Mereka Membubarkan Shalat Idul Fitri di Tolikara

Selasa, 04 Agustus 2015 - 17:00 WIB | Dilihat : 3512
Mereka Membubarkan Shalat Idul Fitri di Tolikara Pembakaran masjid dan sejumlah kios umat Islam di Tolikara Papua
Kaum muslimin hafizhakumullah,
 
Allah SWT berfirman:
 
وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
 
Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah 217).
 
Orang-orang kafir dimanapun dan sampai kapanpun akan senantiasa membuktikan ayat di atas, yakni mereka akan melakukan penyerangan kepada umat Islam sehingga mereka bisa memurtadkan umat kalau sekiranya mereka mampu. Ketika pasukan Ratu Isa Bela menaklukkan Granada, benteng umat Islam terakhir di Andalusia, selanjutnya dilakukan pemurtadan besar-besaran sehingga umat Islam bersih dari Andalusia, dan masjid-masjid pun kini jadi museum. Ketika pasukan Spanyol menyerbu Manilla yang didirikan Sultan Sulaiman, umat Islam dibersihkan dari Manilla, sehingga kota Manilla yang berasal dari lafazh fii amaanillah (semoga dalam keamanan Allah SWT) berubah menjadi kota Nasrani.   
 
Baru-baru ini di Tolikara Papua, gerombolan massa gereja menyerbu umat Islam yang sedang melaksanakan shalat Idul Fitri di lapangan Markas Koramil, sehingga shalat Id dibatalkan dan umat Islam menjadi pengungsi karena rumah-rumah, kios-kios, dan masjid mereka dibakar oleh massa beringas yang tersulut oleh surat Edaran Gereja Tolikara yang melarang umat Islam merayakan Idul Fitri pada hari naas itu.
 
Kaum muslimin hafizhakumullah,
 
Tidak masuk akal! Bagaimana hal itu bisa terjadi di negara muslim terbesar yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menyatakan bahwa kemerdekaan negara ini adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Apakah gerombolan massa Gereja Tolikara tidak tahu bahwa Shalat Idul Fitri adalah ibadah yang dijamin UUD 1945?
 
Aneh bin ajaib! Sesuatu yang seharusnya mustahil terjadi malah menjadi kenyataan yang benar-benar terjadi. Ya bagaimana bisa? Mantan Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi menyebut peristiwa arogansi dan anarkisme oleh tokoh dan jemaat Gereja Tolikara itu tidak lepas dari peristiwa arogansi Wilders di Belanda yang melecehkan Nabi Muhammad Saw. yang dia lakukan awal Ramadhan lalu.   
 
Apa yang dilakukan oleh para pimpinan Gereja Tolikara itu tampaknya tidak lepas dari arogansi Ahok di DKI Jakarta yang walaupun ditentang oleh Gerakan Masyarakat Jakarta tapi kedudukannya tetap kuat. Ahok pernah melarang penjualan hewan korban di trotoar di Jakarta dengan alasan mengganggu kepentingan umum dan juga melarang penyembelihan hewan korban di sekolah-sekolah di Jakarta dengan alasan menjaga kebersihan.
 
Kebijakan Ahok yang tak masuk akal dan hanya mencari gara-gara di wilayah mayoritas muslim ternyata tak membuat Ahok lengser. Apalagi di Tolikara kaum Gereja mayoritas, maka mungkin mereka berfikir mudah kiranya menyikat umat Islam yang minoritas. Sehingga walaupun Surat Edaran Gereja Tolikara yang melarang umat Islam merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1436H pada tanggal 17 Juli 2015 itu sangat naïf dan fatal toh tetap mereka keluarkan dan bahkan massa brutal Gereja Tolikara menyerbu umat Islam yang sedang Sholat Ied. Padahal shalat Id itu di lapangan markas Koramil dan dijaga personil TNI/Polri. Padahal dalam jamaah shalat tersebut ada Kapolres Tolikara dan Danramil setempat.  
 
Kaum muslimin hafizhakumullah,
 
Peraturan yang dikeluarkan oleh pengurus Gereja Tolikara yang melarang umat Islam merayakan Idul Fitri dan melarang muslimat memakai jilbab dan adanya gerakan massa Gereja Tolikara yang menyerang umat untuk membubarkan shalat Id yang baru mereka laksanakan, menunjukkan bahwa mereka hendak memposisikan diri mereka sebagai Tuhan selain Allah SWT, arbaban mindunillah. Sebab, mengenakan jilbab dan melaksanakan sholat Ied adalah peraturan Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa. Logika hukumnya, tidak ada yang berhak menggeser peraturan Tuhan kecuali Tuhan yang lebih berkuasa, kalau seandainya ada Tuhan selain Allah SWT. Sehingga peraturan dan tindakan mereka sebenarnya sama dengan pengumuman Firaun : “Aku adalah Tuhan kalian yang Paling Tinggi” (Ana Rabbukumul A’la!).
 
Oleh karena itu, peraturan dan tindakan brutal Gereja Tolikara itu terkategori peraturan dan tindakan yang batil dan zalim, peraturan dan tindakan yang merupakan bentuk pembangkangan dan pendurhakaan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang diakui di NKRI sebagai Dasar Negara. Peraturan dan tindakan brutal tersebut jelas harus dibatalkan demi hukum dan para aktornya diberikan hukuman yang setimpal karena merupakan pelanggaran konstitusi yang serius dan merupakan bentuk pengkhianatan yang nyata kepada dasar Negara RI, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, Allah SWT. Maka menjadi aneh ketika ada pejabat yang justru menyatakan simpati dan mengapresiasi para penyerang kegiatan ibadah kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang jelas-jelas dijamin konstitusi. 
 
Kaum muslimin hafizhakumullah,
 
Kepada para pimpinan Geraja Tolikara dan Gereja di manapun di wilayah NKRI perlu dinyatakan secara tegas agar menghentikan segala bentuk amal maupun keinginan untuk melakukan tindakan naïf dan fatal sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Gereja Tolikara tersebut. Selanjutnya perlu ditegaskan bahwa jika para pimpinan Gereja di manapun masih ngotot hendak melakukan hal itu, maka umat Islam di manapun harus menyatakan keberadaan mereka sebagai muslim yang memandang sama manusia sebagai hamba Allah SWT, hamba Allah SWT yang tidak bisa ditindas oleh pihak manapun. Allah SWT telah membimbing hal ini dalam firman-Nya:
 
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (64)
 
Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. Ali Imran 64).
 
Baarakallahu lii walakum…
0 Komentar