Jangan Bosan Berdakwah, Bisa Jadi Hidayah Melalui Sedikit Nasihat Kita

09 November 09:49 | Dilihat : 369
Jangan Bosan Berdakwah, Bisa Jadi Hidayah Melalui Sedikit Nasihat Kita Ilustrasi

Allah Ta'ala, berfirman:

  ۗ  مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ  ۖ  وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ ۥ  وَلِيًّا مُّرْشِدًا

"...Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya." (QS. Al-Kahf 18: Ayat 17)

Dalam Perang Khaibar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan bendera perang kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, kemudian bersabda:

فَوَ اللهِ ، لأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرِ النَّعَمِ

“Demi Allah, apabila Allah memberikan hidayah kepada seorang laki-laki dengan perantaraan usahamu, maka hal itu lebih baik daripada engkau memiliki unta-unta merah.” (Muttafaq ‘Alaih).

Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam menjelaskan hadits ini, “yang dimaksud dengan ‘humrun ni’am’ adalah ‘Unta merah’, dan ia adalah harta paling berharga bagi orang arab. Dan mereka seringkali menjadikannya sebagai perumpamaan bagi sesuatu yang sangat berharga dan tidak ada yang lebih berharga darinya. Dan telah kami jelaskan sebelumnya bahwa penyamaan antara balasan baik di akhirat dengan sesuatu yang berharga didunia hanyalah sebagai bentuk pendekatan kepada benak kita agar lebih mudah kita pahami. Sedangkan hakekat yang sebenarnya, maka setitik kenikmatan di akhirat yang kekal lebih baik dari dunia dan seisinya.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata dalam menjelaskan hadits ini, “jika orang alim dapat memperoleh pahala yang lebih baik dari onta merah apabila ia menjadi sebab seseorang mendapat hidayah, maka bagaimana dengan orang yang setiap harinya menjadi sebab hidayahnya banyak orang.”

Datangnya hidayah terkadang unik, di luar nalar kita. Ia tidak berproses secara logis, bahkan terkesan instan. Ia bagaikan lailatul qadar yang menurut Buya Hamka, waktunya sebentar tetapi mampu mengubah jalan hidup.

Namun, jika dirunut datangnya hidayah sesungguhnya diawali proses spiritual (mujahadah) yang panjang. Hidayah ibarat seorang siswa yang memperoleh penghargaan akademik karena kepintarannya. Upacara penghargaan memang berjalan hanya 10 menit. Namun, proses mencapai puncak prestasi tersebut butuh kerja keras untuk waktu yang lama. 

Begitu juga hidayah. Untuk mendapatkannya, orang perlu berproses terlebih dahulu. Proses itulah yang akan mendatangkan pahala buatnya, sesuai dengan tingkat kepayahannya 

Demikian pula andaikan kita diberi kesempatan dan peluang berdakwah, Apa salahnya kita menasehati teman kita sendiri dikala teman kita sedang terjerumus kedalam keterpurukan. Kadang 1000 fatwa ulama tidak mempan menasehati seseorang, tetapi dia bisa tersentuh tatkala mendengar nasehat dari teman dekatnya. Jadi jangan menyerah untuk mendakwahi teman dan kerabat kalian, bisa jadi lewat lisanmu dan tulisanmu yang sederhana kelihatan sepele hidayah itu datang. 

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدىً كَانَ لَهُ مِنَ الَأجْرِ مِثلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ ، لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئاً

“Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim).

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar