Murtadin Omega Suparno Dieksekusi Mujahid Jepara

Rabu, 10 Juli 2013 - 14:38 WIB | Dilihat : 23362
Murtadin Omega Suparno Dieksekusi Mujahid Jepara

A. Ahmad Hizbullah MAG
[www.ahmad-hizbullah.com]

Tiga orang aktivis Islam dari Jepara: Amir Mahmud (29), Sony Sudarsono (29), dan Agus Suprapto (31) menjadi pesakitan di PN Jepara. Amir Mahmud adalah ustadz yang pernah berjihad di Ambon Maluku selama 4,5 tahun sejak 2001. Sony Sudarsono adalah aktivis yang sudah malang-melintang berjihad ke mancanegara, pernah mengikuti pelatihan jihad di Moro Pilipina. Sedangkan Agus Suprapto adalah mujahid yang pernah bergabung bersama kafilah i’dad di Aceh beberapa tahun silam.

Trio mujahid Jepara itu menjadi tersangka dan terancam hukuman mati dengan dakwaan pasal pembunuhan berencana terhadap Omega Suparno (42). Pria lajang warga desa Mayong Kidul, Mayong Jepara Jawa Tengah ini adalah seorang murtadin yang pernah nyantri di pesantren terkenal di kota Kudus, Jateng angkatan tahun 1989. Setamat Madrasah Aliyah di pesantren itu, Suparno melanjutkan pendidikan sastra Arab di IAIN (tidak selesai). Skripsi yang sedang disusunnya dibiarkan mangkrak karena ia murtad menjadi Kristen sekitar tahun 2002.

Setelah murtad, Suparno aktif dalam kegiatan penginjilan kristiani. Di Gereja Injili Tanah Jawa (GITJ) di Desa Pendo Sawalan, Kalinyamatan Jepara, ia dikenal aktif mengisi acara-acara gereja, terutama acara kepemudaan. Untuk mewujudkan obsesinya menjadi pendeta, Suparno melanjutkan studi di Fakultas Teologi Sekolah Tinggi Theologia Baptis Indonesia (STBI) Semarang. Di kampus ini, Suparno sempat menjabat sebagai Ketua Badan Pengurus Mahasiswa periode 2011-2012.

Setelah mendapat info keresahan para aktivis Islam Jepara mengenai sepak terjang misi Omega Suparno setelah murtad, Ustadz Amir Mahmud itu mendatangi rumahnya pada Selasa sore (11/12/2012) untuk melakukan konfirmasi langsung dengan cara berdialog face to face.

Dikonfirmasi baik-baik, Suparno malah ngelunjak. Untuk menunjukkan kehebatan Kristen, ia tak segan-segan mencela Al-Qur'an.  “Al-Qur'an itu tidak ada yang benar, salah semua. Kalau di sini ada Al-Qur'an, saya injak-injak saja,” ejeknya sambil memeragakan kaki menginjak-injak lantai rumahnya.

Tak puas menghina Al-Qur'an, ia pun melanjutkan sasaran hujatannya kepada Allah Swt. “Allah itu sebenarnya kan tidak ada, Allah itu baru diadakan setelah adanya bangsa Arab,” ujarnya.

Terakhir, Suparno menggugat kenabian Muhammad sebagai orang selevel dengan Kiyai Jawa. “Nabi Muhammad itu tidak boleh dikultuskan, karena kenabiannya setara dengan gelar kiyai di Jawa,” tegasnya.

Setelah memvalidasi data kemurtadan dan penghinaan murtadin Omega Suparno terhadap Islam, trio mujahid Jepara segera mengambil tindakan berdasarkan Syari’at yang mereka kaji. Esoknya, Rabu malam (12/12/2012) mereka mengeksekusi murtadin Suparno di belakang Ruko Jember Kudus. Setelah tewas, mayat Suparno dibuang ke hutan jati, tepatnya di area petak 106 hutan jati desa Jinggotan, kecamatan Kembang, kabupaten Jepara.

Dua pekan kemudian, Ustadz Amir Mahmud, Sony Sudarsono, dan Agus Suprapto dibekuk tim khusus Polda Jateng, Jumat (28/12) di Sragen dan Kudus. Kini, mereka menjadi pesakitan di PN Jepara. Sidang pertama dengan agenda pembacaan Dakwaan digelar pada Kamis (13/6/2013). Ketiganya terancam hukuman mati, dengan jeratan pasal berlapis, antara lain: pasal 340 KUHP jo pasal 55 ayat 1 (1); pasal 338 KUHP jo pasal 55 ayat 1 (1), pasal 353 ayat 3 KUHP jo pasal 55 ayat 1 (1); pasal 351 KUHP jo pasal 55 ayat 1 (1).

Tim Pengacara Muslim (TPM) menilai, kasus eksekusi murtadin ini tidak bisa diterapkan pasal Pembunuhan Berencana. Koordinator TPM Achmad Michdan, SH mengingatkan bahwa insiden eksekusi trio mujahid Jepara terhadap murtadin Suparno itu bukan kasus pembunuhan biasa. Pasalnya, eksekusi ini adalah murni respon para aktivis Islam terhadap tindakan provokasi murtadin Suparno menjelek-jelekkan agama orang lain.

Michdan mengingatkan, di mata hukum, tindakan provokasi agama itu memiliki konsekuensi hukum. Dalam hukum Islam, sanksi terhadap orang yang melecehkan Allah dan Rasulullah adalah hukuman mati, dan pelaksanaannya dinilai ibadah. “Kasus ini betul-betul kasus penghinaan dan pelecehan, dan dalam agama yang dianut para terdakwa itu membenarkan tindakan yang dilakukan seperti itu. Dalam  keyakinan agama tersangka, ini adalah ibadah dia,” jelasnya.

Fatwa Mati bagi Penginjil dan Pendeta Penghujat Islam

Amaliah trio mujahid Jepara itu mendapat dukungan dari umat Islam. Pembina Laskar FPI Jawa Tengah, Ustadz Said Sungkar, menilai tindakan mereka sudah sesuai dengan nas Syariat yang memberikan sanksi kepada kaum murtadin.

“Sebagai kewajiban seorang Muslim, Rasulullah Saw mengatakan, "Man baddala dinahu faqtuluh" (Barangsiapa menukar agama maka bunuhlah dia). Mereka mengambil alih tanggungjawab itu guna menyelamatkan umat Islam yang tidak menjalankan syariat. Memang, jika Syariat Islam berlaku maka yang berhak menentukan hukuman mati (kepada murtadin) adalah qadhi. Tapi karena tidak berlaku Syariat Islam, maka Syariat itu berlaku “manistatho’a.” Siapa yang mampu menjalankan, itu bisa,” jelasnya.

Ustadz Said memuji trio mujahid Jepara sebagai pahlawan pemberani yang siap dengan segala resikonya, karena berani mengambil alih beban amanah yang seharusnya dipikul oleh negara.

Dalam Syariat Islam, hukuman kepada orang yang murtad adalah dibunuh berdasarkan dalil shahih “man baddala dinahu faqtuluh.” Apalagi jika sang murtadin mencela Islam, maka ia terkena delik ganda.

Sepuluh tahun lalu Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) pernah merilis “Fatwa Mati terhadap Para Penghina Islam.” Dalam fatwa tertanggal 1  Februari  2001 itu, Pendeta Suradi ben Abraham dan Penginjil Poernama Winangun difatwa mati karena terbukti melakukan penghujatan terhadap Allah Swt, Nabi Muhammad, menghina Al-Qur'an dan Syariat Islam. FUUI menyatakan:

“Fatwa Forum Ulama Umat Mengenai Penghinaan terhadap Islam: Berdasar Syariat Islam mereka yang menghina Islam seperti Pendeta Suradi dan Pendeta Poernama Winangun layak dihukum mati.”
Fatwa mati kepada pendeta dan penginjil penghujat Islam itu dirilis FUUI setelah mendapat desakan umat Islam, mengacu ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Saw mengenai kewajiban berjihad membela Islam dan umat Islam dari segala macam bentuk penghinaan, antara lain Al-Qur'an surat Al-Baqarah 191-193 dan hadits Nabi:

“Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi dari Ali RA, bahwa seorang wanita Yahudi telah memaki Nabi Saw dan mencelanya, maka seorang lelaki mencekiknya hingga mati, maka Rasulullah Saw membatalkan darahnya” (HR Abu Daud, shahih).

Ironi Omega Suparno: Salah Kaprah Menghujat Allah
   
Hujatan murtadin Omega Suparno bahwa Allah itu baru diada-adakan oleh orang Arab adalah lagu lama misionaris Kristen. Dalam buku-buku teologi diajarkan bahwa Allah adalah dewa bulan yang disembah bangsa Arab.

Salah satu buku yang paling populer di kalangan Kristen adalah The Islamic Invasion, Confronting the World’s Fastest Growing Religion (Overseas Ministry, Garden Grove, USA, 1992) karya Robert Morey. Pada halaman 53-72, Morey mengutip berbagai referensi karya orientalis seperti HAR Gibb, Arthur Jeffery, Henry P Smith, Kenneth Cragg, W Montgomery Watt, Caesar Farah dan lain-lain, untuk menuding bahwa Allah itu merupakan nama ‘Dewa Bulan” yang disembah oleh bangsa Arab pra-Islam. Di dalam literatur Yahudi dan Kristen tidak pernah ditemukan bahwa nama Tuhan itu adalah Allah.

Tuduhan ini awam sekali, hanya layak dilontarkan oleh orang yang buta Alkitab (Bibel) sama sekali. Karena dengan membaca terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris ataupun bahasa Indonesia tanpa disertai teks berbahasa Ibrani, kita masih bisa menemukannya nama “Allah” sudah ada pada masa Nabi Ibrahim (Abraham) AS.

Dalam kitab Kejadian pasal 16 saja setidaknya terdapat dua panggilan singkat untuk Tuhan dengan sebutan “El” yang lengkapnya adalah Eloha atau Eloah (Ibrani), Alaha (Aram), Allah (Arab):

“Selanjutnya kata Malaikat Tuhan (Eloha) itu kepadanya: “Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael (isma-El), sebab Tuhan (Eloha) telah mendengar tentang penindasan atasmu itu” (Kejadian 16: 11)

“Kemudian Hagar (Hajar) menamakan Tuhan yang telah berfirman kepada-nya itu dengan sebutan: Engkaulah El-Roi.” Sebab: “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat Aku” (Kejadian 16: 13)

Kata Allah tampak asing bagi non-Muslim tetapi tidak bagi semua Nabi dari Adam sampai Muhammad. Dalam bahasa Arab dan kitab suci Al-Qur‘an dipakai kata “Allah.” Kata ini sama dengan kata dalam bahasa Ibrani “Eloah,” tetapi di belakang hari Yahudi merubahnya dalam bentuk jamak: “Elohim.” Kata “Allah’ lebih dekat dengan kata bahasa Aram ‘Alaha’ yang digunakan oleh Nabi Isa (Yesus) AS.

Hal itu diakui dalam Encyclopaedia Britannica 1980 yang ditulis oleh non-Muslim. Di bawah judul artikel “Allah and Elohim” menjelaskan: “Allah is the one and only God in the religion of Islam. Etymologically, the name Allah is probably a contraction of the Arabic al-Ilah, “the God.” The name’s origin can be traced back to the earliest Semitic writings in which the word for god was Il or El, the latter being an Old Testament synonym for Yahweh. Allah is the standard Arabic word for “God” and is used by Arab Christians as well as by Muslims” (CD Encyclopaedia Britannica 2003 Ultimate Reference Suite).

Telinga umat Kristen sendiri sangat akrab dengan istilah “Bethel” (Beth-El) yang artinya “rumah Tuhan, yang bahasa Arab-nya adalah “Baitullah” (Bait Allah). Bahasa Ibrani mengucap “e” seperti pada kata “Eloah” dan “Beth,” sedangkan bahasa Arab melafalkan “a” seperti pada kata “Allah” dan “Bait.”

Sebagai analogi, orang Kristen Indonesia menyebut Nabi Isa dengan panggilan “Yesus”, sedangkan Kristen Eropa, Amerika dan Australia memanggil “Jesus.” Lalu apakah Jesus dengan Yesus itu berbeda orangnya karena berbeda lafal? []

0 Komentar