Golput Menurut Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi

13 Maret 08:53 | Dilihat : 864
Golput Menurut Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi. [foto: wordpress]

Beberapa orang baik individu-individu dalam masyarakat maupun kelompok sosial cenderung berpandangan untuk memboikot dan golput dalam pemilihan umum, padahal pemilihan itu bertujuan untuk tegaknya Negara Islam modern.

Adapula beberapa orang maupun kelompok serta organisasi-organisasi yang memenuhi kekosongan ini (ikut pemilu), dimana mereka berkonsentrasi untuk mengisi kekosongan pihak lain karena tidak adanya orang yang berkompeten mendudukinya (memimpin kekuasaan), yang hukumnya fardhu kifayah.

Dalam kondisi seperti ini, boleh saja mereka berkonsentrasi untuk mengisi kekosongan kekuasaan atau memilih golput, karena tindakan seperti ini masuk dalam pembagian peran antar individu dalam masyarakat dan organisasi-organisasinya. Masing-masing bekerja sesuai dengan spesifikasinya (setiap orang dimudahkan sesuai dengan penciptaannya). Hukum dalam kondisi seperti ini termasuk wajib kifayah, dimana apabila sebagian orang melaksanakannya maka sebagian yang lain gugur kewajibannya. Dalam kondisi seperti ini dapat menggunakan fikih ikhtilaf atau perbedaan pendapat, dimana banyak pendapat dan pandangan di dalamnya. Pelaksanaan pandangan seperti ini berkisar antara benar dan yang lebih benar, antara satu pahala dan dua pahala.

Warga Negara baik laki-laki maupun perempuan ataupun kelompok tertentu dalam masyarakat berpandangan untuk melakukan golput dalam pemiliha-pemilihan umum karena memandang tidak ada manfaat di dalamnya dan tidak pula mencapai hasil-hasil realistis yang sesuai dengan jerih payah dan tenaga yang telah dicurahkan.

Dalam kondisi seperti ini, alangkah baiknya proses pemilihan umum itu dipelajari dengan seksama dalam konteks fikih keseimbangan, ekonomi, dan ijtihad, saling menghormati, dan menjauhkan kelompok yang senang berkonflik dengan pihak lain dan terlibat dalam permusuhan. Lalu kita serahkan kepada Allah Swt setelah berijtihad dan menunggu hasilnya.

Ketika terjadi persaingan yang tidak sehat antara kelompok yang baik dengan kelompok yang jahat, yang benar dengan yang batil, maka kita tidak boleh terlambat dan bermalas-malasan untuk mendukung kelompok yang baik dan pejuang kebenaran serta menghadapi kelompok-kelompok dan aliran yang ingin menyebarkan fitnah, serta menyusup dalam perumusan undang-undang sehingga berpotensi menghalangi masyarakat dalam menerapkan syariat Sang Pencipta. Dalam kondisi seperti ini, warga masyarakat yang baik tidak diperkenankan untuk melakukan golput terhadap proses pemilihan umum. Sebab, mengambil langkah golput dalam kondisi seperti itu, sama halnya membiarkan Negara dan rakyatnya berada dalam ancaman bahaya.

Golput dalam situasi dan kondisi seperti itu sama artinya tidak melaksanakan kewajiban. Barangsiapa tidak melaksanakan kewajiban sebagai orang yang memiliki hak  mengikuti pemilu dan memberikan hak suaranya, hingga menyebabkan kandidat yang berkompeten dan dapat dipercaya mengalami kekalahan, sedangkan kandidat lainnya yang pada dasarnya tidak berkompeten menduduki jabatan tersebut dan tidak pantas memperoleh suara mayoritas, maka sikap itu menyimpang dari perintah Allah Swt untuk memberikan kesaksian. Padahal ia telah diserukan untuk menunaikan kesaksiannya itu. Dan ia juga dianggap menyembunyikan kesaksian yang sangat dibutuhkan rakyat tersebut, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt, “Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil.” (QS. Al Baqarah : 282).

Dalam ayat lain Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barangsiapa menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa).” (QS. Al Baqarah : 283)

Jika kenyataannya memang demikian, maka menentukan karakter dan syarat-syarat yang harus dipenuhi para kandidat merupakan prioritas utama. [Min Fiqh Ad-Daulah fi Al-Islam, Al-Qaradhawi, hlm. 140]. Meninggalkan kewajiban –sebagaimana diuraikan di atas—menimbulkan konsekuensi dosa bagi pelakunya. Dalam kondisi ini, berpartisipasi dalam pemilihan umum hukumnya wajib.

Jika dikatakan bahwa berjalan menuju kotak-kotak suara adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan ketaatan, maka berdiam diri di rumah merupakan sikap malas dan pengkhianatan, serta ikut berpartisipasi dalam mempersempit kemaslahatan dan hak-hak rakyat. [Min Fiqh Ad-Daulah fi Al-Islam, Al-Qaradhawi, hlm. 140]. 

Sumber:  Parlemen di Negara Islam Modern (Al-Barlaman fi Ad-Daulah Al-Haditsiyyah Al-Muslimah), karya Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi, Penerbit: Pustaka Al Kautsar, Jakarta. 

0 Komentar