Ada Apa di Balik Pelecehan Alquran dengan Langgam Jawa?

Rabu, 20 Mei 2015 - 18:50 WIB | Dilihat : 14044
Ada Apa di Balik Pelecehan Alquran dengan Langgam Jawa? Dosen UIN Suka Muhammad Yaser Arafat yang membaca Alquran dengan langgam Jawa dalam peringatan Isra' Mi'raj di Istana Negara, Jumat (15/05)

Kaum muslimin hafizhakumullah,

Allah Swt berfirman:
 
وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (34) ذَلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ (35)
 
Dan dikatakan (kepada mereka): "Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan Pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong". Yang demikian itu, karena Sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat. (QS. Al Jastiyah 34-35)
 
Kaum muslimin hafizhakumullah,
 
Jelas dalam kedua ayat di atas bahwa nanti di hari kiamat bahwa orang-orang yang telah menjadikan ayat-ayat Allah Swt sebagai olok-olokan tempatnya adalah di neraka. Mereka tidak ditolong, tidak dikeluarkan, dan tidak diberi kesempatan untuk bertaubat, karena sudah telat. Mereka dilupakan alias dibiarkan tetap tinggal di neraka sebagaimana mereka dulu waktu di dunia tidak memperhatikan bahwa perbuatan mereka bisa membuat mereka terperosok ke dalam jurang neraka jahannam. Mereka tidak pedulikan peringatan. Mereka semau gue mengolok-olok ayat-ayat Allah Swt seakan tidak ada neraka dan hari pembalasan. Imam As Syaukani dalam Fathul Qadir Juz 6/445 mengatakan :
 
ذلكم العذاب بسبب أنكم اتخذتم القرآن هزواً ولعباً
 
“Bahwa adzab yang kalian peroleh itu disebabkan kalian telah menjadikan Al Quran sebagai perolokan dan permainan”.  Artinya, orang-orang yang telah menjadikan Al Quran sebagai perolokan dan permainan nanti di hari kiamat akan dikatakan kepada mereka seperti itu.
 
Kaum muslimin hafizhakumullah,
 
Apakah yang dimaksud dengan menjadikan Al Quran sebagai perolokan dan permainan?   Imam Thabary dalam Tafsirnya Jami’ul Bayan Juz 17/144 mengatakan bahwa orang-orang ahli kitab yakni Yahudi dan Nasrani telah diazab karena memperolokkan Al Quran, yakni dengan berkata kepada sesama mereka membagi-bagi Alquran, surat ini untukku, yang lain berkata surat itu untukku, semua dalam rangka melecehkan dan memperolok-olok Al Quran. Allah SWT berfirman:  
 
كَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى الْمُقْتَسِمِينَ (90) الَّذِينَ جَعَلُوا الْقُرْآنَ عِضِينَ (91)
 
"Sebagaimana (kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Quran itu terbagi-bagi” (QS. Al Hijr 90-91).
 
Termasuk dalam pengertian mengolok-olok Alquran oleh ahli Kitab menurut Imam at Thabary (idem) adalah bahwa sebagian mereka mengimani sebagian Al Quran dan mengkufuri sebagian yang lain. Dan sebagian Alquran diimani oleh sebagian ahli kitab namun dikufuri oleh sebagian ahli kitab yang lain.  
 
Termasuk dalam pelecehan dan penghinaan terhadap Alquran adalah menginjak mushaf Alquran dan apalagi membuangnya ke WC  seperti yang dilakukan oleh tentara AS di penjara teroris di Guantanamo. 
 
Kaum muslimin hafizhakumullah,
 
Imam an-Nawawi, dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalah al-Qur’an, menyatakan: Para ulama telah sepakat tentang kewajiban menjaga mushaf al-Quran dan memuliakan-nya. Al-Qadhi Iyadh berkata, “Ketahuilah bahwa siapa saja yang meremehkan al-Quran, mushafnya atau bagian dari al-Quran, atau mencaci-maki al-Quran dan mushafnya, ia telah kafir (murtad) menurut ahli Ilmu.” (Asy-Syifa, II/1101). Dalam kitab Asna al-Mathalib dinyatakan, mazhab Syafii telah menegaskan bahwa orang yang sengaja menghina, baik secara verbal, lisan maupun dalam hati, kitab suci Al Quran atau hadis Nabi saw. dengan melempar mushaf atau kitab hadis di tempat kotor, maka dihukumi murtad.
 
Kaum muslimin hafizhakumullah,
 
Memaksakan tilawah Al Quran dengan langgam Jawa seperti yang dilakukan oleh Qari’ dalam peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara Jum’at lalu (15/5) bisa dikategorikan pelecehan Al Quran. Apalagi sesuai pengakuan Menteri Agama tujuannya adalah untuk melestarikan tradisi Nusantara dalam meluaskan ajaran Islam di tanah air.  
 
Tentu saja pernyataan Menag penggunaan tilawah Al Quran dengan lenggam Jawa untuk melestarikan tradisi Nusantara patut dipertanyakan. Aneh! Apakah Bapaknya Menag Lukman Hakim, yakni KH Saifuddin Zuhri, dan para ulama Jawa mengajarkan hal demikian? Fakta menunjukkan tidak ada Ulama Qiraat di Jawa yang melakukan hal itu. Umumnya para guru Qiraat mengatakan bahwa qiraat yang dipelajarinya bersanad hingga Rasulullah Saw. Kita pun mendengar para Imam Sholat di Jawa tidak ada yang membaca Al Fatihah dan Surat dengan langgam Jawa. Padahal tradisi Sholat Jama’ah di Jawa sudah berlangsung dari zaman kerajaan Demak setelah runtuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad 15 Masehi.  
 
Artinya, jika tradisi bacaan sholat dan qiroat yang kita terima di Jawa dari generasi terdahulu tidak pakai langgam Mocopat apalagi Asmaradhana yang punya aturan tertentu dalam kesenian Jawa, berarti para Wali Songo tidak pernah mewariskan tradisi baca Alquran dalam Sholat maupun di luar Sholat dengan langgam Jawa. Jadi boleh dikatakan pengenalan tradisi baru qiraat Alquran dengan langgam Jawa adalah bentuk bid’ah munkarat! Na’udzubillahi mindzalik!
 
Apalagi introduksi lagu baru dalam tilawah Alquran itu dalam semangat menggerus nilai-nilai Islam universal untuk digantikan dengan Islam lokal yang mereka sebut sebagai Islam Nusantara. Mereka membuat klaim bahwa tradisi Islam Universal itu tidak sesuai dengan tradisi Islam lokal. 
 
Tentu saja wacana Islam lokal atau Islam Nusantara ini juga tidak jelas definisinya. Prinsipnya mereka sedang melawan gerakan Islam internasional yang masuk ke Indonesia yang dianggap tidak sesuai dengan Islam lokal Indonesia. Salah satu tradisi yang paling mereka musuhi adalah tradisi jihad fi sabilillah yang mereka stempel sebagai ajaran teroris. Betulkah tidak ada tradisi jihad dalam Islam lokal Nusantara? 
 
Bukankah Indonesia merdeka karena jihad dari umat Islam waktu itu melawan penjajah? Bukankah Syaikh Hasyim Asy’ary pendiri NU menyerukan resolusi jihad untuk menghadang pasukan sekutu di Surabaya? Lalu pertanyaannya Islam lokal Indonesia itu dari mana?
 
Jadi introduksi langgam Jawa dalam tilawah Quran dengan tujuan membentuk Islam lokal Nusantara yang mengeliminir nilai-nilai Islam yang dianggap tidak cocok dengan Islam Nusantara, maka  bisa dikategorikan pelecehan terhadap Alquran sesuai tafsir Imam Thabary di atas. Sehingga layak disebut bid’ah munkarat yang harus ditolak oleh para ulama dan umat karena itu berbahaya dan menyimpangkan pandangan umat tentang ajaran Islam dan tilawah Alquran yang benar sesuai ilmu qiraat.     
 
Jika dibiarkan, maka musibah apalagi yang akan Allah Swt timpakan kepada bangsa Indonesia yang Islamnya tanggung-tanggung ini. Marilah kita renungkan firman Allah Swt:
 
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al Anfal 25).

Baarakallahu lii walakum….
0 Komentar