Ilmu Harus Diamalkan

23 Oktober 08:06 | Dilihat : 221
Ilmu Harus Diamalkan Ilustrasi Majelis Ilmu

Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya Al-Muwafaqat. Beliau berkata:

أَنَّ كُلَّ عِلْمٍ لا يُفيد عَمَلاً؛ فَلَيْسَ فِي الشَّرعِ مَا يَدُلُّ عَلَى استِحسَانِه

“Semua ilmu yang tidak membuahkan amal maka tidak dalam syariat satu dalil pun yang menunjukkan akan baiknya ilmu tersebut.” (Al-Muwafaqat 1/74)

Pernah ada seseorang yang bertanya (masalah agama) kepada Abu Ad-Darda’, maka Abu Ad-Darda’ berkata kepadanya: “Apakah semua masalah agama yang kau tanyakan kau amalkan?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Maka Abu Ad-Darda’ menimpalinya: “Apa yang engkau lakukan dengan menambah hujjah yang akan menjadi bumerang bagimu?” (Al-Muwaafaqaat 1/82 sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abdil-Bar dalam Al-Jami’ no 1232).

Asy-Syathibi rahimahullah membawakan banyak dalil yang menunjukkan akan hal itu. Beliau berkata: “Sesungguhnya ruh ilmu adalah amal. Jika ada ilmu tanpa amal maka ilmu tersebut kosong dan tidak bermanfaat.

Allah Azza Wa Jalla, berfirman:

 قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ  ۗ  إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبٰبِ

Katakanlah, Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar 39: Ayat 9)

Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037).

Diantara kebaikan yang Allah berikan pada diri seorang hamba, yaitu Allah tambahkan ilmunya, seiring bertambah ilmu maka bertambah pula amalnya. Namun tidak sedikit orang yang berilmu hanya sekedar menjadi sarana untuk mendapatkan dunia, dia jual ilmunya dengan harga yang murah.

Ketika amal sholeh seseorang meningkat sebab buah dari ilmu, itu petanda semakin dekat nya kepada Allah, semakin dekat dengan Allah semakin tunduk dan takut dengan ancamanNya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

 إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰٓؤُا  ۗ  إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

...Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun." (QS. Fatir 35: Ayat 28)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 308).

Rasa takut seorang hamba akan menjadi motifasi seluruh aktivitas hidupnya, dimana saja, kapan saja, kepada siapa saja, selalu ingat akan azab dan hukuman Allah kelak di akhirat. Begitu kwatir dengan dosa walaupun spele, semangat berbuat baik mengejar amal sholeh menjadi tujuan hidupnya dalam rangka mengamalkan ilmu yang didapat. Sehingga wajarlah mereka yang tidak punya rasa takut kepada Allah adalah mereka yang tidak Allah berikan karunia ilmu.

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar