Oplosan Kristen dalam Doktrin Gafatar

Minggu, 31 Januari 2016 - 05:49 WIB | Dilihat : 10236
Oplosan Kristen dalam Doktrin Gafatar Ilustrasi : Unjuk rasa menentang Gafatar di Aceh.

 

Umat Islam Indonesia digemparkan oleh sekte sesat berkedok ormas Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Dua aspek yang membuat gempar adalah doktrin menyimpang dan banyaknya anggota keluarga Muslim yang tiba-tiba menghilang setelah bergabung dengan sekte Gafatar.
 
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mensinyalir beberapa doktrin Gafatar yang jelas-jelas menyimpang adalah membatalkan kewajiban shalat, menghapus kewajiban puasa Ramadhan, dan mengoplos Kitab Suci Alqurandengan Alkitab (Bibel), kitab agama Kristen.
 
Dari berbagai laporan dan testimoni mantan pengikutnya yang sudah taubat, ajaran Gafatar mirip 99% dengan doktrin Sekte Al-Qiyadah. Ditambah dengan keyakinan bahwa Muhammad Saw bukan nabi terakhir dan keberadaan Ahmad Moshaddeq sebagai tokoh sentral yang diyakini sebagai nabi (mesias), maka tidak syak lagi bahwa Gafatar adalah nama baru sekte Al-Qiyadah. Moshaddeq alias Haji Salam adalah mantan pegawai negeri sipil (PNS) yang menjadi residivis nabi palsu dari sekte Al-Qiyadah. 
 
Ia memproklamirkan diri sebagai nabi baru yang menggantikan posisi Nabi Muhammad Saw dan mendapatkan wahyu Allah Swt. Deklarasi pada tanggal 23 Juli 2006 itu dilakukan setelah setelah bertapa selama 40 hari 40 malam di Gunung Bunder Bogor.
 
Dedengkot sekte sesat ini berulang kali mengganti nama karena sekte Al-Qiyadah divonis sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 3 Oktober 2007. Sebelum melabeli diri dengan Ormas Gafatar, Al-Qiyadah sempat malih rupa menjadi Komunitas Millah Abraham (Komar). Saat kedok Gafatar terbongkar, mereka buru-buru menyiapkan topeng baru bernama Negara Karunia Tuhan Semesta Alam (NKSA) untuk menyembunyikan kesesatan mereka.
 
Meski MUI Pusat belum merilis Fatwa Sesat Gafatar, namun di berbagai daerah sudah sangat maklum bahwa Gafatar adalah sekte sesat. Setahun lalu, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh sudah mengeluarkan fatwa bahwa Gafatar adalah sekte sesat dan menyesatkan. Fatwa tertanggal 22 Januari 2015  itu merinci fatwa bahwa:
 
(1) Gafatar adalah metamorfosis dari Millah Abraham alias Al-Qiyadah alias Alqi. (2) Ajaran dan doktrin Gafatar adalah sesat dan menyesatkan, sehingga status pengikutnya adalah murtad, dan sikap simpati kepada Gafatar adalah perbuatan mungkar. (3) Merekomendasikan agar setiap pengurus, pengikut dan simpatisan Gafatar yang tidak bertaubat dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya.
 
Beberapa buku yang menjadi pedoman sekte Gafatar alias Al-Qiyadah alias Komar adalah: Teologi Abraham Membangun Kesatuan Iman, Yahudi, Kristen dan Islam (karya Mahful Muis Hawari, Ketua Umum Gafatar); Eksistensi dan Konsekuensi Sebuah Kesaksian (Ahmad Moshaddeq); Al-Masih Al-Maw’ud & Ruhul Qudus dalam Perspektif Taurat, Injil & Alquran(Ahmad Moshaddeq); Ruhul Qudus yang Turun Kepada Al Masih Al Maw’ud (Ahmad Moshaddeq; dll.
 
Setelah melakukan penelitian secara saksama, Amin Djamaluddin, Ketua LPPI menyimpulkan bahwa buku-buku sesat ini adalah merupakan misi Yahudi untuk menyesatkan dan menghancurkan Islam dari dalam. 
 
Moshaddeq, nabi palsunya kelompok aliran sesat Gafatar.
 
Ayat Porno Bibel Bukan Injil Mutasyabihat 
 
Beberapa tahun lalu, penulis bersama Ustadz Abu Deedat (Ketua Umum Forum Anti Gerakan Pemurtadan), berdialog dengan seorang misionaris Gafatar di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Dari dialog 3 jam itu terungkap bahwa doktrin Gafatar bertentangan dengan ajaran Islam mainstream, antara lain tidak menjalankan ibadah shalat. Mereka meyakini bahwa ibadah shalat tidak wajib, karena esensi shalat adalah mencegah perbuatan keji dan munkar (inna shalata tanha anil fahsyai wal munkar). Shalat tidak diperlukan jika sudah konsisten dalam menjalankan perintah Tuhan: tidak mencuri, tidak berzina, tidak berdusta, tidak menipu, tidak berbohong, dan sebagainya.
 
Doktrin Gafatar yang menghapus kewajiban shalat ini jelas melenceng yang sengawur-ngawurnya. Dengan logika dangkal saja orang awam bisa memahami bahwa syariat Allah yang paling tegak itu dilakukan oleh Rasulullah Saw. Meski demikian, Rasulullah Saw dan para shahabat tetap menjalankan shalat wajib lima waktu dan shalat-shalat sunnah.
 
Meski hukum Allah telah ditegakkan secara adil, Rasulullah Saw tidak pernah menghapus ibadah shalat, malah mewajibkan shalat sesuai apa yang diteladankannya. Rasulullah Saw bersabda: “Shollu kama roaitumuni usholli” (shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat).
 
Perbedaan yang tajam antara Islam dengan sekte Gafatar itu terjadi karena Gafatar mengklaim konsisten terhadap ajaran para rasul dengan memedomani kitab suci Alquranyang dipadukan dengan kitab-kitab lain seperti Taurat, Zabur dan Injil yang ada dalam Bibel. 
 
Gafatar menekankan bahwa semua ayat dalam Alqurandan Bibel harus diamalkan semua sesuai dengan perintah surat Al-Baqarah 285: “La nufarriqu baina ahadin min rusulih” (Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun dengan yang lain dari rasul-rasul-Nya).
 
“Pijakan kami adalah wahyu Allah Al-Qur'an, Taurat, Zabur dan Injil. Posisi kitab itu sama, Kami mengimani semua kitab-kitab Tuhan,” jelas misionaris Gafatar yang mengaku bernama Farid dari Depok, Jawa Barat.
 
Anehnya, ketika ditanya apakah ayat-ayat porno dalam Bibel yang menuduh para nabi melakukan skandal seksual itu juga menempati posisi yang sama dengan ayat-ayat suci Alquranyang wajib diimani? Farid menjawab bahwa ayat-ayat Bibel itu tidak porno, tapi ayat mutasyabihat. Bibel terkesan porno jika dibaca secara vulgar.
 
Ketika disodorkan Bibel kitab Yehezkiel 23:20-21 yang menyebutkan organ vital manusia dewasa, dengan nada emosi, misionaris Gafatar itu menyela: “Itu ayat mutasyabihat Pak!! Kalau ayat mutasyabihat dibaca secara vulgar, letterlijk, maka pornolah asumsinya. Sama juga dengan Alqurankalau dibaca secara vulgar. Injil itu kebanyakan Mutasyabihat.”
 
Pemahaman misionaris Gafatar yang menyamakan ayat-ayat porno Bibel dengan ayat-ayat mutasyabihat dalam kitab suci Alquranini jelas halusinasi di siang bolong.
 
Mutasyabihat dalam Alquranadalah ayat-ayat hanya diketahui maksudnya oleh Allah sendiri dan tidak ada seorang pun yang tahu maknanya, misalnya huruf-huruf yang ada di awal surat seperti alif lam min, alif lam ra', ha miim, yaa siin dan sebagainya.
Huruf-huruf dalam ayat mutasyabihat itu jelas berbeda dengan ayat-porno Bibel yang secara vulgar menyebutkan aktivitas organ vital manusia dewasa, misalnya: 
 
“Ia berahi kepada kawan-kawannya bersundal, yang auratnya seperti aurat keledai dan zakarnya seperti zakar kuda. Engkau menginginkan kemesuman masa mudamu, waktu orang Mesir memegang-megang dadamu dan menjamah-jamah susu kegadisanmu” (Yehezkiel 23:20-21).
 
Jalan Buntu Sinkretisme Gafatar
 
Kentalnya ajaran Bibel dalam doktrin Gafatar tak lepas dari peran Robert Paul Walean, seorang rohaniawan Kristen Advent yang menstressing dan membenarkan tanda-tanda kerasulan dalam Alkitab (Bibel) pada diri Moshaddeq.
 
Beberapa tanda khusus pada diri Moshaddeq selaku Al-Masih Al-Maw’ud antara lain: mendapat Ruhul Qudus dari Allah (Injil Yohanes 14:25), mendapat mimpi dari Allah (Yoel 2:28-29), menjadi utusan Allah (Amos 3:7), dan akan menjadikan terang dunia (Wahyu 18:1, Yesaya 60:1,10). Karenanya, Robert mengajak untuk lebih yakin bahwa Moshaddeq Al-Masih Al-Maw’ud adalah Utusan Allah di zaman sekarang ini.
 
Dengan peneguhan seperti itu, Walean pun diposisikan sebagai Waraqah bin Naufal. Dahulu setelah mendapat wahyu, Nabi Muhammad meminta pendapat dan nasihat kepada Waraqah bin Naufal. Sekarang, Robert diminta menjadi Waraqah bin Naufal kepada Moshaddeq. Itulah kerjasama rohaniawan Kristen dan nabi palsu Moshaddeq dalam merusak akidah umat.
 
Siapapun akan menemui kebuntuan bila ingin menyatukan (sinkretisme) Alqurandan Alkitab (Bibel). Menyatukan ayat-ayat Alqurandengan ayat-ayat Bibel adalah tindakan yang sia-sia, karena haq dan batil adalah dua hal yang bertolak belakang dan mustahil untuk dipertemukan. Bila dipaksakan dengan cara mengoplos, maka lahirlah doktrin kesesatan seperti yang dialami Gafatar.
 
Alquranmenekankan aqidah tauhid bahwa Allah itu Esa dan tidak ada Tuhan selain Allah (Qs Al-Ikhlas 1-3, Muhammad 19). Maka kafirlah orang yang meyakini doktrin Trinitas dan Ketuhanan Nabi Isa (Qs Al-Ma`idah 72-73). Sedangkan Bibel memuat ayat tambahan (palsu) bahwa Yesus adalah tuhan penebus dosa manusia karena dia adalah salah satu dari 3 oknum Tuhan Trinitas (I Yohanes 5:7-8).
 
Ajaran tauhid dalam kitab suci Alquranini mustahil dikompromikan dengan ayat palsu Bibel tentang ketuhanan Trinitas, bahwa tuhan itu Esa dalam tiga oknum (Bapa, Roh Kudus dan manusia Yesus).
 
Allah Swt dalam Ali Imran 71 mengingatkan bahwa mencampuradukkan haq dan batil adalah kebiasaan Yahudi dan Kristen.
 
A. Ahmad Hizbullah MAG
www.ahmad-hizbullah.com
SMS/WA: 08533.1050000
BBM: 54B134C5
 
0 Komentar