Hukum Memilih Pemimpin Bagi Rakyat Muslim

Kamis, 20 Maret 2014 - 20:57 WIB | Dilihat : 21729
 Hukum Memilih Pemimpin Bagi Rakyat Muslim NKRI Bersyariah

Kaum muslimin rahimakumullah,

Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
(QS. An Nisa 59). 

Kaum muslimin rahimakumullah,


Ali As-Shaabuni dalam tafsirnya Shafwatut Tafaasiir mengatakan bahwa perintah Allah kepada orang-orang yang beriman kepada Allah Swt Pencipta manusia, kehidupan dan seluruh alam semesta, beriman kepada  Nabi Muhammad Rasulullah saw yang Dia utus membawa risalah Islam ke seluruh alam, serta beriman kepada Al Quran yang merupakan kitabullah sebagai petunjuk hidup seluruh umat manusia (hudan linnaas), untuk taat kepada Allah Swt dan taat kepada Rasulullah saw maknanya adalah dengan berpegang teguh kepada Kitabullah Alquran dan Sunnah baginda Rasulullah Saw. 

Adapun perintah taat kepada para penguasa (al Hukkaam) adalah bila keadaan mereka adalah penguasa yang muslim, yang berpegang teguh kepada syariat Allah Swt. Sebab, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Al Khaliq. 

Kaum muslimin rahimakumullah,


Kalimat “minkum” yang digandengkan dengan kalimat “wa ulil amri” menjadi dalil bahwa para penguasa yang wajib ditaati perintahnya adalah wajib dipilih atau diangkat dari kalangan kaum muslimin.  Bukan semata-mata muslim, tapi muslim luar dalam, muslim yang Islamnya sudah  mendarah daging. Bukan muslim yang sekedar bentuk dan tampilannya seolah muslim namun kosong Isinya. Alias muslim KTP. Apalagi bungkusnya muslim tapi isinya kekufuran dan kemaksiatan, yakni dari kalangan munafik dan kaum liberal yang menjadi antek kaum kafir penjajah Barat. Na’udzubillah mindzalik!

Kaum muslimin rahimakumullah,

Allah SWT juga mengharamkan umat Islam dipimpin oleh pemimpin kafir. Sebab tugas pemimpin itu adalah menjaga agama umat dan melayani kebutuhan sandangan, pangan, dan papan umat. Pemimpin kafir jelas tidak mungkin menjaga aqidah dan agama umat Islam. Justru sebaliknya sangat mungkin mereka menggerus aqidah umat bahkan memurtadkannya. Padahal murtad dalam pandangan Islam adalah kriminalitas yang paling besar, orang yang mati dalam keadaan kafir, hapus seluruh amalan shalihnya dan akan kekal di dalam neraka (QS. AL Baqarah 217).  Dari segi mensejahterakan rakyat, bukan tidak mungkin mereka justru bukan mensejahterakan rakyat, tapi malah merampas dan mengeksploitasi kekayaan rakyat untuk kepentingan kaum kafir internasional sebagai sohib dan tuan-tuan mereka. Allah SWT berfirman:

“dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman” (QS. An Nisa 141). 

 Kaum muslimin rahimakumullah,

Seorang pemimpin yang benar-benar Ulil Amri, akan memutuskan perkara berdasarkan hukum yang diturunkan oleh Allah Swt  sebab hukum itulah yang terbaik (QS. Al Maidah 49-50). Ketika Nabi Muhammad saw. berkuasa di Jazirah Arab, beliau pernah mengangkat sahabat Mu’adz bin Jabal r.a. sebagai Gubernur di wilayah Yaman. Beliau menguji kelayakan sahabatnya ini dengan menanyakan: Dengan apa engkau memutuskan perkara? Muadz menjawab: Dengan kitabullah (Al Quran). Nabi bersabda: Kalau tidak kau jumpai dalam Kitabullah, dengan apa? Mu’adz menjawab: Dengan Sunnah Rasulullah saw. Nabi saw. bersabda: Kalau tidak engkau temukan di sana? Mu’adz menjawab: Aku kan berijtihad dengan pendapatku. Dan aku tidak akan sembarangan.    

Demikianlah cara Rasulullah saw. mengangkat pejabat gubernur sebagai salah satu ulil amri dalam jabatan pemerintahan menurut ajaran Islam yang Beliau Saw bawa. Pejabat diangkat diangkat dari kalangan terbaik dan dilakukan fit and proper test menurut kebutuhan seorang pejabat negara, sebagai ulil amri (pemegang otoritas pemerintahan) yang wajib menjalankan pemerintahan berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. Pejabat ulil amri tidak diangkat berdasarkan survey atau suara rakyat yang memilihnya. Sebab rakyat kebanyakan tidak punya keahlian memilih. Padahal sesuatu yang diserahkan kepada yang bukan ahlinya, kata Nabi saw., tunggulah saat kehancurannya. Inilah beda mengangkat seorang pejabat ulil amri menurut sunnah rasul dengan menurut prosedur demokrasi “wani piro” yang telah menyesatkan jutaan rakyat dalam laknat Allah karena menganggap remeh dosa meneri suap calon pejabat.

Kaum muslimin rahimakumullah,


Rasulullah saw. berpesan kepada Muadz bin Jabal r.a. agar pertama-tama mengajak masyarakat Yaman beriman kepada Allah dan rasul-Nya, masuk Islam. Setelah itu memerintahkan agar mereka melaksanakan sholat. Dan selanjutnya mengambil zakat dari kalangan kaya mereka untuk dikembalikan kepada para fakir miskin. Itulah misi utama seorang pejabat ulil amri yang ditugaskan di suatu propinsi atau wilayah. Sangat luhur sekali. 

Selain itu Rasulullah saw. juga berpesan agar bersikap baik kepada rakyat, memberi kemudahan kepada mereka, tidak meyulitkan mereka. Memberi kabar baik kepada mereka, tidak menghardik mereka. Bahkan Khalifah Umar bersikap tegas dalam menegakkan kebenaran dan keadilan di seluruh wilayah negara. Pernah suatu ketika ada anak Gubernur Mesir Amr bin Ash mencambuk anak rakyat Qibty yang beragama Nasrani sambil menyombongkan diri. Anak Qibty itu lapor ke Madinah menemui khalifah menuntut keadilan. Akhirnya Gubernur Amr bin Ash dan anaknya dipanggil dan diadili.  Akhirnya dihukum qishash, yakni balas cambuk.  

Kaum muslimin rahimakumullah,


Seorang pemimpin yang bener-benar ulil amri tidak akan merasa benar sendiri, apalagi memerintah dengan seenaknya, tapi dia akan selalu berpegang teguh kepada Alquran dan As Sunnah. Bahkan siap dikoreksi dengan Al Quran dan As Sunnah. Suatu ketika Khalifah Umar bin Khaththab r.a. yang berkuasa atas sebagian besar wilayah di Timur Tengah sekarang membuat kebijakan tentang larangan kepada wanita meminta mahar (mas kawin) terlalu tinggi. Sebab menyulitkan dan memberatkan para pria untuk menikah. Bahkan beliau mengumumkan agar para wanita yang pernah menerima mahar terlalu besar mengembalikan mahar tersebut kepada suaminya. Kebijakan ini ditentang oleh seorang wanita tua dengan membacakan firman Allah SWT dalam QS. An Nisa 20 yang melindungi hak seorang wanita atas mahar yang telah diterimanya. Umar pun menyatakan bahwa wanita itu benar dan dirinya salah lalu mencabut kebijakan tersebut.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Mereka akan membuat berbagai perundangan yang tidak mempedulikan kedaulatan syariat Allah SWT atas kehidupan mereka. Allah SWT mengharamkan minuman keras (QS. Al Maidah 90-91), mereka membuat peraturan yang menghalalkan produksi, peredaran, dan perdagangan  minuman keras (Perpres No 74/2013).  Allah Swt mengharamkan perzinaan, mereka membuat peraturan tentang lokalisasi pelacuran yang berarti menghalalkan perzinaan. Allah Swt mengharamkan bahkan telah mengazab kejahatan homo seks dan lesbian (QS. Huud 78-83), mereka akan mengundangkan UU yang menghalalkan Perkawinan Sejenis. Allah Swt mengharamkan privatisasi komoditi air, padang rumput, dan api (batubara, gas, minyak bumi), mereka telah membuat UU privatisasi untuk semua harta milik umum tersebut hingga digarong oleh berbagai perusahaan asing. Sebaliknya, Allah Swt mewajibkan tiap wanita, termasuk polwan, berjilbab, mereka mengharamkannya. Allah Swt mewajibkan negara dan umat Islam berjihad fi sabilillah (QS. Al Baqarah 216), mereka membuat UU yang melarang dan menterorisasi jihad. Semua itu  mereka lakukan demi mendapatkan dukungan politik dan finansial dari kaum Yahudi dan Nasrani internasional demi mempertahankan jabatan dan kekuasaan mereka. Para pemimpin itu telah menghinakan diri dan bangsanya untuk tujuan rendah itu. Maka bila umat tetap patuh dan tunduk kepada mereka umat ini akan dihinakan. 

Kaum muslimin rahimakumullah,

Ayo kita berjuang bersama-sama mengangkat Presiden NKRI yang benar-benar Ulil Amri (QS. An Nisa 59) dari kalangan para tokoh umat pejuang syariah agar beliau segera mendekritkan berlakunya syariat Allah SWT sehingga menjadi NKRI Bersyariah yang berkah dan selamat. Allah Swt berfirman:  

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(QS. Al A’raf 96).

Baarakallahu lii walakum....

0 Komentar