Khutbah Iedul Adha 1434H : Haji, Kurban, dan Persatuan Umat

Selasa, 08 Oktober 2013 - 13:42 WIB | Dilihat : 11192
Khutbah Iedul Adha 1434H : Haji, Kurban, dan Persatuan Umat Massa Umat Islam salat ashar berjamaah di depan Istana Negara Jakarta

KH Muhammad al Khaththath
Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam
Pemimpin Umum Tabloid Suara Islam

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuhi

الله اكبر 9 مرات
الله اكبر الله اكبر لااله الاّ الله و الله اكبر الله اكبرولله الحمد.
الله اكبر عدد ما أحرم الحجاج من الميقات وعدد ما رفعوا بالتلبية لله الأصوات
الله اكبر عدد ما دخل الحجاج مكة ونزلوا بتلك الرحبات
الله اكبر عدد ماطافوا بالبيت العتيق وعظموا الحرمات
 الله اكبر عدد ماخرجوا إلى منى و وقفوا بعرفات وعدد ماباتوا بمزدلفة وعادوا إلى منى للمبيت ورمي الجمرات
الله اكبر أراقوا من الدماء وحلقوا من الرؤوس تعظيما لفاطر الأرض والسموات
الله اكبر لااله الاّ الله و الله اكبر الله اكبر ولله الحمد.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Pada hari ini kaum muslimin di seluruh dunia sedang merayakan hari raya Idul Adha mengiringi ibadah haji, puncak ibadah setelah jihad fi sabilillah. Pada hari ini  lebih dari dua juta jamaah haji dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Mina untuk melempar jumrah, setelah mereka kemarin melaksanakan wukuf di Arafah, dan bermalam di Muzdalifah, dalam rangka melaksanakan rangkaian manasik ibadah haji. Para jamaah haji mengenakan pakaian ihram yang sama, dan melakukan ucapan dan tindakan ibadah dalam manasik yang sama,   mengucapkan kalimat talbiyah yang sama. Semua itu adalah dalam rangka memenuhi kewajiban yang Allah fardlukan kepada seluruh umat Islam yang mampu, sebagaimana firman-Nya:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah….(QS. Ali Imran 97).

الله اكبر لااله الاّ الله و الله اكبر الله اكبرولله الحمد.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Hari ini tanggal 10 Dzulhijjah disebut yaumun nahar (hari berkurban) sebab para jamaah haji menyembelih hewan-hewan kurban mereka. Mereka diminta menyembelih kurban dengan satu syiar sebagai umat Islam, sebagai hamba Allah, dengan menyebut asma Allah ketika menyembelih hewan kurban. Allah SWT berfirman tentang kedatangan para jamaah haji di tanah haram:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِير

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS. Al Hajj 28).

Demikian juga kita dan umat Islam di seluruh penjuru dunia, yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji, semua melaksanakan sholat Iedul Adha, dan setelah sholat kita diperintah untuk menyembelih hewan kurban. Allah SWT berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” (QS. Al Kautsar)

الله اكبر لااله الاّ الله و الله اكبر الله اكبرولله الحمد.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Ibadah Haji adalah satu kesatuan dengan ibadah kurban dan sholat Iedul Adha yang merupakan hari raya umat Islam. Dan resultan dari rangkaian pelaksanaan ketiganya yang merupakan satu kesatuan dalam ibadah kepada Allah SWT adalah syiar, kekuatan, dan dakwah umat Islam. 

Allah SWT memperhatikan syiar haji. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
 
Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui
. (QS. Al Baqarah 158).

Syi'ar-syi'ar Allah adalah : tanda-tanda atau tempat beribadah kepada Allah. As Shabuniy dalam Shafwatut Tafaasiir menerangkan makna kalimat Sya’aira adalah semua urusan agama yang kita gunakan untuk beribadah kepada Allah seperti thawaf (berjalan berputar mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali), sa’i (berjalan bolak-balik sebanyak tujuh kali antara bukit Shafwa dengan bukit Marwah), adzan (panggilan untuk sholat jama’ah), dan lain-lain.  

Sa’i, yakni berjalan cepat antara bukit Shafa dan Marwah, tidak jauh dari Ka’bah di Masjidil Haram adalah salah satu manasik dalam ibadah haji. Allah SWT dalam ayat di atas mengungkapkan dengan perkataan tidak ada dosa sebab sebahagian sahabat merasa keberatan mengerjakannya sa'i di situ, Karena tempat itu bekas tempat berhala dan di masa jahiliyahpun tempat itu digunakan sebagai tempat sa'i. untuk menghilangkan rasa keberatan itu Allah menurunkan ayat di atas.

Syia’ar-syi’ar Allah dalam ibadah haji adalah seluruh prosesi dalam manasik haji, baik itu dimulai dengan mengenakan pakaian ihram dan berjalan dari miqat, bermalam di Mina pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), wukuf di padang Arafah (9 Dzulhijjah), bermalam di Muzdalifah (malam 10 Dzul Hijjah), lalu melempar Jumrah sebagai simbolisasi melempar syetan di Mina (10, 11, 12 Dzulhijjah), melaksanakan tahalul (dengan memotong/mencukur rambut), serta thawaf wada’ sebagai perpisahan. Termasuk di antara syiar haji adalah menyebut-nyebut asma Allah SWT dalam  menyembelih korban serta memakannya dan membaginya kepada fakir miskin sebagaimana firman Allah SWT (QS. Al Hajj 28).

Haji sebagai prosesi ibadah telah menyatukan sikap dan kalimat para jamaah yang datang dari latar belakang yang berbeda-beda. Apapun negara, bahasa, bangsa, warna kulit, jabatan, dan status sosial mereka, dengan pakaian ihram yang sama, serentak mereka mendeklarasikan sikap dan tindakan mereka memenuhi panggilan Allah SWT.: Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika laka…(Kupenuhi panggilan-Mu ya Allah, Kupenuhi panggilan-Mu, kupenuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kupenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, segala nikmat, dan segala kekuasaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu)…

Kalimat talbiyah (kesediaan memenuhi panggilan Allah) itu terus mereka kumandangkan.  Sungguh dahsyat!  Dua juta lebih jamaah haji mengumandangkan kalimat yang sama. Oleh karena itu, haji adalah sebuah momentum bersatunya kekuatan umat Islam (soft power) yang terbesar setelah ibadah jihad fi sabilillah (hard power).

Oleh karena itu, Allah SWT memuji pengagungan syiar-syiar Allah dalam firman-Nya:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS. Al Hajj 32).

الله اكبر لااله الاّ الله و الله اكبر الله اكبرولله الحمد.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Kurban atau nusuk sebagai sebuah peribadatan yang paling diunggulkan pada hari raya Idul Adha. Idul Adha sendiri maknanya adalah, kembali berkurban, yakni menyembelih kambing, sapi, atau onta, dengan syarat-syarat tertentu setelah melaksanakan sholat sunnah Idul Adha.  Diriwayatkan dari 'Aisyah Ra. ia berkata, bahwa Nabi SAW bersabda:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا ، وَأَشْعَارِهَا ، وَأَظْلاَفِهَا . وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا .

"Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Qurban, lebih dicintai Allah selain dari menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu kelak di hari Kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguh-nya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan pahala qurban itu.
" (HR. Tirmidzi, no: 1413)

Dan barangsiapa mempunyai kelapangan rizqi pada hari tersebut, tetapi enggan berkurban maka Rasulullah mengancam-nya supaya jangan mendekati musholla Rasulullah SAW.

Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا .

"Barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berqurban, tapi ia tidak mau berqurban, maka janganlah ia dekat-dekat di musholla (tempat shalat) kami." (HR. Ahmad, no: 7924, Ibnu Majah, no: 3114).

Musholla atau tempat sholat yang dimaksud dalam hadits Nabi saw. tersebut adalah lapangan yang khusus dipergunakan hanya untuk sholat Iedul Fitri dan Iedul Adha. Karena setiap harinya Nabi saw. adalah sholat berjamaah lima waktu di masjid beliau saw. Dan di lapangan tempat sholat (musholla) inilah Nabi saw. memerintahkan seluruh kaum muslimin, tua muda, pria dan wanita agar hadir mengikuti sholat atau bahkan sekedar mendengarkan khutbah dan dakwah Islam. Diriwayatkan bahwa para wanita yang sedang haid pun diperintahkan oleh Rasulullah saw. untuk hadir di lapangan. Juga Rasulullah saw. memerintahkan para wanita meminjamkan jilbab mereka kepada saudaranya yang tidak punya jilbab agar mereka bisa hadir.  Rasulullah saw. pun memerintahkan agar umat Islam mengambil jalan yang berbeda antara datang ke tempat sholat dengan pulangnya seraya mengumandangkan takbir untuk membesarkan dan mengagungkan syiar hari raya. Bahkan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid itu diminta untuk terus dikumandangkan selama empat hari sampai akhir hari tasyriq pada tanggal 13 Dzulhijjah. Demikian juga menyembelih kurban dengan mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar!” dan memakan dagingnya bersama keluarga dan sahabat serta membagikan kepada fakir miskin pada tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah adalah  syiar dan kegembiraan untuk mengagungkan asma Allah yang sangat bernilai bagi persatuan dan kesatuan umat serta dakwah Islam.

الله اكبر لااله الاّ الله و الله اكبر الله اكبرولله الحمد.

Kaum muslimin rahimakumullah,


Tiga Pelajaran Penting dalam Momentum Haji

Pelajaran yang bisa kita ambil dalam momentum ibadah dan dakwah yang SWT berikan kepada kita dalam rangkaian ibadah haji, Idul Adha, dan kurban adalah sebagai berikut:

Pertama, seluruh rangkaian ibadah haji, idul adha, dan kurban  adalah untuk menegaskan keberadaan umat Islam sebagai umat yang dibangun di atas keyakinan kepada kalimat tauhid, Lailahaillalla Muhammadur Rasulullah. Kalimat Talbiyah adalah kalimat deklarasi bagi para jamaah haji bahwa mereka memenuhi panggilan Allah SWT ke tanah suci untuk memuji dan mengagungkan-Nya. Kalimat talbiyah :

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ "

(Kupenuhi panggilan-Mu ya Allah, Kupenuhi panggilan-Mu, kupenuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kupenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, segala nikmat, dan segala kekuasaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu)  Demikian juga dzikir yang dibaca para jamaah haji pada hari Arafah dan tiap tempat.

«لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ سَاجِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ، صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ»

Tiada Tuhan selain Allah yang satu yang tiada sekutu baginya. Dialah yang punya segala kekuasaan dan segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.  Maha benar Allah dengan janji-Nya, Dia pasti menolong hamba-Nya, Kami kembali, bertaubat, dan memuji Tuhan kami.  Dia mengalahkan pasukan Ahzab/Sekutu sendirian (Sahih Bukhari Juz (3 / 7). 

Demikian juga yang disyiarkan dalam gema takbir dan dzikir penyembelihan qurban. Bahkan penyembelihan hewan kurban merupakan syariat penegasan ketauhidan kaum muslim.  Orang-orang musyrik di masa Nabi saw. mendebat kaum muslimin kenapa mereka tidak makan bangkai: “Hai umat Islam, kenapa kalian tidak memakan hewan yang Allah bunuh, sedangkan kalian memakan hewan yang kalian sembelih dengan tangan kalian sendiri?”.  Allah SWT berfirman tentang debat mereka dalam firman-Nya:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. Al An’am 121).  

Konsentrasi umat dalam jumlah besar dengan keyakinan dan sikap hidup yang sama merupakan kekuatan umat (people power) yang luar biasa.

Oleh karena itu, tatkala pulang kembali ke tanah air, alangkah bagusnya bila para jamaah haji tetap dalam satu kesatuan tauhid, tidak berpecah-belah ke dalam golongannya masing-masing.  Apalagi, bangsa Indonesia sedang menghadapi krisi kepemimpinan terlebih lagi para pemimpin yang tampil dari kalangan umat Islam dicitrakan sangat buruknya dengan kasus-kasus korupsi yang ada, sementara ada geliat yang sistematis dari kalangan minoritas non muslim untuk mengambil alih kepemimpinan politik di negeri ini. Ahok, Hary Tanoe, Purnomo Yusgiantoro, Luhut Panjaitan, dll adalah mereka persiapkan untuk mengambil alih kepemimpinan negeri ini. Tentu ini tidak dapat dianggap remeh. Pengalaman dalam sejumlah pilkada, ketika umat Islam berpecah-belah, maka kepemimpinan diambil alih oleh kaum minoritas.

Sudah saatnya para jamaah haji bersatu padu mengusung kepemimpinan umat islam, kepemimpinan syariah, sebagaimana yang sudah digagas oleh Forum Umat Islam dengan menampilkan 15 capres syariah, yakni :

(1) Imam Besar DPP FPI Habib Rizieq Syihab, Lc., MA;
(2) Wakil Amir Majelis Mujahidin Ustadz  Abu Muhammad Jibril AR;
(3) Amir JAT  KH. Abu Bakar Ba’asyir;
(4) Ketua Majelis Syuro PBB Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra;
(5) Mantan Ketua PBNU KH. Dr (HC) Hasyim Muzadi;
(6) Ketua PP Muhammadiyyah Prof. Dr. Dien Syamsuddin;
(7) Ketua Pelaksana Harian MUI/Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) KH. Ma'ruf Amien;
(8) Ketua Umum PPP Dr (HC.) Suryadharma Ali;
(9) Mantan Ketua MPR/Ketua Fraksi PKS DPR RI Dr. KH. Hidayat Nurwahid;
(10) Sekjen MIUMI Ust. KH. Bachtiar Nasir Lc;
(11) Ketua Fahmi Tamami Haji Rhoma Irama;
(12) Ketua Baznas Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin;
(13) Ketua Majelis Az Zikra KH. M Arifin Ilham;
(14) Ketua Darul Quran KH. Yusuf Mansur;
(15) Jubir HTI Ir. H. Ismail Yusanto, MM.

Dari kelima belas pimpinan umat di atas kiranya para jamaah haji bergerak serempak di tengah umat mengajak agar memilih siapa di antara mereka yang paling layak menjadi Presiden NKRI untuk mendekritkan penerapan syariah secara formal konstitusional.  Dengan semangat talbiyah, insyaallah para jamaah haji akan mampu bergerak mengajak umat menyatukan pikiran dan pendapat mereka sehingga terwujud tatanan syariah di NKRI yang dengannya Allah SWT akan membuka keberkahan bagi umat dan bangsa Indonesia ini sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
(QS. Al A’raf 96)

الله اكبر لااله الاّ الله و الله اكبر الله اكبرولله الحمد

Kedua, seluruh syiar dalam haji, idul adha, dan kurban adalah syiar dakwah yang apabila benar-benar dibesarkan atas dasar ketaqwaan (QS. Al Hajj 32) niscaya akan memperkokoh bangunan umat Islam dan membesarkan wibawa Islam dan kaum muslimin. Sayang, kebesaran haji ini belum di-engineering oleh Raja Arab Saudi dan para pemimpin muslim yang berkuasa di lebih dari 50 negara kaum muslimin ini untuk menjadi bahan kampanye, dakwah, dan syiar umat Islam sedunia. Padahal teknologi sangat memungkinkan. Kenapa stasiun-stasiun TV dan radio tidak diperintahkan membuat siaran langsung terus-menerus sehingga syiarnya begitu tampak jelas dan besar, lebih besar daripada syiar hari raya Idul Fitri. Bahkan lebih besar dari syiar agama dan ideologi apapun di dunia ini.

Mestinya sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai puncaknya pada tanggal 10 Dzulhijjah dimana umat sedunia melaksanakan sholat Idul Adha dan menyembelih hewan Qurban dan dilanjutkan dengan hari tasyriq selama 3 hari dimana umat Islam makan daging bersama fakir miskin dijadikan momentum yang sangat besar yang patut disiarkan ke seluruh dunia. Namun karena lebih dari 90% jaringan TV, Radio, dan media massa dunia dikuasai Yahudi, maka wajar kalau tidak menjadi opini dunia. 

Kalau saja Raja Arab Saudi dan para penguasa muslim di seluruh dunia berinisiatif menjadikan syiar haji dan seluruh rangkaian manasik dan hari raya Idul Adha sebagai bahan dakwah dan propaganda untuk seluruh umat manusia, insyaallah akan lain ceritanya. Persatuan dan kesatuan umat Islam serta kedermawanan para jamaah haji dan kaum muslimin yang berkurban akan menjadi buah bibir dunia. Dunia akan tahu Islam dan kebesaran Islam serta kesetiaan umat Islam kepada ajaran dan pandangan hidupnya. Ini yang akan diperhitungkan manusia di seluruh dunia, baik mereka menganggap Islam sebagai kawan maupun sebagai lawan.

Fakta sejarah di masa baginda Rasulullah saw menunjukkan bahwa akumulasi kekuatan dan dakwah umat Islam itu terus membesar. Ini  dapat dilihat pada beberapa momentum seperti aktivitas umrah pasca perang Ahzab yang gagal dengan adanya perjanjian Hudaibiyah (6H), umratul qadla (7H), pembebasan kota Mekkah dari kekuasaan musyrikin Quraisy (8H), dan haji wada’ (10H) yang menjadi modal bagi jihad dan dakwah umat Islam menaklukkan Rumawi dan Persia pada tahun 15H di masa Khalifah Umar bin Al Khaththab. Semestinya hari ini, ketika Komunisme sudah mati, dan Kapitalisme sedang diujung tanduk, kesatuan umat sedunia bisa tampil memimpin peradaban dunia. Ini harus menjadi cita-cita dan pergerakan umat Islam bersama.  Dan manakala Indonesia dipimpin oleh Presiden Syariah, maka peluang NKRI membimbing 50 negara Islam lainnya untuk membesarkan Allah dan rasul-Nya, membesarkan Islam, dan memimpin dunia menggapai hidayah-Nya. Allahu Akbar!

الله اكبر لااله الاّ الله و الله اكبر الله اكبرولله الحمد

Ketiga, kegiatan haji yang merupakan kegiatan berkumpulnya umat Islam yang dari segi ekonomi tergolong mampu, punya istitha’ah baik bekal maupun kendaraan untuk menuju Mekkah dari rumah-rumah mereka yang jauh.  Dengan biaya yang tidak sedikit, untuk regular minimal 50 juta dan untuk ONH Plus bisa mencapai 100 juta per orang.  Oleh karena itu, para haji kita sebenarnya asset umat yang perlu diberdayakan untuk izzul Islam wal muslimin!

Kekuatan haji dan syiarnya ini akan memiliki efek yang luar biasa manakala seluruh pemerintah dunia Islam mendesign pelaksanaan ibadah haji sesuai dengan hikmah disyariatkannya haji, yakni agar para jamaah haji menghadiri manfaat diniyah dan duniawiyah dari berkumpulnya para haji sedunia di Makkah, menyebut-nyebut asma Allah dalam manasik haji khususnya saat menyembelih hewan kurban, dan makan daging kurban sambil memberi  makan kepada fakir miskin (QS. Al Hajj 28).

Imam Fakhrurazie sebagaimana dikutip As Shabuniy dalam Shafwatut Tafaasiir menerangkan bahwa berbagai manfaat diniyah dan duniawiyah ini khas hanya ada dalam ibadah haji, tidak ada dalam ibadah-ibadah lainnya. Disinilah letak kekuatan ibadah haji (the power of haji).

Dengan ibadah haji, umat Islam berta’aruf, saling kenal satu sama lain. Jamaah haji Indonesia bisa berkenalan dengan jamaah haji dari Saudi, Mesir dan Yaman dan mendapatkan informasi bagaimana pendidikan Islam di sana sekaligus memperkenalkan bagaimana pendidikan pesantren di Indonesia. Jamaah haji Indonesia juga bisa menemui jamaah haji dari Palestina, Suriah, Irak, Afghanistan, Xinjiang, Rohingya, dan negeri-negeri muslim lain yang banyak mengalami pergolakan untuk mendapatkan kabar dari mereka sambil memberikan solidaritas.  Jamaah haji Indonesia bisa ketemu dengan para jamaah haji dari Afrika, Asia Tengah, Eropa dan Amerika untuk mendapatkan perkembangan Islam di sana sambil menginformasikan daya tarik bumi Indonesia.  Insyaallah dengan perkenalan itu bisa dijalin hubungan bisnis ekspor impor dengan mereka.  Arena haji bisa menjadi arena expo dan pertemuan bisnis internasional bahkan bisa dibentuk organisasi Masyarakat Ekonomi Islam (MEI) sedunia yang membebaskan dunia Islam dari jerat utang ribawi IMF, World Bank, maupun kekuatan ekonomi dan keuangan dunia lainnya.

الله اكبر لااله الاّ الله و الله اكبر الله اكبرولله الحمد.

Kaum muslimin rahimakumullah,


Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah SWT agar para jamaah haji, baik yang datang dari kampung halaman kita, maupun dari segala penjuru dunia, agar diterima ibadah haji mereka, sebagai haji mabrur, semoga sepulangnya ke tanah air masing-masing, mereka menjadi pelopor dalam kebenaran dan kebajikan, dan semoga kita yang ada di tanah air, diberi kekuatan untuk menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam, dengan tetap berpegang teguh kepada tali agama Allah (QS. Ali Imran 103), membesarkan syiar-Nya, memperkuat dakwah-Nya, memberdayakan ilmunya para ulama, hartanya para aghniya, dan doanya para dluafa, agar mampu berjuang menegakkan syariat Allah SWT di bumi Indonesia, dalam wujud menaikkan para pemimpin umat yang istiqomah sebagai pejuang syariat Allah SWT menjadi Presiden NKRI dengan izin Allah yang akan mendekritkan pelaksanaan syariah secara formal konstitusional sehingga menjadikan NKRI bersyariah, NKRI yang berkah, NKRI yang baldatun thayyibatun warabbun ghafuur   yang menjamin kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh warga negara, baik muslim maupun non muslim.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب
رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه و سلم والحمد لله رب العالمين
الله اكبر لااله الاّ الله و الله اكبر الله اكبرولله الحمد.

0 Komentar