Paradigma Baru Parmusi: Dari Orientasi Politik ke Dakwah, Sosial, Ekonomi dan Pendidikan

Jumat, 23 September 2016 - 10:47 WIB | Dilihat : 1191
Paradigma Baru Parmusi: Dari Orientasi Politik ke Dakwah, Sosial, Ekonomi dan Pendidikan Ketua Umum DPP Parmusi Usamah Hisyam (kedua dari kiri) bersama Panitia Milad ke-17 dan Mukernas ke-2 Parmusi saat konferensi pers di Kantor DPP Parmusi, Kebagusan, Jakarta Selatan, Selasa (20/09). (foto: shodiq/si)


Jakarta (SI Online) - Mendengar nama Parmusi, spontan kebanyakan orang akan teringat Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tidak salah, karena Partai Muslimin Indonesia (MI) memang menjadi bagian dari partai tersebut. Pada 1973 silam, bersama Partai NU, PSII dan Perti, MI berfusi dalam PPP .
 
Tetapi, Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan ternyata kini memiliki wajah baru. Dengan slogan "Conecting Muslim", Parmusi memilih berkiprah dalam bidang dakwah, sosial, ekonomi dan pendidikan. 
 
"Ini paradigma baru Parmusi Pasca Muktamar III Batam," ungkap Ketua Umum Parmusi, Drs H Usamah Hisyam, kepada media Selasa siang (20/09) lalu. 
 
Sebelum Muktamar III, Usamah mengakui kader-kader organisasinya memang hanya berorientasi politik an sich. 
 
Usamah pun membeber kenapa mesti ada paradigma baru dalam tubuh organisasinya. Menurutnya, kebijakan ini diambil setelah melakukan pengkajian bahwa 71 tahun Indonesia medeka, ternyata bangsa ini masih menghadapi tiga masalah besar: kebodohan, kemiskinan dan perpecahan. “Parmusi  ikut andil mengatasi ketiga masalah tersebut,” kata Usamah. 
 
Orientasi Parmusi, organisasi massa Islam yang lahir pada 26 September 1999, yang selalu berada di jalur politik dinilai tidak tepat untuk dapat memberikan jawaban atas tiga persoalan bangsa di atas. Parmusi akhirnya memutuskan diri untuk fokus pada peningkatan ukhuwah Islamiyah dengan empat program utama yakni dakwah, sosial, ekonomi dan pendidikan. 
 
Dunia politik, tentu tidak ditinggalkan begitu saja. Tetapi, soal politik diserahkan kepada masing-masing anggotanya. Sebagai organisasi, Parmusi hanya bertekad untuk melahirkan pemimpin kader Islam yang militan untuk bangsa dan negara, baik infrastruktur maupun suprasturktur politik di tiga lembaga: eksekutif, yudikatif dan legislatif.  "Goalnya menciptakan kepemimpinan sosial ekonomi pergerakan Islam," imbuhnya. 
 
Usamah pun lalu menyebutkan sejumlah kegiatan organisasi di bidang dakwah, sosial, ekonomi dan pendidikan itu. Workshop dakwah untuk kader-kadernya digelar, pada Ramadhan lalu 60 dai Parmusi di sebar ke daerah-daerah terpencil untuk berdakwah, mencetak para penghafal Quran. Usamah bertekad, dalam satu tahun organisasinya akan dapat mencetak 256 orang hafiz Quran. 
 
Usamah mengaku akan menopang program pemerintah yang disebut revolusi mental. Parmusi memaknai slogan Jokowi itu sebagai Revolusi akhlak mulia. 
 
"Kita lakukan pelatihan-pelatihan pada komponen agar memiliki akhlak mulia. Sebab persoalan yang muncul di masyarakat kita semua bermuara di akhlak," tandasnya. 
 
Untuk itu, Parmusi menargetkan pada akhir 2018 di setiap kecamatan akan ada lima dainya. Dakwah akan menyebar di seluruh penjuru tanah air. 
 
Pada sektor ekonomi, Parmusi mendorong kadernya dengan program satu kader satu produk (SKSP). Program ini dijalankan terutama di wilayah-wilayan yang Islamnya minoritas, seperti Papua, Maluku dan NTT. "Semua kader menggerakkan ekonomi umat dengan sistem ekonomi syariah," tambahnya. 
 
Langkah riilnya, untuk membantu pembiayaan usaha, Parmusi telah menjalin kerjasama dengan BRI Syariah. Kartu Tanda Anggota (KTA) Parmusi dapat digunakan untuk transaksi di BRI Syariah, termasuk untuk kredit pembiayaan usaha. 
 
Sementara pada sektor pendidikan, Parmusi mengaku fokus pada pendidikan akhlak mulia dan tahfiz Quran. Menurut Usamah, jika masyarakat banyak yang hafal Alquran dan melaksanakan isinya, mereka akan menjadi umat yang cerdas. Sekaligus menjadi sebab turunnya keberkahan dan rahmat Allah Swt. 
 
red: shodiq ramadhan
 
0 Komentar