Siapakah yang Mendustakan Agama?

Kamis, 31 Oktober 2013 - 20:39 WIB | Dilihat : 24182
Siapakah yang Mendustakan Agama? Anak yatim yang terlantar (ilustrasi)

Kaum muslimin rahimakumullah,

Allah SWT befirman:

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS. Al Maun 1-3).

Kaum muslimin rahimakumullah,

Kata “ad diin” dalam ayat di atas sering di artikan di masyarakat sesuai dengan terjemah harfiah sebagaimana terjemahan yang beredar di masyarakat melalui Terjemah Al Quran Departemen Agama di atas. Namun dalam tafsir para mufassirin kita lihat, kata “ad diin” dalam ayat  di atas sama dengan kata “ad diin” dalam Surat Al Fatihah, “Maliki Yaumiddiin” yang artinya adalah hari pembalasan. Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas dalam tafsirnya mengatakan:

Bahwa ayat “araitalladzi yukaddzibu biddiin” (tahukah kamu orang yang mendustakan agama” juga dikatakan mendustakan hisab atau perhitungan pada hari kiamat, yaitu tokoh kaum kafir Quraisy yang  bernama Al ‘Ash bin Wail as Shamiy. 

Al Baghawy dalam tafsirnya mengutip pendapat Muqatil bahwa ayat tersebut turun tentang Al Ash bin Wail as Sahmiy. Ada juga yang pendapat bahwa ayat tersebut turun tentang tokoh kafir Quraisy yang lain yakni Al Walid bin Al Mughirah, atau tentang Amru bin Aid al Makhzumiy.  Al Baghawiy mengatakan bahwa makna “yukaddzibu biddiin” adalah pembalasan (al jaza) dan perhitungan (al hisab).

Kaum muslimin rahimakumullah,


Orang yang mendustakan agama atau hari pembalasan itu menurut Ibnu Abbas adalah orang yang menghalangi anak yatim dari haknya. Dan orang yang tidak mendorong orang serta tidak memelihara shodaqah untuk memberikan makan kepada kaum miskin.

Al Baghawy mengatakan bahwa kata “ad da’u” artinya adalah menolak dengan keras, sehingga orang yang mendustakan agama atau mendustakan hari pembalasan adalah “alladzi yadu’ul yatim” yakni orang yang bersikap keras dalam menghalangi hak anak yatim. Selain itu, pendusta agama atau pendusta hari pembalasan adalah orang yang tidak memberikan makan kepada kaum miskin serta tidak menyuruh orang memberikan makan kepada kaum miskin karena dia mendustakan hari pembalasan.   

Mereka tidak mau memberi makan kepada kaum miskin

Kaum muslimin rahimakumullah,

Tafsiran Al Baghawy tentang pendusta agama atau pendusta hari pembalasan itu tidak mau memberikan makan dan tidak menyuruh orang lain memberi makan kaum miskin karena mereka tidak percaya hari pembalasan itu cukup menarik. Sebab lazimnya manusia berbuat mengharapkan balasan dari orang atas perbuatannya. Misalnya, seseorang menghormati tamu dengan cara menjamu mereka dengan harapan suatu ketika dia dibalas saat bertamu kepada yang bersangkutan. Seseorang memberikan hadiah kepada sahabatnya biasanya berharap dapat balasan serupa.

Saling hadiah menghadiahi sudah menjadi tradisi di antara kawan, kolega, dan keluarga. Seorang pengusaha memberikan “intertain” kepada seorang pejabat atau pimpro untuk mendapat kemudahan dalam hubungan mutualistik yang mereka jalin. Sehingga, kalau ada orang kaya diminta memberikan makan kepada kaum miskin, perlu ada alasan kuat untuk melakukannya, sebab kaum miskin tidak mungkin memberikan balasan serupa.  

Oleh karena itu, keyakinan akan adanya hari kiamat, hari perhitungan, dan hari pembalasan kepada amal-amal kebajikan akan memberi alasan kuat kuat bagi kaum beriman menshodaqohkan sebagian rizki mereka untuk memberikan makan kepada kaum miskin. Sebaliknya, orang kafir enggan disuruh memberikan makanan kepada kaum miskin. Mereka justru melecehkan kaum beriman karena banyak yang miskin, dan kekayaan mereka membuat mereka menyombongkan diri. Allah SWT berfirman:

Dan apabila dikatakakan kepada mereka: "Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu", Maka orang-orang yang kafir itu Berkata kepada orang-orang yang beriman: "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata"
. (QS. Yasin 47).

Sikap ini berbeda dengan orang-orang beriman yang memenuhi panggilan Allah SWT, maka mereka pasti akan memberi makan kepada kaum yang lapar memenuhi perintah Allah SWT dalam firman-Nya:

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak [unta, lembu, kambing dan biri-biri]. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS. Al Hajj 28)

Diriwayatkan bahwa salah satu tanda haji mabrur, haji yang diterima ibadahnya oleh Allah SWT,  adalah para haji itu sepulang ke tanah air gemar memberikan makan kepada kaum miskin, orang-orang yang lapar.  

Dalam sebuah hadits ketika ditanya tentang haji mabrur Rasulullah saw. menjawab : “haji mabrur adalah memberi makan (ith’amut tha’aam) dan yang bagus ucapannya (thayyibul kalam)”.  Dalam hadits lain disebut “menyebarkan salam (ifsyaa-us salam) dan memberi makan (ith’aamut tha’am).  

Kondisi Pendusta Agama di Akhirat


Kaum muslimin rahimakumullah,

Bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan agama, orang-orang yang mendustakan hari pembalasan, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan syariat Islam yang Dia SWT turunkakan  kepada Nabi Muhammad saw., termasuk syariat memberikan makan kepada orang-orang miskin, ya bagaimana keadaaan mereka di akhirat kelak? 

Allah SWT menerangkan kesengsaraan mereka di hari kiamat sebagaimana firman-Nya :

Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, Maka dia berkata: "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan Aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian Itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku."(Allah berfirman): "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Maha besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari Ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa (QS Al Haaqqah 25-37).

Na’udzubillahi mindzalik..Baarakallahu lii walakum...

 

0 Komentar