Prestasi Apa yang Sudah Kita Buat untuk Bekal Akhirat?

26 Oktober 05:01 | Dilihat : 535
Prestasi Apa yang Sudah Kita Buat untuk Bekal Akhirat? Ilustrasi

Allah Ta'ala, berfirman:

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ  ۖ  وَلَلدَّارُ الْأَاخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ  ۗ  أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-An'am 6: Ayat 32)

Allah Azza wa Jalla, mengingatkan kita semua tentang bagaimana mempersiapkan bekal akhirat dengan amalan amalan yang utama, amalan unggulan ...yaa Amalan yang menjadi kesukaan dan kebiasaan.

Pertanyaan nya...sudahkah kita memulai bahkan melakukan sebuah amalan yang menjadi amalan istimewa kita, selalu memperbarui amalan...update amal, atau hanya rajin update status di medsos.. jadi apa amalan unggulan kita? Apa itu prestasi kita untuk Allah dan RasulNya?

Mari coba kita tengok bagaimana para sahabat Radhiyallahu anhu dan orang orang sholih terdahulu melakukan update amal, selalu memperbarui amal sampai menjadi sebuah amal unggulan dan menjadi rutinitas.

Dalam sebuah riwayat yang shahîh dinyatakan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ عِنْدَكَ فِي اْلإِسْلاَمِ مَنْفَعَةً فَإِنِّي سَمِعْتُ اللَّيْلَةَ خَشْفَ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ بِلاَلٌ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً فِي اْلإِسْلاَمِ أَرْجَى عِنْدِيْ مَنْفَعَةً مِنْ أَنِّي لاَ أَتَطَهَّرُ طُهُوْرًا تَامًّا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ وَلاَ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كَتَبَ اللَّهُ لِيْ أَنْ أُصَلِّيَ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Rasulullah bersabda kepada Bilal setelah menunaikan shalat Subuh, ‘Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam! Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.’ Bilal Radhiyallahu anhu menjawab, ‘Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan shalat (sunat) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.’ [HR Muslim]

Coba mari kita bertanya pada diri kita sendiri amalan unggulan apa yang sudah kita miliki? Memang hanya ridho Allah sajalah yang bisa memasukkan kita kedalam surga. Namun pantaskah diri ini yang telah diberi teramat banyak kemudahan lantas menjauhi-Nya. Wasilah paling mudah untuk bersyukur dan berdekatan dengan Rabb yang menciptakan kita ialah dengan amal ibadah.

Jika Bilal bin Rabah tak pernah putus wudhu sehingga bunyi terompahnya terdengar di surga, lantas apa amalan kita? 
Jika Abu Bakar menyedekahkan seluruh hartanya untuk Islam, lantas apa amalan kita?
Jika Khalid bin Walid memenangkan pasukan Islam, kemudian apa amalan kita?

Zaid bin Tsabit sang penulis wahyu, Ibnu Abbas ulama para sahabat, Utsman bin Affan sang dermawan dan pemalu, Umar bin Khattab sang pemberani lagi peduli telah menorehkan tinta emas dalam sejarah Islam lewat amalan unggulan mereka.

Kisah-kisah itu bukan hanya untuk dikagumi lantas disimpan di rak-rak buku hingga usang, namun untuk diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum memiliki amal unggulan, tentu kita harus selesai dahulu dengan amal-amal yang bersifat wajib. Baru ibadah nafilah (tambahan) yang mampu kita jalankan menjadi rutinitas kita.

Rutinitas atau istiqomah menjadi sebuah kunci sebuah amal bisa menjadi amal unggulan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Amalan yang paling dicintai Allah Ta'ala, adalah amalan yang berkelanjutan meskipun sedikit”. (HR. Muslim)

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar