Tinggalkan Riba, Saatnya Hijrah ke Bank Syariah

Senin, 10 Oktober 2016 - 17:24 WIB | Dilihat : 3549
Tinggalkan Riba, Saatnya Hijrah ke Bank Syariah Ilustrasi: Seorang teller di sebuah bank syariah sedang melayani nasabahnya. [foto: qwerty.co.id]

 

Hijrah berasal dari bahasa Arab, hajara, yang maknanya berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Lisân al-‘Arab, V/250; Al-Qâmûs al-Muhîth, I/637).
 
Rasulullah Saw dan para sahabat pernah berhijrah dalam arti berpindah secara fisik dari kota Madinah menuju ke kota Yasrib yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah Al Munawarah. 
 
Secara akidah dan tata sosial, sebelum datangnya Islam masyarakat Arab lazim disebut sebagai masyarakat jahiliyah bila ditinjau dari berbagai aspek, termasuk aspek ekonomi. Aktivitas bisnis yang dilakukan bangsa Arab saat itu sangat kental dengan praktik ribawi. Bahkan pinjaman dengan bunga yang berlipat ganda (riba fadhl) telah menjadi tradisi mereka.
 
Setelah Rasulullah Saw berhijrah dan mendirikan Negara Madinah, barulah kehidupan masyarakat Arab berubah secara total. Negara Islam yang dibangun oleh Rasulullah Saw berhasil menciptakan tatanan masyarakat Islami. Masyarakat yang dibangun baginda Nabi adalah masyarakat yang benar-benar berbeda karakternya dengan masyarakat Arab Jahiliyah sebelum hijrah.
 
Dalam aspek ekonomi, praktik riba dihapus. Penipuan (tadlis) dan berbagai kecurangan (gharar) diberantas. Sebaliknya, cara-cara yang diakui syariah untuk meraih dan mengembangkan harta kekayaan dibuka seluas-luasnya. Bahkan, riba yang pertama kali dihapus adalah praktik riba yang dijalankan oleh paman Rasulullah sendiri, Abbas bin Abdul Muthallib, melalui sabda beliau: “Riba jahiliyah telah dihapus. Dan riba yang pertama kali aku hapus adalah riba Abbas bin Abdul Muthallib. Maka riba jahiliyyah dihapus seluruhnya.” (HR. Abu Dawud no. 1907). 
 
Kondisi jahiliyah dalam aspek ekonomi ini, sejatinya juga masih terjadi hingga saat ini. Perekonomian masih didominasi oleh sistem ribawi. Bahkan dalam hal riba, negara adalah pelaku utamanya dengan terus menumpuk utang luar negeri berbunga tinggi. Tahun ini utang negara kita sudah menembus angka Rp4000 triliun lebih, dengan rata-rata bunga yang harus dibayar hanya dalam dua tahun (2016-2017) rata-rata Rp200 triliun pertahun. Angka yang amat fantastis. 

Bunga Bank Sama dengan Riba
 
Riba menurut bahasa berarti tambahan (ziyaadah). Sedangkan secara istilah, riba adalah tambahan yang diperoleh dari seseorang yang meminjam (barang atau uang) dengan tempo atau batas waktu. (Ali As Shabuni, Tafsir Ayat al Ahkam, Jilid I). 
 
Secara garis besar riba dibagi menjadi dua macam: riba nasi’ah dan riba fadhl. Riba nasi’ah adalah tambahan yang disyaratkan, yang diambil oleh pihak yang memberikan hutang (kreditor) dari orang yang berhutang (debitor) karena adanya tempo. Syaikh Ali As Shabuni menjelaskan bahwa jika seseorang menghutangi uang dalam jumlah tertentu, misalnya sebulan atau setahun, dengan syarat  berbunga sebagai imbalan batas waktu yang diberikan itu, maka sudah tergolong riba nasi’ah. Jenis riba inilah yang menurut Ali Ash Shabuni, saat ini tengah berlaku di bank-bank, koperasi dan berbagai lembaga keuangan lainnya. 
 
Sedangkan yang dimaksud riba fadhl adalah menjual uang dengan uang, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, jewawut dengan jewawut atau garam dengan garam disertai dengan adanya tambahan. Atau dengan kata lain riba fadhl adalah jika seseorang menukarkan barangnya yang sejenis dengan suatu tambahan. 
 
Apapun jenis riba dan berapapun jumlahnya (besar atau kecil) telah diharamkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Keharaman riba secara umum telah dijelaskan Allah Swt dalam firman-Nya: "Mereka berkata (berpendapat bahwa) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba; padahal Allah telah menghalal¬kan jual beli dan telah mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepada mereka larangan tersebut dari Rabbnya lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya (dipungut) pada waktu dulu (se¬belum datangnya larang ini) dan urusannya (terserah) Allah. Sedangkan bagi orang-orang yang mengulangi (meng¬ambil riba), maka orang-orang tersebut adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya" (QS Al Baqarah: 275).
 
Dalam hadits-haditsnya, Rasulullah Saw sangat keras melarang praktik riba. Dari Jabir r.a., ia berkata: “Rasulullah Saw melaknat orang yang memakan (mengambil) riba, memberikan, menuliskan, dan dua orang yang menyaksikan.”  Ia berkata: “mereka berstatus hukum sama.” (HR. Muslim).

“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, garam dengan garam, harus sama dan tunai. Siapa saja yang menambah atau minta ditambah, sesungguhnya ia telah berbuat riba; yang mengambil dan yang memberi sama saja”. (HR. Ahmad dalam Musnadnya, 3/49)
 
Riba juga merupakan salah satu jenis dosa besar (kabair). Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menutip hadits yang dikeluarkan Imam Daruquthni yang meriwayatkan dari Abdullah bin Hanzalah bahwa Nabi Saw bersabda: “Untuk riba ada 99 pintu dosa, adapun dosa yang paling rendah derajatnya adalah seperti seseorang yang menzinahi ibunya.” Naudzubillah mindzalik.
 
Menariknya, bukan hanya Islam yang mengharamkan riba. Dua agama samawi lainnya, Yahudi dan Nasrani juga mengharamkan. (Sayid Sabiq, Fiqih Sunnah Jilid 4, hal. 173). 
 
Lalu, apakah bunga bank yang saat ini berlaku dalam sistem perbankan konvensional ini termasuk riba yang diharamkan?. 
 
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Fatwa No. 1 Tahun 2004 tentang Bunga (Interest/Fa’idah) tertanggal 24 Januari 2004 M/5 Zulhijjah 1424 H mendefinisikan bunga sebagai tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang di perhitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok tersebut, berdasarkan tempo waktu, diperhitungkan secara pasti di muka, dan pada umumnya berdasarkan persentase.
 
Menurut Fatwa MUI tersebut, praktik pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada jaman Rasulullah Saw. Bunga bank, koperasi, pegadaian, asuransi, pasar modal dan lembaga keuangan lainnya (termasuk pinjaman berbunga antar-individu)  termasuk dalam kategori riba, yakni riba nasi’ah. Dengan demikian, praktik pembungaan dan penggunaannya secara qath’iy (pasti) diharamkan. 
 
Hijrah ke Bank Syariah
 
Jika bunga bank adalah haram, lalu apa yang harus dilakukan?. Bertobat, meminta ampun kepada Al Khalik, Allah Swt, atas praktik riba, selanjutnya berhijrah dari sistem haram menuju sistem syariah demi keberkahan. Jika akhir-akhir ini pemerintah menggalakkan pengampunan pajak (tax amnesty), sangat tepat jika digulirkan program pengampunan riba (riba amnesty). Supaya umat Islam berpindah dari bank ribawi (konvensional) menuju ke bank syariah. 

Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam Tafsir Ayat Al-Ahkam, ketika menjelaskan tentang Surat 275-281, ia menuliskan: “Sebagian ulama berkata, barang siapa yang merenungkan kandungan ayat-ayat di atas, seperti tentang siksaan pemakan riba, orang yang menghalalkan riba serta besar doanya, maka dia pun akan tahu betapa keadaan mereka-mereka itu kelak di akhirat, mereka akan dikumpulkan dalam keadaan gila, kekal di neraka, dipersamakan dengan orang-orang kafir, mendapat perlawanan dari Allah dan Rasul serta kekal dalam laknat. Dia pun akan tahun betapa akibat yang ditimbulkan, seperti: kehidupan yang  tercela, penuh kemarahan, hilangnya rasa keadilan dan amat kasar, kaku dan selalu mendapat laknat dari orang-orang yang merasa dizalimi. Itu semua karena hilangnya kebaikan dan barakah. Oleh karena itu, betapakah maksiat riba ini, betapakah besar dosa riba ini dan betapakah kejinya akibat riba ini!.”
 
Karena itu sangat tepat sekali, ketetapan ketiga dari Fatwa MUI  tentang Bunga, yang melarang umat Islam melakukan transaksi berdasarkan perhitungan bunga bagi wilayah yang sudah ada kantor atau jaringan Lembaga Keuangan Syariah dan mudah dijangkau. Sementara untuk wilayah yang belum ada kantor atau jaringan Lembaga Keuangan Syariah, MUI membolehkan umat Islam melakukan kegiatan transaksi di lembaga keuangan konvensional berdasarkan prinsip dharurat atau hajat.
 
Umat Islam pantas bersyukur, karena saat ini semakin mudah untuk bertransaksi dengan lembaga keuangan syariah. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2016, di Indonesia telah beroperasi 12 Bank umum Syariah (BUS), 22 Unit Usaha Syariah (UUS) dan 165 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).  
 
Sebaran kantor BUS dan UUS juga telah merata ke seluruh provinsi di Indonesia. OJK mencatat, BUS dan UUS telah ada di 33 provinsi dan satu di luar Indonesia dengan total 602 Kantor Pusat Operasional/Kantor Cabang, 1.299 Kantor Cabang Pembantu/Unit Pelayanan Syariah, dan 228 Kantor Kas. Sedangkan BPRS jumlah kantornya mencapai 428 kantor. 
 
Ala kulli hal, pada momentum Tahun Baru 1438 Hijriyah ini, jika menginginkan perekonomian tumbuh dan berkah, mari kita tinggalkan sistem ribawi dan praktik-praktik riba. Lalu hijrah kepada sistem keuangan syariah yang berhasanah. Titik. []
 
 
Shodiq Ramadhan
Redaktur Pelaksana Suara Islam Online
 
0 Komentar