Menjawab Situs Kristenisasi Berkedok Islam: Yesus pun Mempertegas Kekafiran Kristen

Senin, 28 Desember 2015 - 06:31 WIB | Dilihat : 9128
Menjawab Situs Kristenisasi Berkedok Islam: Yesus pun Mempertegas Kekafiran Kristen Ilustrasi

 

Para penginjil Kristen tersengat dengan julukan kafir yang disematkan oleh umat Islam. Bukan main-main, inilah ketegasan aqidah Islam dalam membedakan agama yang haq dengan kepercayaan batil.
 
Dengan segala cara penginjil Kristen berusaha menangkis julukan kafir yang disandangnya. Salah satu tangkisannya adalah artikel berjudul “Al-Qur’an Tidak Setuju Kristen Disebut Kafir” yang dituangkan dalam situs www.###danalquran.com.
 
Gaya penyajian artikel apologi ini, justru semakin menampakkan kekafiran dan keculasan para penginjil. Selain tipuan nama situsnya yang memakai nama kitab suci umat Islam, para penginjil itu juga tidak berani mencamtumkan nama penulisnya. Hal ini tidak perlu terjadi bila mereka meyakini kebenaran tulisannya, tidak ada maksud menipu, dan tidak punya jiwa pengecut.
 
Untuk menolak julukan kafir, penginjil Kristen berkedok Muslim itu memakai berlindung di balik definisi yang dikutip asal comot. Sang penginjil menulis:
 
“Orang-orang Islam sering menyebut mereka yang non-Muslim sebagai kafir. Apakah ada orang yang senang disebut kafir? Jelas tidak ada, bukan? 
 
Kata “kafir” berasal dari bahasa Arab, artinya: orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran. Dalam terminologi kultural, kata ini digunakan dalam agama Islam untuk merujuk kepada orang yang mengingkari nikmat Allah. Bila melihat pengertian ini, jelas orang Kristen tidak termasuk dalam bagian tersebut. Karena orang Kristen tidak menyembunyikan atau mengingkari kebenaran Allah.”
 
Inilah pangkal kekeliruan Penginjil Kristen. Ia merasa besar kepala dan mengira dirinya tidak kafir hanya mengacu hanya pada salah satu definisi kata secara bahasa (lughowi) yang bermakna kufur nikmat. Padahal kata kafir memiliki banyak arti. 
 
Dari 525 kata dalam Al-Qur'an, para ulama Tafsir menyebutkan bahwa kata “kafir” (al-kufru) dan berbagai derivasinya memiliki banyak makna, antara lain: kafir terhadap tauhid (al-kufru bit-tauhid) (Al-Baqarah 6, Al-Hajj 25); kufur nikmat (al-kufru bin-ni’mah) (Al-Baqarah 152, Asy-Syu’ara’ 19, An-Naml 40, An-Nahl 55, Ar-Rum 34); berlepas diri/saling mengingkari (at-tabarriy) (Al-’Ankabut 25, Mumtahanah 4); ingkar (al-juhud) (Al-Baqarah 89); menutupi (at-taghthiyah) (Al-Hadid 20).
 
Memang, secara bahasa, salah satu makna kata “kafir” adalah merujuk kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah –sebagai lawan dari kata “syakir” yang berarti orang yang bersyukur. Sehingga secara bahasa, kata kafir tidak selamanya berarti non Muslim. Misalnya kufur nikmat, kekufuran orang yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan, tidak sampai membawa pelakunya kepada keluar dari islam (kufrun duna kufrin).
 
Tapi dalam Al-Qur'an kata ini lebih dominan digunakan dalam arti pendustaan atau pengingkaran terhadap Allah SWT dan rasul-rasul-Nya, khususnya Nabi Muhammad dan ajaran-ajaran yang dibawanya. 
 
Karenanya, pengertian kafir secara istilah adalah orang yang menentang atau menolak kebenaran Allah SWT dan rasul-Nya. Dengan kata lain, kafir adalah kebalikan dari iman. Di masyarakat, kafir sering diistilahkan dengan non Muslim, yaitu orang yang tidak mengimani Allah dan rasul-rasul-Nya serta ajarannya.
 
Bagaimana status orang Kristen dalam pandangan aqidah Islam? Allah SWT secara tegas mengafirkan orang Kristen (Kafir Kitabi) sebagai seburuk-buruk makhluk yang kekal di neraka Jahanam:
 
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” (Qs. Al-Bayyinah 6).
 
Tak hanya berstatus kafir, orang Kristen juga dilaknat Allah karena mengimani Yesus sebagai anak Tuhan, menjiplak doktrin agama pagan sebelumnya (At-Taubah 30-31). Mereka juga mengimani doktrin ketuhanan Trinitas/Tritunggal bahwa Yesus adalah salah satu dari tiga oknum Tuhan, yaitu Tuhan yang menjelma (inkarnasi) menjadi manusia.
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam” (Al-Ma’idah: 17, 72).
 
Kata “kafir” dalam Al-Qur'an yang ditujukan untuk orang Kristen sangat banyak. Hanya orang bermata picing saja yang tidak bisa melihat dengan jelas.
 

Penginjil Kafir Pengkhianat Ajaran Yesus
 
Untuk menampik titel kafir, penginjil Kristen tak segan-segan menyelewengkan ayat-ayat Al-Qur'an untuk menjustifikasi keabsahan Kristen. Penginjil menulis:
 
“Pengikut Isa bukan orang kafir. Tentang pengikut Isa Almasih, Al-Quran berkata: “Dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu [yaitu Isa Almasih] di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat...” (Qs Ali Imran 55).
 
Dengan jelas Al-Quran menyatakan bahwa pengikut Isa Al-Masih atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kristen, akan diletakkan di atas orang-orang kafir. Sehingga dapat disimpulkan, label “kafir” yang disematkan oleh orang Islam selama ini kepada orang Kristen adalah keliru!”
 
Salah besar jika penginjil menyimpulkan Ali Imran 55 sebagai bukti bahwa umat Kristen bukan orang kafir. Kesalahan ini justru menjadi bumerang bagi penginjil sendiri. 
 
Memang betul, ayat ini menjamin Isa alaihissalam sebagai nabi yang disucikan dari orang kafir, kemudian para pengikutnya (kaum Hawariyun) diangkat derajatnya di atas orang yang kafir. 
 
Para Hawariyyun itu setia dan berpegang teguh mengamalkan ajaran Nabi Isa, antara lain: mengimani Muhammad SAW sebagai nabi terakhir yang kedatangannya telah dinubuatkan oleh Nabi Isa (Ash-Shaff 6); mengakui bahwa ajaran Nabi Isa hanya berlaku untuk bani Israel saja (Az-Zukhruf 59, Ash-Shaff 6); dll. 
 
Tapi Hawariyun itu jelas bukan orang Kristen, karena kekafirannya sudah sangat jelas, antara lain: meyakini ketuhanan Yesus dan mengimani doktrin Trinitas bahwa Tuhan ada tiga oknum (Al-Ma’idah 72-73). 
 
Derajat orang Kristen tidak diangkat di atas orang kafir, justru mereka akan kekal di neraka Jahanam bersama kafir musyrikin sebagai seburuk-buruk makhluk (Al-Bayyinah 6).
 
Semua ini gara-gara doktrin Kristen yang overdosis dalam memposisikan Nabi Isa AS sampai ke derajat Tuhan. Padahal doktrin ini jelas bertolak belakang dengan ajaran Nabi Isa:
 
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwa Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih” (Al-Ma’idah 73).
Alkitab (Bibel) pun mengakui, bahwa Yesus mengajarkan aqidah tauhid hanya kepada Allah sebagai hukum yang terutama:
 
“Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa” (Markus 12:29).
 
Tapi orang Kristen menyisipkan ayat palsu dalam Bibel (1 Yohanes 5:6-8) sebagai dasar doktrin ketuhanan Trinitas, bahwa Tuhan ada tiga oknum: Bapak, Anak dan Roh Kudus.
 
Tak heran jika Allah akan membersihkan dan mengangkat derajat Nabi Isa dan para pengikut setianya di atas orang kafir Kristen. Dan para penginjil pun gigit jari, karena surga dari Tuhan Trinitas yang diharapkan hanyalah halusinasi[]

A. Ahmad Hizbullah MAG
www.ahmad-hizbullah.com
SMS/WA: 08533.1050000
BBM: 54B134C5
3 Komentar