Ramalan Alquran vs Bibel: Alquran Bukan Firman Tuhan Karena Tak Punya Nubuatan?

Jumat, 01 November 2013 - 19:21 WIB | Dilihat : 40801
Ramalan Alquran vs Bibel: Alquran Bukan Firman Tuhan Karena Tak Punya Nubuatan? Bible versus Alquran (ilustrasi)

A. Ahmad Hizbullah MAG
[www.ahmad-hizbullah.com]

Penginjil Jerry Fernandez berusaha menyusupkan misi pemurtadan di fanpage “Tafsir Al-Qur’an.” Di jejaring sosial milik komunitas yang memiliki anggota sebanyak 1.545.767 itu, Fernandez berusaha membuktikan kepalsuan Al-Qur'an sembari memuji keaslian Bibel dengan menyusupkan artikel berjudul “Mengapa Orang Kristen Memilih Alkitab, Bukan Al-Quran?”

Menurutnya, satu-satunya cara untuk menguji Al-Qur’an dan Alkitab (Bibel) adalah melalui uji nubuatan (ramalan/sinyalemen), karena hanya kitab suci yang berasal dari Allah saja yang nubuat-nubuatnya digenapi/terpenuhi. Lalu ia menuding Al-Qur'an bukan kitab suci dari Tuhan karena tidak ada nubuat yang bisa diuji:

“Dalam Al-Quran tidak ada nubuat, kecuali yang berhubungan dengan hari penghakiman, sehingga kita tidak dapat menguji benarkah Al-Quran dari Allah.”

Setelah mendiskreditkan Al-Qur'an, Fernandez memuji Bibel setinggi langit sebagai kitab suci yang teruji sebagai firman Tuhan, karena semua nubuatan tentang masa depan tergenapi:

“Alkitab telah diuji sebagai firman Tuhan. Alkitab memuat banyak nubuat. Firman Tuhan disampaikan melalui puluhan nabi tentang masa depan, dan dicatat dengan saksama. Semua nubuat tersebut bisa diuji, telah diuji dan terbukti sudah digenapi. Itulah sebabnya orang Kristen percaya Alkitab adalah satu-satunya Firman dari Allah.”

Tanpa banyak komentar, mari kita ikuti standar otentisitas kitab suci yang ditetapkan oleh Fernandez.

Al-Qur'an adalah kitab suci yang sempurna, sehingga perlu keikhlasan, intelektual dan kejujuran dalam mengkajinya. Tak heran jika para penginjil pendengki dan kaum idiot yang tidak mau menggunakan akalnya, tidak akan menemukan kebenaran Al-Qur'an:

1. Mukjizat air laut.

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing” (Qs Ar-Rahman 19-20).

"Dan Dialah (Allah) yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang satu tawar dan segar dan yang lainnya asin. Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus" (Qs Al-Furqan 53).

Air laut yang asin bertemu dengan air tawar, tapi keduanya tidak bisa bercampur menjadi satu macam air. Kebenaran hal ini diakui oleh ilmu pengetahuan modern, padahal Nabi Muhammad ketika menerima wahyu 15 abad yang lalu tidak menguasai ilmu pengetahuan modern. Ramalan Al-Qur'an itu terbukti kebenarannya.

Gara-gara kedua ayat itulah, sebagaimana diberitakan Republika, seorang Oceanografer berkebangsaan Prancis, Jaques Yves Cousteau masuk Islam.

Dari penelitiannya di Samudra Atlantik dan Mediterania ketika melakukan eksplorasi di bawah laut, ia berhasil mengungkap bahwa pertemuan dua laut itu tidak bercampur satu dengan yang lain. Ia menemui kumpulan mata air tawar yang tidak bercampur dengan air laut.

Terpesonalah Costeau mendengar ayat-ayat Al-Qur'an itu. Kekagumannya terhadap ayat suci Al-Qur'an itu melebihi kekagumannya akan pemandangan laut dalam yang pernah dilihatnya. Menurutnya,  mustahil jika Al-Qur'an disusun oleh Muhammad SAW. Sebab, pada zaman itu belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.

2. Ruang hampa oksigen di angkasa luar.

“Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit” (Qs Al-An’am 125).

Secara implisit, ayat ini menyatakan bahwa orang yang naik ke langit pasti akan sulit bernafas karena di angkasa luar tidak ada oksigen. Dari mana Nabi Muhammad 15 abad yang lalu tahu kalau di luar angkasa tidak ada udara yang mengandung oksigen? Ini adalah nubuatan yang terbukti kebenarannya.

3. Manusia dari Segala Penjuru Dunia Berbondong-bondong Menuju Mekkah dan Medinah

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang memenuhi seruanmu dengan jalan kaki dan mengendarai onta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (Qs Al-Hajj 27).

Ketika menerima dan menyampaikan wahyu tersebut, tidak terbayangkan kalau manusia seluruh dunia berbondong-bondong datang ke Mekkah dan Medinah. Apalagi, saat itu dakwah Nabi mengahadapi situasi genting akibat serangan bertubi-tubi dari kaum kafir Quraisy sehingga perkembangan agama Islam nampak belum menentu.

Saat ini terbukti, setiap tahun jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia memenuhi tanah suci Mekkah dan Medinah menunaikan ibadah haji. Sungguh tepat ramalan Al-Qur’an.

4. Otentisitas Al-Qur'an Sepanjang Masa

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Qs Al-Hijr 9).

“...Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Qs Fushshilat 41-42).

Kedua ayat tersebut menyatakan bahwa Al-Qur’an  tidak  akan binasa, sepanjang masa tidak tidak  dapat hilang dari dunia ini. Ramalan ini terbukti dengan keterpeliharaan Al-Qur'an sampai sekarang tidak ada satu titik atau huruf pun yang hilang. Hafalan dan bacaan ribuan huffazh (penghafal Al-Qur'an) sedunia juga sama, tak ada yang berbeda. Ratusan juta orang melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dalam shalat lima waktu, dengan bacaan yang sama tanpa ada perselisihan satu titik pun.

Al-Qur'an terjamin keasliannya, tidak  dapat disisipi kata-kata  apapun dari selain wahyu Allah. Satu-satunya kitab suci yang terjamian keaslian dan kemurniannya  di kolong langit ini hanyalah Al-Qur'an. Al-Qur'an yang dibaca pada masa Nabi Muhammad SAW, sama persis dengan Al-Qur'an yang ada saat ini.

Nubuat keaslian Al-Qur'an ini tidak dimiliki Bibel. Dari masa ke masa selalu terjadi perubahan, revisi, insersi dan editing. Perubahan spektakuler terjadi dalam Alkitab “Die Gute Nachricht Altes und Neues Testa¬ment” terbitan Deutsche Bibelstifung Stuttgart Jerman tahun 1978, di mana sebanyak 18.666 ayat dari ratusan pasal yang diamputasi. Betapa malang nasibmu, Bibel!!

Bibel Kitab Palsu Karena Ramalannya Meleset

“Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan Tuhan? Apabila seorang nabi berkata demi nama Tuhan dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan Tuhan; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya” (Ulangan 18:21-22).

Menurut ayat tersebut, ciri-ciri nabi dan kitab suci yang berasal dari Tuhan adalah kebenaran nuruatan (ramalan). Kalau perkataannya tidak terjadi maka harus disimpulkan bahwa nabi itu palsu dan kitab suci itu bukan berasal dari wahyu Tuhan. Apakah Bibel adalah kitab suci dari Tuhan, mari kita telisik ramalannya:

1. RAMALAN KITAB PERJANJIAN LAMA

Dalam Kitab Kejadian Tuhan menubuatkan bahwa yang disebut keturunan Abraham hanyalah Ishak: “Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak” (Kejadian 21:12)

Nubuat ini meleset jauh sekali. Sebab dalam kitab Tawarikh, Ismael juga disebut sebagai anak keturunan Abraham: “Anak-anak Abraham ialah Ishak dan Ismael” (I Tawarikh 1:28).

Masih daam kitab Kejadian, Tuhan berjanji merubah nama Yakub menjadi Israel dan tidak akan menyebut Yakub lagi: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang” (Kejadian 32:28, Kejadian 35:10).

Ayat ini meleset, karena pada kitab yang sama, Tuhan masih memanggil nama Yakub: “Berfirmanlah Allah kepada Israel dalam penglihatan waktu malam: “Yakub, Yakub!” Sahutnya: “Ya, Tuhan” (Kejadian 46:2).

2. RAMALAN KITAB PERJANJIAN BARU

Sebelum peristiwa penyaliban, Yesus meramalkan insiden penyangkalan Petrus dan ayam berkokok: “Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal aku” (Lukas 22:33-34, Matius 26:34, Yohanes 13:38).

Dalam Injil Sinoptik tersebut Yesus meramalkan bahwa ayam tidak akan berkokok sebelum Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Faktanya, sesuai kronologis dalam Injil Markus 14:67-72, Petrus baru satu kali menyangkal Yesus, ayam sudah berkokok dua kali.

Ramalan Yesus dalam Bibel terbuti meleset. Sesuai dengan nas kitab Ulangan 18:21-22, maka kitab yang nubuatannya meleset harus ditolak keasliannya. []
 

0 Komentar