Ekonomi Islam atau Ekonomi Syariah ?

Rabu, 19 Oktober 2016 - 14:22 WIB | Dilihat : 2013
Ekonomi Islam atau Ekonomi Syariah ? Anto Apriyanto, M.E.I. Ketua Harian Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (Koneksi)

Ekonomi Islam atau Ekonomi Syariah ?

 
Oleh: Anto Apriyanto, M.E.I.
Ketua Harian Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (Koneksi)
 
Menurut Heri Sudarsono , nama Ekonomi Islam sebenarnya dipengaruhi oleh penafsiran terhadap praktik Ekonomi Islam yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Bila pengalaman Ekonomi Islam berkaitan dengan aturan-aturan tentang perintah dan larangan saja, maka makna nama Ekonomi Islam lebih banyak berkaitan dengan norma. Hal ini berarti Ekonomi Islam diposisikan sebagai ilmu normatif. Namun bila pengalaman yang ditemukan banyak berkaitan dengan persoalan aktual, misalnya praktik bank dan lembaga keuangan syariah lainnya, maka akan menghasilkan makna nama Ekonomi Islam yang berbeda. 
 
Lebih lanjut Sudarsono menjabarkan, dari pendekatan yang berbeda dapat diambil tiga identifikasi yang menghasilkan makna dari nama Ekonomi Islam secara umum yang meliputi:
 
1. Identifikasi ilmu hasil penafsiran Al-Quran dan Al-Hadits,
2. Identifikasi ilmu hasil penafsiran ruang dan waktu,
3. Identifikasi ilmu yang mempunyai eksistensi tertentu. 
 
Oleh karena itu, masih menurutnya, tidak ada definisi Ekonomi Islam baku yang digunakan sebagai pedoman umum, yang menjadikan secara pasti perbedaan definisi Ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional. Banyak ekonom muslim yang mencoba mendefinisikan, tapi tidak terlepas dari konteks permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh masing-masing. Sehingga terkesan adanya perbedaan definisi Ekonomi Islam. Secara bijak harus disikapi bahwa perbedaan pendefinisian tersebut sebenarnya lebih diartikan sebagai usaha para ekonom muslim untuk menjawab masalah ekonomi yang ditangkapnya, namun tetap berpedoman pada Al-Quran dan Sunnah. 
 
Untuk mengetahui pengertian Ekonomi Islam dari para ekonom muslim kontemporer, baik dari luar negeri maupun dalam negeri, berikut akan disajikan beberapa definisi Ekonomi Islam:
 
1. M. Umer Chapra,
"Ekonomi Islam adalah suatu cabang pengetahuan yang membantu merealisasikan kesejahteraan manusia melalui suatu alokasi dan distribusi sumber-sumber daya langka yang seirama dengan maqashid, tanpa mengekang kebebasan individu, menciptakan ketidakseimbangan makroekonomi dan ekologi yang berkepanjangan, atau melemahkan solidaritas keluarga dan sosial serta jaringan moral masyarakat." 
 
2. M. A. Mannan,
"Ekonomi Islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam." 
 
3. Syed Nawab Haider Naqvi,
"Ekonomi Islam adalah kajian tentang perilaku ekonomi orang Islam representatif dalam masyarakat muslim modern." 
 
4. M. Akram Khan,
"Islamic economics aims the study of the human 'falah' (well-being) achieved by organizing the resources of the earth on the basic of cooperation and participation."
Ekonomi Islam bertujuan untuk mempelajari 'falah' (kesejahteraan manusia) yang dicapai dengan cara mengatur sumber daya bumi pada berdasar kerjasama dan partisipasi.
 
5. Khurshid Ahmad,
"Islamic economics is a systematic effort to thy to understand the economics problem and mans behavior in relation to that problem from an Islamic perspective."
Ekonomi Islam merupakan suatu upaya sistematis untuk memahami masalah ekonomi dan perilaku manusia terkait dengan masalah itu dari perspektif Islam.
 
6. Abdullah Abdul Husain At Tariqi,
"Ekonomi Islam adalah ilmu tentang hukum-hukum syari'at aplikatif yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci tentang persoalan yang terkait dengan mencari, membelanjakan, dan cara-cara mengembangkan harta." 
 
7. Muhammad bin Abdullah Al Arabi,
"Ekonomi Islam adalah kumpulan prinsip-prinsip umum tentang ekonomi yang kita ambil dari Al-Quran, Sunnah, dan pondasi ekonomi yang kita bangun atas dasar pokok-pokok itu dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan waktu." 

8. Muhammad Syauki al Fanjari,
"Ekonomi Islam adalah segala sesuatu yang mengendalikan dan mengatur aktivitas ekonomi sesuai dengan pokok-pokok Islam dan politik ekonominya." 
 
9. Hasanuz Zaman,
"Islamic Economic is the knowledge and applications and rules of the shariah that prevent injustice in the requisition and disposal of material resources in order to provide satisfaction to human being and enable them to perform they obligations to Allah and the society".
Ekonomi Islam adalah pengetahuan, aplikasi, dan peraturan syariah yang mencegah ketidakadilan dalam permintaan dan pembuangan bahan sumber daya untuk memberikan kepuasan kepada manusia dan memungkinkan mereka untuk melakukan kewajiban kepada Allah dan masyarakat.
 
10. Monzer Kahf,
"Ekonomi Islam adalah bagian dari ilmu ekonomi yang memiliki sifat interdisipliner dalam arti kajian ekonomi Islam tidak dapat berdiri sendiri, tetapi perlu penguasaan yang baik dan mendalam terhadap ilmu-ilmu syariah dan ilmu pendukungnya, termasuk ilmu-ilmu yang berfungsi sebagai _tool of analysis_, seperti matematika, statistik, logika, dan ushul fiqh." 
 
11. M. N. Siddiqi,
"Islamic economics is 'the moslem thinker' response to the economic challenges of their times. In this endeavor, they were aided by the Quran and the Sunnah as well as by reason and experience."
Ekonomi Islam adalah 'pemikir muslim' yang menanggapi tantangan ekonomi Barat. Dalam usaha ini, mereka telah dibantu oleh Al-Quran dan Sunnah sebagai alasan dan pengalaman.
 
12. M. M. Metwally,
"Ekonomi Islam adalah ilmu yang mempelajari perilaku muslim dalam suatu masyarakat Islam yang mengikuti Al-Quran, As-Sunnah, Qiyas, dan Ijma'." 
 
13. Adiwarman Azwar Karim,
"Ekonomi Islam adalah sebuah sistem ekonomi yang menjelaskan segala fenomena tentang perilaku pilihan dan pengambilan keputusan dalam setiap unit ekonomi dengan memasukkan tata aturan syariah sebagai variabel independen (ikut mempengaruhi segala pengambilan keputusan ekonomi)." 
 
14. Mohamad Hidayat,
"Ekonomi Islam adalah suatu cara untuk memenuhi kebutuhan hidup seseorang atau lebih (bersama) dengan cara yang halal dan thayyib serta berlaku adil dalam usaha yang dilakukannya dengan prinsip saling ridha dan menguntungkan." 
 
15. M. Nur Rianto Al Arif
"Ekonomi Islam adalah perilaku individu muslim dalam setiap aktivitas ekonomi, berdasarkan tuntunan syariat Islam dalam rangka mewujudkan dan menjaga maqashid syariah (agama, jiwa, akal, nasab, dan harta)." 
 
16. Dwi Condro Triono,
"Ekonomi Islam adalah segenap pandangan atau keyakinan yang bersumber dari Islam, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah terhadap alokasi berbagai sumber daya ekonomi yang ada di bumi ini." 
 
17. Hendri Tanjung,
"Islamic economic is a set of arrangements/institutions that manages scarce resources to facilitate living of a good life."
Ekonomi Islam adalah satu set (paket) pengaturan lembaga-lembaga yang mengelola sumber daya langka untuk memfasilitasi kehidupan yang lebih baik.
 
Demikianlah, paparan definisi mengenai Ekonomi Islam yang disampaikan oleh para ahli. Intisari yang bisa diambil dari definisi-definisi tersebut, sebagaimana dinyatakan Adiwarman Karim adalah bahwa Ekonomi Islam bukan hanya sekadar ilmu. Namun lebih dari itu, Ekonomi Islam merupakan sebuah sistem.
 
Dari pendekatan definisi Ekonomi Islam menurut pemikir Ekonomi Islam tersebut dapat dinyatakan bahwa Ekonomi Islam yang berkembang di tanah air lebih mengarah pada pengertian tentang seperangkat aturan hubungan manusia dengan sesama dalam memenuhi hajat hidupnya yang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Hal ini diperkuat data dan fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim. Oleh karena itu, ekonomi yang dijalankan pun semestinya Islami.
 
Dalam perkembangannya, Ekonomi Islam dikenal juga dengan istilah iqtishad dan Ekonomi Syariah. Meminjam penjelasan Heri Sudarsono bahwa di dalam Al-Quran Ekonomi Islam diidentikkan dengan iqtishad, yang artinya umat pertengahan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
 
وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لأكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ (٦٦)
 
"Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka."  (QS. Al-Maaidah [5]: 66)
 
Meminjam pendapat Zainal Abidin Ahmad, bahwa Ekonomi Islam dalam bahasa Arab dinamakan mu'amalah maddiyah, yakni aturan-aturan tentang pergaulan dan perhubungan manusia mengenai kebutuhan hidupnya. Atau lebih tepat dinamakan Iqtishad, yaitu mengatur soal-soal penghidupan manusia dengan sehemat-hematnya dan secermat-cermatnya.
 
Fuad Fachruddin (dalam Sudarsono: 2007) mengartikan iqtishad yakni "menggunakan rezeki yang ada di sekitar kita dengan cara berhemat agar kita menjadi manusia-manusia yang baik dan tidak merusak nikmat apa pun yang diberikan kepada-Nya". 
 
Namun, Baqir al Hasani (dalam Mohamad Hidayat: 2010), menyatakan bahwa ekonomi dan _iqtishad_ merupakan dua konsep yang berbeda, meskipun banyak ulama yang mengartikan ekonomi dengan iqtishad. Menurut al Hasani, kata "iqtishad" merupakan derivasi dari kata "qashd", yang artinya equilibrium (keseimbangan, pertengahan) atau "the state of being even, equal balanced, or evenly in between" (keadaan yang bahkan sama seimbang, atau secara merata diantara keduanya). Sehingga kata "iqtishad" berarti "that which evenly in between two extremes" (yang adil/merata di antara dua hal ekstrim).
 
Tetapi pendapat al Hasani di atas kemudian dibantah oleh Hidayat dengan meyakinkan bahwa kata "iqtishad" masih relevan digunakan untuk ekonomi. Yang perlu dicatat adalah perbedaannya bukan terletak pada ekonomi dan iqtishad, tetapi antara ekonomi (Islam) dengan ekonomi konvensional.
 
Mengenai istilah Ekonomi Islam Sudarsono melanjutkan, nama tersebut bukan merupakan nama baku dalam terminologi Islam, maka tidak ada peraturan atau undang-undang yang menyatakan harus bernama Ekonomi Islam. Tapi bisa diberi nama "ekonomi ilahiyah", "ekonomi syariah", "ekonomi qurani", atau pun "ekonomi" saja. 
 
Hanya saja, khusus di Indonesia, ekonomi yang bersumber pada Al-Quran dan As-Sunnah ini sering disebut pula Ekonomi Syariah. Meminjam pendapat M. Dawam Rahardjo (dalam Karim (ed.): 2002) , bahwa Ekonomi Islam di Indonesia disebut juga "Ekonomi Syariah". Jadi, sumber teori Ekonomi Islam adalah syariah. Teori non-ribawi, misalnya, dikembangkan dari ketentuan syariah mengenai larangan terhadap riba. Oleh karena itu, dalam upaya menyusun pemikiran ekonomi, para sarjana ekonomi muslim modern berusaha menggali dari "kitab kuning" para ulama.
 
Rahardjo (dalam Karim: 2010) menilai bahwa apa yang disebut "ekonomi syariah" tidak identik dengan syariat itu sendiri. Syariat yang dimaksud adalah wahyu Tuhan dan Sunnah Rasul yang pengertiannya sama dengan thariq, sabil, dan manhaj, yaitu jalan (way). Di tanah air, ilmu syariat telah mengalami rasionalisasi menurut metode ilmiah. Hasilnya adalah seperti konsep bank syariah yang sekarang mudah ditemui. Uniknya, istilah "bank syariah" itu sendiri sebenarnya khas Indonesia dan tidak dijumpai di negara-negara lain. Sebab di luar negeri lembaga tersebut disebut "bank Islam" (Islamic bank) saja. Konsep bank Islam tersebut telah mengalami kontekstualisasi. Di Indonesia, istilah "bank syariah" timbul berkaitan dengan tradisi menegakkan syariat yang sudah muncul di sekitar berdirinya republik ini, khususnya di sekitar naskah Piagam Jakarta.
 
Selanjutnya, masih menurut Rahardjo (dalam Al Arif: 2012), terdapat tiga kemungkinan makna dari istilah Ekonomi Syariah tersebut, yaitu:
1. Ekonomi Islam adalah ilmu ekonomi yang berdasarkan nilai atau ajaran Islam,
2. Ekonomi Islam merupakan suatu sistem. Sistem menyangkut pengaturan kegiatan ekonomi dalam suatu masyarakat atau negara berdasarkan cara atau metode tertentu,
3. Ekonomi Islam dalam pengertian perekonomian umat Islam. 
 
Ketiga wilayah tersebut (teori, sistem, dan kegiatan ekonomi umat Islam) merupakan tiga pilar yang harus membentuk sebuah sinergi. 
 
Adiwarman Karim (dalam Al Arif: 2012) menambahkan, ketiga wilayah level tersebut menjadi basis dalam upaya penegakkan syariah dalam bidang Ekonomi Islam yang harus dilakukan secara akumulatif. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang sinergis, melibatkan seluruh komponen umat, dalam rangka menegakkan syariah dalam bidang ekonomi.
 
Secara historis, istilah Ekonomi Syariah digunakan oleh para pejuang Ekonomi Islam era 1990-an dahulu untuk menghaluskan dan menyamarkan makna dan ajaran Islam dalam ekonomi yang tengah diperjuangkan tersebut. Maklum, ketika itu aroma Islamophobia (anti-Islam) masih amat kuat di sekitar pemerintahan Soeharto. Maka untuk memuluskan perjuangan Islam di lapangan ekonomi tanah air, AM. Saefudiin, M. Amin Aziz, Karnaen A. Perwataatmadja, dkk, sepakat menggunakan istilah Ekonomi Syariah untuk membuat kesan bahwa konsep ekonomi ini tidak hanya untuk umat Islam saja. Hal yang sama juga terjadi pada bank Islam yang diistilahi bank syariah. Bahkan agar tidak terkesan 'menakutkan' bagi kalangan sekuler dan anti-Islam nama bank Islam pertama di Indonesia disepakati Bank Muamalat menggunakan istilah mu'amalat yang bermakna umum. Sayangnya, aset independen umat Islam Indonesia tersebut sekarang sudah milik pengusaha luar negeri meskipun masih muslim, seolah lepas dan terpisah dari sejarah perjuangan Ekonomi Islam Indonesia serta lebih profit oriented.
 
Menanggapi persoalan ini, sebaiknya para ulama yang memahami Ekonomi Islam dan para tokoh serta praktisi Ekonomi Islam di tanah air menentukan secara mufakat penggunaan salah satu dari dua istilah; Ekonomi Islam atau Ekonomi Syariah? Hal ini penting dilakukan agar ke depannya tidak muncul ambiguitas dan bias makna. Esensi dan substansi Islam pada Ekonomi Islam bisa hilang. Dan semoga saja bukan karena inferior dan tidak percaya diri pada kesempurnaan Islam sehingga lebih memilih istilah Ekonomi Syariah.
 
Padahal sejatinya kembali kepada istilah Ekonomi Islam ialah langkah tepat sebagaimana diperkenalkan pertama kali oleh Zainal Abidin Ahmad (tokoh Masyumi) lewat bukunya "Dasar-Dasar Ekonomi Islam" yang terbit di tanah air pada 1949 silam. Terlebih di dunia Islam internasional istilah Sharia Economic (Ekonomi Syariah) tidak dikenal lazim, karena hanya dipakai di Indonesia saja.
 
Namun, lagi-lagi terdapat problem pada otoritas pelaksana Pendidikan Ekonomi Islam di tingkat perguruan tinggi. Terkesan tidak mau kompak sebab Kementerian Agama memilih menggunakan istilah Ekonomi Syariah bagi kampus-kampus Islam binaannya. Sementara Kemristekdikti yang membina kampus umum memilih menggunakan istilah Ekonomi Islam. Fakta tersaji yang menyisakan tanda tanya besar.
 
Alhasil, semoga dapat disepakati penggunaan satu nama saja: Ekonomi Islam! Pengertian Ekonomi Islam yang telah dijabarkan di atas melahirkan kesimpulan akhir bahwa ekonomi Islam di Indonesia erat kaitannya dengan semangat umat Islam menuju kehidupan yang bersyariah secara kaffah. Sekali lagi ditegaskan, bahwa Ekonomi Islam sejatinya merupakan seperangkat aturan dari Allah SWT yang berfungsi sebagai panduan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup manusia berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah agar tercapai falah (kebahagiaan) di dunia dan akhirat. Insya Allah.
0 Komentar