Naskah Khutbah Jumat : Merindukan Gubernur Muslim Jakarta yang Bersih

Kamis, 21 Januari 2016 - 21:08 WIB | Dilihat : 6712
Naskah Khutbah Jumat : Merindukan Gubernur Muslim Jakarta yang Bersih Ilustrasi : Balai Kota DKI Jakarta


Kaum muslimin hafizhakumullah, 
 
Allah Swt  berfirman: 
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا 

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa [04]: 59) 
 
Ayat di atas mewajibkan semua orang-orang mukmin untuk taat kepada Allah Swt, Rasulullah Saw., dan Ulil Amri di antara kaum muslimin serta menjadikan Alquran dan Sunnah Rasulullah Saw. sebagai standar penilaian untuk menyelesaikan perbedaan pendapat antara umat Islam sebagai rakyat dengan Ulil Amri.   
 
Kaum muslimin hafizhakumullah, 
 
As Shaabuniy dalam Shafwatut Tafaasiir menerangkan bahwa taat kepada Allah Swt dan Rasul-Nya dengan cara berpegang teguh kepada Alquran dan As-Sunnah. Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk mentaati penguasa jika penguasa itu muslim yang berpegang teguh kepada syariat Allah Swt , sebab tidak boleh taat kepada makhluk dalam perbuatan durhaka atau maksiat kepada Allah Al Khalik. As Shabuniy menegaskan bahwa lafazh [ منكم ] dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa penguasa yang wajib ditaati itu adalah penguasa muslim yang keisalamannya telah mendarah daging, muslim luar dalam, bukan muslim KTP.   
 
Jadi Ulil Amri yang wajib ditaati oleh umat Islam dalam ayat tersebut adalah penguasa muslim yang taat kepada Allah Swt, taat hukum Allah Swt, syukur-syukur alim, minimal yang mau mendengar suara ulama yang taat kepada Allah Swt. 
 
Kaum muslimin hafizhakumullah, 
 
Perintah Allah Swt kepada kaum muslimin untuk mentaati Ulil Amri dalam ayat di atas mengandung pengertian sekaligus perintah (دلالة الإلتزام ) untuk mengangkat Ulil Amri yang wajib ditaati itu. Sebab kalau tidak ada Ulil Amri yang diangkat yang memenuhi keterangan di atas, maka perintah Allah Swt di atas menjadi sia-sia. Ini tentu tidak boleh terjadi.  
 
Oleh karena itu, komunitas umat Islam, di manapun adanya, wajib mengangkat seorang penguasa muslim yang memenuhi sifat Ulil Amri dalam ayat tersebut. Terkait kepemimpinan kota Jakarta yang mayoritas muslim, umat Islam di Jakarta wajib mengangkat penguasa muslim yang memimpin kota Jakarta agar dapat menjalankan perinntah Allah Swt  dalam ayat di atas, yakni mentaati Ulil Amri. Sebab jika penguasanya bukan seorang muslim yang taat kepada Allah Swt, apalagi penguasa itu menunjukkan sikap dan tindakan  atau membuat kebijakan yang tidak mengindahkan perintah dan larangan Allah Swt, seperti larangan minuman keras dalam QS. Al Maidah ayat 90 atau larangan perzinaan dalam QS. Al Isra’ ayat 32, berarti umat Islam belum bisa melaksanakan perintah Allah Swt untuk taat kepada Ulil Amri dalam ayat di atas. Oleh karena itu, menjadi kewajiban syar’i bagi kaum seluruh muslimin di kota Jakarta untuk mengusahakan terwujudnya Gubernur Muslim Jakarta yang beriman dan taat kepada Allah Swt dan Rasul-Nya dalam berbagai kebijakannya.      
 
Kaum muslimin hafizhakumullah, 
 
Sebagian umat Islam  di Jakarta ada yang bersikap apatis bahkan skeptis terhadap kewajiban syar’I mengangkat Gubernur Muslim Jakarta. Alasan mereka, mengangkat pemimpin itu tak perlu dilihat agamanya. Yang penting berani mengambil kebijakan dan tidak korup. Kata mereka, daripada gubernur muslim yang korup, lebih baik gubernur non muslim yang tidak korup. Tentu ucapan orang yang skeptic tersebut adalah ucapan yang muncul karena tidak faham dengan perintah dan larangan Allah Swt  yang seharusnya diindahkan oleh seorang muslim jika dia ingin bertaqwa kepada-Nya.  Sebab makna taqwa kepada Allah Swt  adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk perintah dan larangan-Nya terkait dengan kepemimpinan ini. Menolak mengindahkan satu perintah dan larangan Allah Swt  sudah termasuk perbuatan durhaka kepada Allah Swt yang bila tidak segera bertobat akan mendapatkan murka Allah Swt. Ingat, iblis yang dihukum oleh Allah Swt  itu hanya melanggar satu perintah-Nya  saja, yakni menolak perintah Allah Swt untuk sujud kepada Nabi Adam a.s. Padahal Iblis itu telah beribadah ratusan ribu tahun dan tidak pernah melanggar perintah-Nya kecuali hanya menolak sujud kepada Adam a.s.  
 
Mengenai pernyataan mereka  bahwa lebih baik Gubernur non-Muslim yang bersih daripada Gubernur Muslim yang korup, maka kita nyatakan bahwa yang wajib kita angkat sesuai perintah Allah Swt  di atas bukanlah Gubernur Muslim yang korup, tapi Gubenur Muslim yang bersih, yang tidak korup, yang bertaqwa kepada Allah Swt. Oleh karena itu, sebelum disumpah sebagai pejabat, Gubernur Muslim itu disuruh membaca ancaman Allah Swt terhadap siapapun yang korup sebagaimana firman-Nya: 
 
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ 

Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (QS. Ali Imran ayat 161).  
 
Ayat inilah yang dibacakan oleh Rasulullah Saw kepada  para pejabat yang akan ditugaskan oleh Rasulullah Saw menjadi seorang Gubernur atau jabatan pemerintahan lainnya. Beliau Saw menyatakan bahwa setiap harta yang diambil oleh pejabat di luar ketentuan syar’i baginya adalah termasuk ghulul, atau harta hasil korupsi. Walaupun harta itu hanya sebatang jarum, maka di akhirat kelak harta hasil korupsi itu akan dikalungkan di leher pejabat yang korup.   
 
Insyaallah jika Gubernur Muslim disumpah dengan terlebih dahulu disuruh membaca ayat di atas dan dibacakan kepadanya  hadits-hadits terkait korupsi, maka yang bersangkutan akan menjadi Gubernur Muslim Jakarta yang bersih. Itulah dambaan seluruh umat Islam, terutama para ulama, habaib, dan para pejuang Islam yang hari ini berusaha keras untuk mewujudkannya.   
 
Dukungan seluruh umat Islam  yang masih percaya kepada ayat-ayat Allah kepada usaha para ulama untuk mewujudkan Gubernur Muslim Jakarta yang Bersih, bukan Gubernur Muslim yang Korup, insyaallah akan menjadikan Gubernur Muslim Jakarta Yang Bersih menjadi suatu keniscayaan dengan izin Allah Swt. Sebab usaha yang mulia itu adalah bagian dari perjuangan menolong agama Allah Swt yang hari ini banyak dilecehkan oleh kaum yang memusuhi agama Allah Swt.   
 
Dengan menolong agama Allah Swt, semoga Allah Swt akan menolong umat Islam dan mengokohkan kedudukan umat ini sebagaimana firman-Nya: 
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad ayat 7).

Baarakallahu lii walakum…..  
0 Komentar