Mau Itikaf, Ini Dia Syarat dan Rukunnya (bag-2)

Minggu, 28 Juli 2013 - 09:40 WIB | Dilihat : 33990
Mau Itikaf, Ini Dia Syarat dan Rukunnya (bag-2)

I'tikaf adalah bagian dari ibadah yang dianjurkan dalam bulan Ramadhan, apalagi dalam sepuluh hari terakhirnya. Agar menjalankan i'tikaf sesuai dengan tuntunan Rasulullah, kita perlu mengetahui syarat-syarat dan hal-hal apa yang boleh dilakukan selama beri'tikaf.

Masjid yang Sah untuk I'tikaf

Dalam sebuah hadits shahih, disyari’atkan beri’tikaf hanya pada tiga masjid (Masjid al-Haram, Masjid an-Nabawi, dan Masjid al-Aqsha). Rasul bersabda: “Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid (saja).”

Tetapi, beri’tikaf pada selain ketiga masjid adalah boleh berdasarkan makna umum firman Allah: “Dan janganlah kamu mencampuri mereka itu sedangkan kamu beritikaf di dalam masjid.” (Qs. al-Baqarah [2]: 187).

Ayat tersebut berlaku untuk segenap kaum muslimin. Jika kita katakan bahwa yang dimaksud masjid dalam ayat di atas hanya ketiga masjid, tentu banyak kaum muslimin yang tidak terpanggil, sebab mayoritas kaum muslimin berada di luar Mekkah, Madinah dan Al-Quds (Palestina).

Syaikh Nashiruddin al-Albâni berkata dalam kitabnya Qiyam ar-Ramadhan, “Adapun bagi mereka yang berpendapat disyari’atkannya i’tikaf itu di setiap masjid jami’, merekapun harus berusaha menghidupkan kembali sunnah Nabi yang sudah lama ditinggalkan ini.”

Dengan demikian, i’tikaf boleh pada masjid-masjid yang ada. Jika hadits mengatakan bahwa tidak ada i’tikaf kecuali dalam tiga masjid, maka maksudnya adalah tidak ada i’tikaf yang lebih sempurna dan lebih utama kecuali tiga masjid tersebut. Memang seperti itu kenyataannya. Bahkan bukan sekedar i’tikaf, nilai sholatnya punya kelebihan tersendiri.

Syarat-syarat I'tikaf

Sayyid Sabiq dalam kitabnya, Fiqh Sunnah, menjelaskan bahwa i'tikaf disunnahkan bagi seorang Muslim yang telah mumayyiz, suci dari junub, haid dan nifas.

Dengan demikian i'tikaf tidak sah dilakukan oleh orang kafir, anak kecil yang belum mumayyiz, orang junub dan perempuan yang sedang dalam keadaan haid atau nifas.

Rukun-rukun I'tikaf

Hakikat i'tikaf adalah tinggal di Masjid dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika tinggal di masjid itu tidak terlaksana atau tidak disertai dengan niat beribadah kepada Allah, maka hal itu tidak dinamakan i'tikaf. Jadi rukun yang pertama yang harus dipenuhi adalah niat i'tikaf.

Mengenai diwajibkannya di masjid adalah berdasarkan firman Allah: "...tetapi jangan kamu mencampuri mereka, ketika kamu beri'tikaf dalam masjid..." (QS Al Baqarah: 187)

Maksud ayat ini i'tikaf hanya sah bila dlakukan di dalam masjid.

Hal-hal yang Boleh Dilakukan


Pertama, diperbolehkan keluar dari masjid jika ada hajat, boleh mengeluarkan kepalanya dari masjid untuk dicuci dan disisir (rambutnya). ‘Aisyah ra berkata.

“Dan sesungguhnya Rasulullah Saw pernah memasukkan kepalanya kepadaku, padahal beliau sedang i’tikaf di masjid (dan aku berada di kamarku) kemudian aku sisir rambutnya (dalam riwayat lain: aku cuci rambutnya), dan antara aku dan beliau ada sebuah pintu, (dan waktu itu aku sedang haid) dan adalah Rasulullah tidak masuk ke rumah kecuali untuk (menunaikan) hajat (manusia) ketika sedang i’tikaf.”
  (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua,
orang yang sedang i’tikaf dan yang yang lainnya diperbolehkan untuk berwudhu di masjid berdasarkan ucapan salah seorang pembantu Nabi Saw.

“Nabi Saw berwudhu di dalam masjid dengan wudhu yang ringan.” (HR Ahmad)

Ketiga, diperbolehkan bagi orang yang sedang i’tikaf untuk mendirikan tenda (kemah) kecil pada bagian di belakang masjid sebagai tempat dia beri’tikaf, karena ‘Aisyah ra (pernah) membuat kemah (yang terbuat dari bulu atau wool yang tersusun dengan dua atau tiga tiang) apabila beliau beri’tikaf dan hal ini atas perintah Nabi Saw (sebagaimana dalam Shahîh Muslim 1173).

Keempat, diperbolehkan bagi orang yang sedang beritikaf untuk meletakkan kasur atau ranjangnya di dalam tenda tersebut, sebagaimana yang diriwayatkan Ibn Umar ra bahwa Nabi Saw jika i’tikaf dihamparkan untuk kasur atau diletakkan untuknya ranjang di belakang tiang At-Taubah.

abu faza

0 Komentar