183).  

Umat dijauhkan dan dibuat benci dengan kewajiban melaksanakan hukum qishash (kutiba alaikumul qishash)  dalam  QS. Al Baqarah 178 dan maupun kewajiban puncak Islam yakni jihad fisabilillah (kutiba alaikumul qital) dalam QS. Al Baqarah ayat 216. 

Padahal dengan menerima dan menolak sebagian ayat Allah akan menjadi kehinaan hidup di dunia dan akan ditimpa adzab yang pedih di hari kiamat sebagaimana firman-Nya (QS. Al Baqarah 85).

Selain itu akibat sekularisasi NKRI atas nama demokrasi, umat Islam sadar atau tidak telah diarahkan untuk melakukan tindakan kemusyrikan secara sitematis dengan menjadikan pemerintah dan anggota DPR sebagai tuhan-tuhan selain Allah ketika mereka menjadikan UU yang meninggalkan syariat Allah Yang Maha Kuasa dan mengikuti pikiran dan hawa nafsu mereka sendiri.  Lebih parah lagi mereka mengikuti hawa nafsu para pemilik modal raksasa internasional dengan membuat UU yang mengabdi kepada kaum kapitalis serakah dunia itu.  Beberapa UU termasuk UU sumber daya air dan UU Migas ditengarai dibiayai oleh pihak asing sehingga isinya menjamin kepentingan asing mengeksploitasi sumberdaya alam yang Allah SWT ciptakan untuk kita Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini. 

Terhadap kaum Yahudi dan Nasrani yang mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal, Allah SWT berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS.At Taubah 31).

Kalau sikap dan perbuatan mengikuti orang alim dan rahib yang menghalalkan yang haram (tahlilul haram) dan mengaharamkan yang halal (tahrimul halal) membuat kaum Yahudi dan Nasrani jatuh dalam kemusyrikan, maka demkian pula bangsa manapun yang mengikuti saja hukum dan perundangan yang dibuat parlemen mereka yang melakukan hal yang sama dengan para rahib dan orang alim Yahudi Nasrani.   Itulah hakikat syirik dalam sistem demokrasi. 

Maka untuk mengubah sikap dan perbuatan syirik dalam sistem demokrasi, maka kita harus menyerukan agar meninggalkan perbuatan  syirik itu, yakni mengikuti perundangan yang mengharamkan yang halal (tahrimul halal) dan menghalalkan yang haram (tahlilul haram). Para wakil rakyat yang duduk di gedung DPR/MPR Senayan Jakarta harus diseru agar meninggalkan membuat hukum dan perundangan mengikuti hawa nafsu mereka apalagi hawa nafsu kaum kapitalis dunia. Para wakil rakyat harus diseru agar mereka mengundangkan syariat Allah SWT, atau mengundangkan apa yang dihalalkan Allah sebagai halal (tahlilul halal) dan mengundangkan apa yang diharamkan oleh Allah sebagai haram dalam perundangan mereka (tahrimul haram).  Jika itu yang dilakukan, maka mereka hakikatnya adalah hamba Allah bukan tuhan-tuhan selain Allah (arbaban mindunillah). Dan umat yang mengikuti peraturan perundangan mereka bukanlah musyrik, tapi muwahid, ahli tauhid.

Maka untuk mewujdukan hal itu, kita harus menyeru kepada para caleg yang ada agar memiliki visi berlakunya syariah di NKRI atau NKRI Bersyariah dan misi mereka mencalonkan diri sebagai caleg syariah adalah untuk mengamandemen seluruh UU yang bertentangan dengan syariah dan mengusulkan diundangkannya UU syariah dalam seluruh aspek kehidupan. 

Mengenai para capres yang ada yang diumumkan oleh survey-survey kaum sekuler hanya memuat nama-nama para capres sekuler, yang tidak pernah terlihat visi keislaman  mereka, apalagi visi NKRI Bersyariah. Oleh karena itu, perlu ada survey-survey yang dilakukan oleh umat Islam yang mengangkat para pimpinan ormas Islam dan tokoh umat Islam sebagai capres syariah pilihan umat.  Para tokoh umat Islam seperti Habib Rizieq Syihab (FPI), Abu Jibril (MMI), KH. Abu Bakar Ba’asyir (JAT), Prof. Dien Syamsuddin (Muhammadiyah), KH. Hasyim Muzadi (NU), KH. Makruf Amin (MUI), Ismail Yusanto (HTI), Bactiar Nasir (MIUMI), Yusril Ihza Mahendra (PBB), Rhoma Irama (Fahmi Tamami), dll adalah orang-orang yang layak masuk bursa capres Syariah untuk merebut hati umat Islam yang mayoritas di negeri ini demi terwujudnya NKRI Bersyariah.  Merekalah yang justru layak menjadi Presiden RI untuk menyelamatkan NKRI  dari kegagalan yang sampai hari ini masih mengancam.  

Ya, para capres Syariah itulah yang bisa diharap untuk membenahi NKRI yang amburadul.  Sistem politik dan sosial kacau.  Sistem kesehatan dan pertahanan rapuh.  Sistem pendidikan belum mencerdaskan bangsa.  Kalau Turki kirim dokter jadi TKW di Eropa, Philipina kirim TKW perawat ke Arab Saudi,  Indonesia kirim pembantu rumah tangga kemanapun tujuannya. Kenapa pengerah tenaga kerja tidak mengirim guru yang ahli untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak bangsawan Arab dengan pengantar bahasa Arab.  Kenapa kita tidak pernah mendengar di Pesantren Gontor dibuka kelas k husus untuk tujuan mencetak tenaga ahli buat dikirim ke seluruh negara Teluk yang kaya raya agar bisa mendatangkan devisa lebih tinggi?  Juga kenapa ITB tidak menduplikasi sebanyak-banyaknya para kader bangsa sekualitas Habibie yang karya teknologi canggihnya  laku di Jerman?.  Apakah tidak ada menteri yang mempedulikan hal-hal seperti  ini? 

Korupsi merajalela bahkan menurut PERC terkorup di Asia dengan skore korupsi dia atas angka 9 dari angka 10 untuk korupsi yang sempurna.   Meskipun sudah banyak pejabat yang ditangkap KPK namun tak menyurutkan langkah para koruptor. Bahkan cenderung meningkat.  Seorang mantan Bupati yang baru pensiun bercerita bahwa di zaman reformasi ini, setelah DPR punya fungsi anggaran, justru untuk minta tambahan anggaran di suatu kabupaten terkena palak 12 persen. Dulu di zaman Pak Harto hanya dipalak 2 persen oleh sekneg. Dan kasus suap untuk menjadi PNS hingga suap untuk jual beli kasus di pengadilan merajalela kelas bawah hingga di Mahkamah Agung seperti kasus ditangkapnya seorang pengacara oleh KPK bersama oknum pegawai Mahakamah Agung baru-baru ini. 

Demikian juga kasus setoran kepada oknum aparat yang membuat rekening para jenderal polisi gendut   dari kasus internal polisi seperti kasus simulator hingga perlindungan lokalisasi dan judi di Alas Karet (Alaska) Kendal yang menelan korban penyerbuan preman Ronggolawe kepada anggota FPI yang bersama aparat mensweeping lokalisasi alias bisnis zina di bulan Ramadhan baru-baru ini. 

Oleh karena itu, sudah gonta-ganti presiden setelah reformasi, korupsi yang dulu terkenal dengan istilah KKN (Korupsi-Kolusi-Nepotisme) merobohkan rezim Soeharto, ternyata bukan berhenti, malah menjadi-jadi. Bahkan korupsi disamping melanda pejabat eksekutif dan yudikatif, juga melibatkan banyak anggota dan pimpinan  Parpol.   Ini terjadi karena sistem demokrasi yang mereka ikuti adalah menghalalkan segala cara mengikuti  prinsip Machiavelli.  Karena mereka memisahkan masalah politik dan negara dengan agama.  Mereka tidak faham bahwa korupsi sebatang jarum pun akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. 

Sebagaimana Rasulullah saw. pernah mengangkat seorang pejabat lalu beliau mengatakan : “Siapa saja yang kami angkat dan telah kami berikan rezkinya (kompensasi/gajinya), maka yang dia ambil setelah itu adalah ghulul/korupsi.  Sekalipun yang dia korupsi ahnya sebatang jarum, maka itu akan dikalungkan di lehernya di hari kiamat”.  Lalu Rasulullah saw. membacakan firman Allah SWT:
 
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُون

Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (QS. Ali Imran 161).

Oleh akrena itu, kita perlu Capres Syariah yang faham agama, faham bahwa hidup tidak hanya di dunia saja, tapi ada negeri akhirat yang akan memintainya pertanggungjawaban, faham bahwa jabatan presiden bukanlah lahan untuk mengeruk uang, tapi amanat untuk menjaga agama (hirasah ad diin) dan amanat untuk mengurus urusan kemaslahatan rakyat (siyasah ad dunya)  yang harus dipertanggungjawabkan yang kalau tidak dia laksanakan dengan baik akan membuatnya menyesal dan terhina di hari kiamat.  

Mereka inilah yang layak memimpin bangsa ini untuk mencapai tujuan kemerdekaannya dengan menakhodai NKRI Bersyariah yang mengelola urusan pemerintahan dengan cara musyawarah (QS. As Syura 38) yang merupakan bentuk pemerintahan yang paling sesuai dengan dasar Ketuhanan Yanga Maha Esa, yakni Allah Yang maha Kuasa (Pembukaan UUD 1945 aline 3 dan 4).  

Allah Yang Maha Kuasalah yang telah menurunkan pemerintah agar para penguasa menerapkan syariah (QS. Al Maidah 49) dan mengambil kebijaksanaan pemerintahan dengan musyawarah (QS. Ali Imran 159).   Para capres syariah harus dipastikan dengan musyawarah para ulama dan tokoh pimpinan umat yang layak untuk memastikan siapa yang paling layak menjadi capres syariah yang tentunya siap mendekritkan NKRI bersyariah.  Maka capres syariah ini bila telah terpilih menjadi presiden definitif, dan mendekritklan syariah, mereka itulah yang layak disebut ulil amri sebagaimana firman-Nya:
 
ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. AnNisa 59).

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Kaum muslimin rahimakumullah,
Untuk mewujudkan apa yang sudah diuraikan di atas, maka kita perlu mendorong para pimpinan/aktivis  ormas/partai/lembaga-lembaga Islam untuk bergabung dalam gerakan NKRI Bersyariah untuk mewujudkan Masyarakat Indonesia Bertaqwa dalam Bingkai NKRI Bersyariah dengan langkah-langkah strategis yang sudah disebutkan.   

Janganlah para pimpinan oramas atau gerakan Islam cuek dan bersikap masa bodoh dengan perpolitikan di negeri ini yang dikuasai kaum sepilis.  Sebab, hal itu justru akan membuat umur kekuasaan mereka lebih lama.   Dan sekularisasi dalam bidang politik pemerintahan yang imbasnya adalah sekularisasi dalam seluruh aspek kehidupan adalah kemungkaran yang besar.  Diam terhadap kemungkaran bukanlah sikap orang beriman dan bukanlah sikap umat terbaik.  Sikap orang yang kuat imannya sebagaiman ditunjukkan dalam hadits Rasulullah saw. adalah mengubahnya dengan tangan kekuasaan mereka.  Ketika umat ini mampu mengubah kemungkaran itu dengan memilih para caleg syariah dan capres syariah maka itulah yang harus dilakukan.  

Oleh karena itu, para pimpinan ormas dan lembaga Islam harus beperan aktif dalam perubahan menuju NKRI Bersyariah.  Mereka harus aktif ikut merumuskan, menjalankan, dan mengevaluasi program dan strategi yang dibuat untuk memuluskan segala upaya  menuju NKRI Bersyariah.  Termasuk dalam hal ini merek harus mengirim para kader terbaik mereka serta jamaah simpatisan mereka untuk bergabung dengan kelompok kerja Relawan Capres Syariah (RCS).   Para Relawan Capres Syariah (RCS)  inilah yang akan berjuang bersama para pimpinan ormas dan gerakan Islam yang bergabung dalam gerakan NKRI Bersyariah mewujudkan masyarakat bertaqwa menuju NKRI Bersyariah seperti yang diterangkan di atas.  Semoga Allah SWT menolong perjuangan mereka yang ikhlas hanya untuk meninggikan agama Allah sebagaimana janji Allah SWT dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad 7).

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Kaum muslimin rahimakumullah,
Kita juga perlu mendorong para birokrat sipil militer /akademisi/dan kalangan ulama untuk menyiapkan diri agar nantinya bisa mengisi posisi-posisi NKRI Bersyariah dan mempertahankannya setelah mendapatkan Nashrullah dengan merebut hati umat berfihak kepada yang hak dan menolak kebatilan sehingga umat bersatu dengan para ulama pimpinan umat menegakkan NKRI Bersyariah untuk mewujudkan masyarakat bertaqwa di bawah ridlo Allah, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur.   

Sebab siapa lagi yang mengisi posisi-posisi jabatan pemerintahan kalau bukan mereka. Hanya saja, yang perlu diperhatikan di sini bahwa NKRI Bersyariah adalah format baru pemerintahan, untuk mengembalikan hak Allah Yang Maha Kuasa yang selama ini diabaikan, yakni hak hukum syariahNya ditaati dalam bentuk UU dan peraturan pemerintah di segala level pemerintahan.   Jadi NKRI Bersyriah bukanlah untuk menghabisi rezim birokrasi yang ada  tapi untuk memformat ulang pikiran mereka dengan format baru yaitu NKRI Bersyariah untuk menghapus format yang ada selama ini yakni NKRI Bermaksiat.

Allahu akbar (3X) walillahil hamd..

Kaum muslimin rahimakumullah,
Oleh karena itu, di hari yang fitri ini, saatnya kita bersungguh-sungguh berjuang membebaskan bangsa ini secara hakiki dari belenggu-belenggu penjajahan yang masih tersisa, penjajahan ekonomi, politik, maupun pemikiran.  Sehingga NKRI menjadi Negara yang merdeka secara hakiki, bukan menjadi underbouw  negara lain.  Itulah NKRI bersyariah, yakni NKRI yang dipimpin oleh seorang presiden yang ahli dalam pengetahuan syariah dalam bernegara, Presiden Syariah,   yang akan menjalankan syariah secara formal konstitusional untuk menjamin kehidupan seluruh bangsa dan rakyat Indonesia, yang muslim maupun non muslim, sebagai warga Negara yang sah.  NKRI yang mendapatkan berkah dari langit dan bumi karena ketaatannya kepada syariah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Dia SWT berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al A’raf 96).

Allahu Akbar 3x Walilahil hamd,


Kaum muslimin rahimakumullah  

Akhirnya marilah kita tundukkan diri kita dan angkat tangan kita, memohon kepada Allah SWT Rabbul Izzah, agar kita semua umat Islam diberikan kekuatan dalam berbagai bidang dan diberikan jiwa ikhlas dan istiqomah serta kesabaran dalam berjuang menolong agama-Nya dan menyelamatkan umat Islam dari kehinaan dunia dan adzab di akhirat, dengan menghadirkan kesatuan para pejuang syariah untuk mendapatkan kepercayaan umat memimpin Negara ini, melakukan perubahan dari NKRI yang hari ini penuh maksiat, menjadi NKRI yang taat, NKRI bersyariah, sehingga terwujud kehidupan Islam yang kaffah dengan kepemimpinan seorang presiden yang mewujudkan eksistensi Amirul Mukminin yang menerapkan syariah secara kaffah.

0 Komentar