Ajaran Syiah Tajul Muluk Sesat Menyesatkan

Senin, 17 September 2012 - 11:23 WIB | Dilihat : 9944
Ajaran Syiah Tajul Muluk Sesat Menyesatkan

Jakarta (SIONLINE) - Ajaran Syiah yang disebarkan Tajul Muluk di Sampang Madura adalah sesat dan menyesatkan. Betapa tidak, Tajul Muluk mengajarkan kepada para pengikutnya untuk selalu menjelek-jelekkan para sahabat dan istri Nabi Muhammad SAW. Maka tidaklah mengherankan jika umat Islam Sampang bereaksi keras sehingga terjadi kerusuhan pada Desember 2011 dan Agustus 2012 lalu.

Hal itu terungkap dalam Tabligh Akbar yang diadakan Forum Pemuda Islam Jakarta (FORPIJA) di Masjid Al Furqon, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Ahad (16/9). Turut berbicara Sekjen Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jawa Timur, M Yunus dan Direktur Islamic Centre Bekasi, Ustadz Ahmad Farid Okbah.

“Sesungguhnya akar masalahnya adalah ajaran Syiah yang dibawa Tajul Muluk sangatlah ekstrim, dimana setiap hari selalu mencela para sahabat Nabi Muhammad SAW,” ungkap M Yunus.

Sebagai Sekjen GUIB, M Yunus juga memprotes Polda Jatim yang belum memproses orang-orang Syiah yang meledakkan ranjau dan bom molotov di Sampang Madura beberapa waktu lalu. Bahkan Polda Jatim malah menangkap orang Sunni  yang justru menjadi korban peledakan ranjau tersebut.

Sementara itu Ustadz Ahmad Farid Okbah menjelaskan, ICC sebagai lembaga resmi Syiah di Jakarta telah mengeluarkan buku yang menodai ajaran Islam. Dalam buku terbitannya yang berjudul “Antologi Islam, Risalah Tematis dari Keluarga Nabi”, dengan penerbit Al Huda pada halaman 695 dinyatakan bahwa jumlah ayat Al Qur’anul Karim adalah 17.000 ayat.

Toleransi

Sedangkan pendapat berbeda datang dari Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Menurutnya, baik Sunni maupun Syiah adalah sama-sama Muslim karena masih berada di lingkaran syahadat.

"Menurut kami, yang mempercayai syahadat itu otomatis Islam, apa pun mazhabnya," ujar Din Syamsuddin di Gedung PP Muhammadiyah, Menteng Raya, Jakarta Pusat, Kamis (6/9) lalu.

Menurutnya, baik Syiah maupun Sunni pasti mempunyai keunggulan dan kekurangan. Kedua hal itu harus disikapi dengan mengedepankan rasa saling menghargai dan toleransi satu sama lain. Kemunculan dua mazhab setelah Nabi Muhammad SAW sehingga dapat dipandang sebagai pandangan kritis dalam memaknai Islam. Oleh karena itu tidak perlu dipertentangkan.

"Hal yang perlu diingat adalah bagimu pendapatmu dan bagiku pendapatku, mari kita bertoleransi," kata Din Syamsuddin.

Rep: Abdul Halim

0 Komentar