Jangan Pernah Lewatkan Shalat Berjamaah di Masjid

24 Oktober 14:01 | Dilihat : 548
Jangan Pernah Lewatkan Shalat Berjamaah di Masjid Ilustrasi shalat berjamaah

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Siapa yang mendengar panggilan [azan] lalu tidak mendatanginya (datang ke masjid untuk shalat berjamaah) maka tidak ada shalat baginya kecuali jika ada halangan.” (HR Ibnu Majah ,793)

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

Seorang buta mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,“Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai seorang yang menuntunku ke masjid,” lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga dibolehkan shalat di rumah. Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika ia meninggalkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, langsung Rasulullah memanggilnya dan bertanya,“Apakah engkau mendengar panggilan adzan shalat?” Dia menjawab,“Ya.” Lalu Beliau berkata, “Penuhilah!” (HR.Muslim)

Setelah menyampaikan hujjahnya dengan hadits ini, Ibnu Qudamah berkata,“Jika orang buta yang tidak memiliki orang untuk mengantarnya, tidak diberi keringanan, maka, (yang) selainnya lebih lagi.” (Al Mughni, 3/6)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِى التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ

“Jikalau orang-orang mengetahui apa yang ada di dalam mengumandangkan adzan dan shaf pertama (berupa pahala), kemudian mereka tidak mendapatkan (orang yang berhak atas itu) kecuali mereka berundi atasnya, maka niscaya mereka berundi, dan jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam bersegera pergi ke masjid (berupa pahala), maka mereka niscaya akan berlomba-lomba kepadanya” (HR.Bukhari dan Muslim)

Renungkanlah barang sejenak kemuliaan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para tabiit-tabiin dan kaum terdahulu di zaman nya, yang tetap melaksanakan shalat berjamaah ditengah-tengah perang yang berkecamuk serta sergapan badai gurun pasir dan terpaan udara dingin.

Mengapa di zaman modern dengan suasana yang aman, cuaca yang bersahabat, jalan-jalan yang licin beraspal dan kendaraan yang nyaman kita malas dan lalai untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid? 

Kita malah lebih suka bekerja keras untuk mendapatkan keuntungan duniawi yang tidak seberapa, sementara kita tidak terlalu peduli dengan keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh di akhirat nanti. Bahkan kita menganggap suatu kerugian apabila kita melaksanakan shalat berjamaah di masjid karena harus menutup toko atau meninggalkan pekerjaan bahkan karena terperangkap rasa malas ke luar rumah untuk pergi ke masjid yang jauhnya hanya beberapa meter dari rumah kita.

Salah satu cara menimbulkan kembali semangat tersebut, adalah dengan melihat teladan dari para ulama dan orang shalih. 
Berikut beberapa kisah dari mereka terkait hal ini. 

Waki’ bin Al-Jarrah rahimahullahu berkata, “Al-A’masy ketika mendekati umur 70 tahun namun tidak pernah tertinggal takbir pertama [takbiratul ihram shalat berjamaah].”

Muhammad bin Sama’ah rahimahullahu berkata, “saya tinggal selama 40 tahun tidak pernah luput dari takbir pertama melainkan satu hari saja yaitu hari ketika Ibuku meninggal maka luput dari saya satu shalat berjamaah, kemudian saya shalat sebanyak 25 kali karena menginginkan dilipatgandakan [pahala]…”

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu mengisahkan biografi Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullahu, “tidaklah diseru panggilan shalat sejak 40 tahun melainkan Sa’id berada di dalam masjid”

Berkata Asy-Sya’bi rahimahullahu, “tidaklah diiqamati shalat sejak aku masuk Islam melainkan aku masih dalam keadaan mempunyai wudhu [masih suci].” (Tahdzibut Tahdzib , Mathba’ah Dairatil Ma’arif, India, cet. I, 1326 H, Asy-Syamilah)

Semoga kisah diatas menjadi inspirasi buat kita agar senantiasa lebih bersemangat untuk shalat berjamaah di mesjid ketika azan berkumandang.

Wallahu a'lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

0 Komentar