Belajar Pada Eksekusi Penginjil Omega Suparno: Menghina Alquran Berujung Kematian

Senin, 23 September 2013 - 14:02 WIB | Dilihat : 24046
Belajar Pada Eksekusi Penginjil Omega Suparno: Menghina Alquran Berujung Kematian Duo Murtadin Asal Jepara: Omega Suparno dan Saifuddin Abraham. (IST)

A. Ahmad Hizbullah MAG
[www.ahmad-hizbullah.com]


Eksekusi mati terhadap murtadin Omega Suparno yang dilakukan oleh Trio Mujahid Jepara: Amir Mahmud (29), Sony Sudarsono (29), dan Agus Suprapto (31) harus menjadi pelajaran bagi semua pihak. Suparno dieksekusi Trio Mujahid karena agresivitas kristenisasi yang dilakukan dengan melecehkan aqidah Islam: Allah Swt, Nabi Muhammad Sawdan Al-Qur'anul Karim. Suparno telah tewas, tapi di Jepara masih banyak penginjil murtadin penghujat Islam.

Penginjil Suparno dieksekusi mujahid Jepara karena setelah murtad dari Islam dan drop out dari IAIN, melakukan misi penginjilan ia berusaha memurtadkan umat Islam dengan cara mendiskreditkan Islam. Beberapa jurus mendiskreditkan Islam yang terungkap antara lain: (1) Mengajarkan bahwa Allah adalah tuhan fiktif, karena Allah baru diadakan sejak adanya bangsa Arab. (2) Mengajarkan bahwa gelar Nabi milik Muhammad hanya selevel dengan gelar kiyai di Jawa, karenanya Muhammad tidak boleh dikultuskan. (3) Konsep keselamatan dalam agama Islam tidak pasti karena masih harus memakai kata “insya Allah.” (4) Al-Qur'an adalah kitab yang tidak mengajarkan kebenaran karena isinya salah semua.

“Al-Qur'an itu tidak ada yang benar, salah semua. Kalau di sini ada Al-Qur'an, saya injak-injak saja,” ejeknya sambil memeragakan kaki menginjak-injak lantai rumahnya, Selasa sore (11/12/2012).

Buntut penodaan agama itu, murtadin Suparno dieksekusi mati di Jepara pada Rabu malam (12/12/2012), sedangkan trio mujahid Jepara sudah dibekuk Polda Jateng pada Jum’at (28/12/2012). Persidangan kasus eksekusi murtadin Suparno sudah digelar sejak 2,5 bulan lalu di Pengadilan Negeri (PN) Jepara Jateng. Ketiga terdakwa terancam hukuman mati, dijerat pasal berlapis, antara lain: pasal 340 KUHP jo pasal 55 ayat 1 (1); pasal 338 KUHP jo pasal 55 ayat 1 (1), pasal 353 ayat 3 KUHP jo pasal 55 ayat 1 (1); pasal 351 KUHP jo pasal 55 ayat 1 (1).

Namun disayangkan, persidangan sudah digelar sebelas kali tapi belum mengungkap fakta-fakta penodaan agama yang menjadi pemicu eksekusi itu. Selain tidak mengungkap akar masalah kasus yang sesungguhnya, secara hukum acara persidangan kerap lakukan kekeliruan. Salah satu kekeliruan yang mencolok adalah dipaksakannya persidangan terhadap ketiga terdakwa menjadi tiga berkas secara terpisah. Padahal seharusnya kasus ini bisa dijadikan satu paket.

Bahkan dalam sidang kesembilan, Kamis (15/8/2013), ketika para saksi yang hendak dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak ada satupun yang hadir, sidang dipaksakan tetap digelar oleh majelis hakim. Padahal kehadiran saksi itu diharapkan bisa mengungkap kebenaran kasus. Apalagi kedua saksi itu adalah orang kunci yang mengetahui sepak terjang misi Omega Suparno, antara lain: Pendeta Agus Winarno (guru spiritualnya Suparno), Ratna Widayati (anaknya pendeta Agus) dan Mulyadi (tetangganya Suparno). Ketiganya tidak hadir tanpa alasan apapun, bahkan JPU sendiri tidak tahu apa alasan ketidakhadiran mereka.

Persidangan pun tetap dipaksakan digelar tanpa satu orang saksi pun, meski agenda persidangan adalah pemeriksaan saksi-saksi. Akal-akalan, setelah diskors selama 15 menit, persidangan dilanjutkan dengan menjadikan ketiga trio mujahid sebagai saksi mahkota, yang notabene meraka semua adalah terdakwa dalam kasus yang sama.

Terang saja, trio mujahid menolak dijadikan saksi mahkota, dan TPM sebagai kuasa hukum pun melakukan aksi walk out. Menurut TPM, persidangan ini melanggar pasal 168 KUHP bahwa seseorang yang bersama-sama sebagai terdakwa dilarang memberikan kesaksian, tidak didengar kesaksiannya atau berhak mengundurkan diri bila keberatan.

BUKAN SATU-SATUNYA KASUS


Kasus penodaan agama yang dilakukan murtadin Omega Suparno ini sangat berbahaya jika tak diungkap dan tak dijadikan pelajaran bagi kerukunan hidup antarumat beragama.

Trio mujahid Jepara memang sudah ditahan, tapi di bumi Jepara dan sekitarnya masih banyak mujahid Islam yang gigih membela Islam dengan segala resikonya. Di sisi lain, di Jepara juga masih banyak penginjil murtadin yang getol menyebarkan kekristenan dengan cara yang tidak terpuji. Untuk memurtadkan umat Islam, mereka tak segan-segan melunturkan akidah kaum awam dengan menjelek-jelekkan akidah Islam.

Selain Omega Suparno, salah satu penginjil murtadin yang terkenal dari Jepara adalah Saifuddin Abraham. Bekas mubaligh yang pernah mengajar di sebuah SMA Islam Bangsri Jepara (1988-1991) ini murtad setelah belajar agama dengan para penginjil dan pendeta dari The Gideon International. Setelah murtad, menantu tokoh Muhammadiyah Bangsri ini  dibaptis di Semarang tanggal 4 Maret 2006. Dengan nama baptis Abraham Moses, ia pun menempuh pendidikan teologi Jakarta hingga lulus tahun 2007 dan menjadi pendeta.

Di tabloid Reformata ia mengaku meninggalkan Islam setelah mengetahui bahwa Islam adalah agama bengis yang mengajarkan radikalisme dengan memerintahkan membunuh orang lain atas nama agama. Menurutnya, ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an (Al-Baqarah 191, At-Taubah 5 & At-Taubah 29) memperbolehkan untuk membunuh orang kafir di mana saja mereka berada. Ayat-ayat ini diklaim dengan ajaran kasih dalam Alkitab (Bibel):

“Ajaran ini bertolak belakang dengan ajaran Alkitab yang mengajarkan kasih dan pengampunan... Saya tidak menemukan ayat dengan fi’il amar (kata perintah) dalam Alkitab yang secara gamblang menyuruh membunuh orang” (hlm. 35-36).

Walhasil, pengadilan tak boleh mengabaikan dan harus mengungkap fakta-fakta penodaan agama yang dilakukan murtadin Omega Suparno, agar kasus serupa tidak terulang. Supaya tidak terjadi lagi konflik horisontal yang dipicu oleh sepak terjang negatif para penginjil murtadin.

Cukuplah peringatan trio mujahid Jepara yang melakukan amaliah eksekusi mati dengan keyakinan ibadah berdasarkan syariat yang dikajinya. “Melalui amaliah ini saya ingin menyampaikan pesan kepada para murtadin dan aktivis pemurtadan. Jangan sekali-sekali melecehkan Islam. Kalau Islam dihina, nyawa para mujahid siap dipertaruhkan!” ujar Ustadz Amir Mahmud.

Duo Murtadin Jepara: Murtad Karena Terjebak Teologi Gelap


Bila dibedah isi kepala Omega Suparno dan Saifuddin Abraham, nampak jelas bahwa kedua murtadin  itu murtad karena tersesat dalam teologi yang gelap. Dalam kegelapan itulah mereka menghujat Islam sejadi-jadinya.

Pertama, menyebut bahwa Allah itu fiktif karena baru diadakan oleh bangsa Arab, adalah bukti bahwa Suparno malas mengkaji buku sejarah sehingga gelap sejarah. Fakta sejarah membuktikan bahwa kata “Allah” sama sekali tidak asing bagi semua Nabi dari Adam sampai Muhammad Saw. Dalam bahasa Arab dan kitab suci Al-Qur‘an dipakai kata “Allah.” Kata ini sama dengan kata dalam bahasa Ibrani “Eloah.” Kata “Allah’ lebih dekat dengan kata bahasa Aram ‘Alaha’ yang digunakan oleh Nabi Isa (Yesus) AS. (baca Suara Islam edisi 161).

Kedua, menyimpulkan bahwa keselamatan dalam Islam sebagai ketidakpastian karena umat Islam selalu mengatakan insya Allah adalah sebuah kedunguan teologi. Konsep keselamatan dalam agama Islam adalah sebuah kepastian yang mutlak. Karena satu-satunya agama yang diridhai Allah hanyalah Islam (Qs. Ali Imran 19) dan agama selain Islam akan ditolak serta merugi (Qs. Ali Imran 85). Bila hanya Islam yang diridhai Allah, berarti hanya Islam saja satu-satunya agama keselamatan dunia dan akhirat.

Meskipun Allah sudah menjamin surga, umat Islam harus berkata “insya Allah,” bukan karena ragu-ragu atau tidak yakin, tapi karena Allah mengajarkan bahwa untuk hal-hal yang masih belum terjadi tidak boleh menyatakan pasti, melainkan harus mengatakan insya Allah (Qs. Al-Kahfi 23-24).

Ketiga, dengan menuding Al-Qur'an sebagai kitab yang isinya salah semua, terlihat bahwa sang murtadin sangat awam terhadap Kitab Suci Al-Qur'anul Karim. Bacalah sebuah ayat Al-Qur'an: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (Qs An-Nisa: 36).

Jika ayat-ayat Al-Qur'an itu salah semua, lantas apa yang salah dengan ayat di atas? Bukankah ajaran tauhid dan birrul walidain (berbakti kepada orang tua) adalah hal yang indah, baik, mulia dan sesuai dengan norma-norma agama?

Bandingkan dengan ajaran Bibel: “Kata Yesus: Jikalau seorang datang kepadaku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridku” (Lukas 14:26).
Secara tekstual, suatu keanehan jika dasar keimanan dan kepatuhan suatu agama adalah kebencian kepada keluarga. Bila ajaran ini diamalkan, maka kehidupan rumah tangga menjadi kacau dan rusak berantakan.

Keempat, konteks ayat-ayat Al-Qur'an yang dituding sadis itu adalah situasi perang melawan kafir harbi (kafir yang memerangi umat Islam), bukan untuk kondisi damai. Di mana dalam peperangan, teori apapun pasti menyatakan boleh bahkan wajib mengangkat senjata untuk melawan dan memerangi musuh yang zalim dan terlebih dahulu melakukan penyerangan dan pembunuhan.

Klaim penginjil bahwa Bibel adalah kitab penuh kasih yang jauh dari perang dan tidak ada fi’il amar (kata perintah) pembunuhan, tertolak oleh ayat ini:

“Majulah ke negeri Merataim, majulah menyerangnya dan menyerang penduduk Pekod! Bunuhlah dan tumpaslah mereka, demikianlah firman Tuhan, lakukanlah tepat seperti yang Kuperintahkan!” (Yeremia 50:21, baca juga: Ulangan 20:16-17, Yosua 11:20, 1 Samuel 15: 1-11, Yosua 11:6-15).

Semua orang bisa melihat bahwa dalam ayat-ayat Bibel tersebut Tuhan memerintahkan (dengan fi’il amar) untuk membuang belas kasihan dalam membunuh dan menumpas seluruh penduduk yang bernyawa baik manusia dewasa, wanita, anak balita maupun binatang.[]

0 Komentar