Menjawab Hujatan Penginjil: Muhammad Saw Bukan Nabi karena Butuh Doa Shalawat?

Senin, 14 Oktober 2013 - 09:52 WIB | Dilihat : 25074
Menjawab Hujatan Penginjil: Muhammad Saw Bukan Nabi karena Butuh Doa Shalawat? Ilutrasi

A. Ahmad Hizbullah MAG
[www.ahmad-hizbullah.com]


Berbagai cara dilakukan oleh misionaris Kristen untuk melunturkan akidah Islam terhadap Nabi Muhammad SAW. Salah satu senjata andalan misionaris untuk mendiskreditkan Rasulullah SAW adalah ajaran Shalawat Nabi.

Di situs http://####story.com, seorang admin menyaru sebagai seorang muslim, mamakai akun TrulyIslam dengan ikon bendera tauhid Lailaha illallah. Dalam artikel berjudul “Mengapa Tidak Ada “Shalawat Nabi” Untuk Isa Al-Masih?”, ia melakukan akrobat teologis untuk membuktikan bahwa Muhammad SAW adalah nabi yang belum selamat di akhirat karena masih butuh dikirimi doa shalawat.

Menurutnya, ajaran mendoakan orang yang sudah mati dengan shalawat itu sangat tidak masuk akal. Ia menulis:

“Mereka berdoa agar dosa-dosa almarhum diampuni. Supaya dia mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan. Bukankah setelah seseorang meninggal dunia, maka tidak ada kesempatan mendapatkan pengampunan dari Allah? Berhubungan dengan orang yang sudah meninggal, kita tahu bahwa salah satu doa yang sangat populer di kalangan umat Muslim adalah doa “Shalawat Nabi.” Doa ini ditujukan bagi Nabi Muhammad yang sudah meninggal dunia.

Bershalawat artinya memohon supaya Allah memberi rahmat, kemuliaan dan keselamatan bagi seseorang. Merujuk pada definisi shalawat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa shalawat hanya dibutuhkan oleh orang yang memerlukan keselamatan, bukan?”

Selain belum selamat, menurut penginjil, orang yang perlu dikirimi doa shalawat harus diragukan kenabiannya dan tidak pantas disebut juruselamat. Nabi Isa adalah nabi yang sudah selamat karena dia adalah juruselamat:

“Bershalawat artinya memohon keselamatan bagi seseorang. Bila seorang nabi memerlukan doa shalawat, bukankah hal ini dapat meragukan kenabiannya? Setiap umat beragama tidak perlu meragukan pengajaran keselamatan Isa Al-Masih. Saat ini dia berada di sorga. Jelas, seseorang yang memerlukan doa tidak dapat disebut sebagai Juruselamat. Sebab, bagaimana mungkin seseorang yang keselamatannya saja belum pasti, dapat menyelamatkan pengikutnya? Isa Al-Masih adalah Juruselamat. Dia tidak memerlukan doa pengikut-Nya agar selamat.”

Kedangkalan ilmu, minimnya wawasan, rusaknya logika dan sentimen agama, membuat para misionaris buta teologi. Ajaran shalawat Nabi yang sangat indah dan tidak dimiliki dalam kekristenan, justru disalahpahami secara ngawur.

Pertama, mengenai keterputusan amal orang yang sudah meninggal, Islam mengajarkan bahwa orang yang sudah meninggal masih memiliki kesempatan amal shalih yang bermanfaat.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang shalih” (HR. Muslim).

Dengan ajaran ini, Allah SWT membuka seluas-luasnya kesempatan masuk surga, meski manusia sudah meninggal. Selain itu, ajaran ini menekankan hubungan kasih dan keimanan antara orang yang sudah meninggal dengan anak-anaknya yang masih hidup.

Sementara ajaran Kristen tidak mengenal konsep ini, karena meyakini semua dosanya sudah ditebus oleh kematian Yesus secara tragis di gantungan tiang salib, sehingga manusia tidak perlu mendoakan orang yang sudah meninggal. Doktrin ini pun perlu dipertanyakan, jika sudah meyakini dosa mereka sudah ditebus, lantas mengapa masih ada prosesi mendoakan di samping khotbah kematian dan nyanyi-nyanyi lagu rohani dalam liturgi ibadah pemakaman kristiani?

Kedua, umat Islam bershalawat nabi, bukanlah karena Rasulullah SAW belum selamat, melainkan karena ketaatan kepada perintah Allah dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”
(Qs. Al-Ahzab 56).

Keutamaan shalawat, sebagaimana sabda Nabi, bahwa doa shalawat nabi itu sesungguhnya melimpah kembali kepada manusia yang bershalawat:

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali”
(HR. Muslim).

Ketiga, tidak benar jika Nabi butuh doa shalawat dari umatnya karena belum selamat, karena dalam surat Al-Fath ayat 2 Allah SWT menyatakan bahwa Rasulullah adalah seorang nabi yang suci terpelihara dari segala dosa (makshum). Beliau senantiasa mendapat bimbingan Allah dalam segala amal, sehingga tidak bisa tergelincir untuk berbuat dosa. Maka tak seorang muslim pun yang bershalawat karena meyakini Nabi Muhammad belum selamat di akhirat.

Rasulullah SAW adalah teladan semua manusia (Qs. Al-Ahzab 21), satu-satunya manusia paripurna yang risalahnya bersifat rahmatan lil alamin (universal) dan penghulu para nabi (Qs. Al-Anbiya’ 107, Saba` 28, Al-Ahzab 40).

Kredibilitas Muhammad SAW sebagai nabi makshum, manusia terbaik, termulia dan teragung di muka bumi ini tidak hanya diakui oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an. Para ilmuwan non Muslim pun, bila objektif, pasti menarik kesimpulan yang sejalan dengan Al-Qur'an, sebagaimana yang dilakukan oleh  Michael H Hart. Setelah melakukan penelitian yang mendalam terhadap semua tokoh di dunia sepanjang sejarah, dalam bukunya “The 100, a Ranking of the Most Influential Person in History” Hart menempatkan Nabi Muhammad dalam urutan pertama tokoh yang paling berpengaruh di dunia.

Keempat, ada sebuah fakta tentang shalawat yang ditutup-tutupi para misionaris, bahwa shalawat bukan monopoli Nabi Muhammad saja. Karena Islam juga mengajarkan bershalawat kepada nabi-nabi yang lain, termasuk Nabi Isa AS.

Tak heran jika mendengar atau menulis nama Nabi Isa, Musa, Ibrahim, Daud, dan lain sebagainya, umat Islam selalu bershalawat “Allahumma shalli ‘alaih” atau “Alaihissalam” yang berarti mendoakan shalawat dan keselamatan kepada nabi yang bersangkutan.

Shalawat kepada Nabi Nuh tertera dalam surat As-Shaffat 78-80; shalawat kepada Nabi Ibrahim (Qs As-Shaffat 108-109), shalawat kepada Nabi Musa dan Harun (Qs As-Shaffat 119-120), Nabi Ilyas (Qs As-Shaffat 130), dll. Toh dengan bershalawat kepada Nabi Isa AS, tidak mengakibatkan umat Islam meyakini bahwa beliau belum selamat dan perlu didoakan untuk selamat.

Bahkan doa shalawat dan salam juga berlaku kepada para shahabat dan hamba-hamba Allah yang shalih.  Shalawat dan salam kepada golongan ini hanya terbatas doa tarahhum dan taraddha, dengan ungkapan doa “rahimahullah” dan “radhiyallahu ‘anhu.” Dalil syariatnya adalah firman Allah SWT: "Dialah yang memberi rahmat kepada kamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untuk kamu)" (Qs Al-Ahzab 43).

Dengan fakta bahwa umat Islam juga bershalawat kepada Nabi Isa ini, apakah para misionaris juga menyimpulkan bahwa Nabi Isa juga belum selamat karena masih dikirimi shalawat? Ah, jahil betul!

Yesus Bukan Juruselamat karena Minta Keselamatan kepada Allah Swt


Klaim para penginjil bahwa hanya Kristen agama yang mengajarkan kepastian keselamatan dalam Nama Yesus, perlu diuji berdasarkan kitab suci Kristen sendiri.

Alkitab (Bibel) menyebutkan bahwa Yohanes tampil di padang gurun untuk membaptiskan orang, agar Allah mengampuni dosa orang yang dibaptis: "Demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu" (Markus 1:4).

Maka Yesus juga minta dirinya dibaptis. Kalau tidak dibaptis, Yesus merasa sedih hatinya: “Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hatiku, sebelum hal itu berlangsung!” (Lukas 12: 50).

Maka Yohanes pun membaptis Yesus di Sungai Yordan: "Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atasnya" (Matius 3: 16).

Bila mau jujur, ayat-ayat tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa Yesus juga berdosa, karena masih perlu dibaptis untuk memperoleh keampunan dosa. Otomatis, Yesus bukanlah juruselamat penebus dosa manusia, sebab dia sendiri berdosa. Bila Yesus adalah orang suci tak berdosa, mengapa masih minta dibaptis untuk pengampunan dosa?

Selain itu, kalau para penginjil konsekuen menuduh doa shalawat dan keselamatan kepada Nabi Muhammad sebagai bukti beliau belum selamat, seharusnya mereka juga menuduh Yesus yang mereka anggap tuhan sebagai orang yang belum selamat. Karena dalam Bibel, Yesus juga berdoa kepada Allah untuk minta ampun atas dosanya:

“Dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami" (Lukas 11:4, Matius 6:12).

Karena Yesus berdoa dan meminta keselamatan kepada Allah, berarti Yesus bukan tuhan dan juruselamat. Sebab jika Yesus adalah tuhan dan juruselamat, seharusnya dia tidak minta keselamatan kepada siapapun. []

0 Komentar