Insan LS Mokoginta: Dai Harus Paham Kristologi

07 November 17:33 | Dilihat : 830
Insan LS Mokoginta: Dai Harus Paham Kristologi Ustaz Insan LS Mokoginta

Bandung (SI Online) - Komisi Nasional Anti Pemurtadan (KNAP) Wilayah Jawa Barat menggelar kegiatan “Dauroh Kristologi” selama dua hari, Ahad-Senin, 5–6 Nopember 2017 di Bandung Barat. Acara tersebut menghadirkan pakar Kristologi, Ustaz Insan LS Mokoginta dan timnya, Ustaz Fadly (mantan pendeta) dan Yohana (mantan pendeta Nasrani).

Dalam paparannya, Insan menyampaikan, selain paham, ajaran dan pengetahuan keislaman, seorang dai juga harus paham dan mengerti tentang kristologi. Sebab, sambungnya, di lapangan seorang dai atau ustaz bukan hanya berhadapan dengan orang Islam saja melainkan juga terkadang harus berhadapan dengan kaum misionaris yang berusaha mendangkalkan akidah bahkan memurtadkan kaum muslimin.

“Mendakwahi orang Islam itu penting untuk menguatkan akidahnya tapi mendakwahi bahkan berdebat dengan kaum misionaris juga tidak kalah penting. Untuk melawan kaum misionaris bukan hanya dengan Alquran saja tetapi harus dengan kitab mereka sendiri. Itulah pentingnya kita belajar Kristologi ini,” ungkapnya di hadapan ratusan dai muda se-Jawa Barat.

Untuk itu dirinya pernah menyampaikan usulan agar sekolah-sekolah Islam maupun pondok pesantren mempertimbangkan masuknya pelajaran kristologi di sekolah Islam, baik madrasah, pondok pesantren bahkan hingga di perguruan tinggi. Ia berasalan menurut mantan penganut Katolik ini, Islamologi di kampus-kampus theologi, sudah diajarkan secara massif sejak lama.

“Saya menganjurkan di sekolah-sekolah Islam, diajarkan Kristologi. Di sekolah theologi Kristen saja diajarkan Islamologi sampai 40 SKS,” imbuh mantan penganut Katolik ini.

Selain di sekolah atau madrasah dan pondok pesantren, hendak para aktivis dakwah juga belajar Kristologi. Menurut Ustadz Insan cara berdakwah dengan berdialog atau berdebat dengan ilmiah, santun dan beradab lebih berhasil ketimbang dengan kekerasaan, cemoohan, ejekan atau hujatan.

“Buktinya termasuk saya, pak Yohana dan sudara Fadly serta mantan pendeta semua masuk Islam bukan karena kalah perang melainkan hujjah yang disampaikan betul akan kebenarannya,” tambahnya

Selain itu menurut  Insan, kegiatan Kristenisasi, pendangkalan akidah dan pemurtadan sudah menjadi ancaman nyata umat Islam di Indonesia sejak lama. Terutama di daerah pelosok, lokasi bencana, maupun masyarakat di tempat kumuh dan miskin.

“Ada pengurus MUI yang bilang katanya setiap tahunnya ada satu juta orang  Islam yang murtad. Mudah-mudahan data ini tidak benar tapi kita harus hadapi jangan sampai bertambah banyak,” ajaknya.

Ia menambahkan apalagi, sekarang para misionaris itu diajarkan baca Alquran di kampus theologi mereka. Bahkan melakukan Kristenisasi dengan memelintir ayat-ayat Alquran dan Hadits. Untuk itu dirinya mengajak agar umat Islam umumnya dan khususnya para aktivitis dakwah untuk belajar Kristologi.

“Kristolog di Indonesia ini masih sangat sedikit dan kita harus memperbanyaknya,”ajaknya.

Sementara itu Ketua KNAP Jabar, Ustaz Roin Nul Balad menyampaikan, usaha dan gerakan pendangkalan akidah hingga pemurtadan umat Islam oleh kaum misionaris Kristen sudah sangat massif dan terbuka. Untuk itu usaha dauroh Kristologi tersebut digelar sebagai salah satu jawaban atas kondisi dakwah di lapangan.

“Dakwah bukan hanya dari masjid ke masjid tapi kita juga harus siap menghadapi mereka kaum kafir itu. Itulah pentingnya kita belajar kristologi sehingga kita akan mengalahkan mereka dengan kitab mereka sendiri,” ujarnya.

Menurutnya pihak KNAP Jabar sendiri  telah mempunyai data dan fakta terkait usaha misionaris di lapangan berikut nama-nama pelakunya. Data dan fakta tersebut menurutnya akan digunakan saat melakukan advokasi maupun dalam menempuh jalur hukum.

“Negara kita katanya berdasarkan hukum maka siapa saja yang melanggar hukum harus diproses secara hukum yang adil termasuk usaha pemurtadan ini jelas telah melanggar hukum. Sebab aturannya tidak boleh menyebarkan agama kepada orang yang telah beragama. Kalau mereka kaum misionaris tetap bergerak ya tentu kita akan bergerak juga bahkan kita lebih siap lagi,” tegasnya.

Roin Nul Balad menambahkan bahwa umat Islam sepakat ada toleransi namun toleransi bukan sekedar slogan atau semboyan saja melainkan harus dipahami dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

“Faktanya korban toleransi selalu umat Islam, ada masjid di bakar, ada orang dimurtadkan dan sebagainya. Kita juga akan menuntut kaum kafir untuk toleransi. Data dan fakta pelanggaran toleransi mereka sudah kita miliki dan kalau diperlukan akan kita selesaikan di pengadilan agar fair,” tegasnya.

Ia menambahkan kegiatan dauroh Kristlogi ini akan diselenggarakan secara rutin dengan agenda, tempat dan waktu yang beda. KNAP Jabar sendiri menurutnya akan keliling ke wilayah Jabar guna menyadarkan umat akan pentingnya menjaga dan menguatkan akidah serta memahami bahaya permurtadan. “Intinya usaha misionaris ini harus dilawan dan dihentikan” tegas Roin.

Usai acara semua peserta mendapat buku-buku karya Insan Mokoginta tentang Kristologi. Diharapkan setidaknya dengan membaca buku-buku tersebut sudah menjadi bekal awal dalam menghadapi kaum misionaris di lapangan. 

rep: suwandi
red: shodiq ramadhan

0 Komentar