Khutbah Iedul Adha 1435H: Hikmah Haji dan Kurban bagi Persatuan Umat

Senin, 29 September 2014 - 09:24 WIB | Dilihat : 12001
Khutbah Iedul Adha 1435H:  Hikmah Haji dan Kurban bagi Persatuan Umat Wukuf di Arafah

KH Muhammad Al Khaththath
Sekjen Forum Umat Islam


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh


الله اكبر 9 مرات

الله اكبر الله اكبر لااله الاّ الله و الله اكبر الله اكبرولله الحمد.

الله اكبر عدد ما أحرم الحجاج من الميقات وعدد ما رفعوا بالتلبية لله الأصوات

الله اكبر عدد ما دخل الحجاج مكة ونزلوا بتلك الرحبات

الله اكبر عدد ماطافوا بالبيت العتيق وعظموا الحرمات

 الله اكبر عدد ماخرجوا إلى منى و وقفوا بعرفات وعدد ماباتوا بمزدلفة وعادوا إلى منى للمبيت ورمي الجمرات

الله اكبر أراقوا من الدماء وحلقوا من الرؤوس تعظيما لفاطر الأرض والسموات

الله اكبر لااله الاّ الله و الله اكبر الله اكبر ولله الحمد.


Allahu Akbar 9x
Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd..

Kaum muslimin rahimakumullah,

Hari ini, 10 Dzulhijjah 1435H, kaum muslimin di seluruh dunia sedang merayakan hari raya Idul Adha mengiringi ibadah haji, puncak ibadah dalam syariat Islam setelah jihad fi sabilillah. Pada hari ini  sekitar dua juta jamaah haji dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Mina untuk melempar jumrah, setelah kemarin wukuf di Arafah, dan bermalam di Muzdalifah, dalam rangkaian manasik haji. Para jamaah haji mengenakan pakaian ihram yang sama dan mengucapkan kalimat talbiyah yang sama, melaksanakan perintah Allah Swt:

…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…
.(QS. Ali Imran 97).

Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd...

Kaum muslimin rahimakumullah,

Hari ini disebut hari berkurban, yaumun nahar karena para jamaah haji menyembelih hewan-hewan kurban, sebagai satu syi’ar dengan menyebut asma Allah ketika menyembelih hewan kurban. Allah Swt berfirman:

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir”
. (QS. Al Hajj 28).
 
Umat Islam di seluruh penjuru dunia mengiringi Haji dengan melaksanakan sholat Iedul Adha dan menyembelih hewan kurban sebagai syi’ar agama Allah. Allah Swt berfirman: “Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” (QS. Al Kautsar).

Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd..
Kaum muslimin rahimakumullah,

Ibadah Haji adalah satu kesatuan dengan ibadah kurban dan sholat Iedul Adha sebagai hari raya umat Islam. Pelaksanaan ketiganya yang merupakan satu kesatuan ibadah kepada Allah Swt adalah syiar, kekuatan, dan dakwah umat Islam. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah 158).

Syi'ar-syi'ar Allah adalah : tanda-tanda atau tempat beribadah kepada Allah. As Shabuniy dalam Shafwatut Tafaasiir menerangkan makna kalimat Sya’aira adalah semua urusan agama untuk beribadah kepada Allah seperti thawaf (berjalan berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali), sa’i (berjalan bolak-balik sebanyak tujuh kali antara bukit Shafwa dengan bukit Marwah), adzan (panggilan untuk shalat jamaah), dan lain-lain.   

Syi’ar-syi’ar Allah dalam ibadah haji adalah seluruh prosesi dalam manasik haji, baik itu dimulai dengan mengenakan pakaian ihram dan berjalan dari miqat, bermalam di Mina pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), wukuf di padang Arafah (9 Dzulhijjah), bermalam di Muzdalifah (malam 10 Dzul Hijjah), lalu melempar Jumrah sebagai simbolisasi melempar syetan di Mina (10, 11, 12 Dzulhijjah), melaksanakan tahalul (dengan memotong/mencukur rambut), serta thawaf wada’ sebagai perpisahan. Termasuk di antara syiar haji adalah menyebut-nyebut asma Allah SWT dalam  menyembelih korban serta memakannya dan membaginya kepada fakir miskin sebagaimana firman Allah Swt (QS. Al Hajj 28).
 
Haji sebagai prosesi ibadah telah menyatukan sikap dan kalimat para jamaah yang datang dari latar belakang berbeda-beda. Apapun bangsa, bahasa, warna kulit, jabatan, dan status sosial mereka, dengan pakaian ihram yang sama, serentak mereka mendeklarasikan sikap dan tindakan mereka memenuhi panggilan Allah SWT.: Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika laka…(Kupenuhi panggilan-Mu ya Allah, Kupenuhi panggilan-Mu, kupenuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kupenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, segala nikmat, dan segala kekuasaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu)…

Kalimat talbiyah (kesediaan memenuhi panggilan Allah) itu terus mereka kumandangkan. Sungguh dahsyat!  Dua juta lebih jamaah haji mengumandangkan kalimat yang sama. Oleh karena itu, haji adalah sebuah momentum bersatunya kekuatan umat Islam (soft power) yang terbesar setelah ibadah jihad fi sabilillah (hard power). Allah Swt memuji pengagungan syiar-syiar Allah dalam firman-Nya: “Demikianlah dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (QS. Al Hajj 32).

Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd..
Kaum muslimin rahimakumullah,


Kurban adalah peribadatan yang diunggulkan pada hari raya Idul Adha.  Idul Adha sendiri maknanya adalah, kembali berkurban, yakni menyembelih kambing, sapi, atau onta, dengan syarat-syarat tertentu setelah sholat Iedul Adha.  Diriwayatkan dari 'Aisyah Ra. ia berkata, bahwa Nabi Saw bersabda: "Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Qurban, lebih dicintai Allah selain dari menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak di hari Kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan pahala qurban itu." (HR. Tirmidzi, no: 1413)

Oleh karena itu, setiap muslim yang mampu sangat dianjurkan berkurban. Kepada yang enggan berkurban padahal mampu, Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berqurban, tapi ia tidak mau berqurban, maka janganlah ia dekat-dekat di musholla (tempat shalat) kami." (HR. Ahmad, no: 7924).
 
Di zaman Nabi Saw musholla adalah lapangan yang khusus hanya untuk sholat Iedul Fitri dan Iedul Adha. Begitu perhatian Nabi saw. kepada syiar dan dakwah Islam hingga beliau Saw. memerintahkan seluruh kaum muslimin, tua muda, pria dan wanita agar hadir mengikuti sholat atau bahkan sekedar mendengarkan khutbah.Bahkan wanita yang sedang haid pun diperintahkan untuk hadir di lapangan. Yang tidak punya jilbab agar dipinjami untuk bisa hadir. Beliau Saw memerintahkan agar umat Islam mengambil jalan berbeda antara datang ke tempat sholat dengan pulangnya seraya mengumandangkan takbir.  Bahkan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid itu diminta terus dikumandangkan selama empat hari sampai akhir hari tasyriq tanggal 13 Dzulhijjah. Demikian juga menyembelih kurban dengan mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar!” dan memakan dagingnya bersama keluarga dan sahabat serta membagikan kepada fakir miskin pada tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah adalah  syi’ar dan kegembiraan untuk mengagungkan asma Allah yang sangat bernilai bagi persatuan dan kesatuan umat serta da’wah Islam.

Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd..
Kaum muslimin rahimakumullah,

Tiga Pelajaran Penting dalam Momentum Haji


Pelajaran yang bisa kita ambil dalam momentum ibadah ibadah haji, Idul Adha, dan kurban adalah sebagai berikut: Pertama, umat Islam adalah umat yang dibangun di atas kalimat tauhid Lailahaillallah Muhammad Rasulullah. Kalimat Talbiyah adalah kalimat deklarasi para jamaah haji bahwa mereka memenuhi panggilan Allah SWT ke tanah suci untuk memuji, mengagungkan, dan mentauhidkan-Nya. Kalimat talbiyah : (Kupenuhi panggilan-Mu ya Allah, Kupenuhi panggilan-Mu, kupenuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kupenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, segala nikmat, dan segala kekuasaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu)

Demikian juga dzikir yang dibaca para jamaah haji pada hari Arafah : Tiada Tuhan selain Allah yang satu yang tiada sekutu bagi-Nya.  Dialah yang punya segala kekuasaan dan segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami kembali, bertaubat, beribadah, bersujud, dan memuji Tuhan kami.  Maha benar Allah dengan janji-Nya, Dia pasti menolong hamba-Nya,. Dia mengalahkan pasukan Ahzab/Sekutu sendirian (Sahih Bukhari Juz 3 / 7). 

Konsentrasi umat dalam jumlah besar dengan keyakinan dan sikap hidup yang sama, yakni umat yang bertauhid, merupakan kekuatan umat (people power) yang luar biasa.

Oleh karena itu, sepulang kembali ke tanah air, alangkah bagusnya bila para jamaah haji tetap dalam satu kesatuan tauhid, tidak berpecah-belah ke dalam golongan masing-masing.  Apalagi, bangsa Indonesia sedang menghadapi krisis kepemimpinan. Para pemimpin yang tampil dari kalangan umat Islam telah dicitrakan begitu buruk dengan tuduhan atas kasus-kasus korupsi.  Sementara ada geliat sistematis dari kalangan minoritas non muslim untuk mengambil alih kepemimpinan politik di negeri ini. Fenomena Ahok dan sejumlah gubernur non muslim di propinsi yang mayoritas muslim dan kuatnya kelompok Kristen dan Katolik di belakang Presiden Jokowi adalah tanda yang nyata. Kabarnya mereka mentargetkan tahun 2019 NKRI harus dipimpin presiden Kristen. Ini tidak bisa dianggap remeh. Pengalaman dalam sejumlah pilkada langsung, ketika umat Islam berpecah-belah, kepemimpinan daerah diambil alih oleh kaum minoritas. 

Sudah saatnya para jamaah haji ikut berjuang mengusung kepemimpinan umat pro syariah menuju terwujudnya NKRI Bersyariah. Dengan NKRI bersyariah presiden akan tampil sebagai panutan rakyat bertaqwa.  Dengan rakyat bertaqwa Negara jadi berkah. Allah Swt akan membuka keberkahan bagi umat dan bangsa Indonesia ini sebagaimana firman-Nya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, ...(QS. Al A’raf 96)

Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd..

Kedua, seluruh syi’ar dalam haji, idul adha, dan kurban adalah syi’ar dakwah. Apabila benar-benar dibesarkan atas dasar ketaqwaan (QS. Al Hajj 32) niscaya akan memperkokoh bangunan umat Islam dan membesarkan wibawa Islam dan kaum muslimin. Sayang, kebesaran haji ini belum di-engineering oleh Raja Arab Saudi dan para pemimpin muslim di 50-an negara untuk menjadi bahan dakwah dan syi’ar umat Islam sedunia.  Padahal teknologi sangat memungkinkan. Mestinya para penguasa muslim memerintahkan stasiun-stasiun TV dan radio membuat siaran langsung terus-menerus untuk membesarkan syiarnya, agar lebih besar dari Idul Fitri, bahkan lebih besar dari syiar agama dan ideologi apapun di dunia ini. 

Mestinya sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai puncaknya pada tanggal 10 Dzulhijjah dimana umat sedunia melaksanakan sholat Idul Adha dan menyembelih hewan Qurban dan dilanjutkan dengan hari tasyriq selama 3 hari dimana umat Islam makan daging bersama fakir miskin dijadikan momentum yang sangat besar untuk disiarkan ke seluruh dunia. Persatuan dan kesatuan umat Islam serta kedermawanan para jamaah haji dan kaum muslimin yang berkurban akan menjadi buah bibir dunia. Dunia akan tahu kebesaran Islam serta kesetiaan umat Islam kepada system hidup Islam. 

Di masa baginda Rasulullah saw.  syi’ar kekuatan dan dakwah umat terus dibesarkan. Ini dapat dilihat pada beberapa momentum seperti aktivitas umrah yang urung dengan adanya perjanjian Hudaibiyah (6H), umratul qadla (7H), pembebasan kota Mekkah (8H), dan haji wada’ (10H) yang menjadi modal bagi dakwah dan jihad umat Islam hingga menaklukkan Rumawi dan Persia di masa Khalifah Umar bin Al Khaththab (15H).  

Hari ini, ketika Komunisme telah mati dan Kapitalisme diujung tanduk, kesatuan umat sedunia bisa tampil memimpin peradaban dunia.  Ini harus menjadi cita-cita dan tujuan pergerakan umat Islam bersama. Allahu Akbar!

Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd..

Ketiga, para jamaah haji adalah asset umat. Para jamaah haji punya istitha’ah menuju Mekkah adalah orang-orang mampu. Untuk regular mereka harus merogoh kocek sekitar Rp50 juta dan dan Haji Khusus sekitar Rp.100 juta per orang. Mereka adalah asset umat yang perlu diberdayakan untuk izzul Islam wal muslimin!

Kekuatan haji dan syi’arnya ini akan punya efek luar biasa manakala seluruh pemerintah dunia Islam mendesign pelaksanaan ibadah haji di Mekkah sesuai dengan hikmah disyariatkannya haji, yakni agar para jamaah haji mendapati manfaat diniyah dan duniawiyah dari pertemuan internasional umat  Islam itu (QS. Al Hajj 28).

Imam Fakhrurazie (dalam As Shabuniy, Shafwatut Tafaasiir) mengatakan bahwa manfaat diniyah dan duniawiyah ini khas hanya ada dalam ibadah haji, tidak ada dalam ibadah-ibadah lainnya. Disinilah letak kekuatan ibadah haji (the power of haji). 

Dengan ibadah haji, umat Islam berta’aruf, saling kenal satu sama lain dan saling tukar informasi serta menjalin hubungan dagang. Arena haji bisa menjadi arena expo dan pertemuan bisnis internasional bahkan bisa dibentuk organisasi Masyarakat Ekonomi Islam (MEI) untuk membebaskan dunia Islam dari jerat utang ribawi IMF, World Bank, maupun kekuatan ekonomi dan keuangan dunia lainnya. Dengan kekuatan ekonomi eksklusif dunia Islam, umat Islam bisa leluasa membantu saudara-saudaranya yang masih miskin dan terbelakang seperti di Afrika dan Bangladesh; dan juga yang  yang masih terjajah dan tertindas seperti di Palestina, Suriah, Irak, Afghanistan, Kasmir, Rohingya, Thailand dan Philipina.

Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd..
Kaum muslimin rahimakumullah,

Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah Swt agar ibadah para jamaah haji diterima, sebagai haji mabrur.  Semoga sepulang mereka ke tanah air masing-masing menjadi pelopor kebenaran dan kebajikan. Semoga kita yang ada di tanah air, diberi kekuatan untuk menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam, dengan tetap berpegang teguh kepada tali agama Allah (QS. Ali Imran 103), membesarkan syi’ar-Nya, memperkuat da’wah kepada-Nya, memberdayakan ilmunya para ulama, hartanya para aghniya, dan doanya para dhuafa, agar mampu berjuang menegakkan syariat Allah Swt di bumi Indonesia. Semoga Allah Swt mengaruniakan pemimpin NKRI yang mampu mendekritkan pelaksanaan syariah secara formal konstitusional di seluruh wilayah NKRI. 

Menjadikan NKRI bersyariah, NKRI yang baldatun thayyibatun warabbun ghafuur, yang berkah sehingga menjamin keadilan dan kemakmuran bagi seluruh warga negara, baik muslim maupun non muslim. Amin Ya Rabbal Alamin! []

0 Komentar