Mengapa Harus Ekonomi Islam?

Selasa, 11 Oktober 2016 - 08:16 WIB | Dilihat : 2071
Mengapa Harus Ekonomi Islam? Anto Apriyanto M.E.I
 
Sebagian masyarakat awam masih menyangka konsep Ekonomi Islam tidak berbeda dengan konsep ekonomi yang sudah berlangsung lebih dulu sejak zaman penjajahan hingga detik ini. Konsep ekonomi tersebut seakan sudah mengakar, sistemik, dan dianggap sebagai keumuman. Maka tak mengherankan bila konsep tersebut diberi istilah Ekonomi Konvensional. 
 
Konvensi mengandung arti kesepakatan. Jadi sistem ekonomi yang berkembang selama ini sebelum Ekonomi Islam menjadi perhatian serius dewasa ini dianggap telah disepakati secara umum oleh masyarakat muslim mayoritas penduduk Indonesia. Padahal, dalam sejarahnya umat Islam Indonesia tidak pernah diajak bermusyawarah untuk menentukan sistem ekonomi apa yang hendak diterapkan di negeri ini, baik oleh penjajah Belanda maupun oleh Pemerintah RI sejak Orde Lama hingga kini. Bukan hanya di bidang ekonomi, tapi juga misalnya di bidang politik, hukum, dan pendidikan. Semua sistem yang bukan berasal dari Islam tersebut ditetapkan secara paksa tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan dari umat Islam sebagai pemilik sah negeri ini. Pemaksaan penerapan sistem ekonomi bukan Islam tersebut berimbas pada hancurnya tatanan muamalah (sosial kemasyarakatan), menyuburkan kemiskinan, dan menghilangkan keberkahan dari Allah SWT. Oleh karena itu, Islam hadir sebagai ajaran Ilahiyah yang Syumuliyah (komprehensif) yang turut mengatur pula sistem perekonomian umat manusia agar sesuai dengan fitrahnya. 
 
Pendekatan ekonomi secara Islami adalah sebuah ikhtiar yang wajib dilakukan oleh umat Islam guna mendapatkan ridha Allah SWT. Di dalamnya terkandung seperangkat aturan yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan mengacu pada firman Allah SWT dan hadits Rasulullah saw. Memang tidak seketat aturan yang mengurusi ritual ibadah mahdhah, tapi bila dikerjakan secara benar Ekonomi Islam menjadi ibadah ghair mahdhah di hadapan Allah SWT. Tidak akan sia-sia. Berbeda dengan sistem ekonomi bukan Islam yang tidak sesuai fitrah manusia, bahkan cenderung tanpa aturan dengan menghalalkan segala cara, tidak berdasar pada firman Tuhan, dan mengedapankan filsafat manusia semata.
 
Oleh karena itu, pilihan penerapan Ekonomi Islam saat ini adalah tepat berdasar alasan: Pertama, Ekonomi Islam sesuai dengan fitrah manusia. Ekonomi Islam sejatinya merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai Islam dalam bidang muamalah. Didukung oleh nilai-nilai Islam lainnya dalam bidang politik, hukum, sosial, budaya, pendidikan, pertahanan, dan keamanan, Ekonomi Islam akan mewujudkan rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta) bila syariat Islam benar-benar diterapkan secara kaffah dalam bingkai negara. Untuk itu semestinya, ketika berbicara ekonomi sudah otomatis berbicara Islam pula. Seperti dua sisi mata uang, tidak bisa terpisahkan.
 
Kedua, Ekonomi Islam meluruskan kekeliruan tujuan hidup. Di alam kehidupan yang serba materialistis ini banyak orang yang mengalami disorientasi hidup, seolah tujuan hidup mereka hanya untuk meraih strata ekonomi dan sosial yang tinggi dan menikmati kesenangan dunia semata. Singkatnya, menurut mereka hidup itu untuk ekonomi bukan ekonomi untuk hidup. Padahal, kebahagiaan sejati (al-falaah) tolak ukurnya bukan materi, tapi kebermaknaan hidup dengan aneka ragam amal shalih. Hal tersebut hanya bisa diraih melalui berekonomi dengan cara Islami. 
 
Ketiga, Ekonomi Islam menyelamatkan rumah tangga dari propaganda setan. Karena pernikahan dalam Islam adalah ibadah, maka setan tidak segan-segan menyiapkan beribu strategi guna membuat pasangan suami-istri tidak rukun dan harmonis. Salah satu pemantik yang dilakukan setan adalah taraf ekonomi. Seringkali masalah pendapatan suami menjadi pemicu pertengkaran yang tak jarang berujung pada perceraian. Bisa dipastikan hal ini terjadi karena ketidakfahaman pasutri terhadap konsep Ekonomi Islam. Sebaliknya, rumah tangga yang didasari oleh ilmu Ekonomi Islam diyakini pertahanannya dapat lebih kuat dari segala macam ujian kehidupan dan godaan setan.
 
Keempat, Ekonomi Islam adalah kunci surga. Pada praktiknya, ekonomi berkaitan erat dengan urusan 'perut' manusia. Bekerja adalah usaha untuk dapat mengisi 'perut' tersebut yang terkategori ibadah selain sebagai sarana aktualisasi diri. Namun, yang menjadi persoalan adalah status hukum dari pekerjaan, rezeki, hingga makanan yang dikonsumsi. Di sini berlaku hukum halal-haram. Setiap pekerjaan halal akan menghasilkan rezeki halal, dan dengan rezeki halal akan bisa mendapatkan makanan yang halalan thayiban untuk dikonsumsi oleh tubuh. Sudah begitu berpahala pula di sisi Allah SWT. Sebaliknya yang haram akan mendatangkan murka Allah SWT. Maka bisa dikatakan surga dan neraka seseorang manusia ditentukan juga oleh cara ia berekonomi. Bukankah dalam salah satu sabdanya Rasulullah saw mengingatkan bahwa siapa saja yang mengkonsumsi makanan-minuman haram maka neraka lebih layak buatnya? Di sinilah konsep Ekonomi Islam berfungsi mengarahkan manusia untuk selalu mengkonsumsi makanan-minuman yang halal saja.
 
Kelima, Ekonomi Islam adalah satu-satunya harapan pasti untuk kelangsungan peradaban manusia. Para ekonom Barat sudah membeberkan fakta akurat mengenai bobrok dan di ujung tanduk kehancurannya sistem ekonomi selain Islam (Kapitalisme dan Sosialisme). Inilah saatnya Ekonomi Islam tampil membangun peradaban baru yang lebih humanis dan beradab. 
 
Hayya 'alal falaah!
 
Anto Apriyanto, M.E.I.
Ketua Harian Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (Koneksi)
0 Komentar